
"Maafkan aku atas kejadian tadi!" Ucap Adam menghempas keheningan selama perjalanan, karena Adam segera menarik Manisya pergi dari rumah Kakeknya setelah Sang Kakek mengatakan ketidak sukaannya pada Manisya, Adam sangat marah besar karena itulah ia pergi tanpa permisi dengan sejuta emosi membakar dadanya.
Dengan menarik kedua sudut bibirnya Manisya menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang meminta maaf, karena aku, kamu dan kakek menjadi bertengkar!"
"Tidak, sama sekali bukan salahmu!"
"Tapi..!" Manisya hendak menyangkal kembali namun Adam segera memotong perkataannya.
"Sudahlah tak perlu di bahas kembali, aku sangat malas membahasnya, ini sudah larut, aku antar kamu sampai kedepan!"
Saat itu, Adam baru saja sampai mengantarkan Manisya tepat ke depan rumah Kontrakannya.
Manisya hanya terdiam tak menjawab ucapan Adam, mengisyaratkan ada sesuatu yang ia sembunyikan saat itu.
Namun setelah beberapa saat, Manisya segera menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Adam.
Adam pun segera keluar dari mobil dan mengantar Manisya sampai pintu gerbang.
"Em, boleh aku berkata sesuatu?" dengan ragu Manisya berucap.
"Tentu saja, katakanlah!"
"Aku memang sangat kecewa mendengar ucapan Kakek mu, dia terlihat benar-benar tidak menyukaiku, apa aku memang seburuk itu?" Tanya Manisya.
"Tidak, Kakek hanya belum mengenalmu saja!" Jawab Adam berusaha menenangkan Manisya.
Mendengar ucapan Adam membuat bibir tipisnya melebar sempuran dengan menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Janji, besok harus minta maaf sama Kakek!" Manisya mengarahkan jari kelingkingnya kepada Adam.
"Apa maksudmu?" Adam terlihat mengerutkan dahinya dengan menatap kasar kepada Manisya.
Kelingking Manisya belum mendapat sambutan dari Adam.
"Apa kamu tidak percaya kepadaku? bukankah kamu bilang aku tidak seburuk yang di bayangkan Kakek? apa mungkin kamu berfikiran sama dengan yang kakek fikirkan tentangku?"
Sebuah ucapan yang membuat Adam mengaitkan kelingkingnya kepada kelinging Manisya.
"Bagus!" Manisya menatap penuh kemenangan dengan menyematkan senyumannya menatap kelingkingnya yang bertautan dengan Adam, setelah itu tangannya pun refleks menepuk-nepuk puncak kepala Adam, ia pun menjinjitkan kakinya agar tangannya bisa menjangkaunya.
"Aku akan mengabadikannya sebagai bukti!" Segera Manisya mengambil ponselnya dan mengambil sabuah foto tepat mengarah pada tangannya. Sedangkan Adam, ia sama sekali belum merespon ucapan Manisya, masih merasa kesal karena Manisya menyuruhnya untuk meminta maaf kepada Kakeknya.
"Aku sudah mengambil gambarnya, kalau besok kamu tidak baikkan dengan Kakek, Kamu akan mendapat hukuman!"
"Terserah!" Jawab Adam dengan Nada dan ekspresi kesalnya.
"Hehe!" Manisya berusaha mencairkan tatapan Adam yang menatap kesal ke arahnya.
__ADS_1
"Ini sangat dingin, masuklah!" Ucap Adam dengan memberikan sebuah kode kepada Manisya agar segera masuk kedalam.
"Baiklah!" Tanpa sebuah aba- aba, Manisya melingkarkan tangannya pada tubuh Adam, seketika Adam terkejut dengan apa yang di lakukan Manisya kepada nya, bagaimana tidak, di depan jalanan Wanita itu memeluknya, menjadi pusat perhatian orang yang lewat, walaupun malam itu terbilang malam yang sepi bagi sebuah jalanan yang kerap di lewati kendaraan.
"Apa yang kamu lakukan!" Adam berusaha melepaskan tangan Manisya yang terlanjur mengunci pada tubuhnya, namun begitu kuatnya wanita itu memeluknya, hingga akhirnya Adam terpaksa membiarkan mereka menjadi tontonan beberapa kendaraan yang melewati mereka.
"Emm, ini sangat hangat!" Mendaratkan senyuman dalam pelukannya kepada Adam, Adampun membalas pelukan wanita hingga membuat persannya sangat damai seketika.
Setelah beberapa saat Manisya melepaskan pelukannya, "Aku sudah hangat, kamu boleh pulang!"
"Ya aku pulang setelah melihatmu masuk kedalam, masuklah!" Adam memberikan perintah kepada Manisya agar segera masuk kedalam tempat tinggalnya.
"Tidak perlu, aku, aku ingin melihat kamu pergi dulu!"
Adam menatap tajam wanita yang berada di hapannya itu setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Apa yang kamu sembunyikan!" Tatapannya semakin menajam kepada Manisya, seolah tahu Manisya menyembunyikan sesuatu hal darinya.
"Tidak, tidak ada, aku, aku, aku hanya ingin melihat mobilmu pergi saja!"
Kali ini bibir Adam tertutup rapat hanya matanya yang berbicara kepada Manisya seolah mengetahui jika wanita yang berada di hadapnnya tengah menyembunyikan sesuatu kepadanya, menatapnya dengan penuh tajam, membuat Manisya merasa canggung.
"Itu, aku!" Manisya menunduk dan akhirnya pasrah tak mampu menyembunyikan sesuatu kepada Adam.
Mendengar ucapan Manisya membuat mata Adam membulat seketika, ia begitu terkejut dengan apa yang di katakan oleh Manisya kepadanya.
"Maksudmu, kamu menghilangkan benda yang begitu penting? dan kamu berusaha menyembunyikannya dariku? dan kamu menyuruhku pergi begitu saja dan membiarkan mu sendirian malam begini, yang benar saja, dasar sangat ceroboh!" Menepuk pelan puncak kepala Manisya menggunakan telapak tangannya.
Bibi Manisya mengerut mendengar ucapan Adam, "Maafkan aku, Aku benar-benar tak ingat menyimpan kunci tersebut dimana!" Manisya tak bisa lagi mengelak akan kecerobohannya.
Adam yang gemas dengan Manisya kali ini tak menjawab ucapannya, hanya menatapnya dengan penuh emosi.
"Kan aku sudah Minta maaf!"
Adam yang sudah kesal dengan Manisya, belum merespon ucapan Manisya yang berusaha meredam emosinya.
Namun bukannya merasa bersalah, Manisya dengan gaya Manja nya menatap Adam dengan senyuman lebar dibibirnya, menempelkan kedua telapak tangannya pada pipinya dengan sedikit bergaya. "Apa aku secantik itu, sampai- sampai bapak tak henti menatapku sepanjang waktu, apa senyumku begitu Manis seperti namanu?" Manisya berusaha menggoda Adam yang tengah mengerutkan bibirnya tanpa melepaskan tatapannya kepada Manisya.
"Bagian mana dari wajahku yang paling cantik?"
"Mataku?" Mansiya mengedipkan kedua Matanya kepada Adam.
"Bukan?"
__ADS_1
"Hidungku?" Menunjuk-nunjuk hidungnya menggunakan tangannya.
"Sepertinya bukan, hidungku sangat minimalis!" Adam masih belum merespon, hanya menatap Manisya.
"Aku tahu, pipiku kan?" Berharap Adam menjawabnya namun masih tak berhasil.
"Sepertinya juga bukan, kedua pipiku se chuby itu, dan aku juga gak punya lesung pipi!" Berkata dengan menggelengkan kepalanya.
"Emm." Manisya masih menatap Adam yang masih menatap tajam ke arahnya.
Manisya meraih tangan Adam kemudian merpatakannya dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf, aku cuma tak ingin merepotkanmu!"
"Jangan pernah berbohong kepadaku, dan jangan menyembunyikan hal seperti ini kepadaku, bicaralah jika ada sesuatu, aku akan sangat marah jika kamu tak bercerita hal yang penting seperti ini kepadaku!"
"Aku janji!" Manisya segera mengangkat jari kelingkingnya.
Adam mengangguk secara perlahan, menandakkan ia sudah memaafkan Manisya. setelah itu kedua tangan Adam meraih wajah Manisya, menyentuh pipinya dengan lembut, kali ini tatapan penuh kehangatan ia daratkan kepada wanita dihadapannya itu, dan sebuah ciuman mendarat di hidung Manisya. "Aku menyukai hidungmu!", setelah itu Adam mendaratkan ciuman pada keuda mata Manisya, "Aku menyukai mata mu!", kemudian mendaratkan ciuman pada kedua pipi Manisya, "Aku menyukai pipimu!", Manisya hanya berdiri mematung saat ciuman demi ciuman Adam daratkan pada wajahnya. kemudian Adam memeluk Manisya dengan erat, "dan Aku menyukaimu!"
Untuk kedua kalinya di malam yang dingin itu Manisya dan Adam saling berpelukan.
Walaupun sebenarnya Manisya sangat enggan untuk menginap di tempat Adam malam itu, karena tak ada pilihan lain lagi untuknya, ia pun terpaksa mengikuti perkataan Adam untuk menginap di tempanya.
Sesampainya di tempat Adam, karena memang saat itu malam sudah terlalu larut untuk mereka bercakap, mengingat besok harus bekerja kembali, malam itu Adam membiarkan Manisya tidur di atas kasur miliknya sedangkan Adam tidur di atas Sofa yang berada di ruang televisi.
Pagi harinya.
Terdengar suara pintu terbuka, suara langkah kaki perlahan memasuki apartemen Adam, ia melihat Adam masih terlelap di atas sofa.
"Adam, Adam!" Mansiya sedikit berteriak dari dalam kamar Mandi.
"Apa aku boleh meminjam handukmu?"
__ADS_1