
"Maksud tuan, Manisya?"
"Manisya?" Tanya CEO kembali.
"Iya tuan, dia sudah lama bekerja di sini!"
"Apa hubungan cucuku dengan wanita itu?"
Manajer mengangkat kedua alisnya, merasa heran dengan pertanyaan CEO kepadanya.
"Saya rasa tidak ada tuan, hanya sebatas rekan kerja biasa, tapi menurut saya wajar banyak wanita, bahkan mungkin seluruh wanita di kantor ini menyukai Cucu tuan mengingat bagaimana paras tampan dan kepintaran nya yang luar biasa!"
"Dan hanya kau yang meragukan kemampuan Cucuku hingga tidak memberinya tempat yang layak!"
"Ti Tidak, bukan maksud saya tuan, saya..!"
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar ocehanmu, segera pindahkan dia dari posisinya yang sekarang!"
"Dan satu lagu!"
Manajer dengan sigap bersiap mendengar ucapan yang akan keluar dari mulut sang CEO.
"Aku tidak akan segan menghukum mu jika aku mendengar gosip Antara cucuku dengan gadis kampungan itu!"
Mendengar perkataan CEO membuat matanya sedikit membulat, namun segera ia mengalihkan fikiran dari berbagai pertanyaan dan segera menjawab pertanyaan, "Baik tuan saya mengerti!"
Setelah itu, tanpa berkata lagi, dan tanpa sebuah kata Pamit, Laki-laki yang menjabat sebagai CEO tersebut segera keluar ruangan Manajer, yang di sambut oleh seorang pengawal yang menunggunya tepat di depan pintu masuk.
***
Di ruangan tempat Manisya bekerja, saat itu Adam sudah tak terlihat lagi di tempat kerjanya, dan ruangan masih dipenuhi oleh para karyawan walaupun saat itu waktu sudah menunjukkan jam pulang.
"Manis!" Seorang Karyawan perempuan tiba-tiba memanggil Manisya.
"Saya?"
"Kamu tidak melakukan kesalahan kan?"
"Kesalahan?" Manisya terlihat mengerutkan dahinya.
"Saya rasa tidak!"
"Ada apa memangnya?"
"Tidak, hanya saja Pak Manajer barusan telepon dari ruangannya dan menyuruhmu untuk datang ke ruangan kerjanya!"
"Saya?" Manisya menunjuk hidung menggunakan tangannya.
"Iyah betul kamu! barusan ia menelepon menyuruhmu untuk datang ke ruangannya segera! Cepatlah!"
Tanpa berfikir lagi Manisya dengan segera datang keruangan Manajer, sesampai nya di ruangan Manajer.
"Duduklah!" Ucap sang Manajer segera memerintahkan Manisya duduk tepat di hadapan meja kerjanya saat melihat Manisya masuk ke ruangannya sesaat setelah ia memerintahkan dirinya untuk Masuk.
"Apa saya berbuat kesalahan?" Manisya menumpahkan pertanyaan yang timbul dalam benaknya yang muncul sejak saat seorang rekan kerjanya memberitahu dirinya bahwa Memanggil dirinya.
"Tidak!"
Manisya menghela nafasnya, untuk sesaat dada yang semula terasa sesak kini menghilang.
"Mungkin ini terdengar terlalu pribadi untuk di bicarakan, ini diluar pekerjaan sebetulnya, kamu tidak keberatan kan jika aku bertanya hal pribadi kepadamu?"
"Boleh boleh saja Pak!" Dengan entengnya Manisya menjawab.
"Sejak kapan kamu mengenal Adam?"
Tiba-tiba sorot mata Manisya berubah, membulat seketika, namun hanya sesaat saja, ia buru-buru merubah expresi wajahnya menyembunyikan rasa terkejutnya dengan pertanyaan Manajer yang menanyakan hal tersebut kepadanya.
__ADS_1
"Em, saya, saya!" Manisnya merasa bingung harus menjawab apa.
"Tak perlu sungkan, jujur saja!" Ucap sang Manajer kepada Manisya yang menjawab pertanyaan dirinya dengan terbata-bata.
Manisya menampakkan wajah yang bingung saat itu, entah harus menjawab jujur ataukah harus berkata sebaliknya, ia hanya takut jika ke jujurannya akan merugikan salah satu pihak, tak lain adalah pihak Adam, itu yang saat ini Manisya khawatirkan.
"Saya, saya memang sudah mengenal lama Pak Adam!"
Manajer mengangkat kedua alisnya saat mendengar perkataan Manisya.
"Maksudmu?"
"Begini Pak, Pak Adam itu teman satu SMA saya, saya sudah mengenalnya sejak duduk di bangku SMA!"
"Begitukah?" Manajer terlihat mengangkat alisnya kembali seakan sebuah isyarat jika ada hal yang masih penasaran yang ingin ia ketahui.
"Iyah Pak saya sudah mengenalnya sejak lama!"
"Apa hubungan kalian hanya berteman saja? atau mungkinkah kalian punya hubungan lebih dari itu?"
"Tidak, tidak!" Manisya menggerakkan lengannya menolak akan ucapan Manajer kepadanya.
"Maksud saya, Bapak bisa menanyakan hal tersebut kepada Pak Adam sendiri, saya akan meng iyakan setiap apa yang Pak Adam sampaikan kepada Bapak!" Jelas Manisya.
Perkataan Manisya kepada Manajer tersebut berhasil membuatnya semakin bertambah bingung.
"Apa maksudmu, Aku semakin bingung!" Ucap Pak Manajer kepada Manisya.
"Sudahlah, nanti aku akan menayangkan nya pada Adam sendiri!" Jawab Manajer tak ingin berlarut dalam pertanyaan yang berputar pada kepalanya.
"Saya minta maaf Pak!"
"Tidak perlu minta maaf santai saja!"
"Emm, kalau boleh tahu, Apa terjadi sesuatu kepada Pak Adam atau ada sesuatu masalah?"
Deg, nafas Manisya tiba-tiba sesak, sangat sulit bernafas.
"Kamu tahu kan apa hubungan Adam dengan CEO kita?"
Manisya menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak tahu?" Manajer mengangkat kedua alisnya terkejut.
"Adam itu cucunya CEO! dia akan menggantikannya posisi Kakeknya setelah pensiun!"
Manisya membulatkan kedua bola matanya, sungguh terkejut dengan apa yang di katakan oleh Manajer kepadanya, mengetahui kenyataan jika banyak sekali hal yang tak ia ketahui tentang Adam selama ini membuatnya sesak yang sangat sesak.
"Besok Adam akan menempati posisi baru, tidak lagi bersama kalian!"
Manisya hanya diam tak merespon ucapan Pak Manajer, dia masih sangat terkejut dengan apa yang di ucapkan Manajer kepada Adam.
"Kamu tahu kan maksudku memanggilmu ke sini?"
Manisya menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak mengerti dengan apa yang manajer ucapkan kepadanya.
"Kamu tahu kan sekarang siapa Adam, semua wanita berhak menyukai laki-laki manapun, tapi ini berbeda, Saya harap kamu tidak berlebihan mengharapkan Adam, CEO sangat tidak menyukai berita antara kamu dengan Adam, jadi saya harap berita tentang hubungan kamu dan Adam tidak sampai kepada CEO, dia sangat tidak menyukainya! Kamu wanita baik-baik, jadi saya yakin kamu akan mendapatkan laki-laki yang baik pula!"
Kata-kata Manajer memang terdengar halus namun berhasil membuat masuk menyentuh bagian dalam hati Manisya yang paling sensitif, entah kenapa semua perkataan Manajer berhasil meremas perasaannya, sangat sakit, dan begitu perih terasa, sekuat tenaga Manisya menyembunyikan raut wajah sedihnya yang yang kini berubah merah, tentu saja Manisya pandai menyembunyikan rasa sedihnya.
Bagaimana mungkin ada seorang Manusia yang tak mengetahui bagaimana ia berjuang mendapatkan laki-laki yang selama ini sangat ia cintai, seenaknya berkata untuk melepaskan laki - laki yang sudah ia perjuangkan begitu saja, ada perasaan yang begitu sedih menyeruak dalam hatinya.
Manisya yang kala itu menunduk, mengangkat kepalanya, menarik kedua sudut bibirnya dengan terpaksa, "Saya mengerti maksud perkataan Bapak!" Tak ingin memperpanjang perkataan Manajer yang jelas-jelas akan membuat sakit perasaanya.
Manajer mengangguk, mengiyakan ucapan Manisya, "Syukurlah jika kamu mengerti!"
"Kalau sudah selesai boleh saya pamit Pak!"
__ADS_1
"Oia tentu, silahkan!"
Dengan tangan mengepal menguatkan hatinya, Manisya bergegas meninggalkan ruangan Manajer dengan terburu-buru, namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat hendak membuka pintu keluar, kemudian berbalik badan dan berjalan kembali mendekat ke arah Manajer yang kala itu tengah duduk dan menyenderkan kepalanya di atas kursi.
Ekspresi wajah Manajer terlihat sedikit kaget melihat Manisya yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya kembali.
"Apa CEO sangat tidak menyukai saya?"
"Aku tidak tahu pasti!" Jawab Manajer sambil menggelengkan sedikit kepalanya, sebetulnya manajer hanya menebak dari mimik muka dan ucapan dari CEO dan menyimpulkan jika CEO tidak menyukai keberadaan Manisya.
"Saya tidak akan menyerah begitu saja, jadi tolong dukung saya!"
Mendengar ucapan Manisya membuat Manajer terkesiap di buatnya, ia terkejut akan ucapan Manisya kepadanya yang meminta dukungan kepadanya secara langsung.
"Akan kupikirkan!" Jawab Manajer.
"Saya juga minta maaf karena masalah ini bapak mendapat masalah, bahkan mungkin kedepannya akan sering mengganggu ketenangan Bapak!"
Manajer hanya terdiam, mencerna ucapan Manisya.
"Terimakasih, saya permisi dulu!"
Manisyapun pergi meninggalkan ruangan Manajer.
"Apa maksud ucapannya, apa mereka benar-benar mempunyai hubungan spesial?"
Mengingat ucapan Manisya membuat tubuh Manajer yang berada di ruangan yang full akan AC itu tiba-tiba menjadi panas, ia melonggarkan dasi yang melingkar pada lehernya karena itu.
"Benar-benar rumit!"
***
Setelah Manisya kembali ke ruangannya, wajahnya terlihat sendu, ia duduk di tempat kerjanya dengan tatapan kosong menatap layar Monitor yang masih menyala, memang saat itu sudah waktunya jam pulang, kursi yang awalnya penuh pun sedikit demi sedikit tak berpenghuni, begitupun dengan Mona yang terburu-buru pulang karena ada janji dengan teman lamanya.
Setelah itu Manisya pun memutuskan untuk segera mematikan komputer nya dan membawa tas nya, setelah berpamitan kepada rekan kerja nya yang masih ada di dalam ruangan.
***
Seperti biasa setelah pulang kantor ia akan datang ketempat Adam.
Dengan raut wajah yang masih sendu karena mengetahui jika kakek Adam tidak menyukainya, serta serta seluruh tubuh yang lemas, Manisya memijit kode sandi apartemen Adam, setelah pintu terbuka dan Manisya masuk ke dalam apartemen, wajahnya yang sendu serta tubuhnya yang lemas berubah seketika setelah melihat wajah tampan menyambutnya dari depan pintu.
"Adam!" Memanggil Adam dengan sedikit berteriak karena perasaan senangnya melihat laki-laki yang selalu ia rindukan itu, kedua sudut bibirnya pun tertarik sempurna.
"Kamu di rumah? bukannya kamu bilang akan pergi ke rumah kakek untuk makan malam?"
Adam hanya mengangguk mengiyakan ucapan Manisya.
"Iyah aku akan makan malam di rumah kakek, kenapa kamu lama sekali, aku menunggumu sejak tadi!"
"Iyah maaf, aku kira kamu sudah tidak ada di apartemen, makannya aku tidak buru-buru pulang!"
Adam segera merangkul Manisya mengajaknya masuk ke dalam ruangan, ia setelah itu mereka duduk di sofa yang terletak di depan televisi.
"Memangnya acara makan malamnya jam berapa?" tanya Manisya yang terlihat heran melihat Adam yang masih santai memindahkan saluran televisi menggunakan remote yang ia genggam.
"Sekarang?" Tanya Manisya dengan wajah yang terlihat terkejut menatap Adam.
"Kenapa tidak segera berangkat?"
"Nanti sebentar lagi!" Jawab Adam.
"Sebentar lagi?" Tanya Manisya sambil melihat jam pada layar ponselnya, Manisya merasa sangat heran dengan tingkah Adam kala itu.
Adam yang terlihat fokus menatap layar televisi, kini merubah pandangannya menatap Manisya yang memasang wajah bingung di hadapan Adam.
Adam menganggukkan kepalanya secara perlahan di hadapan Manisya, dengan sebuah senyuman manis di bibirnya, "Iyah sebentar lagi setelah kamu siap!"
__ADS_1