Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Di sekolah


__ADS_3

"Wanita Bodoh." Berkata sambil menatap ke arah Manisya, tepatnya menatap bagian belakang tubuh wanita yang selalu berhasil membuatnya jengkel tersebut.


Setelah tak terlihat lagi sosok tubuh Manisya dari pandangannya, Ia pun menaiki sepeda motor miliknya yang terpakir tepat di pinggirnya, Adam pun melajukan kencang motor yang ia kendarai.


Malam itu Adam diliputi kegelisahan yang menyelimuti firkirannya, entah apa yang sedang terjadi pada dirinya, entah perasaan marah, atau kecewa, atau mungkinkah ada hal yang lain, yang ia sendiri pun tidak tahu apa sebenarnya itu.


"Aahhh.. Sial, wanita menyebalkan" Adam mengusap gusar wajahnya. Merebahkan badannya di atas kasur, Berusaha memejamkan matanya namun urung berhasil dilakukan, menatap ponsel miliknya menutup kembali, membuka social media melauli hpnya sudah ia lakukan, namun perasaannya tidak urung damai, Malam itu ia baru bisa tidur mulai jam 03.10 dini hari.


Ke esokan harinya di sekolah.


"Semangat Manisya" Manisya mengepalkan tangannya menyemangati diri sendiri, ia berjalan memasuki gerbang sekolah memegang erat tali tas punggungnya. Ada kegelisahan menyelimuti perasaannya, apalagi jika bukan perasaannya pada Adam.


"Fiiiuuuhh.." Manisya menghela Nafas panjang.


"Semoga Adam belum datang" Manisya berjalan pelan saat hendak memasuki kelas, bahkan ia menutup matanya. Perasaannya kini makin gelisah, rasa malas bertemu dengan Adam untuk sementara waktu karena kejadian pertengkaran semalam, mana mungkin hal itu bisa di hindarkan karena nyatanya Manisya satu kelas dengan Adam.


"Ya tuhan semoga Adam tidak datang sepagi ini" Manisya berkata dalam hatinya sambil berjalan masuk kedalam kelas dengan mata tertutup, kemudian perlahan ia membuka kedua matanya.


"Syukurlah" Manisya mengusap dadanya perlahan saat mengetahui belum ada siapa-siapa di dalam kelasnya.


"Lo bersyukur karena gua belum datang ?" suara tersebut berhasil mengagetkan Manisya, ia sangat kenal dengan suara itu, Manisya spontan melirik ke arah suara berasal, tepatnya di belakang badan Manisya.


"Maaf aku sedang tidak ingin berdebat denganmu" Manisya berusaha menenangkan suasana yang mulai memanas kembali setelah semalam ia mulai bisa menenangkan perasaanya.


Adam menatap tajam ke arah Manisya memastikan sesuatu yang ia lihat.


"Ada apa dengan mata Lo?" Adam melihat mata Manisya yang bengkak, ya bengkak karena semalaman ia menangis, menangisi kata-kata Adam yang memintanya melupakan ciuman pertamanya.


"Gak apa-apa lagi sakit mata aja" Jawab Manisya ngasal.


"Ikut gua, ada yang perlu gua omongin" Adam memulai kembali percakapan di antara mereka, Adam berjalan mendekat ke arah Manisya.


"Tapi aku.. aku sedang tidak ingin bicara denganmu" Manisya masih keukeuh dengan pertahanannya.


"Tapi ada yang perlu gua jelasin" Adam tidak terima dengan sanggahan Manisya, Kini Adam menarik paksa tangan Manisya supaya ikut dengannya.


"Ku mohon Dam lepasin aku, jangan membuat perasaanku yang tenang kacau lagi" Manisya berkata dengan polosnya, namun tak di hiraukan Adam.


"Adam tolong lepasin" Manisya mulai berkaca-kaca.


Masih tak dihiraukan Adam.


"Lepasin.." Manisya berontak.


Adam melihat ke arah Manisya menghentikan langkahnya sejenak.

__ADS_1


"Ikut gua.." Adam mengencangkan cengkraman tangan Manisya kembali dan berusaha menariknya untuk keluar kelas.


"Lepasin Adam, aku bilang aku sedang tidak ingin berbicara denganmu, tolong mengertilah" Kini Manisya lebih mengeraskan suaranya.


Karena Manisya terus meronta-ronta meminta Adam melepaskan tangannya, akhirnya Adam melepaskan tangan Manisya dengan kasar.


"Tapi kita harus bicara!" Adam menjawab kencang perkataan Manisya.


Adam menatap ke arah Manisya "Jangan cengeng"


"Siapa yang cengeng, mataku kena debu" jawab Manisya sambil menyeka air matanya Yang sedikit berjatuhan.


"Wanita cengeng" Adam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tak ingin bicara denganmu! pokoknya ga mau!"


mendengar hal tersebut membuat Adam menarik kembali lengan Manisya.


"Apa yang ingin kamu lakukan" tanya Manisya dengan menundukkan kepalanya tak ingin Adam melihat matanya yang mulai merah.


"Apa lo sudah lupa apa yang gua katakan tadi, bodoh" Adam mulai meninggikan suaranya.


"Lepasin tanganku dulu" Manisya meminta Adam melepaskan tangannya.


"Baiklah bicara di sini saja, toh ga ada siapa-siapa, aku tak ingin orang- orang salah paham"


jawab Manisya dengan perasaan khawatir menyelimuti dirinya.


"Maksut lo apa" jawab Adam sedikit menantang.


" Aku ngerti Maksud mu, tenang saja, aku tidak akan memberitahukan kejadian kemarin pada siapapun, aku janji".


"Apa lo yakin?" tanya Adam penuh ragu.


"Tentu saja, walaupun aku bilang kejadin kemarin, aku yakin tak akan ada yang percaya padaku" Terlihat raut kekecewaan di muka Manisya.


"Tapi.." Manisya melanjutkan perkataannya kembali.


"Tapi apa?" tanya Adam pensaran.


"Jangan suruh aku melupakannya, aku tidak bisa!"


"Kenapa seperti itu?" tanya Adam kembali.


"Kamu sendiri lebih tau jawabannya" Manisya memberi isyarat pada Adam, bagaimana mungkin Manisya bisa melupakan ciuman pertama dengan laki-laki idamannya, bahkan mimpi bertemu dengan Adam saja tak bisa ia lupakan, apalagi ini sebuah ciuman.

__ADS_1


"Aku akan menepati janjiku, jadi tenang saja, aku bersedia menerima hukuman apapun darimu jika suatu saat ada yang mengetahuinya" Manisya memberi sebuah kesepakatan dengan Adam.


"Aku pegang janjimu"


"Baiklah" Manisya menjawab dengan sedikit malas.


Adam dan Manisya pun duduk ke kursi mereka masing-masing.


Saat tengah duduk Manisya menoleh ke arah Adam.


"Adam apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Manisya.


Adam hanya menjawab dengan menatap tajam ke arah Manisya.


"Apa kamu punya seorang pacar" Tanya Manisya tanpa ragu.


"Apa urusan Lo?" Adam malah balik bertanya.


"Aku kan hanya bertanya" jawab Manisya dengan sedikit malas.


"Satu pertanyaan lagi" Manisya tersenyum pada Adam, sedangkan Adam hanya menjawab Manisya dengan tatapannya.


"Kenapa kamu lakukan itu?" pertanyaan Manisya membuat Adam membulatkan matanya hingga membuat Manisya sedikit ketakutan, ia kembali menatap Manisya tanpa berkata sepatah kata pun.


"Ga usah di jawab, kalo kamu ga mau jawab sekarang, aku harap kamu punya alasan yang baik".


Saat Adam dan Manisya sedang bertatap mata, tiba-tiba.


"Pagi Sya" sapaan Nina membuat Adam dan Manisya mengubah pandangan masing-masing.


"Hei.. Pagi Nina ku.." Menyapa Manisya dengan penuh semangat.


"Kalian berdua mencurigakan" menunjuk kearah Adam dan Manisya.


"Hemmmpp, bau kebohongan" Nina mengikuti gaya kucing mengendus makanan ke arah Manisya.


"Apaan sii Nin, aku sedang tidak ingin bercanda"


"Apa yang kamu lakukan padanya Dam?" Nina mencoba menebak apa yang sedang terjadi.


"Bukan urusan Lo" Jawab Adam singkat namun penuh pertanyaan untuk Nina. Adam menidurkan kepalanya di atas meja karena kejadian semalam yang bikin ia tidak tidur semalaman, Entah apa yang sedang ia fikirkan.


"Jadi benar antara kalian sedang terjadi sesuatu?" Nina bertanya pada Manisya menginterogasi.


"Apaan sih nin jangan suka ngarang ya"

__ADS_1


__ADS_2