Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Bukan Urusanku


__ADS_3

"Jangan lakukan apapun untukku!"


Adam terlihat menarik nafasnya.


"Kau tahu! aku tak menyukai apapun yang kau berikan untukku!"


Mendengar gertakan Adam serta perkataan yang keluar dari mulut Adam, berhasil membuat Manisya menelan ludahnya seketika, matanya pun secara bersamaan ikut membulat, ingin rasanya ia menangis saat itu, betapa ia sudah menurunkan harga dirinya namun seakan tak berarti sama sekali.


"Ma maaf!" Hanya kata tersebut yang berhasil keluar dari mulut Manisya.


Adampun berlalu meninggalkan meja Manisya dengan menyimpan kotak makanan yang di berikan Manisya di atas mejanya.


Manisya terlihat Masih berdiri mematung, fikirannya tiba-tiba saja kosong, sangat syok mendapat gertakan dari Adam.


Saat keheningan terjadi dalam ruangan tersebut, tiba-tiba.


"Pagi semuanya!" Senyum ceria seorang laki-laki muda berparas tampan yang bernama Bagas, yang baru saja datang saat itu seolah lebih menghangatkan dari sebuah mentari pagi ini.


"Pagi Manis!" Sapa Bagas kepada Manisya yang masih berdiri dengan tatapan kosong.


"Pa pagi Pak Bagas!" Jawab Manisya mencoba berkonsentrasi menjawab ucapan Bagas, ya Bagas merupakan Staff yang paling baik memperlakukan Manisya di banding yang lainnya, wajahnya tak kalah tampan dengan Adam namun tentu saja bagi Manisya Adamlah yang paling segalanya di bandingkan dengan Bagas.


"Kok kamu pagi-pagi udah bengong!" Tanya Bagas yang memergoki Manisya sedang menatap kosong ke sembarang arah.


Untunglah belum sempat Manisya menjawab pertanyaan Adam, Bagas sudah fokus kepada hal yang lain nya.


"Kamu pegawai baru?" Ucap Bagas sambil menghampiri Adam, ya hari itu merupakan hari pertama perjumpaan Bagas dengan Adam ditempat kerjanya, karena sebelumnya Bagas sedang mengambil masa cutinya.


Adam pun yang kala itu tengah duduk, berdiri memberi salam kepada Bagas.


"Adam!" Adam mengulurkan tangannya kepada Bagas.


"Bagas!" Merekapun bersalaman.


"Oia apa benar kamu adalah calon direktur di perusahaan ini, bahkan kamu anak dari pemilik perusahaan?" Tanya Bagas secara berterus terang, ya Bagas memang orangnya tak bisa berbasa-basi ia akan mengatakan apapun yang ingin mulutnya katakan sekalipun menyakiti perasaan lawan bicaranya.


Adam hanya menatap tajam ke arah Bagas, mengisyaratkan bahwa ia tidak menyukai dengan apa yang di katakan Bagas kepadanya, setelah itu Adam tak menjawab pertanyaan Bagas kepadanya.


"Baik, baik, aku tidak akan bertanya lagi, aku sudah mengerti!" Ucap Bagas.


Manisya mengangkat kedua alisnya, ia berkata jauh dalam hatinya, "Bukankah yang sering orang-orang bicarakan, jika Bagaslah yang akan memimpin perusahaan?"


"Apa yang kau bawa?" Tanya Bagas sambil menunjuk sebuah kotak makanan di meja Manisya.

__ADS_1


"Itu..!" Belum sempat Manisya menjawab, Bagas sudah membuka kotak makanan yang sebelumnya di kembalikan oleh Adam ke atas meja kerja Manisya.


"Buah?" Tanpa permisi Bagas pun melahap buah yang sudah Manisya kupas di dalam kotak makanan tersebut, yang memang sebelumnya ia buatkan untuk Adam.


"Manis sekali!"" Tutur Bagas dengan mulut yang penuh buah sambil menatap senyum ke arah Manisya.


"Aku belum sarapan, sarapan buah itu sangat bagus untuk kesehatan, kamu tidak akan memberikannya kepada orang lain kan?" Tanya Bagas tanpa perasan bersalah terus saja mengunyah buah yang ada dalam kotak makanan.


"Em, silahkan habiskan saja kalau Bapak Mau!" ucap Manisya, namun kedua bola matanya melirik ke arah Adam, Adam seolah tak mendengar dengan apa yang mereka perbincangkan, ia hanya sibuk menatap komputer yang ada di hadapannya.


"Iyah aku akan menghabiskan nya, ini sangat Manis, seperti namamu!" ucap Bagas sambil membawa kotak makanan milik Manisya menuju mejanya.


Mendengar perkataan Bagas membuat Manisya tersipu, kedua pipinya terlihat merona menatap Bagas.


Adam seolah tidak perduli saat mendengar percakapan Manisya dan Bagas, namun sekali-kali kedua bola matanya menyudut mencari informasi tentang apa yang sedang Manisya dan Bagas bicarakan.


Setelah itu Bagas berlalu dengan kotak makanan di tangannya, dan kembali menuju meja kerjanya.


Manisya mengetikkan sebuah pesan, "Maaf buah nya aku berikan kepada Bagas!" Pesan itu Manisya berikan kepada Adam.


Tiba-tiba ponsel Manisya bergetar, segera ia membuka ponsel miliknya, dan betapa terkejutnya saat melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya, kedua bola matanya membulat seketika, dan senyumannya melebar seketika, saat mengetahui siapa yang membalas pesannya, siapa lagi yang akan membuat Manisya tersenyum kalau bukan Adam.


"Bukan urusanku!" Jawab Adam atas pesan yang Manisya kirimkan kepadanya. Bukan sebuah balasan yang menggembirakan sebetulnya, namun Alasan kenapa Manisya begitu bahagia adalah setelah bertahun-tahun Manisya mengrimkan pesan kepadanya akhirnya Adam membalasnya.


"Terimakasih sudah membalas pesanku, aku sangat bahagia!"


***


Siang harinya di kantin kantor mereka.


"Kenapa sih kamu Manis, aku perhatikan kamu hari ini sejak pagi, senyum-senyum melulu, membuat bulu kudukku berdiri tau!" Protes Mona kepada Manisya.


"Kamu tahu Mon, setelah bertahun-tahun, laki-laki yang setiap hari aku kirimkan sebuah pesan tak pernah membalasnya, hari ini ia membalas pesanku!"


Kedua mata Mona membulat, dengan mulut penuh dengan makanan.


"Benarkan? dia yang selalu kamu ceritakan itu?"


Manisya menganggukan kepalanya mengiyakan perkataan Mona.


"Iyah Mon, pagi ini, aku senang sekali!"


"Aku turut bahagia kalau begitu, lantas pesan apa yang ia kirimkan kepadamu?"

__ADS_1


Tanya Mona yang begitu penasaran, karena senyuman lebar di bibir Manisya melebar setiap saat hari itu.


Manisya tersenyum terlebih dahulu sebelum akhirnya ia berkata dengan aura wajahnya yang terlihat begitu bahagia.


"Bukan urusanku!" Jawab Manisya.


"Bukan urusanku?" Ucap Mona mengulang perkataan Manisya.


"Iyah, dia berkata bukan urusanku!"


"Aku tidak mengerti?" Tanya Mona kembali.


"Iyah, dia menjawab pesanku dengan dua buah kata yaitu Bukan urusanku!"


Mona menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dan sikap teman satu kantornya itu, ia tersenyum sepanjang hari hanya karena seorang laki-laki menjawab pesannya dengan sebuah pesan yang seharusnya membuatnya berkerut wajah bukan malah tersenyum sepanjang waktu.


Mona memegang dahi Manisya, "Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Mona.


"Sepertinya kamu harus kedoter deh Sya!"


"Pa maksudmu? aku sangat baik, bahkan ini hari paling baik setelah bertahun-tahun!"


Mendengar ucapan Manisya membuat Mona melongo dengan kepalanya ia gelengkan secara perlahan.


"Aku akan mentraktirku hari ini!" Jawab Manisya.


"Serius?" Tanya Mona.


"Aku serius!"


"Kalau begitu aku traktir juga!" Tiba-tiba Pak Bagas, Adam dan Siska datang menghampiri mereka kemudian duduk dalam satu meja yang sama.


"Boleh-boleh, Si Manis lagi bahagia Pak Makannya dia mau traktir kita!" Jawab Mona menjahili Manisya.


"Memangnya ada apa?" Kali ini Siska yang terlihat penasaran.


Mona terlihat hendak membuka mulutnya, namun seketika Manisya membungkam mulut Mona menggunakan tangannya, tak membiarkan sepatah katapun keluar dari mulut Mona, tentu saja hal itu ia lakukan karena Adampun berada di sana bersama mereka.


Manisya memberi sebuah isyarat kepada Mona agar tak sembarangan berkata, setelah Mona terlihat mengangguk, Manisya pun melepaskan bungkaman tangannya pada Mona.


"Kenapa sih kalian ini?" Siska nampak risih. Adam hanya menatap tajam memperhatikan tingkah Manisya dan Mona.


Manisya hendak berkata dengan posisi sudah menatap ke arah Siska, namum sayang Mona mendahului ucapannya.

__ADS_1


"Bukan urusanku! itu pesan yang dia terima hari ini dari seorang laki-laki yang sudah ia tunggu selama bertahun-tahun, Hanya ucapan itu saja, hanya itu yang membuat dia ingin mentraktir kita hari ini coba, apanya yang spesial!"


__ADS_2