Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Perdebatan


__ADS_3

Manisya kini berada di mobil Adam, tepat duduk di sebelah Adam.


"Kita mau langsung anterin neng Manis dulu apa mau kemana dulu mas?" tanya Pak Komar mencairkan suasana yang membeku.


Adam berfikir sejenak, kemudian menengok ke arah Manisya, Manisya menatap ke luar jendela, tak menghiraukan percakapan antar Pak Komar dengan Adam, entah apa yang berada di fikiran Manisya saat ini.


"Lo mau balik apa ke UGD?" tanya Adam pada Manisya.


Mendengar UGD nisya otomatis menengok ke arah Adam,


"Aku bilang, aku ga sakit aku ga kenapa-napa" Manisya menjawab ngelantur.


Medengar Manisya menjawab, Adam mulai merasa curiga, apalagi di sepanjang jalan Manisya hanya diam tak banyak berbicara.


Adam tak sengaja melihat muka Manisya yang tambah pucat.


"Lo beneran ga kenapa - napa" tanya Adam kembali.


"Aku bilang aku baik-baik saja, aku ga kenapa - napa" Manisya menjawab dengan perkataan yang sama, se akan tak mau ada yang mengganggu.


Adam menatap penuh selidik ke arah Nisya, Nisya hanya diam menatap ke arah jendela tak bersuara.


"Mas adam itu kenapa bajunya" tanya Pak Komar menatap ke arah spion menyapa keheningan.


Adam melihat ke arah bajunya yang memang sudah robek di tambah kancing bajunya yang lepas, kini Adam mengingat kembali kejadian saat Manisya menarik-narik bajunya akibat ketakutan, dan saat itu juga awal mula Adam memarahi Manisya, dan Manisya tiba-tiba tergeletak pingsan.


"Seseorang yang kurang ajar udah bikin baju seragamku sobek" Adam berkata menyindir kepada wanita yang tepat duduk di sampingnya.


Manisya melirik ke arah Adam, "aku benar-benar tidak sengaja melakukannya" Jawab Manisya dengan wajah pucatnya.


Adam tak menghiraukan jawaban Manisya.


"Sampai bisa sobek kenapa neng?" Tanya pak komar sambil menatap ke arah spion.


"Tadi.." belum sempat Nisya menjawab pertanyaan pak komar, Adam memotong.


"Ga usah di bahas" jawab Adam memotong.


Pak Komar hanya tersenyum ke arah spion.


Nisya kembali terdiam, kini ia merasakan kepalanya yang tiba-tiba memutar, namun ia berhasil menutupinya, akan tetapi setelah kepala yang memutar kini iya merasakan badan nya yang menggigil.


Kini Manisya tak dapat menahan rasa sakit di seluruh badannya.


"Adam" Manisya memanggil.


"Kenapa lo" tanya Adam.


"Aku kedinginan" Manisya menggigil.


Kemudian Adam memberikan Jaket yang tersimpan dalam tasnya kepada Manisya.


Adam melihat Manisya yang menggigil membuatnya panik, di tambah mukanya yang semakin pucat.


"Pak komar, putar arah ke tempat tadi!" perintah Adam.


"kenapa Mas?" tanya pak komar.


"Cewek nyebelin ini bener-bener harus di rawat" jawab Adam.


Pak Komar melirik ke arah spion belakang, terlihat Manisya yang sedang menggigil.


"Siap mas" Jawab pak komar sambil membelokkan mobilnya berputar arah.


"Cepetin pak!" perintah Adam yang panik melihat Niysa lemas.


"keras kepala banget ni cewek, menyebalkan sekali" Gumam Adam.


Karena kepala Nisya yang semakin berat, iya kemudian merebahkan badannya di atas paha Adam.


"Ngapain lo" Tanya Adam.


Manisya tak menjawab,


Adam membiarkan Manisya tertidur di atas pahanya. Adampun merasakan badan Manisya yang sedang menggigil Panas dingin.


"Coba dari tadi dengerin kata gua, pasti ga buang-buang waktu" Ada melirik kesal ke arah Nisya.


"Nyebelin banget lo jadi cewek" Adam tak berhenti menggerutu.


Pak komar yang mendengar Adam berkata kesal dari tadi, berkata pada Adam.

__ADS_1


"Gitu mas kalau cewek tuh, susah di artikan, bilang iya padahal engga, bilang gak mau padahal mau, bilang gak marah padahal marah" Pak komar menambahkan.


"Kita jadi cowok, harus banyak bersabar dan belajar, mereka itu unik" Pak Komar menasihati Adam.


Adam diam tak menanggapi perkataan Pak Komar.


Sesampainya di rumah sakit, Adam kembali membawa Manisya di pangkuannya, untuk ia bawa ke ruang UGD, yang memang mobil yang di bawa oleh pak komar tersebut sengaja di berhentikan tepat di depan ruang UGD, agar memudahkan untuk membawa Manisya, Kali ini Adam menggendongnya tanpa sebuah drama, tanpa perlawanan, karena Manisya dalam ke adaan terkulai lemas merasakan kepalanya yang memutar.


Seorang suster menghampirinya, Kemudian menyuruh Adam menurunkan manisya di tempat tidur yang di sediakan di sana, kemudian suster tersebut memeriksa Manisya, terlihat sang dokter pun ikut serta di sana memeriksa Niysa dan memasang sebuah infus di tangannya.


Adam hanya berdiri mematung sambil memegang jacket yang ia berikan tadi pada Manisya dan juga memegang tas Manisya yang sedari tadi ia bawa, memperhatikan Manisya yang tak sadarkan diri sedang di pasang Infus di ruangan UGD.


Adam menatap ruangan UGD, disana ada Pasien anak kecil, orangtua, laki laki seumuran dengannya, dan berbagai pasien dengan umur berbeda, mereka mengenakan selang infus yang di pasang ditangannya masing - masing, dan dengan penyakit yang berbeda pula.


Kini Adam merasa ada yang aneh dengan dirinya karena setiap orang yang lewat atau pun dekat dengan Adam memperhatikan Adam, ia melihat ka arah bajunya.


"Astaga, cewek ini benar-benar" adam tersadar jika bajunya masih dalam ke adaan sobek menjadi pusat perhatian, badannya yang sixpack dan putih mulus sedikit terlihat di sana.


Ia Mendengar bisikan para wanita yang sedang menunggu pasien atau pun perawat dalam ruangan UGD tersebut.


"Udah cakep, tinggi, putih, badannya bagus, ceweknya abis di apain ya sampai bajunya sobek begitu, ceweknya pingsan lagi"


bisikan-bisikan tersebut berhasil sampai di telinga Adam, mendengar hal itu Adam langsung mengenakan jacket yang ia bawa yang ia berikan tadi kepada Manisya untuk menutupi bajunya yang sobek, kemudian Adam berdecak kesal.


"Gara - gara wanita menyebalkan itu" Adam menarik nafasnya.


"Neng Manis gimana Mas?" tanya pak komar menghampiri Adam.


Tanpa bersuara, Menunjuk Nisya yang sedang di rawat.


"Mas ibu bapaknya udah di kasih tau belum, ini udah mau jam 9 malem lho mas" seketika Adam baru menyadari kalau saat ini langit sudah berwarna gelap.


Saat Adam tengah bercakap dengan Pak Komar,


"Drrtt drrt drrttt" handphone bergetar.


Adam yang merasakan getaran handphone mencoba membuka handphone nya namun yang bergetar ternyata bukan ponsel milik Adam.


Kemudian Adam mencoba meraba tas milik Manisya, karena getaran berasal dari dalam tas Niysa, Adam kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tas Manisya, benar saja ponsel Nisya yang sedari tadi bergetar.


Terbaca oleh Adam di layar ponsel Manisya, Panggilan masuk.


"I**bu memanggil"


"Hallo" Adam mulai berbicara.


"Ini Adam tante, temennya Manisya"


"Manisyanya kemana? " tanya sang ibu.


"begini tante, Niysa tadi sakit, jadi ini lagi di rumah sakit, Rumah Sakit Sehat Sentosa Tante" Adam menjelaskan.


"K**enapa bisa di rumah sakit begitu, kalau begitu ibu langsung ke sana aja" Tanpa menunggu jawaban Adam, sang ibu langsung menutup teleponnya.


"S**epertinya sangat khawatir" Adam berkata dalam hati.


Adam menghampiri dokter yang telah selesai memeriksa Niysa.


"Dia kenapa dok?" tanya Adam.


"Kamu keluarga nya? " tanya dokter


"Bukan, saya temannya, keluarganya sedang di jalan" jawab Adam,


"Barusan baru di Ambil darahnya, nanti kita periksa untuk lebih meyakinkan, hasilnya belum terlihat sekarang" jawab sang dokter.


"Dugaan Awal si, sepertinya kelelahan, demam biasa saja" dokter memberi penjelasan kembali.


"Hanya perlu istirahat beberapa hari saja, gak perlu khawatir" dokter menenangkan.


Mendengar hal itu ada sedikit ketenangan di hati Adam.


"Biklah dok, makasih banyak" Jawab Adam.


"Bisa pindah ruangan ga dok?" tanya Adam yang merasa risih karena banyak yang memperhatikannya.


"Bisa bisa nanti saya bilang ke susternya" jawab dokter.


Dokter tersebut menepuk pundak Adam, dan berlalu.


Beberapa Saat, suster menghampiri Adam,

__ADS_1


"Mas mau pindah ke ruangan sekarang ?" tanya suster, bisa ikut saya sebentar.


"Pak komar titip dulu" menitipkan Manisya pada pak Komar.


"Iya mas" jawab pak komar singkat.


Kemudian Adam berlalu dengan suster.


Ini mas, ada yang harus di isi dulu,


Sebelum mengisi, Adam membuka tas manisya mengeluarkan dompetnya dan membawa identitas Nisya.


"Mas kamarnya mau yang fasilitasnya gimana?" tanya suster.


"Yang paling bagus" jawab Adam singkat.


Kemudian Adam mengeluarkan sebuah kartu, ia berikan Pada Petugas Admin tersebut.


Manisya yang masih terbaring lemas di pindahkan ke ruangan pasien, sesuai dengan pesanan Adam. Adam dan Pak Komar pun ikut ke ruangan tersebut, mereka duduk di kursi sofa, menunggu orang tua Manisya ataupun Manisya tersadar.


Tiba-tiba, Manisya tersadar, melihat sekitar, sebuah ruangan yang mewah, layaknya di hotel berbintang lima, yang sama sekali belum pernah ia masuki, kemudian melihat tangannya di infus, dan terakhir manisya melihat dua sosok laki-laki di depannya.


"Adam, pak komar, kenapa aku di sini?"tanya Nisya masih lemas,


"Gara-gara lo.." Adam berkata namun dipotong oleh pak komar, yang takut kalo manisya makin drop.


"Tadi neng Manis sakit lagi, makannya di bawa ke sini" jawab pak komar memotong kata-kata Adam.


"Pak komar, aku pengen pulang, aku udah sembuh" Nisya berusaha bangun, kemudian mencoba membuka selang infusan.


"Bercanda lo, mikir dong lo, liat tuh jam berapa, lo mau bawa masalah lagi buat gua" Adam geram dengan kelakuan Nisya, menidurkan kembali Nisya ke tempat tidurnya dengan Mendorongnya secara paksa.


"Jangan bergerak dan jangan kemana-mana sebelum dokter mengizinkan!!! Ngerti ga lo, atau lo berurusan sama gua!!" Adam memperingati.


Muka Manisya semakin pucat melihat Adam mengeraskan suaranya dan memperlakukan Nisya secara kasar.


"Tapi aku udah sembuh" terbersit rasa khawatir dalam hati Nisya, entah apa yang dikhawatirkan nya.


"Bisa ga sii sekali-kali otak lo tu di pake!" adam semakin meninggikan suaranya.


"Aku ga nyuruh kamu buat bawa aku kerumah sakit" Nisya masih mampu menjawab perkataan adam.


"Trus gua harus biarin lo di pinggir jalan gitu! gua ga habis fikir sama lo" membentak Nisya kembali.


"Lebih baik begitu, aku gak nyuruh kamu buat bawa aku kesini" Nisya berkata dengan mengeluarkan buliran airmatanya.


"Astaga" Air muka Adam memerah seketika, dan


"Dugg" Adam memukul Nakas yang berada di pinggir tempat tidur manisya.


"Mas Mas udah mas" pak komar menenangkam Adam, sambil memberi kode kepada Manisya jangan membantah kata-kata Adam.


Manisya Masih menangis.


Adam terlihat menahan emosinya,menarik nafasnya sangat dalam.


"Pak Komar, gua balik duluan ya, pusing gua lama-lama di sini" Adam yang emosi melihat kelakuan Manisya ingin segera pergi dari rumah sakit tersebut.


"Boleh mas, tapi nanti kalo ada orang tua nya gimana mas, saya kan bingung ngejelasin gimana-gimana nya ini, ini anak orang loh mas" pak komar terlihat protes.


Adam terdiam mencerna perkataan Pak Komar.


"Dia juga bisa ngejelasin sendiri!!" menunjuk Nisya yang sesenggukan karena menangis.


"Mas bawa mobil?" tanya Pak Komar.


"Mobil aku bawa" jawab Adam singkat.


"Trus saya gimana pulangnya" tanya pak Komar kembali.


"Telepon orang rumah, atau pak joko jemput kesini, atau ojek online apa ke" perintah Adam mulai kesal dengan pak Komar.


"Baik kalau begitu mas" pak komar meng iya kan, melihat Adam yang mulai malas menjawab pertanyaan Pak Komar.


"Pokoknya pak komar jangan kemana-mana sebelum orang tua gadis menyebalkan itu datang, dan jangan biarkan dia bergerak sedikitpun dari kasur itu" perintah Adam sambil menunjuk kembali ke arah Nisya.


"Siap Mas" Pak komar menjawab tegas.


Kemudian Adam keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Manisya yang Masih menangis.


***

__ADS_1


Semoga Ada yang suka.. 😊 Jangan lupa like nya.. Tenkyu..


__ADS_2