
"Lo emang sengaja mau bikin gua di hukum" Adam mengambil sebuah kesimpulan.
Manisya mematung, kini memilih diam tak berbicara, karena merasa apa yang dia katakan selalu salah dan selalu di sanggah oleh Adam.
Saat Manisya dan Adam tengah berdiri tanpa sebuah kata, terlihat sebuah mobil sport merah dengan merek ternama keluaran terbaru berhasil menyita semua mata yang saat itu melihat ada di sana, begitu pun dengan Manisya tak henti menatap mobil tersebut. Merasa curiga Manisya kemudian mencuri pandang ke arah Adam, sadar Manisya memperhatikannya, Adam melirik ke arah Manisya.
"Ngapain Lo ngeliatin gua kayak gitu" tanya Adam yang merasa risih karena tatapan Manisya.
"Hehe, gak kok, ituh" Manisya menunjuk ke arah mobil sport warna merah tersebut.
"Ituh apa?" tanya Adam.
"Mobil itu punya mu dam" tanya Manisya.
"Bukan" Jawab Adam singkat sambil menarik tangan Manisya mendekat ke mobil tersebut.
"Eh eh tunggu tunggu mau kemana ini, hei Adam" tangan Manisya yang tiba-tiba di tarik Adam membuatnya harus segera menyeimbangkan langkahnya, hal itu juga membuat pusat perhatian tertuju ke arahnya.
Adam Masih menarik tangan Manisya.
"Adam mau keman inih, lepasin tolong" Manisya mulai merasa risih karena orang-orang yang berlalu memperhatikan mereka.
Adam masih tak menjawab.
"Orang-orang liatin kita loh Dam" Manisya masih berusaha melepaskan tarikan tangan Adam, namun Adam makin mengencangkan genggamannya tak perduli perkataan Manisya.
Saat tiba di pintu mobil sport merah barulah Adam melepaskan tangan Manisya, tiba-tiba dari dalam mobil keluar seseorang yang Manisya kenal.
"Sore Neng Manis mas Adam" sambil membukakan pintu Mobil untuk Adam tentunya.
"Eh Pak Komar apa kabar?, kirain siapa" sapa Manisya kepada Pak Komar.
"Baik Neng, Neng Manis sendiri apa kabar?" jawab Pak Komar. Saat Manisya hendak menjawab pertanyaan Pak Komar, Adam memotong pembicaraan "Masuk" perintah Adam kepada Manisya.
"Mau kemana Dam?" tanya Manisya.
"Masuk gak Lo" bukannya menjawab pertanyaan Manisya, Adam malah mendorong Manisya secara paksa kedalam mobil di ikuti dengan Adam. Kemudian Pak Komar menutup pintu mobil tersebut dan kembali masuk kedalam mobil untuk mengemudikan mobil tersebut.
"Saya juga baik Pak Komar" Dalam mobil Manisya melanjutkan pembicaraan yang terpotong.
"Oia neng Manis, syukurlah, kita semua di berikan ke sehatan". Jawab Pak Komar.
"Kita mau k emana si Dam" tanya Manisya kepada Adam yang masih di liputi rasa penasaran, namun tak Ada jawaban dari Adam.
Hening sesaat.
"Pak Komar apa ini mobil baru Adam?" tanya Manisya yang mulai mencairkan suasana.
__ADS_1
"Iya Neng" Jawab Pak Komar singkat.
"Katanya bukan" Manisya mengerutkan bibirnya sambil melirik ke arah Adam yang duduk tepat di pinggirnya pertanda protes, namun seperti biasa tak dihiraukan Adam.
"Bagus ya Pak Komar mobilnya, lebih bagus dari yang pertamakali aku naikin, tapi yang dulu juga tak kalah bagusnya, seneng deh nyobain mobil bagus, hehe" Manisya mengungkapkan kebahagiaannya karena menumpang mobil sport milik Adam.
"Norak Lo" Jawaban Adam mendahului Pak Komar.
"Idih biarin, iya kan Pak Komar?" Manisya menocba mencari sekutu.
"Iyah Neng gak papa toh, kalau ada Neng Manis tuh bawaannya jadi ceria" jawab Pak Komar.
"Maksutnya suasananya jadi berisik ya, hehehe" jawab Manisya.
Melihat Adam hanya diam tak masuk ke dalam pembicaraan, niat jahil Manisya pun keluar.
"Pak komar, emang Adam orangnya emang galak yah?" pertanyaan Manisya sengaja memancing Adam Adam baik, kalo gak baik mah gak mungkin saya masih kerja sama mas Adam" Jawab Pak Komar sambil terus melajukan kemudinya.
"Emm, baiklah, kalo ngomong depan orangnya memang harus begitu, hihihi" Manisya cekikikan sambil melirik ke arah Adam, di balas dengan lirikan Adam.
"Seriusan Neng, Mas Adam baik banget orangnya" Pak Komar memastikan.
"Iya Iyah Pak Komar Iyah". Manisya menjawab dengan senyum penuh curiga.
"Pak Komar?" tanya Manisya kembali.
"Kalo Adam punya Cewek ga?" pertanyaan Manisya berhasil membuat Adam yang sedang menutup matanya, kemudian membukanya lebar-lebar.
"Kan Mas Adam duduk dekat Neng Manis, kenapa gak langsung tanya saja sama Mas Adamnya Neng"Jawaban Pak Komar membuat Adam tersenyum penuh kemenangan.
"Gak mau ah, yang ada nanti jawabnya gini bukan urusan Lo", menirukan gaya bicara Adam.
"Pak Komar?" tanya Manisya kembali.
"Iya Neng" Jawab Pak Komar.
"Pak, berhentikan mobilnya di depan!" Perintah Adam memotong pembicaraan Manisya dan Pak Komar.
"Kenapa berhenti?" tanya Manisya nampak kebingungan.
Kemudian Pak Komar keluar dari mobil di ikuti Adam, dan Adam menghampiri Pak Komar, tak lama Adam kembali lagi ke dalam mobil namun berada di kursi depan tepatnya kursi kemudi menggantikan Pak Komar.
"Lho Pak Komar mau kemana Dam?" tanya Manisya yang masih di liputi kebingungan.
Manisya membuka kaca jendela mobil,
"Pak Komar kenapa turun?" teriak Manisya kepada Pak Komar yang kini berada di luar mobil.
__ADS_1
"Bapak duluan ya neng, sampai ketemu lagi" Pak Komar berpamitan sambil melambaikan tangannya kepada Manisya kemudian berlalu.
Manisya kemudian menutup kembali jendela mobilnya.
"Lo fikir gua sopir Lo" Adam melihat Manisya yang duduk di belakang kursinya.
"Iya iya aku pindah" Kemudian Manisya berpindah tempat duduk ke depan, tepatnya dekat tempat duduk Adam.
"Kamu gak marahin Pak Komar kan" tanya Manisya merasa khawatir.
"Adam aku tuh nanya sama kamu, kamu ga marahin Pak Komar kan?" Manisya bertanya kembali karena Adam tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Hei wanita ceroboh, Emangnya kenpa kalau gua marahin Pak Komar?".
"Aku benar-benar akan melupakanmu" Jawab Manisya tanpa fikir panjang.
"Benarkah? baguslah kalau begitu, senang mendengarnya" jawab Adam.
Tina-tiba Adam menghentikan mobil yang ia kendarai, niat jahil terbersit di kepalanya, kemudian Adam mendekati Manisya sampai tubuh Manisya sedikit terhimpit oleh Adam.
Dengan refleks Manisya memiringkan badannya ke arah jendela mobil dan kini kedua tangannya menutup muka nya.
"Adam apa yang kamu lakukan" tiba-tiba badan Manisya bergetar hebat karena ketakutan.
"Bawa tas gua" Adam meraih tas yang berada di jok belakang dengan tangan kirinya. Saat tas Adam berhasil di raih, perlahan Adam kembali lagi ke kursi kemudinya.
Namun tidak dengan Manisya, ia masih dengan posisi pertahanannya dan kedua telapak tangannya masih menutupi mukanya.
"Hei gadis bodoh, ngapain Lo nutupin muka Lo" Adam menatap ke arah Manisya. Namun Manisya masih dengan pertahanannya.
Adam merasa curiga sesuatu terjadi kepadanya, kemudian berusaha melepaskan tangan Manisya yang menutupi mukanya. Namun masih tak dapat dilepaskan.
"Lo Nangis" tanya Adam.
"Ngapain Lo Nangis" Adam geleng-geleng kepala tak percaya.
Suara Isak tangis Manisya yang semakin kencang kini terdengar lebih jelas.
"Hiks hiks" suara Isak tangis Manisya semakin terdengar.
"Hei kenapa sih Lo Nangis" Adam mendekati kursi Manisya yang sejak tadi tidak merubah posisi duduknya, berusaha membuka tangan yang menutupi wajah Manisya, kini tangan yang menutupi mukanya berhasil Adam lepaskan, Adam menahan kedua tangan Manisya yang hendak menutupi mukanya kembali, kini terlihat jelas mata Manisya yang mulai bengkak, serta hidung yang merah dan airmata yang keluar begitu saja menjadi tontonan Adam saat ini, kemudian Adam menatap Manisya meminta sebuah penjelasan.
"Becanda mu itu keterlaluan, aku takut" Hanya itu kata penjelasan dari Manisya, kini ia menangis kembali.
Kemudian Adam melepaskan tangan Manisya membiarkan kedua tangannya menutupi mukanya kembali, Adam menatap Manisya yang sedang menangis dari kursi kemudinya kini tanpa berbicara satu patah katapun.
Ada kebingungan terpancar dari wajah Adam, sesekali ia mengusap gusar wajahnya, mengacak-acak rambutnya, sampai ponsel yang ia pegang pun sempat terjatuh karena ia putar-putar ke segala arah.
__ADS_1