
"Kau keluar dari ruangan ku!"
Ucap Adam dengan menampakkan amarahnya di hadapan Linda, ingin rasanya ia memaki wanita yang telah membuat menangis kekasih hatinya itu, namun usapan lembut tangan Manisya pada punggung tangannya berhasil membuatnya menahan sejuta emosi yang hampir saja keluar kala itu.
Perlahan Manisya juga menggelengkan kepalanya, memberi sebuah kode pada Adam agar tak mengumpat pada Linda.
"Ba baik Pak, saya minta maaf atas perbuatan dan perkataan saya!" Ucapan Linda terdengar bergetar dengan raut wajahnya yang menampakkan ke khawatiran.
"Urusan kita belum selesai! Cepat keluar!"
Tanpa berkata lagi, Linda sang sekertaris segera keluar dari ruangannya, tentu saja dengan serta membawa semua ketakutan pada dirinya.
"Minumlah!" Ucap Adam setelah berhasil mengambil sebuah air mineral yang tersimpan di atas meja, ia berusaha menenangkan Manisya yang terlihat masih mengerutkan wajahnya.
"Kamu sudah makan?"
Manisya menganggukkan kepalanya.
"Bohong!"
Senyuman lebar nampak di bibir Manisya, mendapati dirinya berbohong.
"Akan ku pesankan makanan!"
"Tidak perlu, aku belum terlalu lapar!" Jawab Manisya dengan nada yang masih lemas.
Adam masih menatap iba pada Manisya, merasa sangat menyesal atas apa yang terjadi pada kekasihnya itu.
"Baiklah kita akan makan di luar saja ya!"
Manisya mengangguk mengiyakan ucapan Adam.
"Kamu janji, tidak akan menghukum Linda, dia hanya bersikap sesuai dengan pekerjaannya bukan, dia hanya..!" Manisya memotong ucapannya.
"Hanya apa?" Adam mengangkat kedua alisnya.
"Hanya, ah Pokoknya jangan marahin dia ya, janji?" Manisya menatap Adam dengan penuh harap sambil menjulurkan tangan kanannya dengan melebarkan kedua sudut bibirnya.
"Tidak!" Jawab Adam sambil menatap serius ke arah Manisya dengan tangannya menepuk uluran tangan Manisya.
"Kalau begitu, Aku mau pulang!" Ancam Manisya dengan penuh manja
"Tapi dia sudah berbuat tidak sopan terhadapmu, aku tidak terima akan hal itu, dia harus di beri pelajaran!" Adam berkata dengan penuh emosi.
Manisya tak menjawab ucapan Adam, ia hanya mengerutkan bibirnya dengan wajah yang kecewa.
Adam terlihat menghela nafas panjang mencoba mengeluarkan emosi yang menumpuk hingga ke puncak ubun-ubun.
"Terserah kamu saja!" Jawab Adam tak bisa menolak permintaan Manisya.
Manisya mengangguk manja secara perlahan kepada Adam.
"Berapa lama sekertaris bodoh itu membiarkan kamu menunggu di luar? satu jam? dua jam? atau lima jam?" Adam masih belum terima atas perlakuan Linda terhadap Manisya.
Manisya menggelengkan kepalanya, ingin rasanya memberitahu adam bagaimana perlakuan Linda kepadanya sangat berbeda di bandingkan dengan perlakuannya kepada wanita lain, tapi ah tentu saja ia urungkan, tak ingin hal yang lebih buruk terjadi.
"Tidak terlalu lama, sampai saat Linda tidak ada seseorang menyuruhku masuk dan, dan begitulah!" Sambil menatap Ragu laki- laki yang kini tengah duduk di hadapannya, setelah mengatakan hal itu ada perasaan menyesal karena memberitahu Adam, enggan menceritakannya karena akan menimbulkan masalah baru.
Mata adam melebar mendengar perkataan Manisya dahi nya mengerut seketika, mencoba menebak apa yang di maksudkan oleh Manisya yang baru saja mengeluarkan perkataan yang membuatnya harus berfikir.
Dengan tatapan tak lepas dari Manisya, Adam meraih ponsel yang berada pada saku celana miliknya, terlihat menekan sebuah tombol nama.
"Keruanganku!" Dengan nada membentak.
"Jangan banyak alasan, atau kamu akan menyesal seumur hidup!"
Tanpa basa-basi, Adam langsung menutup telpnya dengan aura muka yang tidak bersahabat.
Adam terlihat menarik nafasnya panjang kemudian menatap ke arah Manisya kembali setelah sesaat ia palingkan.
"Em, Kalau boleh tahu, siapa yang kamu telpon?"
"Nanti kamu akan tahu!" Adam lupa merubah nada suaranya.
"Maaf!" Manisya menunduk.
"Kenapa harus minta maaf kepadaku, seharusnya mereka yang minta maaf kepadamu!" Adam seakan tengah menumpahkan kekesalan.
Manisya mengerutkan bibirnya mendengar nada suara Adam yang sedikit meninggi.
"Apa kamu marah juga kepadaku!" tanya Manisya.
__ADS_1
"Iya!" Jawab Adam.
"Maaf!" Jawab Manisya tanpa membela diri.
"Iyah aku marah, karena kamu terlalu baik sama orang yang memandang rendah diri mu"
Manisya Tersenyum mendengar ucapan Adam, kedua sudut bibirnya terlihat melebar.
"Kamu tahu, kalo aku ga gitu, mana mungkin kamu jatuh hati sama aku!" kedua sudut bibir Manisya melebar.
"Tidak seperti itu!" Sangkal Adam, dengan mengangkat kedua bola matanya.
"Iya, iya, kalau begitu kamu mau sama aku karena kecantikan aku yang luar biasa kan, hehehe!"
Adam menatap tajam ke arah Manisya beberapa saat, lagi lagi dahi Manisya menjadi sasaran empuk tangan jail Adam.
"Auw, sakit tahu!" Mengusap dahinya secara perlahan.
Mata Adam masih lurus menatap wanita yang berada di hadapannya, kini tatapan tajam Adam berubah penuh kasih. Kedua tangannya menyentuh lembut kedua pipi Manisya, kemudian memeluknya dengan erat, perasaan bersalah pada Manisya masih menyelimuti fikirannya kala itu.
"Maafkan aku!"
Dalam dekapan Adam yang hangat Manisya menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu minta maaf, ini tidak di sengaja, dan aku juga begitu ceroboh!"
Tangan Adam kini mengusap lembut rambut Manisya.
"Sungguh aku sangat menyesal melihat kakimu terluka!"
"Ini hanya sedikit sayang, aku masih bisa berlari dan memelukmu seperti ini!"
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukannya masing-masing, dan betapa kagetnya Adam saat menengok seorang laki-laki berdiri tak jauh dari tempat ia duduk.
"Apa Lo gila!" Sambil melempar sebuah bantal ke arahnya.
"Ya, cinta memang bisa membuat kita gila dan buta, hingga membuat saya berdiri mematung dan tak ada yang melihat!" Pria tersebut tak lain adalah Bara.
"Tau kan tata krama bertamu, mengetuk pintu terlebih dahulu!" Adam menatap tajam ke arah bara dan berkata dengan nada kesal.
"Itu sudah saya lakukan, dan itu!" Bara menunjuk pintu ruangan yang terbuka lebar.
"Karena pintunya terbuka, saya langsung masuk tuan, dan saya begitu terkejut menyaksikan drama percintaan saat sang pemeran utama sedang berpelukan, wow keren sekali!"
Manisya mengusap lembut punggung Adam, mencoba menenangkannya.
"Menyebalkan!" Adam menarik nafasnya.
Bara yang kala itu hanya fokus dengan Adam, kini merubah tatapannya pada Manisya.
"Hai Manis!" Bara melambaikan tangannya pada Manisya.
"Hai juga!" Jawab Manisya.
"Siapa yang menyuruhmu memanggil dia seperti itu!" Setiap laki-laki yang memanggil Manisya dengan sebutan nama depannya membuat Adam terbakar api cemburu.
Bara tak mengerti, ia hanya mengerutkan dahinya.
"Namamu Manis kan?" Bara memastikan.
"Iya betul!" Jawab Manisya.
"Lantas, apa yang salah?" tanya Bara.
"Panggil dia Gadis Aralan!"
Masih tak mengerti ucapan Adam, kini Bara menatap Manisya meminta penjelasan, Manisya hanya menganggukkan kepalanya pada Bara untuk mengikuti setiap ucapan Adam, dan bara masih belum mengerti.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu!"
"Coba saja langkahkan kaki Lo dari ruangan ini, Lo tau akibatnya!" Adam mengancam.
Manisya menggelengkan kepalanya kepada Adam supaya tidak memperpanjang masalah.
Bara yang kala itu hendak melangkahkan kaki, memutarkan lagi badannya menghadap Adam.
"Oia saya lupa pak, tadi bapak memanggil saya ada apa ya?"
"Minta maaf lah!"
"Minta maaf?"
__ADS_1
"Untuk?"
"Kamu belum tahu kesalahan mu apa?"
Bara diam sejenak sebelum akhirnya, ia terlihat tengah berfikir keras, menyadari apa kesalahannya, tak fikir panjang lagi Bara segera menatap ke arah Manisya hendak mengucapkan maaf.
"Tidak perlu, tidak perlu, ini hanya salah faham saja!" Manisya tak enak hati melihat Bara hendak di marahi oleh Adam.
Mata Bara membulat saat menyadari apa yang membuat Adam begitu tersulut emosinya.
"Lihat lah!" Menunjuk kaki Manisya.
Bara mengikuti arah tangan Adam.
"Kakinya terluka karena ulah mu!"
"Aku!" Bara menunjuk hidung menggunakan telunjuknya.
Bara mencoba berfikir, apa yang sebenarnya terjadi, Akhirnya Bara hanya mematung, kali ini ia hanya pasrah dengan keadaan, karena sudah ia prediksi sebelumnya jika hal ini akan membuatnya mendapatkan masalah.
"Tidak perlu, tidak perlu, ini hanya luka kecil, dan ini juga bukan karena kesalahan mu ko!" Manisya segera memotong pembicaraan.
"Bukankah kamu sudah berjanji padaku, jangan ingkar janji!" Bisik Manisya di telinga Adam tanpa terdengar oleh Bara.
Adam tak menjawab Manisya, ia hanya terdiam sambil menatapnya.
Kini pandangan matanya beralih kembali pada Bara. "Kau tahu siapa dia?"
"Tentu saja tahu, dia satu-satu nya wanita yang berhasil membuat anda bucin tuan!"
Mata Adam seketika membulat, sedangkan Manisya sangat senang mendengar perkataan Bara, ia tersenyum lebar.
"Gua gak lagi bercanda!" Adam terlihat kesal.
"Iya saya tahu Pak, dia wanita Anda!"
"Dia kekasihku!"
"Iya maksud saya kekasih hati bapak!"
Adam mendekat ke arah Bara Berbisik di telinganya agar tak terdengar oleh Manisya.
"Pastikan tak ada lagi yang menyakitinya di kantor ini, kalau hal itu terjadi, akan kupastikan tak akan ada lagi yang bisa menyebut namamu di dunia ini!"
Keringat dingin tiba-tiba menyerang bara, kedua matanya membulat seketika.
"Ba baik pak!"
"Sudah, Keluarlah!"
"Baik, saya permisi dulu!"
Setelah Bara keluar.
"Apa yang kamu katakan hingga membuat dia ketakutan?"
"Tidak ada, aku hanya memberi sebuah peringatan!"
"Ayo kita pergi!" Adam mengulurkan tangannya mengajak Manisya bergegas dari tempat duduknya.
"Ayo!"
***
Saat keluar ruangan, Bara menghampiri Linda, ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, kemudian Linda menjelaskan nya secara detail.
"Apa, jadi dia terluka gara-gara ulah mu!"
Linda menunduk.
"Pantas saja Adam sangat marah, pastikan tak ada lagi yang berbuat semena-mena dengan kekasihnya Pak Adam, jika hal itu terjadi lagi, kita bisa di kubur hidup-hidup, kau mengerti!"
"Baik Pak, saya mengerti!"
***
Ruangan CEO.
"Apa ini?"
"Ini yang di bawa oleh mba Manisya tadi pak, kekasihnya Pak Adam!"
__ADS_1
Setelah sekertaris nya pergi, Kakek Adam membuka kotak yang di berikan Manisya kepadanya.
Sebuah kotak kecil yang berisi 5 buah permen Manis, dengan berbagai macam Rasa.