Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Tak Ada Penjelasan


__ADS_3

"Adam!" Panggil seorang wanita dengan setelan jeans dan sebuah kaos polos berwarna putih, Sneaker berwarna abu menutupi kakinya, rambut di kuncir rapih dan sebuah tas besar menempel pada punggungnya, wanita itu kini tengah berjongkok, ia sedang mengatur nafasnya yang terasa berat akiba berlari, wanita itu tak lain adalah Manisya, wanita yang sedang di tunggu Adam akan kedatangannya saat ini.


"Adam!" Panggil Manisya kembali, namun tak mendapat jawaban dari Adam.


Manisya berjalan menghampiri Adam yang kini tengah memejamkan kedua matanya itu.


"Adam!" Manisya berjalan mendekat ke arah Adam, kini jarak mereka sangat dekat, hanya beberapa langkah saja.


Manisya berjongkok menatap Adam yang tengah memejamkan kedua matanya itu.


"Sungguh tampan!" kata Manisya sambil menatap ke arah Adam.


Alangkah kagetnya Manisya, saat Adam tiba-tiba membuka kan kedua matanya tepat saat Manisya sedang menatap ke arah Adam sesaat setelah ia mengatakan ketampanan Adam.


Manisya yang tengah berjongkok mencoba untuk memundurkan langkahnya dari hadapan Adam, namun ia gagal menopang bagian belakang badannya, akhirnya bagian belakang tubuh Manisya kini telah menyentuh tanah.


"Hehe," Manisya tersenyum menutupi rasa sakit, seolah-olah tidak ada yang terjadi, ia berusaha untuk berdiri kembali setelah bagian belakang badannya menyentuh tanah, namun Manisya terlihat kesulitan memposisikan badannya ke bentuk semula karena sebuah atas yang menempel pada punggungnya, Manisya kini membiarkan badan bagian belakangnya menyentuh lantai dengan posisi duduk menghadap Adam.


Adam hanya menatap ke arah Manisya.


"Oia apa yang lain sudah berangkat? kenapa kamu masih di sini? kamu gak ikut?"


pertanyaan demi pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Manisya, tentu saja tak mendapat jawab dari Adam, Adam yang awalnya tengah duduk di atas sebuah kursi, kini berdiri menegakkan badannya, tatapannya jauh merasuki mata Manisya, yang kini ketakutan di buatnya.


"Bangun!" Adam memberi sebuah perintah dengan mengulurkan tangannya kepada Manisya, bermaksud membantu Manisya yang terlihat kesulitan saat hendak berdiri.


Manisya pun akhirnya, menerima uluran tangan Adam, hingga kini membuatnya bisa kembali berdiri, posisi mereka kini saling berhadapan di bawah sebuah pohon dengan daunnya yang rindang.


Adam menengadahkan tangannya ke hadapan Manisya seakan meminta sesuatu. Manisya dengan sigap me resepon hal tersebut dengan menempelkan tangannya pada tangan Adam dengan posisi meminta sesuatu, setelah tangan Manisya menempel pada Adam, Adam masih menggerakkan tangannya di hadapan Manisya. Manisya hanya terdiam, mencoba mencerna maksud dari tangan Adam, Manisya menarik tangannya yang menempel pada tangan Adam. Guratan di balik dahi Manisya menandakan sebuah kebingungan.


"Apa maksudmu? aku tidak mengerti!" Tanya Manisya dengan memasang wajah bingung.


"Handphone Lo?" tanya Adam kepada Manisya masih dengan posisi tangan meminta sesuatu kepada Manisya.


"Handphone ku?" Manisya menatap heran ke arah Adam.


Manisya mencari ponselnya kedalam tas miliknya, setelah beberapa saat meraba tas menggunakkan tangannya, Manisya berhasil mendapatkan ponsel miliknya, kemudian ia berikan kepada Adam. Adam mengambil ponsel yang di berikan Manisya, di lihatnya ponsel tersebut dengan penuh seksama.


"Coba jelaskan!" Kata Adam sambil menggerakkan ponsel milik Manisya menggunakan tangannya.

__ADS_1


"Jelaskan?" kata Manisya sambil mengerutkan keningnya.


"Apa yang harus aku jelaskan?" tanya Manisya yang gagal mencerna perkataan Adam.


"Kenapa ponsel Lo bisa mati?" tanya Adam yang dipenuhi sejuta emosi, menginterogasi Manisya yang tak mengerti perkataan Adam.


"O itu aku lupa mengisi baterai handphone ku saat berangkat tadi, dan ternyata baterai ponselku hanya tertinggal 1%, saat di jalan tiba-tiba mati". kata Manisya mulai mengerti arah pembicaraan Adam.


"Apa Lo selalu seceroboh ini?" tanya Adam masih memegang ponsel Manisya.


"Hehe, tidak juga, mungkin sesekali!" Jawab Manisya sambil tersenyum merespon perkataan Adam yang memasang raut kesalnya.


"Em, apakah semua orang pergi?" tanya Manisya sambil melirik ke segala arah mencari teman-teman nya yang sudah tak terlihat di sana.


"Lo punya mata kan?" tanya Adam menaikan suaranya.


"Tentu saja, aku masih bisa melihat muka tampan mu!" tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya, seketika Manisya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Adam terlihat tak senang dengan perkataan Manisya, ia menatap tajam ke arah Manisya.


"Maaf!" Sesal Manisya atas ucapannya kepada Adam, sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa malunya.


Manisya memutarkan lagi kepalanya ke segala memastikan kembali apa yang di katakan Adam.


Manisya mengerutkan kedua bibirnya kemudian menundukkan kepalanya merasa sangat kecewa karena ia sudah tertinggal oleh rombongan teman-temannya.


"Lantas kenapa kamu ada disini?" tanya Manisya kepada Adam dengan sebuah guratan di dahinya.


"Apa lagi yang harus di lakukan, saat seorang guru menyuruh muridnya untuk tetap di sini karena kecerobohan salah satu murid lainnya!"


kata Adam dengan penuh emosi, menatap tajam ke arah Manisya.


Mendengar hal tersebut membuat Manisya merasa menyesal, kemudian sedikit memajukan kedua bibirnya dengan sebuah tekanan, masih belum mencerna apa yang di katakan oleh Adam.


"Em, apa kamu sedang menungguku?" tanya Manisya mulai mengerti arah maksud Adam.


Adam tak melepaskan pandangannya saat Manisya meletakkan tasnya tepat di pinggirnya, di atas kursi tempat ia duduk.


Adam tak menjawab perkataan Manisya.

__ADS_1


"Aku sangat menyesal, maafkan aku!" Kata Manisya yang merasa bersalah karena membuat Adam harus menunggunya.


Adam tak merespon perkataan Manisya.


"Jelaskan!" kata Adam sambil memberikan ponsel Manisya.


"Jelaskan?" tanya Manisya memutarkan kedua bola matanya ke salah satu sudut setelah mengambil ponsel miliknya dari tangan Adam, kemudian ia memasukan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.


"Lo tau ini jam berapa?" Adam menunjuk jam yang menempel pada tangannya.


"Jam 9 kan?" Jawab Manisya menanggapi perkataan Adam yang mulai menaikan nada suaranya.


"Lo tahu, kita di haruskan berkumpul jam berapa?"


"Tahu ko Aku, jam 7." Jawab Manisya dengan begitu santainya.


"Jam tujuh, jam delapan, jam sembilan." Manisya menghitung menggunakan jarinya, tepatnya menghitung berapa jam dia terlambat.


"Hah, aku terlambat dua jam?" Manisya tidak percaya apa yang telah di lakukan nya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan.


Adam tiba-tiba melangkah kan kakinya mendekat ke arah Manisya. Manisya pun memundurkan Badannya saat jarak mereka semakin dekat.


Adam menatap ke arah Manisya.


Manisya segera menutupi dahinya dengan tangan kirinya, khawatir Adam akan melakukan sebuah gerakan yang akan membuat sakit pada dahinya. Adam semakin mendekatkan wajahnya pada Manisya, kini Manisya pun menutupi bibirnya menggunakan tangan kanannya.


"Wanita bodoh, wanita menyebalkan, apa yang Lo lakukan selama dua jam itu?"


Manisya membuka kembali tangan yang menutupi dahi dan mulutnya itu.


"Aku hanya,!" Manisya menghentikan perkataannya.


"Maafkan aku, aku yang salah!" Jawab Manisya merasa menyesal menundukkan kepalanya.


Tanpa aba-aba, sesuai dengan apa yang Manisya takutkan, Adam menjentikkan tangannya ke dahi milik Manisya.


"Aw, sakit tahu!" Manisya mengusap dahi yang kini terlihat memerah karena ulah Adam.


Manisya tiba-tiba menarik kedua sudut bibirnya, terlihat matanya berkaca-kaca, ia menyembunyikan perasan bahagianya, sikap Adam kini mengingatkannya pada tiga bulan yang lalu, saat-saat yang selalu ia rindukan.

__ADS_1


"Apa kamu mau mencobanya?" Manisya merasa kesal karena ulah Adam kepadanya, Manisya melompat, mencoba menjentikkan tangannya ke dahi Adam, namun karena ketinggian Adam, ia sangat sulit menjangkaunya.


Adam tiba-tiba menarik tangannya Manisya yang sedang berusaha meraih dahinya, membuat mereka kini tak lagi berjarak.


__ADS_2