
"Satu orang!" Jawab Adam dengan menatap ke sekeliling ruangan mencari keberadaan Manisya berada.
"Mari saya antarkan!" Ucap pelayan tersebut mengantarkan Adam ke meja nya.
Setelah itu Pramusaji wanita tersebut meninggalkan Adam setelah menerima pesanannya, Adam memesan satu buah jus Strawberry beserta satu porsi Spaghetti Carbonara.
Mata Adam tak berhenti melihat ke sekeliling restoran tersebut, bukan terpesona dengan gaya modern yang tercipta dari dalam resto ataupun ramainya pengunjung yang membuat semua kursi hampir ter isi penuh oleh pengunjung, melainkan mencari sosok Manisya yang menghilang dari pandangannya saat berpamitan untuk bekerja di tempat tersebut.
"Kemana Gadis itu!" Ucap Adam sambil celingukan mencari keberadaan Manisya.
Setelah beberapa menit menunggu pesanan, "Silahkan mas, barangkali adalagi yang perlu saya bantu mas?" Pramusaji tersebut dengan sopan menghidangkan pesanan Adam di atas mejanya.
"Oia aku ingin bertanya sesuatu?"
"Silahkan Mas!"
"Ada berapa pegawai di sini?" Pertanyaan Adam membuat pramusaji sedikit terkejut.
"Em, sekitar dua puluh orang?" dengan cepat Pramusaji menjawab pertanyaan Adam.
"Dua puluh?" Tanya Adam kembali.
"Sekitaran dua puluh, saya kurang tahu tepatnya!"
"Apa di sini masih mencari seorang pegawai?" Tanya Adam kembali.
"Setahu saya, restoran ini sedang mencari petugas pencuci piring saja, kebetulan hari ini lowongan pekerjaan tersebut sudah terisi, untuk lowongan pekerjaan yang lain nya harus ditanyakan dulu pada manajer saya!"
"Petugas pencuci piring?" dia bekerja sebagai pencuci piring?" Ucapan Adam membuat petugas restoran terlihat mengerutkan dahinya.
"Em, apa ya maksudnya?"
"Tidak apa-apa, terimakasih banyak mba informasinya!" Jawaban Adam otomatis membuat pramusaji berpamitan meninggalkan Adam.
Karena Manisya tak kunjung terlihat batang hidungnya, Adam mencoba berjalan ke toilet restoran tersebut yang letaknya tak jauh dari dapur tempat para pekerja sibuk menyiapkan pesanan para pengunjung restoran, Mata Adam saat itu sibuk mencuri pandang ke dalam dapur mencari Manisya, namun ia sama sekali tidak melihat Manisya di sana, ia hanya melihat para pegawai yang sibuk memasak.
Adam memutuskan untuk kembali lagi ke kursi tempat ia duduk, "Kemana dia?" Adam berkata sendiri, penasaran akan keberadaan Manisya yang tak kunjung terlihat saat itu.
Beberapa menit kemudian Spaghetti Carbonara serta Jus Strawberry yang ia pesan kini telah habis di lahap olehnya, namun ia masih belum melihat sosok Manisya di sana, waktu pun menunjukkan pukul 07.00 malam, dan Adam masih belum meninggalkan restoran itu, mondar-mandir ke toliet pun sudah ia lakukan mencuri pandang ke arah dapur untuk melihat Manisya yang sedang bekerja, namun ia sama sekali tak menemukan Manisya, Susana di restoran pun semakin ramai, semua kursi terisi penuh oleh para pengunjung.
Adam terlihat memanggil seorang pramusaji pria kali ini. "Saya mau tambah minuman mas, es teh Manis satu!"
"Baik mas, segera saya siapkan!" Ucap pramusaji kepada Adam.
Adam terlihat khawatir, kaki kanannya ia gerak-gerakkan, badannya ia senderkan pada kursi, tangannya menyilang di atas dadanya, sedangkan matanya menatap tajam ke area dapur, ia sibuk dengan fikiran-fikirannya membayangkan betapa sibuknya Manisya di dalam dapur sana.
__ADS_1
"Silahkan pesanannya!" Ucap seorang pramusaji wanita menyimpan sesaat setelah menyimpan sebuah minuman yang Adam pesan.
"Terimakasih!" Ucap Adam tanpa menatap prmausaji tersebut.
"Sama-sama!" Ucap pramusaji dengan tetap berdiri di dekat Adam.
"Kamu boleh pergi!" Dengan tatapan masih ia arahkan ke area dapur.
"Kenapa masih berdiri di situ!" Adam kali ini mengalihkan pandangannya menatap ke arah pramusaji, betapa kagetnya Adam saat melihat wanita yang tengah berdiri di sampingnya lengkap dengan pakaian kerjanya tak lain adalah Manisya, sosok wanita yang sejak dari tadi ia cari keberadaanya.
"Hai Adam!" Manisya menggerakkan tangannya menyapa Adam dengan menarik kedua sudut bibirnya.
Adam membulatkan matanya ke arah Manisya yang tengah tersenyum lebar menatap ke arahnya.
"Kenapa kamu di sini, bukankah kamu bertugas di dapur?" tanya Adam yang merasa heran, karena menurut informasi yang ia dapatkan, Manisya bekerja di sana bertugas untuk mencuci piring.
"Kenapa kamu tahu, perasaan aku belum bilang aku kerja di bagian apa." Manisya mengangkat alisnya merasa heran Adam bisa tahu pekerjaan yang di lakukannya.
"Aku hanya menebak!" Ucap Adam, tak memberitahu jika Adam sudah mencari informasi sebelumnya kepada pramusaji di restoran tersebut.
"Tapi tebakan mu benar sekali!" Manisya mengacungkan jempolnya kepada Adam dengan gigi depan nya berjajar rapih ia perlihtakan kepada Adam.
"Terus kenapa kamu bisa di depan?" Tanya Adam.
"Di sini lagi penuh, aku di suruh Manajer sini untuk bantu-bantu dulu di depan, O iya Adam kamu sejak kapan di sini, kamu menungguku?" Tanya Manisya melihat Adam masih mengenakan seragam sekolahnya.
Manisya mengiyakan mengangguk-anggukkan kepalanya kepada Adam.
"Baiklah kalau begitu aku kerja dulu ya, Oia kamu tak perlu menunggu aku ya!" Ucap Manisya sambil berlalu meninggalkan Adam.
Kali ini Adam bisa dengan leluasa memperhatikan Manisya yang sibuk mengantarkan makanan pesanan para pengunjung restoran, mata nya tak berhenti mengikuti setiap gerakan yang di lakukan Manisya, hingga membuat salah satu pramusaji memperhatikan Adam, menaruh rasa curiga kepadanya, kemudian datang menghampiri Adam.
"Permisi mas apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada!" Ucap Adam tak menghiraukan perkataan pramusaji .
"Maaf mas, mas kenal sama Mba Manis?" Ucap Pramusaji pria kepada Adam, membuat mata Adam yang sebelumnya memperhatikan Manisya, kini berbalik menatap tajam ke arah pramusaji penuh curiga.
"Kamu mengenalnya?" Tatapan Adam semakin tajam.
"Tentu saja, saya teman kerja nya mas!"
"Apa di sini masih ada lowongan pekerjaan?" Tanya Adam.
"Sekarang tidak ada Mas!"
__ADS_1
Adam terdiam, kali ini memperhatikan kembali Manisya yang sedang bekerja, kemudian mengalihkan kembali pandangannya kepada pramusaji yang masih berdiri dekat dengannya.
Menatap tajam ke arah pramusaji tersebut kemudian berkata "Tolong jangan panggil dia dengan sebutan Manis ataupun Gadis!"
Sontak membuat pramusaji tersebut terkejut.
"Memangnya kenapa mas?"
"Tidak kenapa-napa, dia lebih suka dipanggil Aralan!" Adam tak memberi alasan yang sebenarnya, perasaannya akan menjadi kacau saat Manisya di panggil dengan sebutan Manis atau pun Gadis oleh laki-laki selain dirinya.
"Baik Mas, akan saya sampaikan kepada yang lain!"
"Terimakasih!" Ucap Adam dengan sopan pada pramusaji tersebut, tak ingin Manisya mendapatkan masalah di tempat ia bekerja.
Setelah itu pramusaji pria tersebut berpamitan menjauhi Adam, karena ada pelanggan yang lain yang memanggil pramusaji tersebut.
Jam saat ini 21.00 menit, Adam memutuskan untuk segera membayar pesanan makanannya, kemudian pergi meninggalkan restoran tersebut, ia berjalan menuju tempat parkir di mana motornya di simpan.
Sementara di area dapur, Saat itu suasana restoran telah sepi pengunjung, Sebagian besar karyawan yang baru Manisya kenal pergi berpamitan untuk pulang, Manisya pun telah berganti pakaiannya untuk segera bergegas meninggalkan restoran tersebut.
"Mau kemana kamu!" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Rena yang merupakan teman kerjanya saat melihat Manisya yang sudah bersiap mengganti pakaian kerjanya yang bersiap untuk pulang.
"Bukankah ini sudah waktunya pulang!" Jawab Manisya.
"Enak banget kamu anak baru, kamu gak lihat itu tumpukan piring kotor masih banyak, kamu harus bersihkan dulu piring itu baru boleh pulang!"
"Tadi kan Manajer bilang, aku membantu di depan, jadi itu tugas yang lain!"
"Kamu mencoba membantahku!" Ucap Rena dengan raut muka yang tidak bersahabat.
"Em, Baiklah jika begitu!" Manisya mengganti kembali pakaiannya menggunakan pakaian kerja, kemudian bergegas mencuci piring yang begitu menumpuk.
"Kamu tidak membantuku?" Tanya Manisya kepada Rena yang hanya berpangku tangan menyaksikan Manisya mencuci piring.
"Itu bukan kerjaan ku!" Sambil berlalu pergi meninggalkan Manisya sendiri yang sedang mencuci piring. Manisya menatap Rena sambil berdesah dengan sedikit menggerakkan kepalanya.
"Ternyata di dunia ini ada orang seperti itu, menyebalkan sekali!" Sambil terus mencuci piring.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.40 dan Manisya masih belum terlihat keluar dari restoran tersebut, sedangkan Adam telah menunggunya di luar dengan sepeda motor miliknya
"Kenapa dia belum keluar juga!" Sambil tak henti menatap layar ponselnya, kemudian Adam meninggalkan motornya, untuk masuk kedalam restoran tersebut, namun saat Adam hendak berjalan, tiba-tiba.
"Buk!" Seseorang menepuk pundaknya secara perlahan.
***
__ADS_1
Selamat puasa semuanya, Oia abis tadarus jangan lupa baca juga novelku yang berjudul "Laraku" ya, tapi masih sedikit si episodenya.
Maacih semuanya βΊοΈ