
Dengan tatapan mata tajam Adam akhirnya Manisya duduk di kursi dengan tenang, Adampun duduk kembali di kursi semula tempat ia duduk setelah beberapa saat menahan Manisya.
"Coba jelaskan!" perintah Adam dengan nada yang sedikit menghentak karena tak sabar ingin mendengar penjelasan dari Manisya.
"Emm" Manisya menarik nafas panjang , mencoba berfikir merangkai kata-kata untuk ia ucapkan kepada Adam.
"Aku punya ide, bagaimana kalau kita tidak usah basah lagi perihal kecengengan aku, ide bagus kan" Manisya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, mengacungkan jari telunjuknya memberi sebuah ide kepada Adam. Namun tidak dengan Adam, tak senang mendengar perkataan Manisya, Adam menyilangkan kedua lengannya di dada kemudian tatapannya semakin tajam ia arahkan kepada Manisya pertanda tak ingin mendengar perkataan lain selain penjelasan terkait dengan tangisannya
"Baiklah, yang kedua aku menangis di toilet" Manisya mengerutkan bibirnya, setelah berkata ia menundukkan kepalanya tak ingin melihat wajah Adam.
"Terus?" jawab Adam menanti penjelasan berikutnya.
"Terus?, terus apanya?" tanya Manisya berpura - pura tidak mengerti kepada Adam.
"Apa Lo fikir gua sama bodohnya kayak Lo" Adam berkata sangat berterus terang, namun Manisya kini sudah terbiasa mendengar perkataan Adam yang seperti itu hanya di anggapnya perkataan biasa.
"Kamu tahu, perkataanmu dan teman mu sama persis pedasnya, dan aku hanya sudah terbiasa dengan kata-katamu, tadi tidak dengan perkataan temanmu" Manisya memberikan sebuah perkataan penuh makna berharap Adam mengerti maksud dari perkataannya.
"Lo tau, itu fakta" Adam menjawab perkataan Manisya.
"Kamu juga sama bodohnya kalau soal perasaan" batin Manisya saat menyadari Adam belum mengerti kata-katanya barusan.
"Iya iya fakta iya tau aku juga" jawab Manisya sambil memanyunkan bibirnya tak terima di hina oleh Adam untuk kesekian kalinya.
"Ayo kita pulang" rengek Manisya kepada Adam.
"Wanita menyebalkan" jawab Adam sambil berdiri hendak berlalu dari kursi.
"Hati-hati Loh Adam, Benci dan Cinta itu beda tipis, benci itu adanya dalam fikiran" Manisya menunjuk ke arah kepalanya.
"Kalau Cinta itu adanya di dalam hati" menepuk dadanya.
"Kalau dari fikiran turun ke hati, namanya Benci jadi Cinta kayak judul film di televisi" Manisya terkekeh menertawakan perkataanya yang benar-benar berani.
__ADS_1
Adam yang sudah berdiri hendak pergi, mendengar perkataan Manisya ia kembali duduk dengan tarikan di bibir dan dahinya, serta sorot mata layaknya seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.
Melihat Adam dengan raut muka seperti itu, membuat Manisya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Dan Gua akan pernah mau sama Lo walaupun di dunia ini hanya ada satu cewek" Adam menunjukkan jarinya pada Manisya.
"Deg" perkataan itu membuat jantung Manisya seakan di banting oleh sebuah batu besar, sangat sakit, namun Manisya berusaha tenang dan berusaha untuk menahan buliran air mata yang kini membendung di kedua kelopak matanya.
Manisya menarik nafasnya sangat dalam membuang rasa sakit dalam hatinya "Kalau gitu aku akan setia menemani mu sampai kapan pun, takut kamu kesepian" Manisya yang tak ingin kalah dari Adam menjawab perkataan Adam semaunya.
"Pokoknya aku akan setia menunggu mu" Manisya tak membiarkan Adam berkata lagi, ia pun berlalu pergi meninggalkan Adam yang masih dalam posisi duduk. Manisya kini tengah berdiri di dekat mobil Adam yang terparkir tak jauh dari kursi tempat Manisya duduk.
Adampun berjalan menghampiri mobilnya membuka pintu mobil tersebut hingga akhirnya Adam dan Manisya duduk di kursi masing-masing. Adam mulai menyalakan mesin mobil, melajukan kendaraan sport beroda empat yang berwarna merah mewah keluaran terbaru tersebut dengan kecepatan sedang, Manisya yang kini duduk di sampingnya tak berkata sedikitpun ia hanya sedang menahan perasan sedih akibat kata-kata yang di keluarkan Adam saat di kursi depan mini market tersebut, Manisya mulai memejamkan kedua bola matanya.
Di sisi lain, Adam juga enggan berkata apapum, hanya sekali-kali menatap ke arah Manisya dengan tatapan yang sulit di artikan, sisanya Adam hanya fokus mengemudikan mobil miliknya itu.
"Inih sudah sampai, apa Lo ga akan turun" Tegur Adam saat tiba di depan rumah Manisya, Manisya yang kala itu tengah memejamkan kedua bola matanya tanpa tertidur.
Seketika Manisya membuka kedua matanya, menatap ke arah luar, memastikan jika memang saat ini ia sudah berada di depan rumahnya, Manisya mencuri pandang ke arah Adam, namun sialnya hal yang begitu membuat kikuk terjadi, mata Adam dan Manisya saling beradu, Manisya buru -buru melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di badannya, sedangkan Adam tetap fokus menatap ke arah Manisya.
Tak ada jawaban dari Adam. Kemudian Manisya pun keluar dari mobil sport merah tersebut. Adampun berlalu meninggalkan Manisya dengan kecepatan tinggi.
"Ya ampun, kenceng banget bawa mobilnya" kata Manisya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjalan ke dalam rumahnya.
Ke esokan harinya di sekolah.
Saat Manisya sampai di kelas, belum terlihat siapapun berada di ruangan kelasnya, ia duduk di bangkunya kemudian menempelkan kepalanya di atas bangku.
"Hem, malas sekali hari ini, mungkin karena lagi PMS" Manisya berkata sambil membolak balikan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari posisi nyaman.
"Duk Duk Duk" bunyi hentakan kaki sesorang terdengar di telinga Manisya berjalan menuju ruangan kelasnya, Manisya pun kini mendengar ia meletakan tasnya di atas meja.
Perlahan Manisya membuka kedua bola matanya yang mengarah ke sebuah bangku temannya, dan betul saja sesuai apa yang dia tebak di dalam hatinya, teman sekelasnya yang baru datang itu adalah Adam, tanpa menyapa Adam yang sedang membuka tasnya Manisya dengan cepat membalikan kepalanya hingga kini kedua matanya tak bisa melihat Adam.
__ADS_1
Hari itu, Manisya tak memperlihatkan senyum lebarnya atau sapaan konyolnya pada Adam. Ia juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya.
"Hei Sya, kamu lagi Haid ya?" tanya Nina kepada Manisya di sela-sela pergantian pelajaran.
"Kok kamu tahu Nin" tanya Manisya.
"Kayak yang gak semangat gitu" Jawab Nina sambil menatap Manisya.
"Kamu emang teman paling, top markotop" Manisya mengacungkan jempolnya pada Nina.
"Kamu kok kayak yang lagi marahan gitu sama Adam" Nina berbisik di kuping Manisya.
"Sstt" Manisya menutup mulutnya dengan telunjuknya.
"Aku lagi break dulu, hati aku kasian abis di tusuk - tusuk kemaren" Manisya juga berbisik ke Kuping Nina.
"Emang kenapa coba cerita" Pinta Nina menggoyangkan badan Manisya.
"Nanti ah Nin, takut tersayat-sayat" Jawab Manisya sambil bercanda.
"Oke baik, hei tugas matematika kemaren udah belum?" Nina mengingtkan.
"Tenang, aku sudah menyimpan tugas matematika dengan Aman di ruangan pak guru" Jawab Manisya sambil kembali menempelkan Kepalanya ke atas bangku.
Seminggu sudah berlalu, Manisya masih enggan menyapa Adam, jika berpapasan dengan Adam, Manisya memilih menghindar darinya, entahlah Manisya sendiri juga sedang bingung apa yang sedang terjadi padanya, apa perasaan skaitnya akan kata-kata Adam belum menghilang ataukah ini efek dari PMS yang belum hilang.
Hingga suatu Pagi. Seperti biasa Manisya datang paling awal ke sekolah ia menempellan kepalanya ke atas bangku sambil memeluk tas gendong miliknya, wajahnya menatap ke arah bangku tempat Adam duduk yang kini kosong tanpa pemiliknya.
"Tuk Tuk Tuk" suara ketukan berasal dari bangku Manisya tepatnya di belakang kepalanya.
"Pagi Nin, aku masih ngantuk nih"
***
__ADS_1
Cuman ada tambahan satu komen saja aku senangnya kebangetan, auto lanjut nulis 🥰. Tenkyu.