Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Menerima Kenyataan


__ADS_3

Setelah beberapa saat Adam dan Manisya di sibukkan dengan beradu bibir, Manisya yang mulai tersadar Apa yang kini di lakukan nya dengan Adam, membelalakkan kedua matanya kemudian mendorong tubuh Adam menggunakan kedua tangannya, hingga jarak Adam dan Manisya kini berjauhan.


"Lihat lah orang-orang sedang melihat ke arah kita!" Manisya berkata sambil menunduk malu menyembunyikan rona merah di pipinya, matanya yang sembab kini sudah tidak bisa lagi ia sembunyikan di hadapan Adam.


Sejenak Adam menatap ke arah Manisya, ia sama sekali tak memperdulikan semua mata yang memperhatikan ke arahnya, saat ini Adam sedang mencoba mencerna apa yang telah ia lakukan kepada wanita yang berada dihadapannya.


Setelah sesaat terbuai dalam fikirannya, Adam segera membuka kunci mobil yang berada di saku celananya, sebelum akhirnya ia menarik tangan Manisya untuk segera memasuki mobil sport berwarna merah tersebut, dengan segera Adam membuka pintu mobil untuk Manisya.


"Masuklah!" kata Adam sambil melepaskan tangan Manisya yang ia genggam.


"Baik." Jawab Manisya masih menundukkan kepalanya karena perasan malu mengingat apa yang telah mereka sesaat lalu.


Setelah Adam membukakan pintu untuk Manisya, Adam berbalik arah untuk kemudian membukakan pintu mobil untuk dirinya sendiri, dan kini Adam dan Manisya pun duduk di dalam mobil dengan Adam sebagai pengemudi mobil merah tersebut.


"Manisya betapa bodohnya kamu, apa yang kamu lakukan, tapi bagaimana ini aku sungguh malu tapi aku juga senang, senang sekali rasanya serasa ingin terbang, ah tidak." Manisya mengungkapkan perasaan yang tidak menentu dalam hatinya, tanpa ia sadari Manisya menarik kedua sudut bibirnya saat mengingat kejadian beradu bibir dengan Adam.


Adam mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara Manisya dan Adam, kedua makhluk itu kini tengah terbuai dalam fikiran mereka masing-masing, entah apa yang ada dalam fikrikan mereka masing-masing.


Manisya menoleh ke arah Adam, menatap ke arah Adam dengan sebuah kesimpulan dari fikiran Manisya, Manisya mendengar Adam mendesah resah, seakan ada sesuatu mengganjal fikirannya.


"Apa kamu sedang memikirkan hal yang tadi kamu lakukan kepadaku?" tanya Manisya kepada Adam yang kini tengah memegang kemudi, menatap lurus kedepan. Mendengar Perkataan Manisya membuat Adam mengalihkan pandangannya kepada Manisya, di tatapnya Manisya sesaat sebelum akhirnya Adam mengalihkan kembali pandangannya lurus kedepan agar ia masih tetap fokus dalam mengemudi, namun tak ada kata yang keluar dari mulut Adam.


"Kamu tidak perlu khawatir, Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang kejadian tadi, aku berjanji!" kata Manisya kembali bermaksud ingin menenangkan hati Adam yang kala itu terlihat sedang gusar karena suatu hal.


Adam tak mengindahkan perkataan Manisya, ia hanya sibuk menatap kedepan dengan sebuah kemudi di tangannya.


"Kenapa dia tidak menjawab perkataan ku, apa dia sedang marah denganku, atau dia merasa menyesal sudah melakukan itu kepadaku, aku sungguh bingung!" kata Manisya mengusap gusar wajahnya secara perlahan.

__ADS_1


Setelah itu, tak ada lagi perkataan yang keluar dari Adam dan Manisya, walaupun sebenarnya banyak sekali yang ingin Manisya tanyakan kepada Adam, namun pertanyaan itu tiba-tiba menghilang saat Manisya melihat raut muka Adam yang selalu saja tidak bisa ia tebak, di tambah lagi satu kata pun Adam tidak mengeluarkan dari mulutnya setelah masuk kedalam mobil.


Saat itu di dalam mobil, hanya hanya terdengar suara alunan musik yang menyapa keheningan, memang sengaja di putar oleh Adam.


So say we'll be always, always


Say it will be you and me to the old days


Let us be always, always


Through the highs and the lows, we'll be always


We will be always (always), always (always)


Say we will be you and me to the old days


Always - Isak Danielson


Sepanjang perjalanan hanya terdengar lagu tersebut, yang di putar dengan mode berulang.


Adam menghentikan laju mobil yang ia kemudikan, membuat kaget Manisya yang kala itu sedang menatap kosong ke depan, Manisya melirik ke arah kiri dan kanan.


"Sudah sampai yah?" tanya Manisya kepada Adam, namun Adam tak menjawab perkataan Manisya.


Manisya membetulkan tas miliknya, sebelum akhirnya Manisya menurunkan kakinya dari mobil tersebut.


"Makasih ya dam, hati-hati di jalan!" Manisya tersenyum melambaikan tangannya kepada Adam, namun Adam urung membalas lambaian tangan Manisya ataupun membalas senyuman Manisya. Adam hanya menatap ke arah Manisya, ia melihat mata sembab Manisya, serta sebuah luka kecil yang ada dahi Manisya, setelah itu Adam memajukan kembali mobil yang ia bawa, saat itu Hanya terdengar sebuah klakson dari balik mobil yang Adam kemudikan, sebagai tanda perpisahan antara Adam dan Manisya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan Adam!" Manisya masih melambaikan tangannya ke arah mobil merah yang di kendarai Adam sampai mobil tersebut tak lagi menampakkan bentuk nya.


Masih dengan posisi berdiri lengkap dengan seragam dan sebuah tas di punggungnya, Manisya meraba bibir miliknya menggunakan jarinya.


"Dia sudah mencium ku sebanyak tiga kali, apa dia menyukaiku, atau dia... "


Tiba-tiba Manisya menarik kedua sudut bibirnya, menampakan pipinya yang merah merona saat mengingat kembali ciuman yang mereka lakukan sesaat lalu, setelah itu Manisya mengerutkan dahinya mengisyaratkan suatu kebingungan di sana.


"Sudahlah," Manisya mencoba tersadar dari lamunannya, setelah itu Manisya berjalan memasuki rumahnya.


Malam itu, terasa sangat panjang untuk Manisya, saat hendak memejamkan matanya ia tak henti melihat ke arah ponsel miliknya, ia bolak-balikkan ponsel terebut menggunakan tangannya, membuka kembali layar ponsel yang sudah terkunci otomatis, di lihatnya sebuah pesan yang ia tunggu namun pesan tersebut tak kunjung muncul.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Manisya mengetikan sebuah pesan singkat yang tentu saja akan ia kirimkan untuk Adam.


"Apa kamu sudah sampai di rumah?" isi pesan Manisya untuk Adam.


Manisya yang kini terlihat risau karena pesan nya tak kunjung mendapat balasan dari Adam, memutuskan untuk mematikan ponsel miliknya,


"Aku matikan saja, kalau begini aku jadi tidak bisa tertidur!" Kemudian Manisya memejamkan Matanya, berusaha untuk tertidur, namun malam itu Manisya baru bisa memejamkan matanya sangat larut setelah berhasil menyingkirkan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.


***


Tak terasa tiga bulan telah berlalu, Manisya yang berangan-angan Adam akan bersikap baik padanya setelah kejadian hari itu, harus menerima kenyataan pahit, jika saat ini sikap Adam kepadanya semakin dingin tak tertolong.


Namun yang namanya Manisya, Ia tidak berlarut dalam kesedihan, ia mengesampingkan kekecewaannya yang sebenarnya begitu besar terhadap Adam, banyak sekali pertanyaan dalam hatinya yang sampai saat ini ingin ia tanyakan kepada Adam, namun urung di lakukan karena melihat sikap Adam yang semakin dingin terhadapnya. Setiap hari Manisya mengirimkan sebuah pesan kepada Adam, entah sekedar sapaan, atau pun ucapan selamat malam kepadanya.


"Minggir Lo!" Kata Adam kepada Manisya saat tidak sengaja berpapasan di pintu kelas, saat itu Manisya menggeser badannya ke kiri namun di ikuti oleh Adam, Manisya menggeser badannya ke kanan pun di ikuti oleh Adam, dan akhirnya Melangkahkan kakinya ke belakang memberi jalan kepada Adam untuk masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


"Maaf." Jawab Manisya menahan kerutan di bibirnya.


__ADS_2