
"Sudah lah" Jawab Adam menanggapi permintaan maaf Manisya dan Pak Komar.
"Dan Lo" Adam menatap Ke arah Manisya.
Dibalas dengan tatapan Manisya ke arah Adam, kemudian Manisya menundukkan kepalanya merasa menyesal atas apa yang telah ia katakan kepada Adam sebelumnya.
"Maaf" Jawab Manisya mendahului perkataan Adam.
Adam menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Manisya, Manisya pun berusaha menggeser kembali tubuhnya namun sudah tidak ada lagi tempat untuk ia bergeser menjauhi Adam.
Adam mendekatkan kepalanya kepada kepala Manisya, namun Manisya berusaha menjauhinya hingga posisi kepalanya saat ini miring menempel pada kaca mobil, Manisya terlihat ketakutan.
"Wanita bodoh, singkirkan fikiran - fikiran kotor yang ada di otak Lo itu, dan satu lagi berfikir lah telebih dahulu sebelum berbicara" Adam menempelkan satu telunjuk kanannya pada dahi Manisya kemudian menekan nekan telunjuknya ke dahi Manisya secara perlahan, membuatnya Manisya memejamkan matanya seketika, kemudian Adam kini beralih dengan menekan kedua pipi Manisya dengan satu tangannya, hingga bibirnya Manisya kini bergerak maju dan membuatnya kesulitan berbicara.
"Iya ampun, aku minta maaf dam, maafin?" Manisya kesulitan berkata-kata karena tangan Adam masih menghimpit kedua pipinya, setelah beberapa lama saat Adam puas menekan pipi Manisya yang terbilang mempunyai pipi penuh itu, Adam melepaskan cengkraman tangannya.
Manisya menggerak-gerakan kedua rahangnya ke kiri dan ke kanan, merasa kedua pipinya kini sangat kaku, setelah itu Manisya berusaha mengangkat kepalanya saat Adam menggeser sedikit posisi duduknya.
"Aku kan sudah minta maaf" Kata Manisya dengan mengerutkan bibir tipisnya.
Manisya melihat Adam masih menatap dengan tatapan menurutnya tatapan seekor harimau.
"Iya iya aku minta maaf aku janji aku gak akan bicara yang aneh - aneh lagi." Kata Manisya yang mulai ketakutan melihat ekspresi muka Adam.
Setelah beberapa saat, tempat duduk mereka kembali seperti posisi semula. Pak Komar tersenyum di buatnya saat melihat tingkah Adam dan Manisya dari balik kaca.
"Coba saja tanyain Pak Komar!" Manisya masih membahas perihal perkataannya kepada Adam, dan hal ini membuat Adam langsung menghimpit kembali tubuh Manisya saat ia hendak membahas lagi perkataannya sebelumnya.
Sedangkan Pak Komar yang sedang mengendarai mobil, hanya tersenyum mendengar percakapan antara Adam dan Manisya.
"Iya iya aku lupa dam, aku ga bicara lagi! Aku tutup mulutku sekarang." Manisya kalah telak dengan himpitan tubuh dan tatapan harimau Adam. Manisya tak mengeluarkan kata-kata lagi setelah itu, ia sibuk menggerutu di dalam hatinya sambil menatap kosong ke arah jalanan yang kala itu di basahi oleh rintik - rintik hujan.
Setelah itu tak ada lagi percakapan antara Adam dan Manisya sebelum akhirnya Manisya sampai tepat di depan rumahnya.
__ADS_1
"Aku turun dulu ya Adam, terimakasih banyak" Manisya membuka pintu mobil yang telah di buka kuncinya oleh Pak Komar kemudian Manisya segera keluar, pintu mobil pun ia tutup kembali, dengan cekatan Pak Komar membuka kaca jendela dari mobil tersebut.
"Pak Komar terimakasih banyak." Manisya melambaikan tangannya kepada Pak Komar, kemudian di balas lambaian tangan Pak Komar di sertai dengan senyuman lebar dari Pak Komar.
Manisya kembali mendekat ke arah Adam.
"Jangan lupakan janjimu ya Adam!" Bisik Manisya kepada Adam dari jendela mobil namun masih bisa terdengar oleh Pak Komar.
Manisya menarik kedua sudut bibir tipisnya hingga terlihat gigi putihnya berjajar sangat rapih.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Adam saat Manisya berbisik mengingtkan janji Adam kepadanya, Adam hanya menatap lurus kedepan sambil menekan sebuah tombol yang membuat kaca jendela mobil menjadi tertutup. Setelah itu Pak Komar melajukan kembali mobil yang sedang ia kemudikan tersebut.
"Neng Manis lucu ya Mas" Pak Komar mengarahkan senyumannya kepada Pak Komar.
Adam tak menjawab perkataan Pak Komar, ia diam sesaat sebelum akhirnya berkata kepada Pak Komar.
"Pak Komar!" Panggil Adam kepada Pak Komar.
"Aku tidak ingin Pak Komar memanggilnya dengan sebutan seperti itu kepadanya" Perkataan Adam membuat Pak Komar berfikir keras.
"Maksud Mas?" Pak Komar masih belum mengerti arah pembicaraan Adam.
"Jangan Panggil dia dengan nama depan atau nama tengahnya!" Adam menjelaskan kepada Pak Komar untuk tidak memanggil Manisya dengan nama depan atau nama tengah Manisya.
"Terus saya harus panggilnya Neng ma" Pak Komar yang kini mengerti menghentikan perkataannya saat nama depan Manisya hendak ia panggil.
"Maksud saya, saya harus memanggilnya dengan sebutan apa Mas?" tanya Pak Komar kepada Adam.
"Pak Komar bisa memanggilnya dengan nama belakangnya, atau Mba, atau tidak usaha memanggilnya sekalian!" Jawaban Adam membuat Pak Komar berfikir kembali.
"Memang nama belakangnya siapa Mas?" tanya Pak Komar sambil menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal.
"Aralan" Jawab Adam sangat singkat.
__ADS_1
"Aralan?" Kata Pak Komar menanggapi jawaban Adam sambil memiringkan sedikit kepalanya.
"Iya" Jawab Adam dengan singkat.
"Bukankah itu nama seorang laki-laki Mas?' tanya Pak Komar yang terlihat bingung dengan nama belakang Manisya.
"Itu nama Ayahnya" Jawab Adam yang sedang menatap lurus ke depan.
"Apa itu tidak apa-apa?" Tanya Pak Komar yang masih heran dengan permintaan Adam yang begitu aneh menurutnya.
"Baik Mas, kalau begitu bapak akan Panggil Mbak Aralan saja jika nanti bertemu lagi" Jawab Pak Komar menyetujui permintaan Adam.
"Bagus!" Adam menanggapi perkataan Pak Komar.
"Dan satu lagi." Adam melirik ke arah Pak Komar dengan sebuah tatapan peringatan.
"Apa itu Mas?" Pak Komar memperhatikan dengan seksama perkataan Adam kepadanya di balik kaca spion, disana terlihat Adam dengan sedang menatap ke arah Pak Komar degan raut muka seriusnya.
"Jangan sampai gadis bodoh itu tahu jika aku yang menyuruh Pak Komar untuk mengganti nama panggilannya" Sebuah peringatan untuk Pak Komar dari Adam.
"Baik Mas!" Pak Komar mengangguk mengiyakan perkataan Adam.
"Kalau boleh tau, Alasannya kenapa ya Mas?"
tanya Pak Komar yang penasaran tiba-tiba Adam memintanya untuk merubah nama panggilannya kepada Manisya.
"Mendengarnya membuat kupingku terasa panas!" Jawab Adam sambil mengalihkan pandangannya kesebuah ponsel yang kini ia pegang.
"Ko bisa begitu ya Mas?" tanya Pak Komar yang kini terlihat semakin bingung di buatnya saat mendengar penjelasan dari Adam.
Adam tak menjawab lagi perkataan Pak Komar iya sibuk dengan ponselnya, entah apa yang kini di lakukannya.
"Baiklah Mas Adam, jika begitu Saya akan ikutin apa yang Mas Adam perintahkan, kedepannya jika bertemu sama Neng, Maksud bapak sama Mbak Aralan saya akan memanggilnya Mbak Aralan atau Mba Ara ya Mas, takut kepanjangan." Walaupun sebenarnya Pak Komar masih bingung dengan penjelasan Adam, Pak Komar akhirnya menyetujui permintaan Adam, tak ingin dirinya mendapat masalah dikemudian hari jika tak menuruti perintah seorang Adam.
__ADS_1