Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Sama Kayak Nama Aku, Manis ya!


__ADS_3

"Maaf!" Jawab Manisya terlihat dengan sebuah kerutan di wajahnya.


Suara meninggi Adam, membuat Manisya terdiam tak berucap untuk beberapa saat, ada perasaan takut dan menyesal telah menanyakan perihal rencana kuliah kepada Adam.


Adam memperhatikan gadis yang tengah memalingkan pandangan dari hadapannya, Manisya hanya menunduk, ia juga melihat raut sendu terpancar dari wajah gadis itu. Tiba-tiba perasaan bersalah timbul saat Adam menatap Manisya, tangan Adam perlahan menyentuh pipi Manisya, di usapnya secara perlahan.


"Maafkan aku!" Ucap Adam dengan tangannya masih mengusap lembut pipi Manisya.


Manisya mengangkat kepalanya, kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak perlu minta maaf, aku yang terlalu memaksakan, aku akan mendukung apapun yang akan menjadi pilihanmu!" Jawab Manisya sambil menarik kedua sudut bibirnya.


"Benarkah itu?"


Manisya mengangguk kan kepalanya mengiyakan perkataan Adam.


"Aku hanya sedang bingung, Ibu dan ayahku menyuruhku untuk kuliah di Amerika!"


"Amerika?" Manisya membulatkan kedua bola matanya mendengar ucapan Adam.


Adam menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Manisya.


"Apa itu sangat jauh?"


"Bisa mencapai waktu 20 jam menggunakan sebuah pesawat, bahkan lebih!"


Jawab Adam.


"20 Jam?" Manisya semakin membulatkan kedua bola matanya.


"Iyah sejauh yang kamu bayangkan!" Jawab Adam, dengan posisi tubuhnya ia senderkan ke atas kursi serta kedua tangannya kini melipat di atas dada.


Manisya menganggukkan kepalanya seolah mengerti dengan ucapan Adam.


"Memangnya apa yang kamu bingungkan? bukankah kuliah di sana itu sangat bagus untukmu kedepannya?" Tanya Manisya dengan kepolosan nya.


"Kamu mengusirku untuk pergi ke sana?" Adam menatap tajam ke arah Manisya, seolah tak senang dengan apa yang Manisya ucapkan kepadanya.


Manisya menggerakkan kedua tangannya, menolak dengan apa yang Adam ucapkan kepadanya. "Tidak tidak, bukan itu maksudku, aku hanya akan mendukung dengan apa yang akan menjadi keputusanmu!"


Adam mengangkat salah satu alisnya dengan tatapan menajam ke arah Manisya. ,"Benarkah?" Tanya Adam seolah tidak percaya dengan apa yang Manisya katakan kepadanya.


"Selama bertahun-tahun kamu tidak akan berjumpa denganku, apa kamu bisa?"

__ADS_1


"Bisa!" Jawab Manisya dengan pasti.


"Aku juga tidak akan menghubungimu selama itu, bisa?"


"Em, bisa!" Jawab Manisya masih dengan penuh percaya diri.


"Aku akan berjumpa dengan wanita-wanita dari seluruh dunia di sana, apa kamu bisa menerima?"


Manisya terdiam sesaat, memutarkan kedua bola matanya saat berhadapan dengan Adam.


"Bisa!" Suara Manisya perlahan memelan, ada sedikit keraguan dalam ucapnya.


"Aku juga akan sering melakukan kegiatan bersama wanita-wanita di sana, seperti acara belajar bersama, atau hanya sekedar bersantai bersama, apa kamu bisa menerimanya?"


Manisya terlihat menghela nafasnya, kemudian menatap sebentar ke arah Adam, hingga kedua mata mereka saling beradu untuk sementara, terlihat jelas raut wajah kesedihan di wajah Manisya terpancar di sana. "Aku.. bisa!"


"Mungkin.!" Adam hendak berucap kembali, namun Manisya segera menahan ucapan Adam dengan segera berkata sambil menutup kedua telinganya secara bersamaan.


"Sudah, sudah, sudah aku tidak ingin mendengarnya!" Teriak Manisya sambil menutup kedua telinganya.


Adam tersenyum lebar penuh kemenangan melihat tingkah Manisya seakan sangat risih dengan apa yang Adam katakan kepadanya.


"Bukankah kamu bilang akan mendukung apa yang sudah menjadi keputusanku??" Ada sedikit menyondongkan badannya kepada Manisya.


"Terus kenapa kamu menutup telingamu!"


"Tidak apa-apa Aku hanya tidak ingin mendengar nya saja, sudah jangan di bahas lagi!" Manisya yang tak ingin Adam dengan rinci menjelaskan apa yang akan dilakukannya saat ia benar-benar kuliah di Amerika nanti, Manisya hanya takut jika Adam benar-benar pergi ke sana, semua fikirannya berputar pada hal-hal negatif yang nantinya akan merusak hubungannya dengan Adam, namun tidak dengan Adam yang terlihat sangat gemas melihat raut muka Manisya yang terlihat sangat kaget mendengar ucapannya membuat Adam ingin terus menjahilinya.


"Bagaimana jika nanti..!" Adam hendak berkata kembali, namun kali ini Manisya dengan sigap menyondongkan badannya ke hadapan Adam yang saat itu terhalang oleh sebuah meja, tangan Manisya segera menutup mulut Adam menggunakan kedua telapak tangannya.


Adam yang kala itu tengah berbicara, terlihat sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Manisya kepadanya, membiarkan mulutnya tertutup kedua tangan Manisya.


"Janji jangan bahas hal itu lagi!" Manisya berkata dengan penuh ancaman, Adam hanya mengangguk mengiyakan, setelah itu Manisya melepaskan tangannya, Adam hanya menatap tajam ke arah Manisya di akhiri dengan senyuman gemasnya dengan tingkah Manisya.


Namun kali ini Rambut Manisya menjadi sasaran tangan Adam, Adam berhasil mengacak-acak rambut bagian atas milik Manisya, tentu saja mengusapnya dengan penuh kelembutan.


"Apa benar kamu tidak apa-apa jika aku nanti melanjutkan kuliah di luar negri?" Tanya Adam.


"Aku serius aku tidak apa-apa, gapailah semua apa yang kamu cita-cita kan, aku akan selalu mendukungmu!" Ucap Manisya, ucapan dengan hatinya sebetulnya sungguh tidak sejalan, Jauh di dalam hatinya ia begitu tidak menginginkan jika harus membiarkan Adam pergi jauh darinya, namun Manisya wanita dengan fikiran yang terbuka, tidak mungkin ia menahan Adam mengikuti apa yang ia inginkan.


"Kamu serius?" Tanya Adam dengan menatap serius kepada Adam.

__ADS_1


"Tentu saja, aku akan menghancurkan semua wanita yang berusaha mendekatimu!"


"Senjata apa yang akan kamu pakai?" Tanya Adam.


"Kamu!"


"Aku?" Adam menunjuk ke arahnya dengan menggunakan telunjuknya.


"Aku akan membuat semua wanita di dunia ini menjadi laki-laki di matamu?"


Adam mengangkat kedua alisnya mendengar dengan seksama perkataan Manisya yang mulai melantur.


"Coba katakan bagaimana caranya?"


Manisya terdiam sesaat mencoba berfikir.


"Caranya? Caranya em, em, akan aku fikirkan nanti!" Jawab Manisya yang tengah panik karena sudah tak bisa lagi berfikir secara jernih.


Adam menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman lebar tersemat di bibirnya, membuat Manisya terpana di buatnya, melihat Adam tersenyum lepas menambah ketampanannya.


"Tunggu, tunggu!"


"Cekrek!" Manisya mengambil sebuah foto, maksud hati ingin mengabadikan saat Adam tersenyum lebar, karena sungguh Manisya sangat menyukainya.


"Yah, senyum nya ilang!" Raut wajah kecewa Manisya saat menatap Layar ponselnya, Adam yang tengah menatap tajam ke arahnyalah yang berhasil ia abadikan.


"Ngapain itu?" Tanya Adam dengan bibir mengerut menatap Manisya.


"Aku pengen punya foto kamu yang lagi senyum, coba senyum lagi!" Ucap Manisya masih mengarahkan ponselnya pada Adam.


"Hentikan!" Muka Adam terlihat masam saat Manisya berusaha mengambil foto dirinya.


"Aku bilang hentikan!" Adam berusaha meraih ponsel Manisya, namun gagal ia dapatkan.


"Gak mau, senyum dulu, kalau sudah dapat fotonya nanti aku berhenti, kamu tahu, aku paling suka sama senyum kamu, Manis banget, sama kayak nama aku Manis ya, hehehe!"


Adam terlihat menghela nafas, menggelengkan kepalanya dengan tatapan tak ia alihkan sedikit pun kepada Manisya. "Gadis bodoh!"


"Kemarilah, aku akan memberikan senyumku dalam kamera ponselmu secara cuma-cuma!" Adam memberikan perintah kepada Manisya agar ia duduk tepat dipinggir nya untuk berfoto bersamanya menggunakan ponsel milik Manisya.


***

__ADS_1


Makasih yang udah setia menunggu. ❤️❤️❤️


__ADS_2