
"Nomor kakek?" Kerutan pada dahi Adam tiba-tiba terlihat jelas, sambil mengulang pertanyaan Manisya, iaย terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Manisya.
"Iya, Nomor telepon Kakek! Apa tidak boleh aku meminta nomor teleponnya?"
Adam menatap tajam Mansiya, seolah tengah membaca apa yang sedang di rencanakan oleh wanita yang telah sekian lama akhirnya mendapatan hatinya dengan tatapan yang penuh kecurigaan.
"Tentu saja boleh! dengan senang hati aku akan memberikannya kepada Mu, tapi setelah kamu memberitahu kepadaku apa rencanamu dengan nomor telepon Kakek?"
"Em, sebetulnya aku belum punya rencana apapun, aku hanya ingin lebih dekat dengannya saja!" Manisya menghentikan ucapannya sejenak, dengan penuh keraguan akhirnya berbicara kembali.
"Apa menurutmu Kakek bisa menerimaku, jika aku mendekatinya seperti aku mendekatimu?"
Adam tersenyum lebar mendengar ucapan Manisya, entahlah, ucapan Waniita itu membuatnya tiba-tiba lebih bersemangat.
"Orang-orang bilang sikapku sangat mirip dengannya!" Adam mengusap lembuta kedua pipi Manisya dengan gigi rapihnya yang berjajar membuat Adam terlihat semakin tampan.
"Apa dia juga sama tampannya seperti mu?" Tanya Manisya yang semakin terpesona dengan ketampanan laki- laki yang ada dihapannya kini.
"Tidak lebih tampan dariku!" dengan penuh kepercayaan diri Adam berkata, tentu saja hanya untuk menggoda Manisya.
Manisya mengangguk sambil tersenyum, "Aku juga sangat yakin akan hal itu! Kamu memang paling tampan! tampan sekali! Hahah!" Mengacungkan jempol kanannya kepada Adam kemudian tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Adam.
Adam mengerutkan bibirnya saat dirinya menjadi bahan tertawaan Manisya.
Kali ini tangan Manisya menyentuh lembut kedua pipi Adam.
"Ya kamu akan selalu menjadi laki-laki tampan dalam hatiku!"
Adam dan Manisya saling menatap, kemudian Manisya memeluk Adam kembali.
"Kalau begitu, aku sangat yakin suatu hari nanti Kakek bisa menerimaku!"
***
Satu Minggu telah berlalu sejak keributan dan Kakeknya, Sejak saat itu Manisya tak lagi satu ruangan dengan Adam, karena ia terpaksa harus mengikuti perintah atasannya yang di beri perintah langsung oleh CEO yang merupakan Kakek Adam sendiri untuk memindahkan Adam sebagai kepala Divisi Pemasaran, dan ia bahkan mendapat pengawasan langsung dari sang Kakek, untuk itulah perasaan sedih terkadang menghampiri Manisya tak bisa bertemu dengan sang kekasihnya setiap waktu, bahkan ia kerap memasang wajah sedihnya saat menatap meja kosong yang terletak tak jauh dari hadapnnya yang merupakan meja kerja di pakai Adam saat di ruangan itu.
"Hei, cuma beda ruangan saja membuatmu menangis seperti itu setiap memandang meja kerjanya yang sudah kosong!"
Ucap Mona saat ia memergoki Manisya yang tengah menatap kosong kursi di hadapannya.
"Ya, aku sudah tak bisa lagi memandang wajahnya yang tampan, aku sangat sedih!" Dengan memasang wajah sedih Manisya berucap.
"Hei, kita masih satu kantor loh, kamu bisa ke sana kapanpun kamu mau!" Ucap Mona dengan sedikit berbisik kepada Manisya, tak membiarkan siapapun mendengar ucapannya dalam ruangan itu.
Mendengar ucapan Mona seakan membuat fikirannya terbuka, ia tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide.
"Hehe, kamu pintar sekali!" Senyum Manis Manisya menyeringai menggantikan kerutan yang sebelumnya terlihat dibibir tipisnya.
"Iya dong, sini bayar aku, karena sudah memberikanmu sebuah ide!"
"Oke deh, aku bayar setelah statusku naik menjadi nyonya Adam, hahaha!" Manisya terbahak-bahak, membuat semua mata yang berada di ruangan itu menatap ke arahnya, ia melupakan seluruh rekan kerjanya yang berada di ruangan itu.
Mona menarik tangan Manisya memberikan sebuah kode agar ia berhenti tertawa.
Manisya yang terkejut segera menutup mulutnya dan meminta maaf, atas apa yang ia lakukan.
"Maaf maaf!"
"Kamu itu, untung saja si cerewet itu lagi ga ada di sini, kalau ada habis kamu!"
"Iya maaf aku lupa!" Ucap Manisya setelah itu ia kembali bekerja.
***
Waktu jam istirahat,
Seperti biasa, setelah hal yang terjadi di apartemen Adam, Manisya berusaha untuk mengubungi Kakeknya Adam, setiap hari ia mengirim pesan, karena teleponnya tak pernah mendapat jawaban, dan hari ini adalah hari ke Lima Manisya berusaha bertemu dengan Kakek Adam di tempat kerjanya.
"Maaf mba, CEO ada di tempat tapi dia sudah menitip pesan kepada saya untuk tidak menerima tamu!" Ucap Sekertaris dengan wajah menyesal memberikan penjelasan.
Manisya menghela nafas, tentu saja ia sudah bisa menebak jika hal itu akan terjadi.
"Apa hari ini CEO ada jadwal keluar?" Tanya Manisya berusaha mencari informasi.
__ADS_1
"Maaf mba, saya tidak bisa menginformasikan akan hal itu!"
"Ya sudah kalau begitu, saya tunggu saja di sini ya mba!" Sejak lima hari yang lalu Saat jam istirahat, Manisya setiap hari datang ke tempat CEO menunggu tepat di ruangannya bermaksud untuk menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka, ia menunggu di sana selama jam istirahat, dan ia akan pergi setelah waktu istirahat habis, ia rela menghabiskan waktu istirahatnya untuk menunggu CEO tepat di ruangannya.
"Tapi mba!" Ucap Sekertaris, seakan menolak apa yang di katakan oleh Manisya kepadanya.
"Hari ini beliau mengatakan kepada saya tidak ingin menerima tamu dari siapapun, ada tamu penting saja dia tolak!"
Manisya mengerutkan dahinya, memikirkan apa yang harus ia lakukan, tetap menunggu atau mengikuti apa yang sekertaris katakan kepadanya.
"Saya hanya akan menunggunya sebentar mba, hanya menunggu jika dia keluar ruangan saja, saya menunggu di sini ko?" Manisya bersikukuh untuk tetap menunggunya, ingin segera kesalahpahaman di antara mereka segera berakhir, bagaimana tidak hal itu yang membuat fikirannya terganggu setiap saat, bagaimana mungkin ia membiarkan Adam dan Kakeknya bersitegang selama ini.
"Em, baiklah!"
"Terimakasih banyak mba!"
"Kalau boleh tahu ada keperluan apa ya mba Sampai setiap hari menunggu beliau!"
Mata Manisya menatap ke atas, kemudian tersenyum kepada sekertaris cantik yang bernama Amel itu.
"Ada sedikit masalah mba, maaf saya tidak bisa bercerita di sini!"
Amel mengangguk mengerti tak banyak yang ia tanyakan.
Saat mereka sedang bercakap, tiba-tiba beberapa orang datang menuju ruangan CEO,
salah seorang menghampiri Amel, beberapa orang lainnya berjalan menuju pintu masuk, dan hal itu membuat Manisya terkejut, seketika menutup wajahnya dengan sebuah brosur yang terletak di meja sekertaris dengan segera, bagaimana tidak, salah seorang yang berada dalam rombongan itu adalah seorang yang ia kenal, bahkan sangat tak ia harapkan harus berjumpa dengannya di tempat itu, ia adalah Adam, Manisya begitu terkejut saat melihat Adam tiba-tiba datang.
"Ya ampun kenapa Adam kesini!" bisik manisya di dalam hatinya, dengan wajah yang ia sembunyikan di balik brosur, Sebenarnya Adam tidak mengetahui usaha nya untuk mendekati Kakek nya, bahkan Adam juga tidak mengetahui jika ia setiap hari menunggu Kakeknya di sana.
Keringat dingin serta detak jantung yang berpacu semakin cepat membuat perasaannya semakin tak karuan saat itu.
"Ya ampun apa yang harus aku lakukan!"
"Tuan ada di dalam? Pak Adam ingin bertemu dengannya!"
"Silahkan-silahkan masuk saja!" Manisya menjawab refleks pertanyaan seorang pria yang sebenarnya bertanya kepada Amel bukan kepadanya.
Pria itu menatap tajam ke arah Manisya yang menutupi wajahnya.
Namun tanpa menghiraukan perkataan sekertaris, rombongan Adam sudah memasuki ruangan CEO tanpa permisi, laki-laki yang bertanya pada Amel sang sekertaris pun segera mengikuti rombongan yang terdiri dari lima orang tersebut.
Saat itu, pintu ruangan masih dalam ke adaan terbuka, tiba-tiba seseorang keluar dengan kaki yang terburu-buru.
"Mba Amel saya permisi dulu!" Bisik Manisya masih memegang brosur yang menghalangi wajahnya.
Amel hanya mengangguk, dengan tatapan bingung.
Saat Manisya mulai melangkahkan kakinya, seseorang menghadangnya dari arah depan, ia menggeser kakinya, namun orang tersebut masih saja mengikutinya, sebuah pantofel hitam dan celana panjang berwarna abu yang ia lihat saat menunduk dengan wajah masih terhalang sebuah brosur.
"Permisi tuan, biar kita tidak tabrakan, saya menggeser ke kanan, tuan ke kiri!"
Ia pun melangkah menggeser kan kakinya mengikuti perkataan Manisya, dan akhirnya Manisya berhasil menggerakkan kakinya, namun saat satu langkah kakinya maju ke depan, seorang menarik lengannya dari arah belakang, sebuah brosur yang menghalangi wajahnya pun di ambil alih oleh Laki-laki tersebut.
Sebuah tatapan tajam yang sering Manisya lihat sebelumnya, "Apa yang kamu lakukan di sini!"
"Aku, aku, aku tadi ada perlu sama mba Amel, ya kan mba Amel!" Manisya memberikan sebuah kode kepada Amel berharap ia bisa bekerjasama.
Amel terlihat bingung tak menjawab pertanyaan Manisya.
"Kamu tahu kamu tidak bisa membohongiku!" Jawab Adam.
Manisya mengerutkan bibirnya dengan pandangannya sedikit menunduk.
"Katakan padaku apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
"Aku.. !" Manisya masih belum mendapatkan jawabannya.
"Dia sedang bertemu dengan saya tuan!" Giliran Amel yang berusaha membantu Manisya .
Tatapan Adam kali ini menajam kepada Amel.
"Aku tidak bertanya kepadamu!" Mendengar jawaban Adam membuat lutut Amel melemas seketika.
__ADS_1
"Dan kamu, tunggu aku di sini, urusan kita belum selesai!" Sebuah perintah yang tak bisa di tawar.
Manisya mendekatkan bibirnya pada telinga Adam, "Tapi jam istirahat ku sudah hampir habis!"
"Aku tidak perduli! ini perintah!" Setelah itu Adam kembali lagi ke dalam ruangan CEO tanpa menunggu ucapan jawaban Manisya.
"Hehe!" Manisya tersenyum menatap kepada Amel yang terlihat masih syok mendengar ucapan Adam.
"Tolong maafkan dia, dia memang seperti itu tapi sebenarnya dia sangat baik!"
Amel mengangguk secara perlahan, "Apa kalian punya hubungan spesial?"
"Hubungan spesial? em, kita sudah berteman sejak SMA, jadi aku sangat tahu bagaimana sikapnya!"
Sorot mata Amel menatap Manisya seakan tidak percaya dengan apa yang Manisya ucapkan kepadanya, Manisya hanya merasa bukan saat yang tepat untuknya berkata jujur tentang hubungan nya dengan Adam.
"Bukankah dia itu cucunya CEO?" Tanya Amel terlihat sangat penasaran.
"Entahlah!" Jawab Manisya tak ingin di hujani berbagai pertanyaan lagi.
"Oia, maaf aku pergi dulu, tiba-tiba aku teringat melupakan sesuatu, Oia tolong jangan katakan kepada siapapun termasuk dia, jika aku sering datang kesini!" Tanpa menunggu jawaban Amel, Manisya memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu, dengan langkah kaki yang terburu-buru.
Selang beberapa saat.
Adam keluar dari ruangan CEO.
"Kemana dia?" Dengan nada yang tidak bersahabat Adam bertanya kepada Amel.
"Anu, dia!" Belum sempat Amel memberi jawaban, Adam sudah bertanya kembali.
"Apa yang wanita itu lakukan di sini?"
"Wanita itu? maksudnya Manisya?"
Adam tak menjawab, hanya raut wajah yang terlihat kesal ia tampakkan pada Amel.
"Kenapa dia bisa ada di sini?"
Adam semakin menajamkan tatapannya dengan nada suara nya yang tegas membuat kaki Amel gemetar seketika.
"Anu, itu tadi.. !" Keringat dingin membasahi tubuh Amel melihat raut wajah Adam, sampai akhirnya suara ponsel, terdengar dari saku celana Adam, Manisya melakukan panggilan kepadanya, membuat Amel menghempaskan nafasnya seketika.
"Bukankah sudah aku bilang, jangan pergi kemanapun, sudah berani melawanku?" Adam langsung menyerobot mengambil alih pembicaraan.
"Maafkan aku, aku lupa belum menyelesaikan pekerjaanku, aku janji, saat sudah selesai nanti aku akan menunggumu, aku janji!"
"Bodoh!" Jawab Adam.
"Hehe!" Manisya menyematkan senyumannya, walaupun tidak terlihat langsung oleh Adam namun terasa menangkan.
"Sekarang, coba lihat! Amel ketakutan melihatmu!"
Adam segera melirik ke arah Amel dan meminta maaf kepadanya, kemudian segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Apa dia benar-benar ketakutan?"
Adam tak menjawab.
"Hahaha!" Manisya terbahak-bahak dari layar ponselnya, tertawanya sangat lepas.
"Mungkin hanya aku saja yang tidak takut kepadamu!" Ia masih belum puas.
Adam tak menjawab.
"Maaf maaf, aku hanya bercanda, Iyah aku salah, lain kali aku bakalan denger semua perintahmu!" Manisya tak ingin memperpanjang masalah.
"Sudah selesai jangan kemana-mana dulu, keruangan ku saja!" Jawab Adam dengan nada suara yang dingin.
"Siap!"
"Setelah ini, baca pesanku ya!"
Tanpa mengucapkan kata-kata Manis mereka menutup telepon.
__ADS_1
Sebuah pesan masuk ke ponsel Adam, sebuah emoticon wanita yang sedang mencium laki-laki tertera di sana, membaca pesan tersebut membuat kedua sudut bibir Adam melebar seketika, dengan kedua matanya yang menyipit.