Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Hidung, Alis, dan Mata


__ADS_3

"Tidak boleh!" Sambil memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.


Adam yang kala itu berdiri di belakang Manisya begitu terkejut dengan perbuatan Gadis berambut pendek itu, ia tak menyangka jika Manisya berani melakukannya, Adam menatap ke arah kepala Manisya dengan menarik kedua sudut bibirnya.


Wanita tersebut, menarik ponselnya secara kasar dari tangan Manisya, dengan raut wajahnya yang tidak bersahabat.


"Kenapa tidak boleh?" Tanya wanita tersebut dengan menatap tajam ke arah Manisya.


"Pokoknya tidak boleh ya tidak boleh!" Jawab Manisya dengan memutar kedua bola matanya, memikirkan sebuah alasan yang tepat.


"Kak Adam boleh tidak aku meminta nomor ponselmu?" Gadis itu masih berusaha mendapatkan nomor ponsel Adam, ia kini mengabaikan Manisya yang tengah berdiri di depan Adam bermaksud menghalangi Adam dan wanita itu untuk berkomunikasi, gadis itu Hanya menatap ke arah Adam.


"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!" Manisya memusatkan kedua bola matanya kesalah satu sudut, dengan tak membiarkan wanita itu bebas berbicara pada Adam, berusaha menghalangi Gadis itu agar tak bisa berbicara kepada Adam.


Adam hanya terdiam saat itu, memperhatikan belakang punggung wanita yang menghalangi langkahnya.


"Memang kamu siapa nya kak Adam, baru saja bisa dekat dengan kak Adam, gayanya sudah selangit!"


"Aku?" Manisya menunjuk pada hidungnya menggunakan jari kanannya.


"Ya kamu siapanya kak Adam!" Telunjuk wanita tersebut mengarah kepada Adam.


"Aku, aku hanya, aku hanya temannya!" Ucap Manisya.


"Teman? Baru menjadi teman saja sudah berani macam-macam!"


"Biarin aja, suka-suka aku!" Jawab Manisya dengan berpangku tangan.


"Kamu hanya temannya kan, dan kamu pasti punya nomor ponselnya, berikan padaku!" Gadis cantik itu menyodorkan ponselnya kepada Manisya.


"Aku bilang tidak!" Ucap Manisya dengan mengangkat kepalanya.


Gadis itu terlihat merasa kesal dengan tingkah Manisya, tiba-tiba memberikan kode kepada tiga orang temannya yang menunggunya berjarak di belakangnya.


Mereka bertiga datang menghampiri Gadis cantik tersebut, menatap tajam ke arah Manisya mendekat ke arahnya hendak memberikan sebuah peringatan kepada Manisya.


"Aku tidak takut dengan kalian semua!" Ucap Manisya dengan Nada menantang.


Apa yang akan kalian lakukan, ucap Adam dengan Menatap ke empat gadis yang terlihat bersiap untuk melawan Manisya, dengan sebuah gelengan di kepalanya, "Dasar wanita!"


Setelah itu Adam melangkahkan kakinya dengan tangannya menarik tas Manisya, hingga tubuh Manisya terpaksa harus mengikuti langkah kaki Adam.


"A, Adam, tunggu!" Manisya terlihat kesulitan melangkah karena tasnya yang di tarik paksa oleh Adam, "Jangan berisik, ikut aku!"


Ke empat gadis cantik yang bersiap dengan sebuah perlawanan kepada Manisya, seketika membulatkan kedua mata mereka dengan tak henti menatap Adam yang tengah menarik Manisya yang sedang menarik tas punggungnya.


"Adam, lepasin aku!" Manisya meronta meminta Adam melepaskan tangannya yang menarik tas punggungnya yang membuat ia kesulitan melangkah.


Adam pun mengikuti kata Manisya, melepaskan tangan yang menarik paksa tasnya, namun Adam kini merubah posisi tangannya menjadi merangkul pundak Manisya.


Ke empat mata yang memperhatikan mereka semakin terbelalak saat melihat Adam merangkul pundak Manisya.


"Adam, jangan seperti ini!" Manisya berusaha melepaskan tangan Adam yang merangkul pundaknya.


"Diamlah!" Adam semakin mengencangkan rangkulannya.


"Nanti orang-orang pada melihatnya, aku takut mereka berfikir macam-macam!"


"Aku tidak peduli!" Ucap Adam kepada Manisya ia mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap tajam ke arahnya.


Setelah sampai di pemberhentian bus, Adam pun melepaskan rangkulannya, karena sikap Manisya yang tak kunjung berhenti mencoba melepaskan tangan Adam yang melingkar pada pundkanya.


Manisya memberikan tatapan kesalnya pada Adam, mengusap kesal Manisya dengan menggunakan tangannya.


"Jangan menatapku seperti itu!"


"Aku hanya kesal kepadamu, Kenapa kamu menarik ku?" Manisya mengerutkan bibirnya kepada Adam.


"Jangan bodoh, apa kamu berniat memukuli mereka?" Adam mengangkat salah satu alisnya mencoba menebak apa yang ada di dalam fikirana Manisya.


"Iyah, aku akan memukuli mereka, berani sekali mereka kepadaku!" Manisya berkata dengan menempelkan kedua tangannya di atas pinggang.


"Jangan bodoh, kamu tidak akan menang melawan mereka!" Ucap Adam yang saat itu tengah duduk di pinggir Manisya di sebuah bangku di halte bus.


"Kamu meragukan ku? kamu tahu begini-begini juga aku itu jago dalam berkelahi!"

__ADS_1


"Wanita bodoh!" Ucap Adam sambil menengok ke arah Manisya dengan menatap tajam ke arah nya.


Manisya berdesah kesal dengan apa yang di katakan Adam saat itu.


"Aw, sakit tahu!" Jentikkan jari Adam berhasil mengenai dahi Manisya.


"Jangan buang-buang tenaga mu untuk hal yang sama sekali tidak berguna, atau aku akan memberikan bonus yang besar pada dahimu!" ucap Adam sambil menatap kedua jarinya yang melingkar.


Manisya segera menutup dahinya menggunakan kedua tangannya.


"Menyebalkan!"


Tiba-tiba Adam berjongkok dan menyentuh lutut Manisya yang terlihat ada sebuah bekas luka di sana.


Manisya reflek menggeser kan kakinya menghindari sentuhan tangan Adam.


"Apa itu sudah sembuh?" Adam menunjuk bekas luka pada lutut Manisya.


"Sudah, sudah sembuh ko, kamu gak perlu khawatir!"


"Berbekas!" Adam terlihat memasang muka menyesalnya.


"Ya tidak apa-apa nanti juga hilang!" Jawaban Manisya sedikit menenangkan Adam, masih ada perasaan bersalah kepada Manisya, karena ia merupakan salah satu penyebab Manisya terluka.


"Apa luka di punggung kakimu juga sudah sembuh??"


"Sudah, sudah sembuh!"


Adam menarik tangan Manisya memperhatikan nya dengan seksama.


"Di sini juga sudah sembuh!" Manisya memperlihatkan sebuah luka kecil di tangannya.


Adam tak menjawab perkataan Manisya, ia menatap ke arah Manisya, sebelum sebuah bis yang mereka tunggu akhirnya datang. Adam segera berdiri di ikuti oleh Manisya di belakangnya, namun saat menghampiri bus, Adam membiarkan Manisya untuk menaiki bus tersebut terlebih dahulu.


Walaupun saat itu, bus yang mereka naiki terlihat tak banyak penumpang nya, Adam membuntuti Manisya untuk duduk di sebelahnya, dan sang pengemudi melajukan busnya dengan kecepatan standar.


"Kita mau kemana?" Tanya Manisya mulai menyapa keheningan di antara mereka, Adam terlihat lebih diam setelah melihat bekas luka di tubuh Manisya.


"Apa yang ingin lakukan?" Adam balik bertanya kepada Manisya.


"Baiklah, apapun yang kamu inginkan hari ini, terserah padamu!"


"Benarkah!" Manisya membulatkan kedua matanya dengan senyuman lebar di bibirnya menandakan sebuah kemenangan.


Adam menjawab Manisya dengan hanya menganggukkan kepalanya.


"Terus kita mau kemana?" Tanya Manisya dengan penuh antusias bertanya kepada Adam.


"Aku akan mengantarmu pulang!" Jawab Adam dengan membuat Manisya kecewa.


"Barusan kamu bilang terserah padaku, Tapi kenapa jadi mengantarku pulang?" Manisya mengerutkan bibirnya sebagai aksi protesnya kepada Adam.


"Aku ingin membeli Ramen, Ramen yang pedas, kamu suka Ramen?"


"Tidak, kamu bisa memakannya lain kali!"


"Tapi aku sangat ingin memakannya!" Ucap Manisya dengan wajah memelas kepada Adam.


"Ya, itu tidak bagus untuk perutmu saat kamu baru saja sembuh!" Jawab Adam.


"Baiklah!" Ucap Manisya menundukkan kepalanya.


Setelah itu, tak ada percakapan lagi antara Manisya dan Adam, mereka terhanyut dengan suasana dingin dari dalam bis yang dilengkapi suara alunan musik yang diputar secara perlahan, membuat keduanya perlahan terbuai kedalam alam mimpi.


30 menit telah berlalu, Adam perlahan membuka kedua matanya, melihat ke sekeliling setelah itu menatap ke arah luar, terlihat langit yang semakin menggelap, lampu-lampu yang menyala seakan bersiap menyambut malam yang sebentar lagi akan tiba.


Kini kedua matanya beralih menatap Manisya yang sedang tertidur dengan kepalanya yang menyender pada kaca jendela, Adam menarik kedua sudut bibirnya kemudian memindahkan kepala Manisya yang menyender pada kaca dengan menggunakan tangan kanannya secara perlahan ke bahu miliknya, Adam pun secara perlahan mengusap kepala Manisya yang terlihat tidak terusik sedikitpun saat tangannya memegang kepala Manisya.


"Gadis Ceroboh!" Ucap Adam dengan mengecup secara perlahan ujung kepala Manisya yang tengah menyandar pada pundaknya.


Setelah beberapa, Manisya terbangun dari tidurnya, ia perlahan membuka kedua matanya, memperhatikan ke arah sekitar, setelah itu lirikan Mata Manisya terhenti saat melihat Adam yang tengah duduk berada di sampingnya dengan kedua matanya yang terpejam, Manisya menutup mulutnya,


"Ya ampun jadi dari tadi aku tidur di pundaknya." Ucap Manisya jauh di dalam hatinya.


Manisya mendekatkan wajahnya menatap Adam yang tengah memejamkan kedua matanya, Manisya menarik kedua sudut bibirnya melihat wajah Adam dari dekat, ia sedikit menyentuh hidung tinggi milik Adam, "Dia benar-benar tampan!" Bisik Manisya tak membuat siapapun mendengarnya.

__ADS_1


Manisya mencoba memegang alis Adam yang terlihat tebal, di sentuhnya secara perlahan alis hitam milik Adam itu, Adam terlihat menggerakkan sedikit badannya saat merasakan tangan Manisya yang menyentuh alisnya, saat itu Manisya terlihat senang sekali bisa menatap wajah tampan Adam dari dekat, bahkan ia bisa menyentuhnya.


Manisya mencoba menyentuh bagian lain dari wajah Adam, kali ini bibirnya tersenyum saat memusatkan kedua matanya pada bibir Adam yang tebal namun terlihat merah merona, Sedikit sekali tangan Manisya menyentuh bibir Adam, namun saat Manisya melakukan hal itu, tiba-tiba Adam membuka kedua matanya, menengokkan kepalanya pada Manisya, hingga kedua mata mereka saling bertatapan.


"Kamu sudah menyentuh ketiga bagian wajahku!" Tangan Adam memegang lengan Manisya.


"Ti, tidak!" Jawab Manisya mencoba menyembunyikan hal yang sudah ia lakukan.


"Hidung, alis, dan bibirku!" Ucap Adam dengan menatap tajam ke arah Manisya.


"Tidak tidak!" Manisya masih mengelak.


"Sudah aku bilang, jangan mencoba membohongiku!" kata Adam masih tak melepaskan tangannya pada lengan Manisya, dan tak melepaskan tatapan nya pula pada Gadis yang berada di pinggirnya itu.


"Maaf, aku hanya.. kamu tidak tidur?" Manisya baru menyadari sesuatu, seketika membulatkan kedua bola matanya.


"Siapa yang bilang aku tidur, aku hanya memejamkan kedua mataku!" Jelas Adam yang melihat Manisya membelalakkan kedua matanya.


Manisya menunduk merasa malu atas apa yang sudah ia lakukan.


Adam mengangkat dagu Manisya yang tengah menundukkan kepalanya itu, "Kamu harus membayar atas apa yang kamu lakukan!" kemudian tanpa aba-aba Adam mengecup hidung Manisya, setelah itu Adam mengalihkan pandangannya pada alis Manisya, "Kamu tidak memiliki alis!" setelah mengatakan hal itu Adam mencium alis Manisya, Adam kemudian menatap bibir Manisya dan berkata, "Bibir mu sangat mungil!" dan Adam pun mengecup bibir tipis Manisya secara perlahan. Saat itu Manisya hanya membeku tak memberikan ucapan ataupun gerakan pada tubuhnya, hanya membelalakkan kedua bola matanya saat satu persatu wajahnya berhasil di kecup secara lembut oleh Adam.


Setelah selesai mengecup bibir Manisya, Adam melepaskan tangannya yang memegang dagu Manisya, Manisya mengalihkan pandangannya pada arah jendela, saat itu tiba-tiba seluruh badannya di penuhi keringat dingin, semua badannya tiba-tiba melemas.


Adam hanya tersenyum melihat tingkah Manisya.


"Apa kamu akan tidur di sini?" Ucapan Adam mengagetkan Manisya yang sedang berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Tidak, aku akan pulang!" Jawab Manisya tanpa melihat ke arah Adam.


Adam kemudian beranjak dari duduknya untuk kemudian berdiri dan segera membetulkan tas gendong miliknya.


"Ma, mau kemana?" Manisya melirikkan wajahnya pada Adam, ia bertanya secata ragu-ragu dengan penuh penasaran.


Adam memberi tanda dengan menggerakkan secara perlahan kepalanya yang ia arahkan ke sebuah jendela, Manisya pun mengikuti perkataan Adam, saat itu Adam melihat raut Manisya yang terlihat menegang itu.


"Ini sudah sampai?" Ucap Manisya sesaat setelah menatap ke arah jendela, ia kemudian segera mengangkat tubuhnya yang sedang menduduki kursi penumpang saat Adam telah mengangguk mengiyakan perkataan Manisya.


"Ayo!" Ucap Adam mengajak Manisya untuk segera turun dari bus.


Setelah itu, Adam dan Manisya pun segera turun dari Bus yang membawa mereka ke sebuah pemberhentian tersebut.


"Kamu di jemput Pak Komar?" tanya Manisya saat melihat sebuah mobil berwarna merah terparkir di terminal tersebut, mobil yang sangat ia kenal pemiliknya itu.


"Tidak, Pak Komar sedang berlibur!"


"Ada pengganti Pak Komar?" Tanya Manisya mengangkat salah satu alisnya.


"Sia.. !" Ucapan Manisya terhenti tatkala melihat Adam mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sakunya hingga membuat mobilnya terlihat menyala.


"Aku menyuruh orang rumah mengatarkan nya kemari!" jawab Adam sambil berjalan ke arah pintu mobil di sisi penumpang.


"Kenapa..?"


Adam memotong perkataan Manisya. "Jangan banyak bertanya masuk saja!" Asam membukakan pintu mobil untuk Manisya.


"Aku kan hanya penasaran!" Jawab Manisya dengan mengerutkan bibirnya.


Adam segera menutup pintu mobil itu dan bergegas berpindah tempat untuk segera memasuki mobil di sisi kemudi tersebut.


"Aku menyuruhnya untuk meninggalkan mobil di sini dan aku juga menyuruhnya untuk segera pergi saat sudah sampai tadi!" Tutur Adam menjelaskan secara panjang lebar pada Manisya, seolah mengerti dengan tatapan kesal Manisya karena Adam memotong perkataannya.


Setelah mendengar jawaban Adam, Manisya yang tengah mengerutkan bibirinya tiba-tiba menarik kedua sudut bibirnya dengan menatap ke arah Adam.


Adam mendesah dengan menggelengkan kepalanya dengan tatapan tak ia alihkan pada Manisya, "Dasar wanita!" Kali ini tangannya berhasil mencubit pipi Manisya.


"Sakit tau!" Kata Manisya dengan mengusap-usap pipinya menggunakan tangannya.


Adam hanya tersenyum menatap kearah Manisya yang tengah menatap tajam ke arahnya dengan tangannya sedang mengusap-usap pipinya yang penuh itu, Setelah itu Adam segera melajukkan mobil miliknya dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.


"Sebagai gantinya aku akan mengajakmu bermain ke taman hiburan!" Ucap Adam.


"Benarkah?" Manisya membulatkan kedua matanya.


***

__ADS_1


Terimakasih ya dukungannya, bikin semangat 😊


__ADS_2