Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Kamu Juga Boleh Ikut


__ADS_3

"Deg!" Tiba-tiba Manisya menjadi kaku, perlahan ia memalingkan mukanya tak menatap ke arah Adam yang memang saat itu posisi duduknya berada di hadapannya sedangkan Mona duduk bersebelahan dengannya.


"Maksudku aku hanya sedang bahagia saja, aku di sini kan yang belum pernah mentraktir, gapapa hari ini aku traktir saja!" Manisya mencoba mencari alasan yang masuk akal.


Mendengar penjelasan Manisya, Pak Bagas hanya mengangguk, Adam tak merespon apapun terlihat acuh sibuk dengan ponselnya, Mona hanya menggelengkan kepalanya tak membenarkan ucapan Manisya, sedangkan ibu Siska, "Baperan sekali kamu!" Ucapannya singkat namun masuk kedalam perasaan Manisya.


Mendengar ucapan Siska membuat Manisya mengerutkan bibirnya, seakan di ingatkan oleh perilakunya yang memang berharap lebih pada Adam.


Setelah itu, mereka pun memesan makan siangnya, mereka bebas memesan apapun sesuai yang di katakan Manisya dan Manisyalah yang akan membayarnya.


"Bener yah kamu yang bayar!" Mona memastikan kembali perkataan Manisya.


"Iya tenang saja!"


Tak lama, pesanan makan siang merekapun datang, dan merekapun segera melahap makanan yang di pesan oleh mereka masing-masing.


Saat itu Manisya terlihat yang paling dulu menghabiskan makanannya, ia kemudian meraih tasnya yang berukuran kecil yang memang sengaja ia bawa ke dalam kantin saat bersama Mona, Manisya terlihat panik, ia membuka tasnya bolak balik, namun dompet miliknya tak ada di sana. "Kemana dompetku?"


Ya Manisya begitu panik, kini wajahnya terlihat pucat, ia sama sekali tak menemukan dompet miliknya berada dalam tas nya.


"Em, aku permisi ke toilet dulu sebentar ya!" Dengan Langkah yang cepat ia menuju toilet, ia mengobrak Abrik tas miliknya, namun dompet ataupun sepeser uang tak ia temukan dalam tasnya.


"Bagaimana ini, Dompetku ga ada!" Ucap Manisya sambil mengacak-acak tas miliknya yang memang berukuran kecil itu. Rasa paniknya mulai meningkat hingga tak terasa ia menggigit kuku-kukunya, ia mencoba memikirkan jalan keluar, bagaimana mungkin ia membatalkan rencananya untuk membayar makan siang teman-temannya.


Manisya terlihat tengah mendesah, "Mungkin memang harus begini jalannya!" Manisya akhirnya mengambil keputusan membatalkan rencananya untuk membayar makan siang teman-temannya, bahkan ia harus meminta Mona untuk membayar makan siangnya.


Akhirnya, Manisya keluar dari kamar mandi dengan berjalan sempoyongan bermaksud duduk kembali bersama Mona, Bagas, Siska dan juga Adam yang masih belum menyelesaikan makan siangnya, ia sama sekali tak memilik tenaga saat itu, lemas tak menemukan dompet miliknya di dalam tasnya.


"Lama sekali kamu!" Ucap Mona sedikit berbisik di telinga Manisya.


"Iya maaf, aku sakit perut!"


Saat itu Manisya hendak mengatakan kondisinya kepada Mona.


"Mon!" Berkata dengan muka yang gugup.


"Hem?"


"Eh Sya, hari ini kamu beruntung, ada yang membayar makan siang kita!"


Mendengar ucapan Mona, kedua mata Manisya membulat.


"Apa maksudmu?" Tanya Manisya.


"Iyah ada yang membayar makan siang kita!"


"Benarkah, siapa?" Manisya terlihat sangat penasaran.


"Pak Adam!" Memberi sebuah isyarat dengan kepalanya kepada Adam.


"Pak Adam?" Tanya Manisya memastikan ucapan Mona.


"Ho oh, tau Pak Adam yang traktir aku akan mengajak ketempat yang spesial!" Mona mengerutkan bibirnya, sebuah tanda protesnya kepada Adam.

__ADS_1


Saat mendengar jika Adamlah yang membayar makan siang mereka, mata Manisya menatap ke arah Adam dengan kedua mata berkaca-kaca, namun ia tahan agar hanya sampai di kedua kelopak matanya saja, Manisya terharu sekali merasa diselamatkan oleh Adam untuk kesekian kalinya.


"Tenang saja, lain kali kita tarik dia ke tempat yang mahal, asal kalian tahu saja uangnya tak terhingga!" Tutur Bagas membuat Mona terlihat menarik kedua sudut bibirnya, Siska membulatkan kedua bola matanya, sedangkan Manisya Menatap haru kepada Adam.


"Tak tahu sopan santun! bukannya berterimakasih!" Kali ini Siska ikut berbicara, ia memprotes dengan ucapan Bagas dan Mona.


"Eh Maaf maaf, bukan begitu maksud saya Pak Adam, terimakasih banyak makan siangnya pak Adam!" Mona segera berterimakasih saat mendengar sindiran Siska.


"Terimakasih banyak Pak Adam!" Giliran Manisya yang berkata.


Namun saat Manisya yang berkata, ia menatap sangat tajam ke arahnya, namun tidak saat Mona yang berterimakasih.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, merekapun kembali ke kantor.


***


Jam pulang kantor akhirnya tiba.


"Mon?"


"Iya!" Jawab Mona sambil membereskan tasnya.


"Aku boleh pinjam uang mu ga?"


Mona yang duduk tepat di pinggir Manisya berhenti sejenak dari segala aktivitasnya kemudian menatap serius ke arah Manisya.


"Ada apa?"


"Dompetku hilang!"


Manisya menganggukkan kepalanya.


"Hilang sejak kapan?"


"Saat di kantin Mon, untung Adam eh maksudnya Pak Adam yang traktir kalau engga aku pasti malu!" Jawab Manisya.


"Kenapa bisa hilang?" Tanya Mona.


"Entahlah, aku tidak mengingatnya!"


"Aku akan mencarinya saat pulang nanti, semoga saja ada di rumah kontrakan ku Mon!"


"Iyah, semoga ada di sana!" Setelah itu Mona memberikan beberapa lembar uang kepada Manisya, dan Mona dan pegawai yang lainnya yang berada dalam ruangan tersebut satu persatu meninggalkan tempat karena saat itu memang sudah waktunya pulang.


Adam masih terlihat sibuk di depan komputer, Manisya menatapnya sejenak, kemudian iapun segera berpamitan kepada Adam.


"Adam!" Bisik Manisya.


Adam menatap tajam ke arah suara.


"Eh maaf, maksudku Pak Adam, saya pulang duluan!" Pamit Manisya tentu saja dengan tersenyum lebar ke arah Adam.


"Oia, makasih banyak sudah menjadi penolongku!"

__ADS_1


Adam hanya terdiam tak menjawab ucapan Manisya.d


Sedikit kecewa tak mendapat jawaban dari Adam, namun tentu saja Manisya mengabaikannya, ia segera berlalu meninggalkan Adam yang kala itu masih sibuk dengan komputernya.


"Kemana dompetku ya!" Fikirannya masih memikirkan dompetnya yang hilang. Saat itu ia berada tepat di depan lift, menunggu pintu lift terbuka, dan akhirnya pintu lift pun terbuka, Manisya segera masuk ke dalam lift.


Saat pintu lift hendak tertutup, seseorang dari arah luar menahan pintu, "Brak!"


Mansiya sedikit terkejut dengan ke datangannya yang tiba-tiba, ya orang tersebut tak lain adalah Adam. Manisya tersenyum lebar melihat Adam di hadapannya.


Namun kali ini karena fikirannya masih di liputi oleh dompetnya yang hilang, Manisya tak banyak bicara. "Bagaimana jika dompetku hilang!".


Tak lama saat Lift hendak menutup, Siska berlari menghampiri Lift, dan "Buk!" Tangan Manisya dan Adam bersentuhan saat bersamaan menekan tombol untuk menghentikan lift yang akan tertutup.


Manisya terlihat kaku, karena tangannya bersentuhan dengan Adam, sedangkan Adam hanya menatap sesaat ke arah Mansiya kemudian segera memalingkan muka nya.


"Maaf!" Ucap Mansiya.


"Makasih dam!" Ucap Siska sesaat setelah Masuk kedalam Lift, ahirnya pintu lift pun segera tertutup.


Adam hanya mengangguk mengiyakan.


Manisya yang saat itu sedang berdiri sejajar dengan Adam, melangkahkan kakinya ke belakang, merasa harus melakukannya.


"Apa aku boleh menumpang mobilmu?" Tiba-tiba Siska membuka percakapan.


Bola mata Adam untuk sesaat terlihat melirik ke arah belakang, "Ikut saja!" Jawab Adam.


"Deg!" Tiba-tiba jantung Manisya berdebar seketika mendengar jawaban Adam, kedua lututnya melemas, ia menundukkan kepalanya seakan kemenangan kini tak berpihak kepadanya.


Tiba-tiba Adam menoleh ke arah Mansiya.


"Rumahmu di mana?" Manisya yang sedang menunduk dengan perasaan sedihnya, mendengar pertanyaan Adam kepadanya seketika membulatkan kedua bola matanya menatap bingung ke arah Adam.


"Dia bertanya kepadamu, kenapa kamu tidak menjawab!" Siska mulai gemas melihat tingkah Manisya.


"Rumah kontrakanku dekat, sekitar 15 menitan dari sini, di jalan..!" Belum sempat Manisya melanjutkan perkataannya Adam sudah memotong ucapannya.


"Kamu juga boleh ikut!" Adam berkata dengan wajah tanpa ekspresi.


*****


Saat makan siang beberapa jam yang lalu.


Diam - diam Adam memperhatikan setiap gerakan Manisya, ia melihat Manisya yang sedang membuka tasnya dengan muka panik, setelah Manisya pamit ke toliet.


"Mau kemana?" tanya Siska melihat Adam beranjak dari kursinya.


"Toliet!" Jawab Adam sambil tak melilirik ke arah Siska.


Adam berjalan perlahan melewati toliet, kemudian berhenti tepat di depan toliet wanita, samar ia mendengar desahan Manisya mengeluhkan hilangnya dompet miliknya.


"Gadis bodoh!" Desah Adam sambil berbalik badan, menghampiri kasir, dan segera membayar tagihan makan siangnya bersama teman-temannya.

__ADS_1


***


__ADS_2