
"Drtt drrtt drrtt" suara getaran ponsel, Adam melirik ke sekitarnya, kemudian melangkah ke samping mobil, akan tetapi Adam tidak menemukan apapun, namun suara ponsel tersebut masih terdengar getarannya, kini ia mendengar suara tangisan mengiringi getaran ponsel tersebut, Adam kemudian berjalan ke arah belakang mobilnya, betapa kagetnya ia saat menemukan seorang wanita tengah berjongkok bertelungkup wajah sambil memegang sebuah ponsel, ia menangis terisak pula.
Adam mematikan ponselnya kemudian Memanggil kembali panggilan kepada Manisya, ia sedang memastikan bahwa wanita yang tengah berjongkok itu ialah Manisya.
Ponsel yang di pegang Manisya kini bergetar kembali, namun di Abaikannya, sedikit pun ia tak memperdulikannya.
"Hei gadis bodoh" Sapaan Adam membuat Manisya mengangkat wajahnya, dengan cepat menghapus air mata yang membahasi pipinya.
"Adam" perlahan menjawab panggilan Adam.
"Aku memang bodoh" Jawab Manisya kemudian tak terasa air matanya berurai kembali, tak ingin Adam mengetahuinya, kemudian ia dengan cepat menghapus air mata yang tak lagi bisa ia tahan.
Manisya berdiri.
Adam mendekatkan lengkahnya ke arah Manisya.
"Kenapa Lo Nangis?" Tanya Adam yang melihat mata Manisya semakin bengkak.
"Enggak, Aku lagi PMS, Jadi agak sedikit sakit perut, dan agak sensitive" Jawaban Manisya tak membuat Adam puas.
"Ayo anterin aku pulang" Manisya membuka pintu mobil, namun karena Adam belum membuka kuncinya, Manisya tidak bisa membuka pintu mobil tersebut.
Adam masih menatap Manisya dengan tatapan penuh selidik kemudian ia menekan sebuah benda dari tangannya yang membuat pintu mobil yang terkunci menjadi terbuka.
Tanpa memperdulikan Adam ia langsung masuk kedalam mobil, dan Adam pun melangkah ke arah pintu kemudi menaiki mobil tersebut.
Adam mulai melajukan mobilnya, namun tak seperti biasanya di dalam mobil terjadi keheningan, tak ada kata yang di keluarkan dari mulut Manisya yang biasanya selalu banyak pertanyaan tersebut, sesekali Adam melirik ke arah Manisya, mencoba menerka apa yang sedang terjadi.
Manisya sadar bahwa Adam memperhatikannya, ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Apa aku semanis itu hingga kamu tak henti menatapku?" tanya Manisya yang mulai tak nyaman dengan Adam.
Seperti biasa Adam tak menjawab candaan Manisya.
"Kenapa tadi Lo Nangis?" Tanya Adam yang sebenarnya sangat penasaran ingin bertanya pertanyaan tersebut kepada Manisya.
__ADS_1
"Aku, Aku cuman sakit perut Dam lagi PMS, kamu tahu kan cewe kalo PMS suka sensitive jadi jangan macam-macam" Manisya berusaha untuk menutupi alasan sebenarnya kenapa dia tadi menangis.
"Apa begitu sakitnya?" Tanya Adam yang percaya perkataan Manisya.
"Em, gimana ya, sulit di jelaskan, kamu mau coba?, aku pernah liat di Instagram gitu, di luar negri ada alat yang bisa ngerasain mulasnya wanita kalau lagi haid atau mulasnya wanita hamil saat mau melahirkan, siapa tau kamu mau beli alatnya, hihi" Manisya terkekeh sendirian membayangkan jika melihat Adam uring-uringan menahan mulas di perutnya.
"Lo ngetawain gua" Adam menarik sudut bibirnya, dan membulatkan kedua matanya, sebagai sebuah ancaman kepada Manisya.
"Hehehe" Manisya tersenyum dengan mata bengkaknya yang tak bisa ia tutupi, perlahan ia bisa melupakan perkataan Leo yang membuat hatinya terluka.
"Maaf maaf, aku bercanda" Mengakhiri candaannya dengan Adam, Adam tak merespon perkataan Manisya, ia hanya fokus mengemudikan mobilnya.
"Boleh tidak kalau berhenti dulu di minimarket di depan" Manisya hendak membeli sesuatu yang sekiranya bisa membuat matanya tidak bengkak lagi.
Adampun menghentikan mobilnya kemudian memarkirkan nya di depan sebuah Mini Market. Adam mengikuti langkah Manisya pula, namun Manisya tidak menyadarinya.
"Kamu ingin membeli sesuatu juga Dam?" tanya Manisya kepada Adam saat hendak membuka pintu minimarket, ia sedikit kaget karena saat melirik kebelakang Adam lah yang berada di belakangnya.
"Iya" Jawab Adam singkat.
Tak lama Adam duduk, Manisya datang menghampirinya dengan membawa belanjaannya sekantong plastik kecil.
"Loh kamu udah di sini lagi, aku kira kamu di dalam, cepet banget belanjanya" Manisya mengahmpiri Adam kemudian menggeser kursi di hadapan Adam agar bisa ia duduki"
Adam tak menjawab perkataan Manisya, ia sibuk dengan melahap mie isntan miliknya, Manisya mengerutkan kedua ujung bibirnya saat Adam tak menjawab pertanyaannya, sambil membuka sebotol air mineral dingin untuk ia kompres ke matanya yang bengkak, Manisya tak henti menatap ke arah Adam yang sedang melahap mie instan.
"Apa itu enak" tanya Manisya sambil mengompres matanya dengan airmineral dingin yang ia beli, Manisya yang mulai tergiur dengan mie instan milik Adam, dan tak berhenti memperhatikan Adam.
"Lo tau rasa mie instan?" tanya Adam sambil mengunyah mie yang ia santap.
"Tentu saja" jawab Manisya dengan mengangkat kedua bola matanya ke salah satu sudut.
"Kamu makan nya lahap banget, padahal baru saja makan kan" kata Manisya mengingat pesanan makan saat di kafe tadi.
"Apa Lo lupa, ada yang pergi begitu saja" Adam mengingatkan Manisya saat ia pergi ke toilet. Belum sempat memakan hidangan makanan yang mereka pesan, Manisya pergi begitu saja dan membuat selera makan Adam hilang.
__ADS_1
"Iya maaf" Manisya berhenti berbicara tak ingin Adam membahasa kejadian di kafe tadi, ia sibuk mengompres kedua matanya yang bengkak, tentu saja sambil menatap ke arah Adam.
"Cakepnya idolaku saat makan mie instan" Manisya berkata dalam hati kemudian tersenyum sendiri saat melihat Adam yang sibuk dengan mie instan nya.
Tiba-tiba Adam melihat ke arah Manisya , tepatnya memergoki Manisya yang sedang tersenyum menatapnya.
"Apaan Lo liatin gua" tanya Adam membuat Manisya tersadar akan lamunannya.
"Kalau Lo mau, beli sana, gua tungguin" Adam yang baru selesai melahap mie instan menyangka Manisya tergiur untuk memakan mie instan juga.
"Eh itu anu aku, aku gak lapar ko, Aku hanya senang melihatmu makan saja, lahap banget gitu" Jawab Manisya gelagapan.
"Apa mataku Masi terlihat bengkak?" tanya Manisya kepada Adam.
"Menurut Lo" Adam balik bertanya
"Gimana tidak bengkak, tiga kali hari ini aku nangis, kayak makan obat 3 kali sehari" Manisya terkekeh sendiri.
"Tiga kali?" tanya Adam membulatkan kedua bola matanya.
"Mungkin karena aku lagi PMS" Manisya meneruskan.
"Iyah tiga kali, di mobil, di kafe, di parkiran" Manisya menghitung memakai jarinya, tanpa ia sadari, perkataan Manisya membuat Adam mengerutkan dahinya.
"Coba jelaskan kenapa Lo bisa se cengeng itu?" tanya Adam penuh selidik.
"Ya karena.. " Seketika Manisya menutupi mulutnya, Manisya baru menyadari saat itu ia sudah salah bicara.
"Aku duluan ke mobil" Manisya pamitan hendak berlari, namun Adam mengikutinya, menahan tangan Manisya kemudian mendorong kepala Manisya dengan satu tangannya, Agar Manisya duduk kembali. Dengan dorongan tangan Adam, akhirnya Manisya duduk kembali.
"Emm, aku mau nyimpan tas, ya nyimpan tas di mobil" Manisya masih berusaha untuk meninggalkan kursi tersebut, namun ia gagal karena Adam berhasil menahannya.
Dengan tatapan mata tajam Adam akhirnya Manisya duduk di kursi dengan tenang, Adampun duduk kembali di kursi semula tempat ia duduk setelah beberapa saat menahan Manisya.
"Coba jelaskan!"
__ADS_1