Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Jangan Lakukan Apapun


__ADS_3

"Maaf!" Ucap Manisya dengan menundukkan kepalanya, setelah ucapan Mendengar ucapan Adam, Manisya hanya terdiam membisu, suasana dalam lift begitu hening karena memang di sana hanya terdapat Adam dan Manisya saja.


Manisya tak menekan angka pada tombol lift saat itu, karena ia melihat Adam telah menelan nomor yang sama, di lantai 1, sedangkan mereka kini berada di lantai 10 gedung tersebut.


Lift tiba-tiba berhenti di lantai 7, seorang wanita cantik masuk ke dalam lift tersebut menyapa Adam dengan senyuman lebarnya.


"Kamu Adam kan!" Sapa wanita berparas cantik dengan rambut di cat coklat sebahu itu.


Adam hanya menatap dingin ke arah wanita tersebut, ia sudah terbiasa mendapat sapaan dari wanita yang tidak ia kenali.


"Kamu tak mengingatku!" Wanita cantik itu masih berusaha mendapatkan perhatian Adam.


"Kau mengenalku?" Karena desakan wanita tersebut akhirnya Adam merespon ucapan wanita tersebut.


Wanita tersebut mengulurkan tangannya bermaksud untuk mengenalkan dirinya, Adampun terlihat merespon nya dengan baik.


"Aku Jena, pasti lupa ya kita pernah bertemu di mana?"


Adam hanya diam.


"Itu lho waktu di Amerika!"


Jelas wanita berparas cantik bernama Jena tersebut, dan akhirnya mereka terlibat percakapan singkat dalam lift.


"Aku ingin menghilang dari sini!" Ucap Manisya yang merasakan hati nya seakan tertusuk oleh sebuah duri saat itu, ia merasa sedih saat mendengar Adam bercakap dengan wanita bernama Jena dengan memperlakukannya sangat ramah, "Ya ini memang harus aku terima!" Ucap Manisya dalam hatinya menguatkan perasaanya.


Tiba-tiba Lift berhenti di lantai 2, Seseorang Menekan lift tersebut hendak menggunakan lift yang sama, Manisya yang seharusnya turun di lantai satu, memutuskan untuk keluar lift saat itu juga.


"Adam aku duluan ya!" Manisya berpamitan kepada Adam dengan tak berani menatap ke arah Adam, ia juga memberikan sebuah senyuman kepada wanita yang bernama Jena tersebut yang menatap heran ke arahnya.

__ADS_1


Namun sayang Adam lagi-lagi tak merespon ucapannya, ia hanya memperhatikan Bagian punggung Manisya yang terlihat berjalan lunglai keluar dari lift.


"Temanmu?" Tanya Jena.


Adam tak menjawab.


***


Beberapa langkah dari Lift, Manisya menjongkokkan badannya, memeluk lutut dan membiarkan kepala berpangku di atasnya.


Ia terlihat menarik nafasnya sangat dalam, "Apa yang harus aku lakukan!"


"Tidak boleh, aku tidak boleh menyerah, apapun yang terjadi aku harus mendapat hatinya!" Seketika Manisya bangkit kembali, tak membiarkan kesedihan dari awal perjuangannya melilit perasaanya.


"Kamu harus semangat Manisya!" Ucapnya dengan kedua kepala tangannya ia gerakkan memberi semangat kepada dirinya sendiri, mengabaikan perasaan sedihnya karena sikap dingin Adam kepadanya.


***


Setelah selesai, ia menatap meja Adam, "Apa yang dia sukai untuk menemaninya bekerja pagi, teh atau kopi ya?" Setelah berfikir sejenak untuk mengambil keputusan, akhirnya Manisya memutuskan untuk membuatkan teh hangat untuk Adam dengan gula hanya ia beri sedikit saja, tak hanya sebuah teh, Manisya menyimpan sebuah kotak makanan yang ia siapkan sengaja untuk Adam di atas meja kerja milik Adam.


Saat Manisya tengah menatap teh dan sebuah kotak makanan berisi potongan buah-buahan yang ia simpan di atas meja kerja Adam, tiba-tiba ia mendengar suara hentakan sepatu, seseorang tengah berjalan menuju ke arahnya, dahi Manisya terlihat berkerut, ia merasa heran tak biasanya ada pegawai yang lain datang ke kantor sepagi ini, kemudian kedua matanya membulat saat menyadari sesuatu, seketika ia berlari dan bersembunyi ke bawah meja kerjanya, sedangkan suara hentakkan kaki kian terdengar mendekat ke arahnya.


"Ya ampun apa yang aku lakukan!" Berbicara kepada dirinya sendiri, kemudian Menepuk perlahan dahinya, merasa dirinya telah melakukan hal yang bodoh saat itu, ya begitu gugupnya Manisya saat itu, hingga membuat dirinya bersembunyi di bawah meja kerjanya untuk kedua kalinya.


Dan benar saja seperti yang sudah menjadi dugaannya, bahwa suara hentakan kaki tersebut berhenti tepat di depan mejanya yang merupakan meja milik Adam.


Saat sampai di mejanya, Adam menatap secangkir teh hangat dan sebuah kotak makanan, ia meraih kotak makanan tersebut dan segera membukanya, potongan buah apel, pir serta buah pepaya yang sudah di potong. Adam terlihat memutarkan kepalanya, seakan mencari sesuatu, ia mendengar suara suara kecil dari bawah meja, Adam terlihat mengangkat dahinya dan berjalan ke arah meja Manisya, Adam mencurigai sesuatu di sana.


"Dia berjalan ke sini" Manisya membungkam mulutnya menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan" Ucap Manisya dengan jantungnya semakin berdegup kencang, dan saat itu tiba-tiba Manisya melihat seekor cicak yang berlari ke arahnya, membuatnya seketika berteriak dan keluar dari persembunyiannya di bawah meja kerjanya.


"Aaaaaaaaak!" Teriak Manisya, sambil melompat-lompat kecil dengan mengibaskan bajunya menggunakan tangannya, takut jika cicak yang tadi ia temukan masih menempel pada bajunya.


Manisya terdiam beberapa saat, baru menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan ke arahnya, kemudian perlahan memutarkan kepalanya di sertai dengan gerak tubuhnya, kedua mata Manisya membulat melihat seorang laki-laki dengan wajah yang sangat tampan bahkan lebih tampan sejak terakhir ia bertemu, dengan kedua tangan ia silangkan ke atas dada, tengah menatap tajam ke arahnya, ya laki- laki yang di maksud Manisya tak lain adalah Adam.


"Hehe!" Manisya tersenyum getir menutupi ke gugupannya.


"Pagi Adam!" Manisya menyapa Adam Melambaikan tangannya.


Adam hanya menatap tajam ke arah Manisya tak menghiraukan perkataan Manisya.


Adam terlihat memegang kotak makanan yang di simpannya di atas meja.


"Maaf aku mengganggumu! Aku kaget sekali ada seekor cicak yang menempel di bajuku!" Tutur Manisya sambil menatap wajah tampan Adam untuk sesaat, yang masih menatap tajam ke arahnya.


Adam masih belum merespon ucapan Manisya.


"Oia, aku tak tahu apa yang kamu inginkan, jadi Aku membuatkan teh hangat untukmu, apa mau di ganti sama kopi?" Tanya Manisya berusaha mencairkan suasana.


Adam masih belum merespon ucapan Manisya.


"Oia itu aku yang bawa, aku sengaja mengupasnya untukmu, maaf jika itu bukan buah kesukaanmu, lain kali aku akan memberikan buah yang kau sukai, kamu bilang saja apa yang kamu inginkan!" Tutur Manisya dengan menunjuk kotak makanan yang di pegang oleh Adam.


Adam berjalan mendekat ke arah Manisya, mereka kini berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


"Buk!" Adam menyimpan kotak makanan yang di pegang nya di atas meja kerja Manisya dengan tekanan yang cukup tinggi, membuat Manisya terkejut dan untuk sesaat memejamkan kedua Matanya, bahkan kini kedua lututnya melemas ketakutan.


"Jangan lakukan apapun untukku!"

__ADS_1


Adam terlihat menarik nafasnya.


"Kau tahu! aku tak menyukai apapun yang kau berikan untukku!"


__ADS_2