Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Teruslah Menyukaiku


__ADS_3

"Aku sudah tahu?" Ucap Manisya dalam hatinya, ia merasa di buat bingung dengan perkataan Adam yang berputar-putar sejak awal. Namun sayangnya Manisya tidak berani mengatakan apapun kepada Adam yang saat itu tengah mengusap kedua pipinya. Saat itu Manisya hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya berusaha menahan sebuah rasa yang ia simpan di dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Adam setelah menarik tangannya yang sesaat lalu menempel pada pipi Manisya. Kini, Adam memposisikan kembali tubuhnya untuk kembali duduk di kursi semula


"Terus aku harus bagaimana?" Tanya Manisya dengan begitu polosnya.


"Kamu boleh melakukan seperti seorang kekasih wanita lakukan pada kekasih laki-lakinya, seperti layaknya dalam sebuah drama percintaan mu itu!" tutur Adam secara panjang lebar. Namun sayang Manisya tidak mengerti maksud perkataan Adam.


"Maksudmu? aku tidak mengerti!" Ucap Manisya yang protes kepada Adam.


"Bukan kah kamu sering menontonnya setiap hari? seharusnya kamu tahu!" Ucap Adam tak melepaskan tatapannya pada Manisya kali ini dengan menyelipkan senyuman pada bibirnya.


"Emh, Apa maksudmu aku boleh memelukmu dengan sesuka hatiku?" Manisya tertawa geli saat bertanya hal itu kepada Adam.


"Tentu saja boleh, tapi ingat tidak boleh lebih dari itu! kita masih seorang pelajar!" Adam menatap memperingati Manisya, namun Manisya hanya terdiam memperlebar kelopak matanya dengan jawaban yang keluar dari mulut Adam, ia sangat tidak menyangka jika Adam akan memperbolehkannya untuk memeluknya. Manisya terdiam untuk beberapa saat.


"Hari ini kamu aneh sekali!" Ucap Manisya kepada Adam.


Adam hanya tersenyum menatap ke arah Manisya.


"Oia ini udah di depan rumah ku kan ya?" Manisya menatap ke arah luar, ia merasa kenal dengan tempat tersebut, sebelum akhirnya ia menyadari jika mobil Adam sekarang berhenti tepat di depan rumahnya.


"Iyah, ini sudah sampai di depan rumahmu!" Adam melihat ke arah luar, tepatnya ke rumah Manisya yang kini berada tepat di depannya.


"Aku turun dulu, terimakasih sudah mengantarkan ku pulang, jaket mu dan bajumu ada padaku ya!" ucap Manisya dengan membuka pintu mobil, saat Manisya hendak keluar dari mobil, Manisya kembali melirik menatap ke arah Adam.


"Hari ini kamu sungguh aneh, kamu baik-baik saja kan?" tanya Manisya yang masih merasa aneh dengan tingkah Adam kepadanya.


"Aku sangat baik, seperti yang kamu lihat!" Ucap Adam sambil memberikan sebuah senyuman kepada Manisya.


"Dan itu!" Manisya menunjuk ada bibir Adam yang sedang tersenyum lebar.


"Ini?" Adam menunjuk bibirnya menggunakan telunjuknya.


"Iyah, ada apa dengan bibirmu hari ini, kenapa selalu tersenyum?" Manisya yang kala itu telah membuka pintu mobilnya membiarkannya terbuka begitu saja, dan ia berbalik menatap ke arah Adam.


"Kamu gak suka? apa jangan-jangan kamu lebih suka aku yang cemberut?" Tanya Adam kepada Manisya.


"Tidak, aku sangat menyukainya!" Jawab Manisya dengan mengalihkan pandangannya.


"Teruslah tersenyum kepadaku!" Manisya.


"Dan teruslah menyukaiku!"  Adam.


"Apa itu pengakuan Cinta?" Tanya Manisya tanpa berfikir, sambil terkekeh mengingat hal yang lainnya berputar dalam fikirannya.


"Bisa di bilang begitu!" Jawab Adam dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya kepada Manisya.


Manisya terdiam sesaat, sebelum akhirnya membelalakkan kedua bola matanya menatap ke arah Adam, mencoba mencerna perkataan Adam yang baru saja ia ucapkan, namun bukannya bertanya Manisya dengan cepat keluar dari mobil Adam, ia menutup pintu mobil Adam kemudian berlari menuju rumahnya.


Adam, hanya menatap tersenyum menyaksikan Manisya yang keluar dari mobilnya sambil berlari dengan cepat.


Setelah melihat Manisya masuk kedalam rumahnya, Adam segera menyalakan kembali kemudi mobilnya, menekan klakson secara perlahan kemudian dengan senyuman lebar di bibirnya, Adam melajukan kembali mobil merah miliknya.


Saat mobil Adam terdengar membunyikan klakson, Manisya yang sudah masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba berjalan mundur melihat lagi ke arah luar, menatap mobil Adam yang kala itu hanya terlihat bagian belakangnya saja, Manisya dengan menarik kedua sudut bibirnya kala itu dan berucap dalam hatinya, "Hati-hati di jalan, terimakasih untuk hari yang aneh ini!"


Malam itu, Manisya yang sudah berganti pakaiannya, dan telah bersiap untuk tidur, merebahkan tubuhnya di atas kasur, Manisya saat itu tengah mengingat kembali, hal yang di lakukan Adam kepadanya, mulai dari Adam memeluknya, mengusap pipinya secara lembut, mengingat kata-kata yang ia ucapkan dengan Bapak Penjual Pecel Lele dan saat di dalam mobil, jika ia boleh memeluknya dan perkataan Adam saat Manisya hendak keluar dari mobil milik Adam.


Manisya menatap langit-langit kamar seakan ia menatap wajah Adam tergambar besar di sana, Manisya tak hentinya tersenyum melihat langit-langit kamar yang berwarna putih itu. "Apa maksudnya? Kenapa dia bersikap aneh seperti itu!" Manisya mencoba mengartikan maksud dari perkataan Adam, saat itu tiba, ponsel miliknya yang ia biarkan tepat di pinggirnya bergetar, ada sebuah pesan yang terlihat dari layar ponselnya, Manisya segera membuka pesan tersebut, alangkah terkejutnya Manisya saat ia mengetahui jika pengirim pesan tersebut adalah Adam.

__ADS_1


Manisya yang kala itu sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur, seketika terbangun memposisikan badannya kini menjadi duduk, di bacanya pesan yang Adam kirimkan kepadanya saat itu, lalu Manisya membulatkan kedua bola matanya saat selesai membaca pesan yang Adam kirimkan kepadanya.


"Apa kamu tidak akan bertanya kepadaku, apa aku sudah sampai di rumah atau belum?"


Bukannya menjawab pesan dari Adam, Manisya malah melempar kan ponselnya begitu saja di atas kasur yang ia kini duduki, "Sepertinya ini bukan dari Adam!" Manisya membiarkan ponselnya untuk sesaat namun tak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya dari ponsel yang terlempar tak jauh darinya itu.


Selama satu jam, malam itu Manisya menutup buka pesan yang Adam kirimkan untuknya, hanya sebuah pesan yang mampu membuatnya tak bisa dengan cepat menutup matanya, "Apa ini benar dari nya?" Ucap Mansiya sambil menatap ponsel miliknya di bawah langit kamarnya dengan posisi badan berbaring di atas kasur.


Malam itu, Manisya bisa memejamkan kedua matanya sangat larut, perasaan gelisah yang menyelimutinya begitu besar hingga kedua matanya tak kunjung terbuai dalam sebuah mimpi, Manisya pun memutuskan untuk tidak menjawab pesan yang Adam kirimkan kepadanya.


Pagi harinya, Manisya terbangun dengan seluruh badannya serasa pegal, "Kenapa begitu berat!" tanya Manisya meraba bagian kepalanya, ia memutuskan untuk tetap berbaring di atas kasurnya, hingga jarum yang menempel pada jam dinding Manisya sudah lebih dari waktu terbiasa Manisya terbangun.


Pintu kamar Manisya saat itu terbuka secara tiba-tiba, bukan karena angin, tapi memang seseorang sengaja membukanya, ia berjalan menghampiri Manisya yang terlihat masih mengenakan selimut, di pegang nya dahi Manisya menggunakan tangannya, saat merasakan sebuah tangan menempel pada dahinya, tiba-tiba membuka matanya sesaat kemudian berkata, "Adam!" Ucap Manisya kepada seorang laki-laki yang datang kekamar Manisya, untuk melihat ke adaan Manisya.


Laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya kemudian mendesah saat mendengar sebuah nama keluar dari mulut Manisya.


"Wanita bodoh!"


Setelah itu, ia keluar dari kamar Manisya, menuju ruang makan, dan di sana kedua orangtuanya sedang duduk menunggu,


"Gibran, mana kakak mu?" tanya sang Ibu mencari keberadaan Manisya, yang tak terlihat di samping Laki-laki tersebut, Laki-laki itu Adalah Gibran yang tak lain adik dari Manisya yang jarak usianya hanya berbeda satu tahun.


"Wanita bodoh itu sedang tidur!" jawab Gibran membuat kedua orangtuanya terlihat panik.


"Maksudmu apa, jangan bicara seperti itu kepada kakakmu sayang!" ucap sang Ibu sambil berdiri hendak berjalan ke kamar Manisya.


Gibran tak menghiraukan perkataan sang Ibu, ia kini bersiap hendak memakan sebuah hidangan yang di sediakan oleh ibu nya.


"Badan nya sangat panas, dan dia mengigau seorang nama laki-laki!" Ucap Gibran sambil melahap nasi goreng yang telah tersaji di atas piringnya.


"Kakak mu sakit?" Tanya Ibunya, kemudian berlari ke kamar Manisya, tak menghiraukan lagi apa yang akan di ucapkan oleh Gibran,


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya sang Ibu sambil menempelkan tangannya di dahi Manisya!"


"Ayo kita ke dokter!" Ucap sang ayah sambil memegang kaki Manisya.


Mendengar perkataan Ayahnya membuat Manisya menggelengkan kepalanya tak ingin pergi ke dokter.


"Tidak ayah, aku hanya perlu istirahat sebentar!" Ucap Manisya sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya


"Tapi badan kamu sangat panas!" Ucap Sang Ibu yang kini terlihat panik.


"Cintanya di tolak, jadi begitu!" Ucap Gibran dengan muka datarnya yang tiba-tiba muncul dengan sepiring Nasi Goreng dan sebuah obat penurun panas di tangannya.


"Makanlah dulu dan minumlah obat ini! jika panas mu tidak turun, aku akan menyeret mu ke dokter!" ancam Gibran sambil memberikan sepiring Nasi Goreng dan obat pada Manisya yang kala itu berbaring lemas di atas kasur.


"Iyah, adik ku yang paling imut sedunia!" Ucap Manisya dengan nada suaranya yang lemas, Manisya pun mengikuti adiknya, untuk bangun dari tidurnya, di bantu kedua orang tuanya Manisya menegak kan tubuhnya untuk segera mengisi perutnya dengan sepiring nasi goreng yang di bawakan Gibran.


"Harusnya kamu belikan bubur di depan, Gibran! bukan Nasi Goreng!" Ucap Ibu Manisya sambil menyuapi Manisya makan.


"Kalau makan bubur, mukanya akan tambah hancur!" Ucap Gibran sambil berlalu dari kamar Manisya.


"Awas yah, Nanti aku cium!" Manisya masih bisa bercanda dalam sakitnya.


"Kalian ini, lagi begini masih aja bisa bercanda!" Protes sang ayah melihat kedua anaknya yang selalu bertengkar itu.


Setelah memakan Nasi Goreng beberapa suap, Manisya segera meminum obat yang di bawakan Gibran sesaat yang lalu, Manisya pun kembali merebahkan badan nya di atas kasur berharap kondisi badannya semakin membaik.


***

__ADS_1


Disekolah, jam kini menunjukan pukul 06.45, namun Manisya masih belum terlihat batang hidungnya, Adam yang kala itu menunggu kedatangan Manisya terlihat sedikit gelisah terpancar di raut wajahnya.


"Apa yang di lakukan gadis bodoh itu, sudah siang begini tapi dia belum datang!" Adam bertanya dalam hatinya.


Adam menatap layar ponselnya, melihat sebuah pesan yang ia kirim pada Manisya pun belum mendapat sebuah jawaban sejak semalam.


Saat itu, Adam hendak melakukan sebuah panggilan pada Manisya, namun ia urungkan, ada perasaan canggung dalam hatinya jika ia harus menelepon Manisya secara tiba-tiba.


Adam menatap ke arah Nina yang kala itu tengah melirik ke arahnya.


"Jangan menunggunya, dia tidak akan datang kesekolah!" Ucap Nina seakan tahu isi hati Adam.


"Apa maksud Lo?" Tanya Adam saat mendengar ucapan Nina kepadanya.


"Manisya sakit!" Ucap Nina, masih berkata sambil duduk di bangkunya.


"Dia sakit?" tanya Adam melebarkan kelopak matanya.


"Aku sama Samira akan menengoknya, sebelum aku melihat keadaan Rangga!" Tutur Nina dengan memperlihatkan muka sedihnya karena dua orang temannya kini sedang berbaring sakit.


"Dia di rumah sakit?" tanya Adam.


"Dia? Maksudmu Manisya?" tanya Nina memastikan pertanyaan Adam kepadanya.


"Manisya di rumahnya, ibunya bilang dia demam!" Nina memberi penjelasan pada Adam.


"Apa dia baik-baik saja?" Pertanyaan Adam membuat Nina mengangkat salah satu alisnya, merasa heran Adam bertanya soal Manisya


"Dia baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat!" Jelas Nina kepada Adam.


"Sepertinya semalam dia masuk angin!" Ucap Nina mengingat kejadian saat Rangga yang tiba-tiba terkulai lemas.


"Pantas saja!" Ucap Adam mengingat wajah Manisya yang memucat saat dia mengantarkannya pulang.


Mendengar perkataan Adam, membuta Nina menatap bingung ke arah Adam, tak mengerti ucapan Adam kepadanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Nina yang mendengar perkataan Adam sesaat yang lalu.


"Gua gak ngomong sama Lo!" Ucap Adam memberikan penjelasan.


"Iya-iya!" Ucap Nina dengan mengedepankan bibir nya.


"Kamu mau ikut?" tanya Nina kembali kepada Adam.


Adam mengangguk mengiyakan perkataan Nina.


Sore itu, Adam, Nina, dan Samira berangkat ke rumah Manisya, Adam membawa motornya sendiri, sedangkan Samira dan Nina berangkat dengan memakai mobil jemputan milik Nina.


"Perasaan dia gak nanya rumah Manisya deh Nin!" Tanya Samira kepada Nina yang merasa aneh dengan Adam karena Adam memang tak bertanya rumah Manisya berada di mana.


"Mungkin mereka sudah bertukar alamat!" Ucap Nina, kemudian terkekeh dengan perkataannya sendiri.


"Mungkin saja!" Ucap samira.


Mereka pun berangkat menuju rumah Manisya, dengan kendaraan yang berbeda dengan Adam, tentu saja Adam sampai terlebih dahulu, karena ia menggunakan sepeda motor miliknya.


Adam yang saat itu telah sampai di rumah Manisya, memarkirkan motornya di halaman rumah Manisya, Adam membuka helm yang menutupi wajahnya, ia simpan helm tersebut di atas motor miliknya. Setelah itu Adam mengetuk pintu rumah Manisya yang nampak terlihat sepi jika di lihat dari luar, sesaat Adam menatap sebuah jendela kamar yang terhalang oleh gorden tipis yang tak membiarkan bagian dalam ruangan itu nampak dari arah luar.


Kini Adam mengalihkan pandangannya dari jendela ke sebuah pintu yang kini berada di hadapannya, di ketuk nya kemudian pintu tersebut oleh Adam, dua kali ketukan sudah Adam lakukan, namun tak nampak penghuninya membuka kan pintu untuknya, dan Adam pun mengetuk pintu kembali berharap kali ini pintu segera di buka, benar saja kali ini pintu rumah Manisya terbuka lebar, di bukakan oleh Gibran yang tak lain adalah adik Manisya.

__ADS_1


"Siapa Lo?"


__ADS_2