Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Perasaan yang Tak Tenang


__ADS_3

"Aku berhenti bekerja!"


Adam terlihat sangat terkejut dengan apa yang di ucapkan Manisya kepadanya, seketika kedua bola mata Adam membulat secara sempurna.


"Apa maksudmu?" Adam bertanya memastikan ucapan Manisya.


"Aku tidak akan datang ke restoran ini lagi, aku benar-benar berhenti bekerja!" Penjelasan Manisya membuat Adam mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.


"Apa alasanmu berhenti bekerja?" Tanya Adam, masih penasaran alasan Manisya berhenti dari pekerjaannya yang belu satu bulan Manisya bekerja di sana.


"Kamu!" Jawab Manisya sambil menunjuk ke arah Adam menggunakan telunjuknya.


"Aku?" Adam terlihat semakin mengerutkan dahinya.


"Iyah kamu!" Manisya menganggukkan kepalanya secara perlahan.


Adam tak menjawab perkataan Manisya, hanya menatap tajam ke arah Manisya.


"Ada seorang wanita yang kegenitan menanyakan kamu terus, aku sangat tidak menyukainya!" Ucap Manisya sambil mengerutkan bibirnya.


Manisya memberi alasan lain kepada Adam, walaupun sebenarnya alasan yang utama adalah Manisya merasa khawatir dengan keselamatan Adam, setelah Adam mengalami kecelakaan, tak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi kepada Adam, karena Manisya merasa yakin jika Adam akan selalu datang ketempat Manisya bekerja.


Adam masih menatap tajam ke arah Manisya, mengangkat salah satu alisnya ke atas.


"Wanita siapa maksudmu, apa aku mempunyai seorang teman di sini?"


"Bukan, bukan teman, hanya salah satu fans wanita mu!"


"Apa ada lagi alasan kamu berhenti bekerja selain itu?" Adam menatap Manisya penuh curiga.


"Tidak Ada, Em, kita mau makan di mana sekarang, aku sangat lapar!" Manisya berusaha mengalihkan pembicaraan, ia menyadari jika terus membahas persoalan Manisya berhenti bekerja, lama kelamaan ia akan mengatakannya karena Manisya yang tak pandai berbohong.


"Kamu sendiri mau makan apa?" Sambil memberikan helm kepada Manisya.


"Bagaimana kalau makan Steak?"


"Steak? kamu benar-benar penyuka steak, baiklah, ayo naiklah, aku tau tempat steak yang spesial."


Adam masih tak membiarkan matanya beralih dari Manisya, memperhatikan Manisya yang tengah memakai helm, kedua pipi Adam terlihat mengembang saat melihat setiap gerakan Manisya.


"Sudah selesai aku naik ya!" Saat tali pengikat helm berhasil terpasang.


Adam menarik tangan Manisya, membuat seluruh badannya ikut bergerak mendekat kepadanya, "Apanya yang sudah!" Menatap tajam wajah Manisya dengan kepala sudah terpasang sebuah helm, kemudian Adam menarik resleting jaket sampai kebagian atas tubuh Manisya hingga menutupi seluruh tubuhnya yang sebelumnya ia biarkan terbuka."


"Bug!" Adam memukul helem yang terpasang di kepala Manisya.


"Aku sudah bilang pake Jaket yang betul!" Tutur Adam dengan menatap tajam wajah Manisya.


"Hehe, aku lupa tadi sempat membukanya!" Jawab Manisya sambil tersenyum menarik kedua sudut bibirnya.


"Ayo naiklah!" Adam terlihat sudah bersiap untuk melajukan motor miliknya tersebut, saat Manisya sudah duduk tepat berada di belakang punggungnya.


Selama perjalanan, seperti biasa, Manisya sama sekali tak berani melingkarkan tangannya di tubuh Adam, ia hanya berpegang pada jaket yang Adam kenakan.

__ADS_1


"Kamu boleh memeluk ku!" Teriak Adam sambil sedikit menoleh ke arah belakang.


"Tidak, tidak apa-apa!" Jawab Manisya dengan tersipu malu, jauh di dalam perasaanya ia sangat ingin melingkarkan tangannya di tubuh laki-laki yang selama tiga tahun terakhir selalu mengisi hatinya tersebut.g


Namun secara tiba-tiba, Adam menarik tangan Manisya, kemudian berteriak sambil sedikit menengok ke arah Manisya,"Berpeganglah, aku akan menaikkan kecepatannya!"


Manisya pun mengangguk, kemudian secara perlahan segera melingkarkan tangannya pada tubuh Adam. Sepanjang perjalanan, Manisya sangat bahagia sekali hingga senyuman lebar tak pernah lepas dari bibir tipisnya.


***


Adam dan Manisya sampailah di tempat makan, tepatnya di sebuah restoran dengan menu spesialnya sebuah steak, kini mereka tengah duduk di sebuah kursi dengan posisi berdampingan, merekapun telah memesan sebuah menu steak yang paling spesial di restoran tersebut.


"Apa kamu sering ke sini?" Tanya Manisya sambil menatap suasana restoran tersebut.


"Tidak terlalu sering!" Jawab Adam.


Manisya menganggukkan kepalanya, menatap ke arah Adam, sebenarnya Manisya sangat khawatir jika steak yang mereka pesan harganya sangat tidak terjangkau oleh dompetnya, di tambah dalam buku menu harga steak ataupun makanan yang lainnya tidak tercantum.


"Katakan!" Ucap Adam.


Dahi Manisya berkerut, mendengar apa yang di katakan Adam.


"Katakan apa yang ingin kamu tanyakan, tidak perlu menatapku seperti itu!" Adam memperhatikan Manisya, namun raut wajahnya seakan menyimpan sesuatu dalam fikirannya.


"Hehe, kenapa kamu bisa tahu, aku ingin bertanya sesuatu?" Tanya Manisya.


"Tentu saja, itu semua tergambar jelas di wajahmu!" Tutur Adam sambil menempelkan telapak tangannya pada wajah Manisya.


"Aku bahkan tahu semua yang ada dalam isi kepalamu!" Adam menunjuk kepalanya menggunakan jemari miliknya.


"Itu terserah kepadamu!" Senang rasanya perasaan Adam, saat berhasil menjahili Gadis yang kini tengah duduk di sampingnya itu.


"Apa kamu tahu juga apa yang ingin aku tanyakan?"


"Aku bukan seorang peramal!" Tutur Adam membuat Manisya harus berfikir keras, dengan jawaban Adam.


"Ih katanya tadi kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku, sekarang aku tanya kamu ga tahu!" Protes Manisya mulia kesal karena Adam memutar-mutar jawabannya.


Adam hanya tersenyum senang melihat Manisya yang kebingungan.


"Jangan cerewet, Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan!" Dengan Menatap ke arah Manisya tanpa sebuah expresi, hidung Manisya pun menjadi sasaran empuk melampiaskan rasa gemasnya kepada Manisya.


Manisya mengerutkan bibirnya dengan manja kepada Adam, "Sakit tau, hidungku tambah pesek nanti!" Sambil membetulkan hidungnya menggerakkan ke kiri dan ke kanan.


"Cepat katakan, apa yang ingin kamu tanyakan?, kalau tidak, aku akan menarik hidungmu kembali supaya tinggi!" Adam mencoba menakuti Manisya, ia sangat senang sekali melihat tingkah Manisya yang menggerutu.


"Jangan!" Manisya segera menutup hidungnya, tak ingin menjadi sasaran kejahilan tangan Adam.


"Aku hanya ingin tau, berapa harga sebuah steak ter favorit di sini, kan hari ini aku yang traktir, nah aku takut uangnya gak cukup!" Jelas Manisya.


Adam menatap wajah Manisya dengan seksama saat berbicara, ia memperhatikan hidungnya yang merah karena ia cubit.


"Hidungmu merah!" Bukannya menjawab pertanyaan Manisya, Adam malah mengomentari hidung Manisya dengan mengusap perlahan hidung Manisya dengan menggunakan jemarinya.

__ADS_1


"Kan gara-gara kamu!" Jawab Manisya.


Adam hanya menatap dengan menarik kedua sudut bibirnya kepada Manisya. Saat Adam tersenyum, tiba-tiba saja jantung Manisya berdegup kencang, ya jantungnya selalu berdegup kencang jika melihat wajah Adam yang akan bertambah tampan jika tersenyum, Namun Manisya segera tersadar takut jika Adam menyadari apa yang ia rasakan saat itu.


"Bukan nya menjawab, malah mengomentari hidungku!" Manisya mengerut kan bibirnya dan memasang expresi kesal.


"Iyah kamu yang traktir, harus cukup, harganya standar ko tenang saja!" Jawab Adam.


Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba Ada seseorang yang memanggil nama Adam.


"Hai Dam, ketemu lagi kita!"


"Ngapain lu di sini!" Orang yang yang Menyapa Adam adalah Leo.


"Gua abis ketemu sama temen, ni baru mau balik!" Jawab Lo.


"Hai Lo Manis kan? Masih sama Adam Lo?"


Manisya tersenyum kecut, "Hehe, baik-baik!"


Leo kini mengambil posisi duduk di hadapan Adam.


"Oia Adam, kemaren gua ketemu nyokap bokap Lo, mereka bilang Lo mau lanjut kuliah di luar?"


Mendengar ucapan Leo membuat Manisya terkejut. "Deg!" Tubuhnya melemas seketika, pikirannya terbang kemana-mana, betapa ia akan kehilangan sosok Adam jika memang Adam harus pergi melanjutkan sekolahnya di luar negri.


"Entahlah!" Jawab Adam terlihat malas.


"Asik donk Lo, bakalan banyak ketemu bule-bule seksi di sana!" Ucapan Leo membuat Adam seketika merubah raut mukanya menjadi kecut.


Adam menatap tajam ke arah Leo, tak me respon ucapannya.


Sedangkan Manisya hanya membisu, perasaannya sedikit terganggu dengan apa yang di ucapkan Leo kepada Adam, tentang rencana kuliah Adam dan tentu saja tentang wanita bule yang di singgung Adam, ya setiap kali ia berjumpa dengan Leo ada saja ulahnya yang berhasil membuat Manisya merasa kesal dengan salah satu teman Adam tersebut.


Setelah itu, Leo dan Adam terhanyut dalam percakapan mereka berdua, tentu saja Manisya tak berani Masuk dalam percakapan mereka, selain tidak mengerti, ia juga tak ingin mengganggu obrolan mereka yang terlihat penting, tak lain adalah tentang rencana masa depan mereka.


"Aku permisi kebelakang dulu!" Manisya memutuskan untuk pergi meninggalkan Adam dan Leo yang sedang bercakap.


"Mau kemana?" Tanya Adam.


"Ke toilet!" Menjawab tanpa melihat ke arah Adam.


"Jangan lama-lama!" Perintah Adam.


"Ya!" Manisya menjawab singkat ucapan Adam.


Setelah itu Manisya bergegas Meninggalkan Adam dan Leo yang sedang bercakap.


"Menyebalkan sekali dia, selalu saja jika bertemu laki-laki itu membuat ku merasa kesal!" Berkata sambil menatap ke arah cermin di dalam toilet.


Setelah selesai dengan urusannya di dalam toilet, Manisya pun segera bergegas meninggalkan toilet, dan berjalan kembali menuju meja Adam dan Leo yang sedang bercakap,


Saat itu Manisya terlihat berjalan dengan sangat Malasnya, "Kenapa sih harus ada dia!" Ucap Manisya dengan mengerutkan bibirnya.

__ADS_1


Saat Manisya sedang berjalan, tiba-tiba


"Bruk, prang!" Seorang pelayan yang tengah membawa makanan menabraknya, seluruh baju Manisya sangat kotor terkena minuman dan makanan yang pelayan bawa saat itu, hal itu tentu saja membuat semua mata yang tengah berada di dalam restoran menatap ke arahnya.


__ADS_2