
"Adam pak!" Ucap Manisya merespon panggila Pak Guru, seketika membuat gemuruh seluruh kelas.
"Huuuuuu!" Semua teman temannya berteriak menyoraki Manisya secara serempak.
Sadar jika dirinya salah berucap, Manisya segera membungkam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangannya.
"Kamu tuh tiap di panggil, di tanya, Adam lagi Adam lagi, ga ada bosan - bosannya!" Pak guru berucap sambil berjalan mendekat ke arah Manisya.
"Kamu kasih pelet apa si Dam?" Tanya Pak guru dengan menatap sesaat ke arah Adam tanpa menanti jawaban dari Adam, Pak Guru segera berlalu menuju bangkunya.
Tanpa Ekspresi, Adam hanya terdiam, tak menjawab perkataan Pak Guru atau pun merespon ucapan teman-temanya.
"Mereka baru jadian Pak!" Salah satu teman kelasnya berkata kepada Pak Guru.
"Jadian?" Pak Guru mengangkat salah satu alisnya, seakan mendapatkan sebuah ide.
"Bagus kalau begitu, kamu coba kedepan Manisya!" Perintah Pak Guru.
"Bikinlah puisi secara singkat tema nya tentang kasih sayang terus langsung bacakan di depan!"
Terkejut dengan perintah pak guru, seketika Manisya membulatkan kedua bola matanya.
"Maaf Pak, saya gak bisa bikin puisi!" Manisya menolak perintah guru bahasa Indonesia itu.
"Kamu itu, makannya lagi belajar jangan bengong mikirin Adam melulu, konsentrasi belajar yang bener!" Protes Pak guru memberikan peringatan kepada Manisya.
"Baik Pak, maaf!" Jawab Manisya.
Saat Pak Guru berjalan meninggalkannya, Manisya melirik ke arah Adam, Manisya tersenyum malu karena mendapat teguran dari Pak Guru, sedang kan Adam menatapnya tanpa sebuah expresi, kemudian menggerakkan bibirnya mengatakan sesuatu tanpa bersuara kepada Manisya. "Belajar yang bener!"
Manisya menganggukkan kepalanya kemudian menjawab perkataan Adam, "Iyah!"
***
Saat jam pelajaran terakhir, datanglah Guru Wali kelas memberikan sebuah penjelasan tentang rencana kelanjutan kuliah para muridnya.
"Besok paling telat brosur tentang rencana kuliah kalian harus ada di meja bapak!" Tutur Guru wali kelas kepada seluruh murid di kelasnya yang sudah memegang brosur tersebut di tangan mereka masing-masing, kemudian Guru Wali kelas pun segera berlalu meninggalkan kelas setelah semua murid mengerti apa yang di katakan Pak Guru.
"Kamu mau lanjut kemana Nin?" Tanya Manisya.
"Aku akan mendaftar ke Universitas negeri Sya!"
"Kamu mau ambil jurusan apa?"
"Kalo berjodoh, aku mengambil kedokteran!" Jawab Nina dengan pasti kepada Manisya.
"Aku yakin kamu pasti di terima, dan nanti kalo aku sakit berobat sama kamu gratis ya!" Manisya cekikikan dengan ucapannya sendiri.
"Kamu ini, bolehlah, free selamanya buatmu!"
"Kamu mau lanjut kuliah dimana Sya?" Tanya Nina kepada Manisya sambil mencoba melihat brosur yang telah terisi sebagian oleh Manisya.
"Sepertinya aku akan bekerja dulu Nin!" Jawab Manisya.
"Kamu yakin ga akan ngikutin dia!" Nina melirik ke arah Adam.
"Em, sepertinya enggak!" Jawab Manisya.
"Beneran?" Tanya Nina kembali memastikan ucapan Manisya.
"Pengennya si gitu, tapi kamu tahu kan aku ga sepintar dia!" Jawab Manisya dengan penuh keraguan di raut wajahnya.
Saat itu, Manisya yang tengah bercakap dengan Nina tanpa sadar Adam telah berdiri tepat di hadapannya nya terhalang oleh sebuah bangku.
Manisya menengadahkan pandangannya menatap dari bagian perut hingga kepala Adam.
"Adam?" Sapa Manisya yang sedikit terkejut dengan kedatangan Adam.
"Ehem, Kayakna ada yang mau ngajakin pulang bareng nih!" Ucap Nina sambil bergegas membereskan semua bukunya ke dalam tas.
__ADS_1
"Apaan si Nin!" Pipi Manisya berubah merona. Sedangkan Adam tak merespon ucapan Nina maupun Manisya.
Nina pun segera bergegas menghampiri Samira yang saat itu terlihat masih membereskan buku ke dalam tas miliknya, Samira dan Nina pun segera berpamitan kepada Manisya dan Adam yang terlihat kaku karena ucapan teman-temanya itu.
"Kamu mau pulang?" Tanya Manisya mencoba mengabaikan rasa canggungnya karena sebagian teman-teman nya yang berada di dalam kelas masih memperhatikan ke arah mereka.
"Ayo, aku akan mengantarmu bekerja, kamu bawa jaket kan?" Beda dengan Manisya, Adam terlihat tidak perduli dengan tatapan ataupun ucapan teman-temanya yang memperhatikan ke arahnya.
"Hehe, aku lupa ga bawa jaket, tapi ga papa kulitku sangat tebal!" Jawab Manisya sambil menarik kedua sudut bibirnya.
"Benarkah!" Adam mencoba meraih lengan Manisya kemudian mencubitnya.
"Aw!" Manisya meringis kesakitan.
"Kamu berteriak berarti sangat tipis!" Ucap Adam, kemudian berlalu meninggalkan Manisya keluar kelas.
"Ya iya lah teriak, kamu nyubitnya kenceng banget!" Manisya berkata sambil mengerutkan bibirnya, setelah itu Manisya bergegas berjalan mengikuti langkah Adam, namun Manisya tak berani mendekatinya karena seluruh mata yang ada pada saat itu, memperhatikan ke arahnya dan juga Adam.
Di tengah langkah kakinya, Manisya memperhatikan ke arah Adam, menatapnya begitu dalam, melihat Ada sebuah perban yang menutupi lengannya, Manisya mengerutkan dahinya, merasa bersalah mengingat kecelakaan yang menimpa Adam.
"Dia terluka!" Raut wajaha Manisya seketika berubah. Matanya masih tak beralih memperhatikan luka Adam yang tertutup oleh sebuah perban.
"Jika aku masih bekerja, apa dia akan setiap hari datang menghampiriku?" Ucap Manisya secara perlahan, tak membiarkan siapapun mendengarnya.
Kini raut wajah Manisya berubah sendu, saat berjalan di belakang Adam ia tak henti menatap ke arah lengan Adam, ada perasaan bersalah kepadanya karena membuat Adam mengalami kecelakaan.
"Apa yang sedang kamu fikirkan?" Tiba-tiba Ucapan Adam membuat terkejut Manisya, tanpa ia sadari kini ia berada tepat di hadapan Adam dengan jarak yang sangat dekat, dan mereka berada di tempat parkir, di mana motor Adam terparkir.
Manisya membulatkan kedua matanya karena sangat terkejut, "Ti, tidak tidak, aku hanya melamun!" Jawab Manisya menatap ke arah Adam, Adam terlihat mengangkat salah satu alisnya menatap curiga kepada Manisya, kini Manisya mengalihkan pandangannya menunduk tak kuasa menatap Adam.
"Benarkah?" Tanya Adam, saat Manisnya menundukkan pandangannya, tiba-tiba Adam di kejutkan oleh Manisya yang secara tiba-tiba menyentuh lengannya yang tertutup oleh perban.
"Lenganmu terluka?" Ucap Manisya dengan tatapan iba menatap lengan Adam.
"Ini?" Tanya Adam menunjuk ke arah lengannya yang terluka.
Manisya terlihat mengangguk mengiyakan perkataan Adam.
"Maaf, aku selalu membuatmu terluka!" Ucap Manisya.
Tangan Adam mengusap lembut bagian atas kepala Manisya, otomatis mengusap lembut bagian dalam perasaan Manisya.
"Aku bilang aku tidak apa-apa, gadis bodoh!" Kemudian tangan Adam menyentuh lembut pipi bagian kanan Manisya.
Setelah itu Adam meraih sebuah jaket di dalam tas miliknya, lalu memberikannya kepada Manisya.
"Kamu membawa jaket lagi?"
"Aku tahu suatu saat kamu akan lupa, kebetulan aku membawanya!" Jawab Adam.
Manisya merasa begitu terharu dengan perilaku Adam kepadanya, menarik kedua sudut bibirnya kemudian berkata, "Makasih banyak!"
Adam menjawab perkataan Manisya dengan menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Naiklah, sebelum kamu terlambat!" Ucap Adam setelah memasangkan sebuah helem padanya.
Adampun segera menyalakan mesin motornya dan segera bergegas memajukan motor miliknya itu dengan kecepatan sedang.
Ditengah perjalanan Manisya masih memikirkan kecelakaan Adam, perasaan bersalah masih tersimpan di dalam hatinya, ia merasa jika dirinya lah yang membuat Adam mengalami kecelakaan.
"Apa aku begitu egois sangat menginginkan Adam!" Ucap Manisya di dalam hatinya.
"Apa yang kamu lamunkan!" Teriak Adam sambil mengelus lutut Manisya saat berhenti di sebuah lampu merah.
"Tidak Ada, aku hanya sedikit mengantuk!" Jawab Manisya, tentu saja dengan suara teriakannya, mengabaikan tatapan mata yang berkendara di sebelahnya saat Adam dan Manisya berteriak.
"Jangan mengantuk, itu berbahaya!" Teriak Adam.
"Iyah!" Teriak Manisya mengakhiri pembicaraan sebelum akhirnya motorpun melaju kembali saat lampu berwarna hijau bergantian menyala.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat kerja Manisya, Seperti biasa Manisya yang telah turun dari motor Adam kesulitan membuka tali pengikat helm yang menempel di kepalanya.
"Sudah ku bilang, angkat sedikit ke atas!" Ucap Adam sambil mengambil alih tali pengikat helm Manisya.
"Ceklek!" seketika tali pengikat helm pun terbuka.
"Hehehe!" Manisya tersenyum merasa malu.
"Bluk!" Adam memukul helm yang masih menempel di kepala Manisya.
"Begitu saja gak bisa!" Menatap tajam ke arah Manisya. Manisya hanya tersenyum membenarkan ucapan Adam.
"Kamu mau menungguku!" Ucap Manisya.
"Menunggu?" Adam balik bertanya.
Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Adam.
"Baiklah!" Jawab Adam sambil mengangkat salah satu alisnya merasa heran dengan ucapan Manisya.
"Jangan kemana-mana dan jangan bergerak sedikitpun!" Ucap Manisya.
"Kenapa?" Tanya Adam.
"dan tidak boleh bertanya!" Manisya melanjutkan ucapannya.
Adam menatap tajam ke arah Manisya, ia menginginkan sebuah penjelasan.
"dan jangan menatapku seperti itu!" Sambil mengedepankan bibirnya.
"Iya iya berisik sekali!" Jawab Adam, dengan kedua tangannya terlihat menyilang di atas dadanya.
"Sebentar ya aku pergi dulu!" Manisya berbalik badan hendak melangkah meninggalkan Adam.
Adam menggelengkan kepalanya menatap Manisya.
"Kamu akan membawa helmnya bekerja?" tanya Adam sedikit meninggikan suaranya.
Manisya yang sudah berbalik badan membelakangi Adam, berbalik menghadap Adam kembali sambil tersenyum lebar.
"Hehe, aku lupa lagi!" Membuka helmnya dan memberikan kepada Adam, kemudian segera berlalu masuk kedalam tempat kerjanya.
15 menit telah berlalu, Adam kini terlihat bersantai mendudukkan badannya pada motor miliknya secara menyamping, dengan pandangan tak beralih pada ponsel yang ia pegang, tengah menatap foto-foto dalam sebuah gallery Instagram tentu saja Instagram milik Manisya, yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi saat ia sedang merasakan kesepian, kedua sudut bibirnya tak berhenti melebar melihat foto dan sebuah caption dalam foto tersebut, sekitar kelas 10 atau awal masuk SMA tepatnya, Manisya berfoto Selfi dan terlihat dirinya yang tengah berjalan memunggunginya dengan sebuah tas besar berada di atas punggungnya, Adam ingat betul itu hari pertama ia memasuki SMA yang kini ia tempati bersama Manisya.
"Sepatunya dulu yang aku sukai, setelah itu pemiliknya!" Isi caption yang Manisya tuliskan dalam Instagram miliknya.
"Dia pernah bertemu denganku di hari pertama masuk sekolah, bahkan aku tidak mengingatnya!" Tutur Adam dengan sebuah kerutan di dahinya.
"Bug!" Tiba-tiba Manisya datang dengan mencuri Pandang apa yang tengah Adam lihat dalam ponsel miliknya, hingga membuat kepala Adam dan Manisya saling berbenturan.
"Kepala mu keras sekali!" Kata Manisya sambil mengusap secara perlahan bagian kepalanya yang berbenturan dengan Adam.
Adam segera menutup layar ponselnya tak ingin Manisya melihat apa yang sedang ia lihat saat itu, dengan salah satu tangannya mengusap pula kepalanya yang berbenturan dengan Manisya.
"Apa yang kamu lakukan!" Menatap tajam ke arah Manisya, saat itu Manisya yang sedikit kecewa karena gagal melihat apa yang sedang Adam lihat saat itu, hingga membuat Adam tersenyum sangat lebar.
"Maaf aku ga sengaja!" Jawab Manisya.
"Oia, untuk permintaan maafku, bagaimana jika hari ini kamu aku traktir!" tutur Manisya.
"Traktir? kamu gak kerja?" Tanya Adam mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.
Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Adam.
"Kamu bolos?" Tanya Adam lagi semakin penasaran.
"Tidak!" Jawab Manisya.
"Kenapa kamu tidak bekerja?" Tanya Adam kembali.
__ADS_1
Mendengar ucapan Adam, membuat Manisya membisu untuk sesaat, kemudian kebisuannya ia ganti dengan sebuah senyuman di bibir tipisnya, setelah itu Manisya berkata,
"Aku berhenti bekerja!"