Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Bocah yang Berebut Makanan


__ADS_3

Tak terasa kini manisya dan Adam sudah memasuki ujian akhir sekolah ujian yang menentukan kelulusan seorang siswa SMA.


"Kamu sudah belajar?" tanya Adam dengan menatap ke ara Manisya saat mereka hendak pergi meninggalkan sekolah di sebuah parkiran motor.


Manisya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Adam kepadanya.


Adam terlihat membulatkan kedua bola matanya sambil menatap ke arah Manisya saat ia melihat Manisya menggelengkan kepala kepadanya.


"Kamu tidak belajar?" tanya Adam dengan nada yang tinggi sambil menatap tajam ke arah Manisya membuat Manisya terkejut saat Adam berkata kepadanya dengan nada yang tinggi.


"Bagaimana aku bisa belajar mengerti saja aku tidak, em, aku punya ide! kamu kan pintar mau tidak kamu membantuku belajar? ide baguskan!"


Adam terlihat mendesah menghela nafasnya sangat dalam, ia menatap wanita yang ia sayangi yang berada di hadapannya hanya tersenyum lebar menatap ke arahnya penuh manja.


"Kalau begitu ayo kita belajar saja! kenapa kamu tidak meminta padaku untuk membantu mau belajar sebelumnya? kalau kamu bilang aku pasti sudah membantu kamu belajar dari dulu!"


"Hehe!" Manisya membalas perkataan Adam dengan sebuah senyuman, bukannya tak ingin meminta Adam agar membantunya dalam belajar, sebenarnya Manisya tak ingin memberi sebuah beban kepada Adam.


Adam membalas senyuman Manisya dengan mempertajam tatapannya kepadanya.


"Pakai helm mu sekarang kita cari tempat untuk belajar!" Adam memberi perintah kepada Manisya.


"Mau ke rumahku?" Tanya Manisya memberi sebuah ide.


"Rumahmu?" Adam balik bertanya.


"Iyah!"


"Ayo naiklah!" Seperti biasa hal yang di lakukan Adam sebelum Manisya naik ke atas motor adalah menaikan resleting jaketnya sampai menutupi leher Manisya.


"Makasih!" Ucap Manisya dengan sebuah senyuman tersemat di bibirnya sesaat setelah Adam membantu membetulkan resleting jaketnya, setelah itu ia segera naik ke atas motor.


"Membetulkan resleting jaket saja tidak bisa!" Ucap Adam dengan tatapan tajam ke arah Manisya.


Bukannya takut ataupun berkerut wajah saat mendengar Adam berkata seperti itu kepadanya, Manisya yang sudah mulai terbiasa dengan sikap Adam yang dingin namun menghangatkan, malah memberikan senyuman manjanya kepada laki-laki yang hampir 3 tahun selalu ada dalam fikirannya.


"Hehehe kan ada kamu yang bisa bantuin!" Canda Manisya kepada Adam.


"Buk!" Helm Manisya yang telah terpasang di kepalanya menjadi sasaran empuk atas ke gemasan Adam kepada Manisya, tangan Adam memukul pelan helm milik Manisya.


"Iya iya maaf!" Dengan menyelipkan


senyum lebar, Manisya berkata kepada Adam.


Setelah Manisya menaiki motor, Adam segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang, seperti biasa Manisya belum berani melingkarkan tangannya pada tubuh Adam, biasanya Adam yang selalu menarik tangan dan membuat tangan Manisya melingkar pada tubuh Adam, seperti halnya yang di lakukan Adam hari ini.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah Manisya, Adam dan Manisya terlihat sedang belajar bersama.


"Adam?"


"Hem?"


"Sudah selesai?" Tanya Adam yang memang saat itu tengah memberi sebuah latihan soal matematika kepada Manisya.


"Belum, aku ingin menanyakan sesuatu!" Jawab Manisya dengan sebuah pensil di tangannya.


"Menanyakan apa?" Dahi Adam terlihat berkerut.


"Berapa lama kamu tinggal di Amerika?"


"Mungkin empat sampai lima tahun!"


"Lima tahun?" Manisya membulatkan kedua bola matanya, dengan wajah berubah sendu seketika saat mendengar ucapan Adam, fikirannya langsung pergi berkhayal, betapa ia akan sangat merindukan Adam selama itu.


Adam terlihat mengangguk mengiyakan ucapan Manisya.


"Kamu ingin pergi bersamaku?" Tanya Adam melihat aura kesedihan terpancar di wajah Manisya.


"Tentu saja, aku ingin selalu pergi bersamamu!"


Ponsel Manisya tiba-tiba bergetar, Ada sebuah pesan Masuk pada ponsel miliknya, segera ia membuka pesan tersebut. Kedua bola mata Manisya membulat saat membaca pesan dari nomor yang tidak di kenal pada ponselnya, isi isi pesan tersebut sangat singkat namun sangat menusuk kedalam hati,


"Dari siapa?" Tanya Adam saat melihat Manisya membisu sesaat setelah membaca pesan pada ponselnya.


"Bukan dari siapa-siapa, ibu menyuruhku belajar yang rajin, katanya mumpung ada pak guru yang tampan ini mau mengajariku!" Sambil menutup layar ponselnya secara perlahan, dan sebuah senyuman yang menutupi rasa khawatirnya.


"Kamu lapar? aku akan membuatkan mu sebuah mie instan!" Manisya segera beranjak dari duduknya bermaksud menghindari tatapan Adam yang terlihat mengamati Manisya yang tengah menyembunyikan perasaan sedih dan takutnya.


"Tidak perlu!" Jawab Adam, jawaban Adam tidak di dengar oleh Manisya yang berlalu pergi meninggalkan Adam, seolah memaksanya untuk membuat sebuah mie instan, Adam mengangkat alisnya ada sebuah perasaan aneh saat melihat raut wajah Manisya, namun ia tidak begitu memperdulikannya, hanya menganggapnya sebuah angin lalu.


***


Manisya yang hendak memasukan sebuah mie instan ke kedalam sebuah panci yang di dalamnya terdapat air yang mendidih, tiba-tiba mematung, ia mengingat teror pesan yang selama ini ia terima dengan sebuah kata-kata yang selalu berhasil menusuk ke dalam perasaanya, raut wajahnya berubah sendu, dan air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya tak terbendung lagi, teror pesan itu berhasil membuatnya merasa rendah diri saat bersama dengan Adam, iya begitu sedih, Manisya segera menyeka air matanya, tak membiarkan mengalir dengan deras, tak ingin Adam menaruh perasaan curiga kepadanya saat kedua matanya tiba-tiba berubah bengkak, Menarik nafas kemudian mengeluarkannya secara teratur hingga kesedihannya menghilang.


Setelah selesai memasak sebuah mie instan, Manisya membawa semangkuk mie tersebut, dan meletakkannya persis di hadapannya dan juga Adam.


"Emm, wangi sekali!" Ucap Manisya saat mencium aroma khas sebuah mie instan di hadapannya, Adam menarik salah satu alisnya memperhatikan Manisya, bukannya memberikan mie tersebut kepadanya, Manisya dengan sengaja melahapnya kemudian mengacungkan jempolnya pertanda sebuah kenikmatan saat melahap mie tersebut.


"Enak sekali loh!" Ucap Manisya dengan mulut yang penuh mie, berusaha menggoda Adam.


"Kenapa kamu hanya membuat satu?" Tanya Adam dengan tatapan tajam ke arah Manisya.


"Tadi kan kamu bilang gak mau!"

__ADS_1


Tiba-tiba Adam menarik mangkuk mie yang Manisya pegang.


"Dan kamu benar-benar tidak membuatkan satu untukku!" Adam masih belum terima.


"Itu kan bukan salahku, kamu sendiri yang bilang gas usah!"


Adam langsung melahap mie instan yang ia rebut dari Manisya, hanya beberapa suap saja yang masuk kedalam mulut Adam, berhasil membuat mangkuk yang awalnya terisi penuh oleh sebuah mie kini hanya tersisa kuahnya dengan mie yang hanya sedikit saja.


"Berikan itu punyaku!" Manisya berusaha mengambil mie instan miliknya dari tangan Adam, kini mereka berdua terlihat seperti anak kecil yang berebut makanan.


"Habis kan!" Manisya mengerutkan bibirnya kemudian segera memakan sisa mie instan dari dalam mangkuk yang kini beralih ke tangannya.


"Kamu jahat!" Manisya menatap tajam ke arah Adam.


Mereka saling menatap dengan tajam, dan hening untuk beberapa saat, Manisya melihat ada sebuah potongan mie yang begitu kecil di dagu Adam, begitu pun juga Adam melihat ke arah Manisya, ia melihat hal yang sama di dagu Manisya.


"Hahaha!" Adam dan Manisya tertawa bersama dengan begitu bahagia, menertawakan tingkah mereka seperti dua orang bocah yang tengah berebut sebuah makanan, dengan sebuah potongan mie berada di dagu mereka, setelah selesai tertawa, bergantian Adam membantu Manisya membersihkan mie yang menempel pada dagunya menggunakan tangannya kemudian mengelapnya dengan sebuah tisu, begitu juga dengan Manisya membantu Adam mengambil potongan mie pada dagu Adam setelah itu membersihkannya dengan sebuah tisu.


Setelah selesai belajar.


"Berikan tasmu!" Perintah Adam.


"Tasku?"


"Ya, aku akan memasukan sebuah buku yang berisi rangkuman pelajaran matematika, kamu harus banyak latihan!"


"Kamu membuatnya sendiri?" Tanya Manisya.


"Aku terharu, makasih banyak!" Manisya hendak memeluk Adam, namun Adam terlihat menghindar


"Jangan memelukku di sini!" Khawatir sang Adik tiba-tiba muncul.


"Kamu takut?" tanya Manisya.


"Tidak!" Jawab Adam dengan memutar kedua bola matanya, ia hanya tak ingin bertengkar dengan Gibran adik Manisya.


"Tolong ambilkan aku minum!" Adam memberikan gelasnya yang sudah tak terisi air lagi kepada Manisya mengalihkan pembicaraan.


"Oia, maaf aku gak lihat kalau gelasnya sudah kosong!"


"Tidak apa-apa!" Ucap Adam sambil mengusap lembut kepala Manisya.


"Sebentar aku ambilkan dulu!" Pamit Manisya.


Saat Manisya pergi mengambil air minum, Adam terlihat memasukan sesuatu benda yang berukuran besar pada tas Manisya, menutup tasnya kemudian menyimpan tas milik Manisya ke atas sebuah kursi.


***

__ADS_1


__ADS_2