
"Boleh ga sayang?" Ibu Dewi meminta izin keoada Manisya.
"Boleh apa si bu, orang ga ada apa-apa" Kata Manisya.
"Terus kenapa kelihatan senang sekali setelah dapat pesan dari Adam?"
Sektika Manisya membelalakan kedua matanya, merasa kaget apa yang di ucapkan ibunya, karena hal itu memang benar.
Sang Ibu sering memperhatikan Manisya jika Sedang ada Adam, ia kemudian mencoba mengartikan sesuatu antara Manisya dengan Adam, dan dugaannya memang benar.
"Mm, Kenapa ibu bisa tahu?" tanya Mansiya ragu.
"Terlihat jelas sekali tertulis di wajah mu" Sang ibu mulai menggoda.
"Apa sih bu" kedua pipi Manisya merah merona mendengar perkataan Ibunya.
"Kalian ngomongin apa?" Pak Aralan yang sedang menyetir mencoba masuk kedalam percakapan.
"Rahasia perempuan" Jawab sang Ibu sambil melihat ke arah Manisya yang duduk du belakang kursi kemudi.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah.
Dua hari berlalu, saat Manisya keluar dari rumah sakit memang sekolah sedang libur tepatnya weekend , sehingga Manisya bisa beristirahat untuk memulihkan Badannya yang baru saja sembuh.
Manisya baru selesai bersiap untuk berangkat ke sekolah, ia sedang menyantap sarapan yang di siapkan sang Ibu.
"Kamu udah sehat beneran?" tanya Ibu Dewi Merasa khawatir.
"Udah donk bu, liat nih" Manisya berkata dengan satu tangan memegang sendok dan satu tangan ia kepalkan untuk ia tunjukkan kepada sang ibu bahwa ia benar-benar sehat.
"Iya iya, Ibu percaya, semangat banget yang mau sekolah, habisin dulu ya sarapaannya" Ibu Dewi merasa senang melihat Manisya yang sudah ceria kembali, ia memandangi Manisya, kemudian menarik kedua sudut bibirnya.
"Itu kamu bawa apa" tanya ibu dewi melihat Manisya membawa sebuah paper bag.
"Itu sweaternya Adam bu, mau Manis balikin" Jawab Manisya seadanya.
"Adam kasih pinjam sweaternya?" tanya sang Ibu penasaran.
"Iyah, waktu tempo hari naik motor bu" Jawab Manisya kembali.
"Apa Adam suka sama kamu?" Ibu Dewi mulai menebak.
"Suka?" Manisya kaget.
"Bukan - bukan Bu, ini cuma di pinjemin aja" Jawab Manisya kembali, tak mau Ibunya salah faham.
"Tapi kamu pengennya Adam suka sama kamu kan" Ibu Dewi masih mencari informasi.
"Ibu inih apaan sii" Pipi Manisya merah merona mendengar kata sang Ibu.
"Manisya pergi dulu ya bu" Membereskan Makananya kemudian bergegas pergi, tak mau sang ibu menebak nebak jika dirinya sangat menyukai Adam.
"Gawat kalo Ayah sam Ibu tau, bisa ramai satu satu kampung" Manisya bergidig membayangkan jika Ayah dan Ibunya tau kalau dirinya sudah sejak lama suka sama Laki-laki yang namanya Adam tersebut.
__ADS_1
Tak berapa lama, Bis yang di tunggu Manisya tiba, kemudian ia menaiki bis tersbut, ia celingkuan mencari kursi yang kosong untuk ia duduki, saat itu kondisi Bis cukup ramai, hampir semua kursi terisi.
"Di sebelah sana Mba, ada yang kosong" Seorang ibu menunjuk salah satu kursi kosong yang dipinggirnya terlihat seorang laki-laki dengan jaket menutupi kepalanya.
"Baik bu, makasih" kemudian Manisya duduk di kursi yang kosong tersebut.
Manisya duduk berdampingan dengan seorang laki-laki yang Manisya sendiri tak memperdulikannya.
Manisya menatap ke arah jendela, ia melihat laki-laki yang tengah tertidur dengan jacket hampir menutupi semua mukanya dengan kepalanya yang menunduk.
"Sepertinya aku mengenalnya" Nisya menatap ke arah laki-laki yang duduk tepat di sebelahnya, namun ia tak berhasil mengingat laki-laki tersebut.
Seperti biasanya selama perjalanan menuju sekolah ia menghabiskan waktunya dengan terbuai kedalam mimpinya, Manisya terlelap dalam tidurnya.
Ditengah perjalanan.
"Duk" kepala Manisya berbenturan dengan sesuatu, benturan tersebut berhasil membuat Manisya terbangun dari tidurnya.
"Aduuh" Manisya mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit akibat sebuah benturan, perlahan Manisya pun membuka kedua matanya.
"Aw" Suara laki-laki tersebut menahan sakit.
Manisya yang masih mengusap kepalanya menengok ke bangku sebelahnya, ternyata yang berbenturan adalah kepala Manisya dan kepala seorang laki-laki yang duduk tepat di sebelahnya.
Mereka saling menatap.
"Lo" menunjuk Manisya.
"Adam" Manisya melebarkan kedua matanya karena kagetnya melihat laki-laki yang duduk di sebelahnya adalah Adam.
"Aku kan mau sekolah" Jawab Manisya.
"Maksud gua, ngapain lo duduk di sebelah gua" Adam bermaksut menyuruh Manisya berpindah tempat duduk.
"Idih kamu ke pedean, orang noh liat, semua kursi tadi penuh, cuma kursi di sebelah kamu saja yang kosong, makannya aku duduk di sini" Manisya menjelaskan, tak ingin kesalahpahaman terjadi di antara dirinya dan Adam.
"Lagian aku kan ga tau kalau yang duduk di sini itu kamu" Manisya berkata kembali, kemudian menarik kedua pipinya yang dia berikan untuk Adam, Manisya tersenyum.
"Ngapain lo senyum-senyum?" tanya Adam mulai risih.
"Aku kan seneng bisa duduk berdampingan sama kamu" Nisya menjawab sambil menjulurkan lidahnya kepada Adam.
"Kena kamu" Nisya berkata dalam hatinya.
"Aku kira kamu suka di antar dam" Manisya memulai percakapan kembali.
"Bukan urusan lo, dan jangan berisik!" Adam menatap Manisya memberi peringatan.
"Iya iya" Jawab Manisya yang sudah terbiasa dengan tatapan kesal Adam.
"Besok-besok kita berangkat barengan aja kalau begitu" Manisya mulai menggoda Adam kembali.
Adam menatap kesal kembali pada Manisya.
__ADS_1
"Hehehe" Manisya tersenyum penuh kemenangan.
"Iih galak amat, aku cuma bercanda, ya kalau ga mau juga, kalau memang takdir harus ketemu ya pasti ketemu, kayak sekarang ini nih, hehe" Manisya tak berhenti mengoceh.
Adam geram dengan ocehan Manisya, Adam yang mulai memalingkan muka menatap ke arah jendela, menatap tajam kembali ke arah Manisya.
"Iya iya aku ga ngomong lagi" Manisya mulai ketakutan melihat Air muka Adam.
"Adam, aku mau berterimkasih banyak sama kamu karena udah membayar tagihan rumah sakit aku" Manisya berkata kembali, seakan lupa jika dirinya berjanji tidak akan berisik.
Adam yang mulai memejamkan matanya, membuka kembali kedua matanya, menatap malasa ke arah Manisya.
"Lo masih ingat kan, itu hutang lo" Jawab Adam mengingtakan.
"Tentu saja, aku pasti mengingatnya dan aku pasti akan membayarnya" Jawab Manisya dengan tegas.
"Lo mau bayar dengan apa" Tanya Adam.
"Kata kamu aku boleh mencicilnya, nanti pulang sekolah aku akan mencari pekerjaan" Jawab Manisya.
"Lo mau kerja?" tanya Adam dengan mengangkat kedua alisnya.
"Apa yang lo bisa lakukan?" tanya Adam ragu.
"Aku bisa mencuci piring, mencuci baju, menjaga toko, dan masih banyak yg lainnya" Jawab Manisya bangga.
"Bodoh" kata Adam.
"Apa kamu bilang?" tanya Manisya penuh emosi mendengar kata-kata Adam.
"Iyah, BODOH" Adam menegaskan kembali kata-katanya.
"Maksut kamu apa?" tanya Manisya.
Kini dari kursi yang di duduki Adam dan Manisya terdengar sebuah keributan, yang sedikit banyak menyita perhatian penumpang lainnya.
"Semua wanita di dunia ini bisa mencuci baju, mencuci piring, atau hal-hal umum lainnya yang memang di kerjakan seorang wanita, maksud gua lo mau kerja, lo punya ke ahlian ga, ke ahlian yang lo punya dan oranglain ga punya" Adam menjelaskan.
Nisya memutar matanya ke kanan dan ke kiri.
"Mmm, aku ga punya" Manisya mengerucutkan bibirnya kemudian menundukan kepalanya.
Adam menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi kan bisa mencuci piring juga itu bisa menghasilkan uang" Manisya mendapatakan ide.
Adam mengerutkan dahinya.
"Terserah lo" Jawab Adam.
"Dan satu lagi, aku bisa menaklukan Hati kamu, hehehe" Manisya terkekeh, bangga akan jawabannya.
Adam menatap tajam Manisya dengan perasaan kesal, kemudian mendekatkan kepalanya kepada Manisya, kedua tangan Adam meraih pipi Manisya dan menekannya dengan paksa hingga Manisya kesulitan berbicara.
__ADS_1
"Coba saja kalau bisa!" Adam berkata masih dengan tangan menekan pipi Manisya.
.