Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Kakek


__ADS_3

Setelah beberapa saat terhanyut dalam luapan kasih sayang. Adam dan Manisya mengakhiri ciuman tersebut dengan saling menatap, kemudian saling tersenyum menatap wajah di hadapan mereka masing-masing, merasa malu karena Adam lama menatap ke arahnya dan juga mengingat apa yang telah ia lakukan kepada Adam membuat kedua pipi Manisya merona seketika, ia kemudian menunduk. "Aku sangat malu!" Ucap Manisya.


"Ada apa dengan pipimu?" tanya Adam karena warna pipi Manisya semakin memerah.


"Jangan meanatap ku seperti itu!" Manisya yang malu menutupi wajahnya.


"Baiklah" Adam beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju area dapur, mengambil air putih dari dalam kulkas, kemudian meminum air itu. Setelah itu Adam menuangkan kembali air minum kedalam gelas yang ia pegang dan memberikannya kepada Manisya.


"Minumlah!" Memberikan gelas berisi air putih dingin kepada Manisya.


Manisya yang sudah duduk di atas sofa kemudian mengambil gelas yang di berikan oleh Adam tersebut.


"Aku akan mandi dulu, tunggulah sebentar!"


Adam menatap ke arah Jam dinding kemudian dilihatnya jam tersebut sudah menunjukkan jam 06.30 pagi.


Manisya pun Menatap Jam dinding mengikuti mata Adam yang berputar ke sana.


"Sepertinya akan sangat telat jika kamu pulang dulu,tak perlu pulang ya, pakai pakaianku saja!"


"Em, tidak perlu, aku akan memakai bajuku saja!"


Adam menatap Manisya dari ujung kepala sampai ujung kaki, tubuh wanita itu memang sangat kecil di bandingkan dirinya, ia sedang memperkirakan ukuran baju untuk Manisya saat itu.


Melihat Adam menatapnya, Manisya menyilangkan tangannya ke atas dadanya, takut Adam memikirkan hal yang tidak-tidak kepadanya.


Adam membalas menatap tajam ke arahnya, "Tidak seperti yang kamu bayangkan!" Sambil menarik tubuh Manisya mendekat kepadanya kemudian menjentikkan jarinya di dahi Manisya. "Itu hukuman karena berfikir buruk kepadaku!"


Manisya terlihat mengerutkan bibirnya sambil mengusap dahinya yang kini menjadi berwarna merah itu.


Setelah itu Adam memberikan sebuah kemeja putih polos miliknya kepada Manisya. Membiarkan Manisya menggunakan kamar Mandi miliknya terlebih dahulu.


Tidak Lama Manisya pun selesai berganti pakaian dan keluar dari kamar Mandi dengan pakaian lengkapnya menggunakan kemeja longgar miliknya yang di masukkan kedalam celana miliknya.


Adam tersenyum melihatnya.


"Apa ini tidak terlalu kebesaran!"


"Anggap saja itu sebuah gaya!"


Manisya menari kedua sudut bibirnya kemudian berkata, "Baiklah!"


Adam yang tengah duduk di sofa berjalan mendekati Manisya sambil mengusap lembut bagian atas kepalanya, kemudian berlalu masuk ke dalam kamar Mandi.


Manisya memandang sebuah cermin yang terpajang di sisi sofa, cukup lama Manisya tersenyum memandang ke arah cermin, "Karean ini baju milik Adam, aku jadi terlihat Cantik!" Sambil mengusap kemeja putih yang terpasang di badannya itu, sebetulnya Manisya hanya merasa senang karena Adam membiarkannya memakai baju miliknya walaupun sebetulnya terlihat kebesaran.


"Rambutku belum rapih!"


"Ceklek!" Terdengar sebuah  pintu terbuka, ya Adam membuka pintu kamar Mandi.


Manisya segera menghampirinya bermaksud untuk meminjam sisir milik Adam. Namun bibirnya yang hendak berucap itu tiba-tiba terhenti saat melihat Adam keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai sebuah handuk yang terikat pada pinggangnya, membuat dada bidangnya yang mulus terlihat begitu saja memenuhi kedua bola mata Manisya, sedangkan rambutnya yang basah terlihat sedikit menutupi wajahnya membuat Manisya mematung menatap ke arah Adam untuk sesaat, jantung nya tiba-tiba bergetar hebat melihat ke indahan tubuh lelaki yang ada di hadapannya itu, setelah itu Adam pun melihat ke arah Manisya, mata Adam dan Manisya terlihat saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat, kemudian Manisya segera memalingkan wajahnya dari Adan dan segera menutup matanya.


"Aku tidak melihat apapun!" Tutur Manisya sambil mengalihkan pandangannya dari Adam.


Adam terlihat menarik kedua sudut bibirnya melihat Manisya yang menutupi wajahnya karena menghindari dirinya, "Kamu sudah melihatnya!" Adam mencoba menggoda Manisya tanpa merubah Ekspresi wajahnya.


Manisya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak terima dengan perkataan  Adam kepadanya.


"Sungguh aku tidak melihatnya!"


Setelah itu Adam berlalu masuk kedalam kamarnya tak menanggapi perkataan Manisya.


Tak lama, Adam terlihat sudah lengkap dengan pakaian kerjanya saat keluar dari kamar, wangi Parfume tercium oleh Manisya saat Adam keluar dari kamarnya.


"Kamu sudah siap?" Tanya Adam sambil berjalan menghampiri Manisya yang tengah duduk di Sofa.


"Apa aku boleh meminjam sebuah sisir, aku lupa membawanya!"


"Sisir?" Tanya Adam kembali mengulangi pertanyaan Manisya.


Manisya pun mengangguk  mengiyakan ucapan Adam. Setelah itu Adam membawa sisir miliknya kemudian duduk tepat di samping Manisya, dan betapa terkejutnya Manisya saat Adam mulai membantunya menyisir rambutnya.


"Seperti ini?" Tanya Adam.


Manisya hanya mengangguk.


"Biar aku bantu mengikat rambutmu!" Dengan cekatan Adam menyisir dan mengikat rambut Manisya yang tidak terlalu panjang itu. Salam itu jantung Manisya di buat bergetar kembali dan merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.


"Selesai!"Adam selesai mengikat rambut Manisya dengan sangat rapih.


Manisya yang kala itu tengah membelakangi Adam, menengok Adam kemudian tersenyum, "Terimakasih!"


Adam mengangguk dengan menajam kan matanya sejenak, kemudian tangannya melingkar kembali pada tubuh Manisya, menyenderkan dagu miliknya pada pundak Manisya setelah itu menyenderkan kepalanya.


Sambil menikmati pelukan Adam, Manisya menyentuh lembut tangan yang melingkari tubuhnya itu, sedangkan salah satu tangannya mengusap lembut pipi Adam yang salah satu pipinya menempel pada pipi miliknya.


"Kita akan kesiangan!" Kata Manisya.


"Biarkan saja! aku ingin seperti ini"


Setelah itu Manisya membiarkan Adam untuk memeluknya hangat tubuhnya untuk beberapa saat, namun Adam tak kunjung melepaskan pelukannya, sedangkan langit semakin berwarna teran saat Manisya mencoba menengok ke arah jendela.


Manisya kembali mengusap pipi Adam secara perlahan. "Adam, lihatlah sudah terlalu siang!"


"Hem?"


"Sudah siang, bagaimana jika Manajer memarahi kita karena kesiangan?"

__ADS_1


"Kamu memanggilku apa barusan?"


"Adam?" Manisya mengangkat kedua alisnya merasa tidak adak yang salah dengan ucapannya.


"Tidak jangan seperti itu!" Jawab Adam.


"Pak Adam?" Memutar kedua bola belum mengerti maksud perkataan Adam.


Adam menggelengkan kepalanya, masih tidak setuju dengan jawaban Manisya.


"Aku tidak akan melepaskan pelukanmu sebelum kamu menjawabnya dengan benar!" Adam semakin mengencangkan pelukannya.


Manisya hanya diam mencoba mencari jawaban atas apa yang di katakan Adam kepadanya.


"Em, apa tidak apa-apa aku memanggilmu dengan sebutan itu?"


"Memangnya sebutan apa?"


Manisya sedikit Ragu menjawab, kemudian terlihat menarik nafasnya sebelum ia berkata.


"Sayang?"


"Hemh?" Jawab Adam.


"Sayang?" Manisya memanggil Adam kembali dengan panggilan barunya sambil melebarkan bibirnya,


"Hem!" Jawab Adam


"Apa tidak apa-apa aku memanggilmu seperti itu?"


Adam mengangguk "Tidak apa-apa! Aku menyukainya!"


"Baiklah aku akan memanggilmu Seperti itu mulai saat ini"


"Adam!" Panggil Manisya yang belum terbiasa memanggil Adam dengan sebutan sayang, namun Adam tidak menjawab.


"Sayang, ayo kita berangkat! ini sudah terlalu siang!" Manisya mengulangi panggilannya.


Adam terlihat menarik kedua sudut  bibirnya mendengar Manisya memanggilnya dengan sebutan Sayang, kemudian mencium bagian belakang kepala Manisya, setelah itu melepaskan pelukannya.


"Ayo kita berangkat!"


Adam dan Manisya pun berangkat Menuju kantor dengan menggunakan Mobil milik Adam.


***


Setiba nya di kantor, Adam dan Manisya bersikap seperti biasa, tidak ada yang merasa curiga dengan kedatangan mereka bersama karena semua rekan kerjanya sudah di sibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Kamu kesiangan lagi Sya?" Tanya Mona.


"Kamu mau kopi ga?" Manisya mencoba mengalihkan perhatian.


"Tuh lihat, temenmu yang baik ini sudah baik hati membantumu menyiapkan minuman pagi?"


Seketika pandangan Manisya beredar melihat semua meja sudah tersedia sebuah cangkir yang berisi minuman hangat berupa Secangkir Kopi atau Teh.


"Hehe, kamu memang paling baik!" Peluk Manisya kepada Mona sebagai rasa ucapan terimakasihnya karena menggantikannya menyiapkan minuman.


Tiba-tiba Mona berbisik di telinga Manisya, "Aku melihat kalian datang bersama! Jelaskan padaku apa hubunganmu dengan Adam saat duduk di bangku SMA?"


Manisya begitu  terkejut mendengar ucapan Mona yang sudah mengetahui jika dirinya dan Adam merupakan teman sejak duduk di bangku SMA, namun Mona hanya belum mengetahui jika dirinya dan Adam lebih dari sekedar teman.


"Dari Mana kamu tahu aku teman SMA Adam?" Tanya Manisya masih berbisik di telinga Mona.


Mona menggerakkan sedikit kepalanya sambil menatap ke arah Adam.


Seketika kedua mata Manisya membulat setelah melihat sebuah isyarat dari Mona jika Adamlah yang mengatakannya.


"Aku akan memberitahumu nanti saat makan siang!" Bisik Manisya dengan seulas senyum di bibirnya.


Setelah itu Manisya, Mona dan seluruh Karyawan yang ada di sana melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, namun secara tiba-tiba terdengar suara gaduh yang berasal dari beberapa orang berjalan menuju ruangan tempat Manisya dan Mona berada.


"Silahkan Pak direktur sebelah sini!" Manajer mempersilahkan seorang laki- laki yang usianya sudah terlihat tak lagi muda namun dengan pakaian yang sangat rapih.


Ya orang yang dipersilahkan sang Manajer masuk kedalam ruangan adalah CEO yang tak lain adalah pemilik perusahaan. Seketika semua orang yang berada dalam ruangan tersebut berdiri di depan meja mereka masing-masing dengan bibir tersenyum menatap ke arah CEO.


CEO itu menatap satu-persatu para karyawan yang ada di sana dengan wajah yang tidak bersahabat, pandangannya tertahan agak lama saat menatap Manisya yang sedang tersenyum lebar ke arahnya, setelah itu ia memperhatikan Adam dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Siapa yang menyuruhmu menempatkan dia di sini?"


"Dia tuan?" Tanya Manajer memastikan, karena pandangannya terbagi menjadi dua, kadang menatap ke arah Manisya, terkadang menatap ke arah Adam.


"Aku tidak pernah menyuruhmu menempatkan dia di sini! bukankah aku sudah bilang kepadamu, di akan belajar menjadi seorang pemimpin! bukan menjadi seorang bawahan seperti ini!"


Manajer menunduk, kemudian berkata, " Maaf tuan, sepertinya saya salah mengartikan maksud tuan!"


"Pindahkan dia!" Menunjuk Adam yang tengah berdiri menatapnya.


Setelah itu berlalu meninggalkan ruangan tanpa berkata satu patah katapun.


Manajer mengikuti pria tersebut dari belakang, serta memberi sebuah isyarat kepada Adam agar mengikutinya dari belakang. Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut hanya berdiri mematung menatap ke arah terjadinya keributan, merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi saat itu.


Setelah semua keributan berhenti.


"Apa yang sedang terjadi?" Tanya seorang karyawan.


"Sepertinya Manajer membuat kesalahan!" Jawab Karyawan lain memberikan perkiraan jawaban.

__ADS_1


Saat itu terdengar keributan semua orang tengah membicarakan apa yang tengah terjadi, dengan pemikiran mereka masing-masing memperkirakan apa yang sedang terjadi.


Saat orang lain sudah berdiri pada kursinya masing-masing, Manisya hanya mematung masih tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi.


Mona menepuk pundak Manisya.


"Hei, kenapa bengong seperti itu!"


"Apa Adam akan baik-baik saja?" Tanya Manisya sambil menatap Mona.


"Tentu saja, tenang lah!" Bisik Mona seolah mengerti apa yang di khawatirkan oleh Manisya.


Saat Manisya sudah mendaratkan tubuhnya pada kursi kerjanya, Mona sengaja menggeser kursi miliknya mendekat pada Manisya kemudian berbisik.


"Apa kamu menyukainya?" bisik Mona.


Manisya menatap Mona, kemudian menjawab hanya dengan menganggukkan kepalanya.


"Apa dia juga menyukaimu?" Tanya Mona kembali.


Manisya terdiam sesaat, "Em mungkin!"


"Mungkin?"


Karena Mona terus saja mendaratkan pertanyaan, akhirnya saat jam makan siang Manisya menjelaskan hubungan dirinya dengan Adam saat masih duduk di bangku SMA secara terperinci.


***


Beberapa saat lalu di ruangan Manajer. Adam, CEO dan Manajer duduk di ruangan Manajer.


"Pindahkan dia hari ini juga!" Perintah CEO yang tak lain adalah Kakek Adam sendiri.


"Baik tuan!" Jawab Manajer.


"Aku tidak apa - apa di sini, bukankah kita harus mengetahui dari hal yang terkecil agar bisa mencapai yang lebih besar!" Adam memberi alasan, alasan terbesar nya adalah tak ingin berjauhan dari Manisya.


"Jangan membantahku!"


Adam diam, merasa malas untuk berdebat dengan kaki-laki yang menjabat sebagai CEO itu yang tak lain adalah kakeknya sendiri.


"Aku tidak mau tahu, besok aku tak ingin melihatmu di sana lagi!"


Dengan menyembunyikan raut muka kecewanya, Adam mengangguk, perasaan tak senang tentu saja berada dalam hatinya kini, memikirkan bagaimana ia akan berjauhan dengan Manisya membuat perasaannya kacau.


Adam tak menjawab ucapan sang kakek ia memilih diam.


"Baik tuan akan segera saya siapkan posisi baru untuk Pak Adam!" Dengan sigap sang manajer menjawab.


"Kalau begitu aku permisi dulu!" Merasa kesal, Adampun segera beranjak dari kursinya untuk segera pergi dari ruangan Manajer


"Tunggu!" Ucap sang Kakek.


Adam yang telah melangkahkan kaki nya seketika menengok ke arah sang Kakek.


"Makan malam nanti datanglah ke rumah, ibu dan Ayahmu akan datang ke sana!"


Untuk sesaat Adam terdiam, "Baik!" Tak banyak berucap, setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan Manajer.


***


Saat jam pulang.


Adam terlihat mendekati Manisya yang masih duduk di kursinya yang masih bekerja membereskan sejumlah berkas yang menumpuk di hadapannya untuk segera di rapihkan.


"Aku akan pulang terlebih dahulu, aku kan makan malam di rumah kakekku, tak perlu menungguku!"


Bukan hanya Manisya yang terkejut mendengar ucapan Adam, Mona dan semua karyawan di dalam ruangan itupun terkejut mendengar ucapan Adam yang mengisyaratkan kedekatan mereka tak lebih dari sekedar teman.


Manisya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Adam, setelah itu Adam segera pergi meninggalkan ruangan kerjanya, tentu saja dengan pamit kepada semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


***


Dalam Ruangan Manajer.


"Aku tidak mau tahu, besok dia harus segera pindah dari sana!"


"Baik tuan!"


"Siapa wanita itu?"


"Wanita?"


"Wanita yang duduk di hadapan cucu ku?"


Mencoba mengartikan maksud ucapan laki-laki yang duduk di hadapannya, manajer terdiam sesaat menebak wanita yang di maksud CEO.


"Maksud tuan Manisya?"


"Manisya?" Tanya CEO kembali.


"Iya tuan, dia sudah lama bekerja di sini!"


***


Maaf ya updatenya lama.. Makasih selalu setia membaca, walaupun tulisan nya acaka-acakan.. 😁


Semoga kita semua sehat selalu, dan pandemi ini segera berakhir agar kita bisa beraktivitas seperti sediakala.. "Rindu"

__ADS_1


__ADS_2