Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Penyesalan


__ADS_3

"BRAAAAANG," Bunyi sebuah piring yang telah terisi setumpuk Nasi tiba-tiba terjatuh ke tanah mengenai kaki Manisya, sialnya tepat di bawah kaki Manisya terdapat sebuah batu yang berhasil membuat piring utuh tersebut menjadi hancur tak berbentuk, dan sialnya lagi, Manisya saat itu hanya memakai sebuah sandal jepit, entah bagaimana awalnya tiba-tiba sebuah garis berwarna merah berhasil tergambar di punggung kaki Manisya.


Riuh para peserta Camping yang sedang berbaris,dan para peserta Camping yang mulai menyantap makanan yang dalam piring mereka masing-masing teralihkan oleh sebuah bunyi pecahan piring yang berasal dari arah Manisya berdiri, Manisya kini menjadi pusat perhatian semua mata yang berada di sana. Ia mengabaikan sebuah garis merah yang berada pada punggung kakinya, Manisya dengan segera berjongkok memunguti pecahan kaca yang berserakan di sana, Samira dan Nina yang melihat kejadian tersebut segera membantu Manisya mengambil pecahan-pecahan piring yang telah berserakan.


Entah apa yang ada di dalam fikiran Adam saat itu, ia hanya mematung menatap ke arah Manisya, sebelum akhirnya ia meletakkan piring yang ia pegang bergeser ke luar barisan kemudian membantu Manisya merapihkan pecahan piring yang berserakan,


"Apa kamu baik-baik saja Sya?" Tanya Nina kepada Manisya yang kala itu memegang sebuah pecahan kaca di tangannya.


"Aku baik-baik saja Nin!" Jawab Manisya dengan muka yang terlihat linglung, namun masih bisa menyematkan sebuah senyuman di bibirnya.


Akhirnya pecahan kaca yang semula berserakan tak menentu, kini tak terlihat lagi bentuknya di sana, semua pasang mata yang berada di sana kini perlahan tak lagi memusatkannya pada Manisya, perlahan mereka kembali mengambil pandangannya dengan aktivitas mereka masing, walaupun sesekali beberapa pasang mata masih menatap penasaran kepada Manisya.


"Sya tanganmu berdarah!" Nina melihat sebuah goresan luka di jari Manisya, luka itu terlihat lebar namun Manisya belum menyadari hal itu sebelum Nina melihatnya.


"Benarkah!" tanya Manisya sambil menatap ke arah jarinya mencari luka yang di maksud Manisya.


"Aw," Manisya meringis kesakitan secara tiba-tiba sesaat setelah Nina memberitahu luka di jarinya.


"Aneh sekali, kenapa sakitnya baru terasa sekarang ya, padahal dari tadi aku tidak merasakan apa-apa!" Manisya merasa heran akan hal tersebut.


Adam yang kala itu hanya terdiam menatap ke arah Manisya, menyadari hal tersebut membuat Manisya balik menatap ke arah Adam.


"Aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa!" tutur Manisya seakan mengerti apa yang kini ada dalam fikiran Adam, bermaksud menenangkan Adam.


Adam hanya terdiam menatap Manisya.


"Aku serius aku baik-baik saja." Kata Manisya sambil memperlihatkan telunjuk kanannya yang terluka.


Saat jari Manisya yang terluka ia angkat, saat itu terlihat darah yang hendak menetes dari jarinya yang terluka, saat itu Adam menarik tangan Manisya dengan kuat, Manisya di buat kaget dengan kelakuan Adam.


"Tak perlu merasa khawatir, aku serius aku baik-baik saja!" tutur Manisya sambil mensejajarkan langkah kakinya dengan Adam, mereka juga mengabaikan saat ini Adam dan Manisya telah menjadi pusat perhatian.


"Duduklah!" Perintah Adam saat sampai di tenda miliknya, Manisya pun saat itu mengikuti perintah Adam, duduk di sebuah kursi yang tersedia di depan tenda tersebut, Adam masuk kedalam tenda miliknya untuk mengambil perlengkapan obat miliknya.


Saat sedang duduk menunggu Adam, Manisya menatap ke arah langit, langit yang kini hanya menunjukan sisi gelapnya sehingga tak memperlihatkan taburan bintang di atas sana, hanya ada satu atau dua titik cahaya seperti sedang menatap senyum ke arahnya, begitu pun dengan rembulan, ia seakan sibuk dengan persembunyiannya di balik langit yang gelap. Kala itu, Manisya hanya di temani oleh cahaya dari lampu-lampu yang di pasang oleh pengelola dari Kampung Camping yang tak kalah indah dengan warna langit malam ini.


Adam menghampiri Manisya dengan sebuah kotak di tangannya, kemudian duduk di sebuah kursi kosong tepat di pinggir Manisya.


"Apa itu?" tanya Manisya melihat sebuah benda di tangan Adam.


"Apa itu obat?" tanya Manisya kembali namun tak dijawab oleh Adam.


Adam memulai membuka sebuah pouch yang ada di tangannya, sebuah pouch yang di dalamnya berisi obat-obatan.


"Kemarikan!" Adam berhasil menarik tangan Manisya, ia simpan tangan Manisya di pinggiran kursi yang ia duduki.


"Itu tidak akan perih kan?" tanya Mansiya merasa khawatir.


"Hanya sedikit!" Jawab Adam dengan singkat.


Adam mulai membersihkan tangan Manisya dengan sebuah kapas yang berisi alkohol.


"Awh, itu perih!" Manisya menggigit bagian atas bibirnya.


Saat selesai mengobati luka Manisya, Adam menutupi jari Manisya dengan sebuah kain kasa dan menutupnya dengan perekat perban.


Setelah itu, Adam mendekati Manisya kemudian menjongkokkan badannya tepat di kaki Manisya, tentu saja hal ini membuat Manisya membelalakkan kedua matanya karena merasa kaget apa yang telah di lakukan Adam kepadanya.


"Apa yang sedang kamu lakukan da?" tanya dengan memasang raut muka yang tiba-tiba memucat.


Di pegang nya punggung kaki Manisya yang terlihat memar dan bergaris karena sebuah luka goresan akibat sebuah piring yang menindih kakinya.


"Apa ini sakit?" tanya Adam menatap ke arah Manisya dengan badan berjongkok tangannya menyentuh kaki Manisya.


"Ti,tidak, em, hanya sedikit saja, beberapa hari juga akan sembuh jawab Manisya!" Jawab Manisya yang terlihat canggung karena perbuatan Adam kepadanya.

__ADS_1


Adam pun melakukan hal yang sama pada punggung kaki Manisya, membersihkannya, mengolesi obat kemudian menutup luka tersebut dengan sebuah kain kasa dan menutupnya dengan perekat perban, Kali ini Manisya tak mengeluh dengan rasa sakitnya karena rasa canggungnya lebih besar saat itu kepada Adam.


Setelah itu, Adam memposisikan kembali badannya untuk duduk di kursi sebelumnya.


"Makasih ya!" Ucap Manisya kepada Adam.


"Gua gak sengaja melakukannya, Gua merasa menyesal karena hal ini terjadi menimpa Lo!" Adam tiba-tiba mengungkapkan rasa menyesal kepada Manisya.


"Tidak, itu semua salahku, kamu tidak bersalah sama sekali, aku yang menggoda mu!" Jawab Manisya tidak membenarkan perkataan Adam.


Hening sesaat, Manisya dan Adam hanya terbuai dalam fikiran mereka masing-masing.


"Em, apa menurutmu aku terlalu berlebihan?"


Tanya Manisya kepada Adam.


Adam melirik ke arah Manisya yang kala itu sedang merebahkan pundaknya pada senderan kursi, namun Adam tak menjawab perkataan Manisya.


"Apa kamu fikir aku harus berhenti sekarang?" Tanya Manisya dengan penuh Makna.


Adam masih tak menjawab perkataan Manisya.


"Jika kamu tidak menjawab berarti itu artinya tidak, hehe!" Manisya terkekeh dengan kata-katanya yang berterus terang kepada Adam.


"Kamu tahu, kapan aku terpesona denganmu?" tanya Manisya berharap Adam menjawab perkataan dirinya, Manisya melihat wajah Adam yang terlihat siap mendengarkan sebuah penjelasan darinya, Namun tiba-tiba muncul niat jahil dalam dirinya.


"Nanti saja aku ceritakan, saat kamu datang melamar ku!" Manisya terkekeh dengan perkataannya sendiri, ia berhenti tertawa saat Adam memasang muka masam dan tatapan tajam ke arahnya.


"Maaf!" Manisya mendudukkan kepalanya merasa menyesal.


"Oia, kamu masih punya hutang kepadaku!"


"hutang?" tanya Adam mencoba mengingatnya kembali


"Iya kamu masih memiliki hutang kepadaku?".


"Iyah aku tahu, aku sedang berusaha untuk mengumpulkannya uang tersebut" Jawab Manisya sambil menekan bibir atasnya kemudian menjulurkan bibir bagian bawahnya kepada Adam.


"Lantas apa hutang Gua?" tanya Adam mulai penasaran.


"Kamu berjanji akan mengajakku main!" jawab Manisya.


"Main?" jawab Adam.


"Iyah, kamu belum menepati janjimu saat di rumah sakit."


"Baiklah jika begitu, apa yang Lo mau?"


"Minggu depan ya, ayo kita main ke taman bermain lalu ke pantai!" Jawab Manisya.


"Baiklah!" Jawab Adam dengan sedikit malas menjawab perkataan Manisya.


"Assikkk!" Jawab Manisya sedikit berteriak dan tak lupa senyuman lebarnya ia berikan kepada Adam.


Saat itu, tak terasa Adam dan Manisya bercakap hingga melewatkan acara api unggun yang merupakan acara utama di kampung kemping tersebut, kali ini Adam membiarkan kekalahan menyelimuti dirinya, dan Manisya berkali-kali menang menggoda Adam.


"Em, apa kamu?" tanya Manisya ragu akan pertanyaan yang ingin ia katakan kepada Adam.


Adam menatap serius kepada Manisya.


"Apa aku boleh minta tolong?" tanya Manisya memberanikan diri berkata kepada Adam.


Adam menarik kedua alisnya, mengiyakan permintaan Mansiya.


"Tolong antarkan aku ke toilet!" Jawab Manisya dengan mengeluarkan kata-kata nya yang cepat.

__ADS_1


Adam tak menjawab perkataan Manisya, ia hanya berdiri kemudian melangkahkan kakinya.


"Tunggu, biar aku saja, kamu gak usah ikut, lagian dekat ko!" Manisya membatalkan ucapannya untuk meminta Adam mengantarnya.


Namun Adam yang terlanjur berdiri, tak mengindahkan perkataan Adam, ia hanya fokus berjalan, meninggalkan Manisya yang masih duduk.


Melihat Adam yang sudah berjalan meninggalkannya, Manisya pun berlari mengejar Adam dengan langkah seribu nya.


"Adam tunggu!" Manisya mulai merasa ketakutan dengan suasana gelap saat itu, di tambah udara dingin yang berhasil masuk ke sekujur tubuhnya karena ia tak memakai sebuah jaket pada tubuhnya, ia hanya mengenakkan baju kaos lengan panjang milik yang berwarna hitam itu.


Adam tak mengindahkan perkataan Manisya,


"Adam!" panggil Manisya yang ketakutan melihat suasana yang begitu gelap.


"Aw!" tiba-tiba Manisya terjatuh, kakinya tersandung ke sebuah batu, hingga membuat lututnya terluka dan berdarah.


Adam menghentikan langkahnya kemudian berbalik Arah, betapa kagetnya ia saat menyoroti Manisya dengan sebuah lampu ponsel miliknya, Melihat Manisya sedang menangis terisak - Isak sambil memegang celana panjangnya yang robek akibat terkena sebuah batu, terlihat dari sana, lutut Manisya yang memerah mengeluarkan darah.


"Hiks hiks!" Manisya menangis, entah menangisi lututnya atau menangisi hatinya yang terluka.


Adam yang panik, tak mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, ia menarik wajah Manisya yang menangis kemudian menyeka airmata Manisya yang tumpah dengan begitu saja.


Manisya membuang tangan Adam dengan kasar yang menempel pada wajahnya, tak ingin Adam menyentuhnya.


Adam menatap wajah Manisya, kemudian ia memeluknya dengan erat tubuh wanita yang ada di hadapannya kini, Manisya memberontak namun tak berdaya saat tubuh Adam kembali berhasil mendekap wajahnya. Air mata Manisya mengalir sangat deras.


"Maafkan aku, maafkan aku," Kata Adam sambil memeluk Manisya dengan erat.


"Apa itu sakit?" tanya Adam yang merasa bersalah, ia merasa hari itu telah membuat tiga kesalahan kepada Manisya.


Manisya semakin mengencangkan tangisannya.


"Apa kamu begitu membenciku?" tanya Manisya dengan berurai air mata di pelukan Adam.


"Apa aku begitu menyebalkan bagimu?"


"Apa aku sangat mengganggumu?"


Manisya masih menangis tersedu-sedu, ia seolah sedang meluapkan emosinya yang ia tahan sejak kejadian sebuah piring yang pecah sesaat lalu di hadapan semua teman-temannya.


Adam hanya memeluk Manisya semakin erat, tanpa menjawab perkataan Manisya.


Manisya masih berurai airmata, ia sedang mengingat kembali kejadian saat semua mata menatap ke arahnya saat Adam membuat piring yang ia pegang terjatuh, saat itu sebenarnya Manisya menahan kesedihan di balik senyum dan matanya, namun kini kesedihan itu tak terbendung lagi saat lututnya mengenai batu dan berdarah di buatnya.


Manisya masih berurai airmata.


"Tak bisakah kamu bersikap baik kepadaku?" Manisya masih terbuai dalam ingatan kesedihannya kepada Adam.


"Maafkan aku!" Adam berkata dengan penuh kelembutan saat itu.


"Maafkan aku!" Adam diliputi rasa menyesal dalam hatinya, Adam sama sekali tak melepaskan Manisya yang berontak memukul-mukul badannya saat sedang dipeluk.


Saat itu entah apa yang ada di fikiran Adam, ia berkali mencium kepala Manisya.


"Kamu itu laki-laki yang paling menyebalkan, kamu menyebalkan!" Manisya masih menangis di pelukan Adam, tak henti mengeluarkan kata-kata umpatan kepadanya, namun Adam tak menghiraukan perkataan Manisya, ia semakin mengencangkan pelukkan nya pada Adam.


"Berhentilah menangis, dan maafkan aku!" kata Adam sambil mengangkat wajah Manisya yang masih menangis tersedu-sedu.


Ada perasaan sedih, dan perasaan bersalah kepada wanita yang ia tatap kini. Tatapan Adam semakin tajam ia arahkan kepada Manisya yang masih berlinang air mata.


Adam semakin mendekatkan wajahnya kepada Manisya, ia tatap kembali wajah Manisya yang kini mulai terlihat sembab, Adam mengusap-usap pipi Manisya dengan kedua tangannya, setelah itu dengan sengaja Adam mendaratkan bibirnya pada bibirnya Manisya hingga bibir keduanya saling beradu, Manisya membelalakkan kedua matanya saat Adam mulai menguras habis bibir tipisnya, Manisya berusaha berontak untuk melepaskan sentuhan bibir Adam, namun kekuatannya kalah jauh dari Adam, dengan memejamkan mata dan linangan air mata, Manisya mengikuti gerakan Adam saat itu. Setelah itu Adam menatap Kembali Manisya dengan sebuah tatapan yang berbeda dari biasanya ia lihat.


Terdengar dari mulutnya ia berkata,


"Aku menyukai Mu."

__ADS_1


.


__ADS_2