Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Salah Faham


__ADS_3

"Rena memang cantik!" Ucap Manisya dengan pasrah, serta sorot matanya kini berubah sendu, Manisya menundukkan kepalanya sesaat setelah melihat Adam menarik tangan Rena dan duduk tepat di pinggirnya.


"Kamu sudah menyelesaikan semua pekerjaan Mu?"


"Tentu saja sudah!" Jawab Manisya saat mendapat interogasi dari Rena.


"Mencuci piring?" Tanya Rena lagi, menahan Manisya agar tidak segera pergi meninggalkan.


"Sudah, lihat saja itu!" Manisya menunjukkan wastafel pencuci piring yang kini telah bersih.


"Baiklah!" Ucap Rena masih menghalangi Manisya yang hendak pergi dari dapur.


"Bisakah kamu tidak menghalangi jalanku?"


"Tidak, berikan dulu nomor Adam kepadaku!" Rena menyodorkan tangannya yang memegang ponsel kepada Manisya, berharap Manisya memberikan nomor ponsel Adam kepadanya.


"Kenapa kamu masih menanyakan kepadaku? bukankah kamu sendiri mengenal dia, tanyakan saja kepadanya secara langsung!" Manisya masih mempertahankan perkataanya, tidak ingin nomor ponsel kepada Rena.


"Baiklah jika kamu tidak memberikannya kepadaku, kamu akan menyesal!" Rena mencoba mengancam Manisya.


Saat itu, sudah cukup larut, jam 11 malam tepatnya, Seperti biasa semua teman-temannya sudah berpamitan untuk pulang, ayah ibu dan juga adik Manisya sudah bergiliran menanyakan keberadaan nya melalui panggilan telepon.


"Manis pulang sama temen-temen kantor ayah, Ada teman yang satu arah membawa motor jadi Manis ikut sama dia, ayah ibu ga perlu khawatir, kunci saja rumahnya nanti Manis bawa kunci cadangan kok!" Penjelasan Manisya sesaat yang lalu kepada kedua orangtuanya, saat mereka menanyakan keberadaan Manisya, tak ingin mereka merasa khawatir.


Manisya berdiri mematung di depan restoran yang sudah tutup beberapa saat yang lalu.


"Ini sudah sangat larut!" Pandangannya teralihkan oleh sebuah bungkusan nasi di tangan kanannya, ya Adam diam-diam menitipkan pesanan makanan untuk Manisya kepada rekan kerjanya.


Ada garis kebahagiaan terpancar dari raut wajah Manisya saat menatap bungkusan makanan di tangan kanannya.


"Makasih Adam!" Dengan suara sangat kecil Manisya berucap menatap ke arah bungkusan nasi yang ia pegang, kemudian setelah itu Manisya segera memesan sebuah kendaraan Online melalui ponsel miliknya.


Sebenarnya dalam hati Manisya ia berharap Adam datang secara tiba-tiba di hadapannya seperti sebelumnya, biasanya memang seperti itu, setelah menunggu tak kurang dari 15 menit, dan Adam tak kunjung terlihat batang hidungnya, Manisya memutuskan untuk segera memesan kendaran Online.


"Dia benara-benar tidak ada!" Garis kekecewaan terpancar di wajah Manisya, Manisya hendak memberikan sebuah pesan kepada Adam namun urung iya lakukan, ia merasa itu hanya akan menganggu waktu istirahat Adam.


Tak lama, pesanan ojek online miliknya tiba, Manisya segera menaiki ojek online tersebut untuk segera pulang menuju rumahnya, dengan menahan perasaan kecewanya karena terlalu berharap Adam datang saat itu.


***


Ke esokan harinya di sekolah.


Pagi itu, cuaca sedang tidak bersahabat, gemericik air hujan menemani langkah Manisya sepanjang perjalanan menuju sekolahnya. Susana sekolahpun masih terlihat sepi saat itu. Sejenak Manisya membuka telapak tangannya keluar dari sebuah payung yang ia pegang.


"Dia belum datang!" Menatap ke arah bangku milik Adam.

__ADS_1


15 menit telah berlalu, tak biasanya Adam belum datang saat itu, Manisya meraih ponsel miliknya kemudian mengetikkan sebuah pesan untuk ia kirimkan kepada Adam.


"Kamu sakit?" Kata tersebut Manisya kirimkan untuk Adam. Setelah beberapa lama Adam tak kunjung membalas pesan Manisya.


Manisya mencoba menelpon Adam, namun nomor ponselnya sedang tidak aktif.


Tiba-tiba ada perasaan aneh yang muncul dalam hatinya.


"Apa Adam benar-benar sakit?" Manisya menarik salah satu alisnya.


"Hai Sya" Suara Nina berhasil mengagetkan Manisya yang sedang memasuki lamunannya.


"Aduuhh!" Manisya mengusap dadanya, merasa terkejut dengan kehadiran Nina secara tiba-tiba.


"Kamu bikin aku kaget aja!" Jawab Manisya.


"Pagi-pagi udah ngelamun nih, pasti mikirin Adam ya!" Nina mencoba menebak apa yang sedang Manisya fikirkan hingga membuatnya tidak sadar akan kedatangannya.


"Hehehe!" Manisya terkekeh mengiyakan perkataan Nina.


"Banyak ngelamun nanti cepet keriput loh Sya, kalo cepet keriput nanti kalah saingan deh sama fans- fans nya Adam!" Nina terkekeh menertawakan ekspresi wajah Manisya yang terlihat bingung.


"Apaan sih Nin!"


"Tenang aja, Adam selalu akan menyimpan hatinya untukku, walaupun berjuta-juta wanita cantik selalu mengelilinginya!" Manisya terkekeh menanggapi candaan Nina.


Pagi itu, suasana kelas semakin ramai, semua bangku telah terisi kecuali milik Adam dan juga Rangga yang masih terlihat kosong.


"Nin, Rangga belum dateng ya?" Tanya Manisya saat menatap ke arah bangku milik Rangga.


"Ini yang di tanyain Rangga apa temen yang di sebelahnya?" Tanya Nina mengangkat alisnya.


"Dua-dua nya!" Sambil menarik kedua sudut bibirnya menatap Nina.


"Noh, yang di tunggu dateng!" Nina menggerakkan kepalanya saat melihat kedatangan Rangga, namun dalam hatinya Manisya masih belum tenang saat melihat yang datang hanyalah Rangga.


"Kamu baru dateng!" Manisya menyapa Rangga sesaat setelah Rangga duduk bangkunya.


"Ya!" Jawab Rangga sangat singkat.


"Kamu dapat kabar ga dari Adam, dia tidak bisa di hubungi?" Tatap Manisya dengan serius kepada Rangga.


"Kamu ga tau?" Rangga mengangkat salah satu alisnya ke atas menatap Manisya.


Mendengar ucapan Rangga tiba-tiba saja perasannya menjadi berubah seketika, jantungya tiba-tiba berdetak kencang.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Giliran Nina yang bertanya saat mendengar percakapan Manisya dan Rangga.


"Apa Adam baik-baik saja?" Samira ikut bertanya saat ia hendak menghampiri Manisya dan Nina dengan tidak sengaja mendengar percakapan di antara mereka.


Manisya terlihat mematung menatap Rangga, menunggu penjelasan darinya.


"Adam mengalami kecelakaan semalam, tapi dia.. !" Ucapan Rangga terpotong saat melihat Manisya tiba-tiba menangis.


Mendengar ucapan Rangga, membuat perasaan Manisya tak menentu, seluruh tubuhnya tiba-tiba saja melemas tak berdaya, namun ia masih bisa berdiri tegak dengan menginjakkan kedua kaki nya. kedua bola matanya seketika dihujani airmata, Manisya menangis tersedu-sedu mendengar kabar dari Rangga jika Adam mengalami kecelakaan.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Manisya dalam tangisnya kepada Rangga. Manisya masih menangis tersedu-sedu tak bisa menahan air mata nya yang mengalir, saat mendengar kabar Adam dari Rangga. Rangga pun terlihat terkejut dengan Manisya saat itu.


Tiba-tiba seseorang dari arah pintu masuk kelas datang dan menjawab ucapan Manisya.


"Aku baik-baik saja!" Ucap seseorang yang baru saja muncul menjawab pertanyaan Manisya.


Manisya segera menoleh ke arah pemilik suara, ia sangat terkejut saat melihat orang yang menjawab pertanyaan nya adalah Adam sendiri. Manisya yang saat itu sedang berdiri, seketika menjongkok kan badannya setelah melihat kedatangan Adam, dan tangisan Manisya semakin kencang membuat perhatian semua murid kelas tertuju kepada nya.


"Apa yang Lo lakukan?" Adam menatap Rangga dengan sangat tajam, melihat Manisya yang menangis tersedu-sedu. Terlihat Nina dan Samira sedang menenangkan Manisya, mengusap secara perlahan bagian punggungnya.


"Gua juga ga tahu, gua belum selesai ngomong, dia udah nangis duluan!" Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kali ini Adam pun ikut menjongkok kan badannya menatap ke arah Manisya yang sedang menangis di atas lututnya.


"Hei gadis bodoh, hentikanlah tangisanmu, aku tidak apa-apa!" Adam menyentuh perlahan kepala Manisya, Manisya pun terlihat mengangkat kepalanya secara perlahan, menatap Adam dengan kedua matanya yang bengkak.


"Apa benar, baik-baik saja!" tanya Manisya.


Adam menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Manisya.


"Sangat baik, seperti yang kamu lihat!"


Manisya pun mengangguk kan kepalanya kemudian secara tiba-tiba memeluk Adam dengan sangat erat. Adam pun sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Manisya di hapadan seluruh teman kelasnya.


"Maafkan aku!" Ucap Manisya.


"Tidak perlu minta maaf!" Jawab Adam yang masih di peluk oleh Manisya dengan erat.


Setelah Manisya mulai tenang, dan masih belum melepaskan pelukannya kepada Adam, Adam berbisik pelan di telinga Manisya.


"Kita bisa berpelukan yang lama saat pulang sekolah nanti!"


Mendengar bisikan Adam, membuat Manisya dengan seketika melepaskan pelukannya, Manisya menatap ke sekeliling, seketika Manisya membulatkan kedua bola matanya saat itu, ia baru menyadari jika dirinya saat itu sedang menjadi pusat perhatian seluruh teman kelasnya.


***

__ADS_1


Terimakasih kepada para pembaca setia


❤️❤️❤️


__ADS_2