
Adam membelalakkan kedua matanya saat tiba-tiba Manisya mendaratkan sebuah ciuman pada bibirnya, ia begitu terkejut apa yang di lakukan oleh Manisya, Mereka saling menatap beberapa saat, sebelum akhirnya Manisya menyadari apa yang telah ia lakukan, kini giliran Manisya yang membelalakkan kedua matanya.
"Maaf aku tidak sengaja!" Manisya menunduk ketakutan.
"Tidak senagaja?" tanya Adam mengangkat salah satu alisnya.
"Em, bukankah itu perintah Mu?" Manisya yang sebetulnya salah mengartikan maksud dari perkataan Adam, Adam bermaksud menyuruh Manisya untuk melakukan perintahnya agar menunggu nya, namun Manisya mengira Adam memberi perintah yang lain.
"Perintah?, Gua gak nyuruh Lo buat ci..!" Tiba-tiba Manisya menutup mulut Adam dengan menggunakan tangannya, tak ingin mendengar perkataan yang membuat malu dirinya, Manisya juga menutup kedua mata Asam saat Adam menatap ke arahnya.
Adam menggenggam tangan Manisya kemudian menarik secara paksa tangan Manisya yang menutup mulutnya, setelah itu, Adam menarik pula tangan Manisya yang menutupi matanya.
"Apa kamu sedang berusaha merayu ku?" Tutur Adam sambil memegang kedua tangan Manisya.
"Ti, tidak, Aku tidak sedang merayu mu!"
"Ini, buktinya!" Adam mengangkat kedua tangan Manisya yang masih ia pegang.
Manisya hanya terdiam sambil menatap ke arah Adam, begitu juga sebaliknya mereka saling menatap, detak jantung kedua insan itu tiba-tiba bergejolak secara bersamaan, Adam tak mengalihkan pandangannya dari Manisya, begitu juga dengan Manisya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku sungguh malu!"
"Benarkah?" Adam memperhatikan wajah Manisya yang terlihat memerah, tanpa sebuah aba-aba, Manisya dengan segera berlari menjauhi Adam.
"Ya ampun apa yang sudah aku lakukan, bodoh sekali aku, bodoh, bodoh!" ucap Manisya dengan menepuk-nepuk mulutnya sendiri dengan menggunakan salah satu tangannya saat sudah menghindar dari Adam, kini ia tengah berjalan hendak memasuki Gedung Olahraga yang didalamnya sebentar lagi akan di laksanakan pertandingan Basket dan Adam merupakan salah satu peserta nya.
Adam terlihat masih tak mengalihkan pandangannya dari Manisya, ia menarik kedua sudut bibirnya saat menatap ke arah Manisya kemudian berkata, "Bodoh!"
Adam menarik salah satu alisnya, memperhatikan Manisya dari kejauhan, ia melihat tingkah Manisya yang terlihat sedang mencari sesuatu.
Setelah itu, Adam berjalan melangkahkan kaki nya untuk menghampiri Manisya yang terlihat kebingungan.
Manisya belum menyadari jika Adam kini telah berdiri tepat di belakangnya, Adam semakin mendekat kepada Manisya, kemudian di tariknya tas yang menempel pada punggung Manisya, membuat Manisya terkejut dibuatnya, Hinggan jantung Manisya saat itu berdenyut sangat cepat.
"Ini bukan pintu Masuk!" Ucap Adam yang tak membiarkan tas Manisya lepas dari tangannya, Adam dengan sengaja menarik tas Manisya, agar sang pemilik tas ikut melangkah mengikuti langkah kakinya, tak bisa di tolak lagi, Manisya kini harus mengikuti langkah kaki Adam.
"Hehe, pantas saja dari tadi aku kesulitan menemukan sebuah pintu!" tutur Manisya sambil mendaratkan sebuah senyuman.
Adam yang kala itu berjalan memunggungi Manisya, berbalik badan menatap ke arah Manisya, ia juga telah melepaskan tas Manisya yang sebelumnya ia tarik menggunakan tangannya. Adam menatap ke arah Manisya dengan tatapan yang tak biasanya membuat jantung Manisya selalu berdenyut cepat saat melihat Adam dengan raut muka yang seperti itu.
"Jangan menatapku seperti itu!, apa kamu sedang menertawakan ku?" Ucap Manisya sambil menutup mata Adam dengan menggunakan tangannya, Manisya masih merasa malu menatap Adam karena sebuah ciuman yang ia lakukan.
"Seperti nya kamu pintar sekali mengambil kesempatan!" Ucap Adam, yang terlihat senang saat memojokkan Manisya, dengan posisi matanya masih di tutup agar tidak menatap ke arah Manisya.
"Tidak, itu hanya sebuah kesalahan!" Ucap Manisya membela dirinya.
"Keslahan, kesalahan yang ingin kamu ulangi?" Adam menyibakkan tangan Manisya yang menutupi matanya.
"Aku mohon, Aku tidak ingin membahasnya!"
Adam masih mengarahkan tatapannya pada Manisya, "Aku bilang jangan menatapku, aku sungguh malu!" kini Manisya menutupi mukanya sendiri menggunakan tas gendong miliknya, Adam sempat melihat rona merah di pipi Manisya sebelum akhirnya Manisya berhasil menutupinya.
Adam kembali menarik kedua sudut bibir miliknya, saat melihat tingkah menggemaskan Manisya.
"Sebenarnya apa yang kamu bisa, mencari sebuah pintu saja kamu tidak bisa!" Ucap Adam mengakhiri permasalahan sebuah ciuman, mendengar ucapan Adam, dengan segera Manisya menyingkirkan tas yang menutupi wajahnya itu.
"Hehe, sepertinya aku tidak bisa membedakan sebuah pintu!" Manisya menunjuk sebuah tempat yang memang menyerupai sebuah pintu.
"Trus apa yang Lo bisa?"
"Aku?" Manisya menunjuk hidungnya menggunakan telunjuk miliknya.
"Ya, apa yang Lo bisa selain membuat ulah?" tanya Adam merubah raut muka nya kepada Manisya.
Dengan entengnya Manisya menjawab, "Tentu saja aku hanya bisa mencintaimu!" Sesaat Manisya terkekeh mendengar perkataannya sendiri, sebelum akhirnya ia menyadari untuk ke sekian kalinya ia menyesali semua perkataan yang telah keluar dari dalam mulutnya itu, ia salah berucap, Manisya kemudian membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
Adam kala itu sedang menatap ke arah Manisya, ia menyaksikan sendiri bagaimana Ekspresi Manisya yang tiba-tiba berubah saat baru menyadari perkataan yang baru saja keluar dari dalam mulutnya, bagaimana pipi Manisya tiba-tiba berubah menjadi merona saat melihat tatapan Adam kala itu, Adam juga melihatnya. Ada sebuah perasaan terharu dan senang saat mendengarnya, namun masih bisa ia sembunyikan.
__ADS_1
Rasa malunya yang begitu besar, akhirnya Manisya memutuskan untuk menutup kembali wajahnya menggunakan kedua tangannya, Kali ini Manisya memutuskan untuk berlari kembali menjauhi Adam, merasa tak sanggup lagi jika harus berhadapan dengan lelaki yang selalu bersemi di dalam hatinya selama tiga tahun ini.
Adam tak mengalihkan pandangannya saat Manisya berlari menghindarinya.
"Wanita bodoh!" kemudian Adam berteriak kepada Manisya. "Itu bukan arah menuju pintu Masuk!"
Mendengar teriakan Adam, Manisya seketika menghentikan langkahnya, berbalik arah sambil menundukkan kepalanya, ia masih menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
"Bisa kamu tunjukan jalannya?" Tanya Manisya kepada Adam dengan tangan masih menutupi wajahnya.
"Tidak!"
"Jangan pelit, cepatlah!"
"Tidak!"
"Tolonglah, tunjukan pintu masuknya kepadaku!"
"Akan aku perlihatkan!"
"Perlihtakan dulu wajahmu!"
"Aku sedang tidak ingin memperlihatkan wajahku, aku sungguh malu!" Jawab Manisya.
"Baiklah, aku akan mencarinya sendiri!" Manisya pun memilih berlari meninggalkan Adam sendiri, di bandingkan harus memperlihatkan wajahnya yang tak tahu malu itu kepada Adam.
Setelah jauh dari jangkauan Adam, Manisya yang sudah membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya itu sejak meninggalkan Adam, kini terlihat sedang mencari pintu Masuk Gedung Olah Raga tersebut ia melihat seorang laki - laki yang tengah duduk berpangku kaki pada sebuah kursi.
"Permisi Mas, mau tanya, kalau pintu masuknya di sebelah Mana ya?" tanya Manisya dengan penuh sopan santun bertanya kepada Pria Muda tersebut.
"Mau nonton mba?"
"Iya Mas!"
"Di sebelah sana!" Pria tersebut menunjukkan arah pintu Masuk Gedung Olahraga.
Terlihat Para pengunjung yang sedang mengantri di pintu masuk gedung itu, seorang penjaga terlihat sedang memeriksa sebuah tiket yang dipegang oleh para pengunjung, ada yang membawa tiket secara manual dan ada pula yang memperlihatkan tiket onlinenya melalui layar ponsel para pengunjung, yang kemudian di tempelkan pada sebuah benda yang membuat pintu penghalang menjadi terbuka.
"Ya ampun, bagaimana cara aku masuk? aku tidak punya tiket!" Manisya yang telah memasuki barisan mulai terlihat panik, tubuh Manisya kini di selimuti oleh keringat dingin.
Manisya mencoba melakukan sebuah panggilan pada Nina, namun tidak mendapat jawaban, melekukan sebuah panggilan pada Rangga juga sudah ia lakukan, namun hasilnya sama saja, tidak mendapat sebuah jawaban.
Manisya terdiam menatap layar ponselnya dengan sebuah kontak bernama "Adam!" Dengan penuh keraguan, Manisya hendak menekan tombol panggilan pada kontak tersebut, namun ia urungkan saat detak jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang.
"Ah sudahlah, Mungkin lebih baik aku pulang." Bisik Manisya di dalam hati kecilnya.
Saat tiba giliran Manisya, untuk memperlihatkan tiket masuknya,
"Maaf Pak Saya tidak..!" Kata-kata Manisya terpotong oleh seseorang yang tiba-tiba menyerobot datang ke arahnya.
kemudian memperlihatkan sebuah tiket kepada petugas penjaga pintu melalui layar ponselnya nya dan setelah itu menempelkannya pada sebuah benda hingga membuat sebuah penghalang pintu terbuka.
"Itu tiket miliknya!" Laki-laki tersebut memberi sebuah penjelasan kepada petugas penjaga pintu. Dan Manisya begitu bahagianya melihat seorang laki-laki yang tentu saja ia sangat mengenalnya, ia adalah Adam yang sejak dari tadi berada di dalam barisan, hanya terhalang oleh tiga orang pengantri di depannya.
Saat itu, sebuah perasaan berkecamuk di dalam dada Manisya, perasan senang, terharu, dan sebuah perasaan yang tentu saja akan bertumbuh besar jika di perlakukan seperti itu. Manisya tak mengalihkan pandangannya pada Adam, ia menatap Adam dengan mata yang berbinar-binar dengan sebuah senyuman yang tersungging di bibir tipisnya.
"Makasih Adam!" ucap Manisya tak menghilangkan senyumannya.
Sebetulnya Adam tidak perlu ikut mengantri untuk memasuki area gedung tersebut, ia hanya cukup menunjukkan sebuah kartu anggota miliknya, dan ia akan bisa masuk melalui pintu para pemain, namun karena tiket Manisya ada padanya dan sebetulnya rasa khawatir nya lah yang lebih utama kepada Manisya, ia memutuskan untuk mengikutinya.
Adam tak menghiraukan perkataan Manisya, ia hanya menatap ke arah Manisya hanya sesaat.
Saat Adam dan Manisya hendak memasuki gedung tersebut, terdengar sebuah teriakan menyebut nama seseorang, seseorang yang sering ia panggil, dalam mimpi maupun setiap waktu.
"Adam!" "Kak Adam!" "Adam!" "Kak Adam!"
Manisya menengok ke arah panggilan tersebut, melihat segerombolan wanita yang cantik memangg-manggil nama laki-laki yang kini berada di pinggirnya itu, da perasan cemburu menyeruak dalam hati Manisya.
__ADS_1
"Ternyata kamu itu sangat terkenal ya?" ucap Manisya sambil melangkahkan kakiknya, namun ucapan dirinya tak mendapat respon dari Adam.
"Tentu saja!" Jawab Adam tanpa sebuah ekspresi di wajahnya.
"Gua keruang ganti dulu!" ucap Adam sambil menatap ke arah Manisya.
"Iyah!" Manisya menatap ke arah Manisya kemudian melambaikan tangannya.
"Semoga berhasil!" Manisya mengepalkan tangannya menyemangati Adam yang kala itu akan ikut berpartisipasi dalam pertandingan Basket antar sekolah.
Adam yang telah melangkah beberapa langkah menjauhi Manisya, tiba-tiba berbalik arah mendekati Manisya, Manisya yang kala itu tengah memperhatikan Adam, merasa terkejut karena Adam berbalik arah berjalan ke arahnya, Adam membisikan sesuatu di telinga Manisya.
"Kalo Lo berbuat Ulah, Lo akan rasain akibatnya!" ucap Adam berbisik di telinga Manisya, setelah itu ia melangkah kan kembali kakinya menjauhi Manisya.
Manisya pun berjalan sendiri mencari tempat duduk Miliknya berdasarkan tiket yang sudah Adam berikan kepadanya melalui layar ponsel miliknya, dan tak butuh waktu lama untuk Manisya mendapatkan tempat duduk Miliknya, Manisya memutar matanya mencari Nina atau bahkan mencari siapa pun yang ia kenal atau seseorang dengan seragam yang sama dengan miliknya, namun semuanya nihil.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya para pemain masuk kedalam area pertandingan, mereka menyapa para penonton dengan cara mereka, Manisya tersenyum lebar saat ia melihat Adam berada di sana, ia bertepuk tangan dengan penuh suka cita.
Sebetulnya, Manisya tidak terlalu paham cara bermain basket, yang ia tahu jika bola masuk kedalam Ring basket lawan itu tandanya masuk, dalam bertandingan basket selama ini yang ia lihat hanyalah bagaimana cara Adam bermain, dan bagaimana ia menyemangati pujaan hatinya itu bermain, walaupun sebetulnya itu tidak berpengaruh banyak untuk Adam yang memang terkenal di kalangan para murid Bahakan di luar sekolah mereka soal keahlian Adam dalam bermain basket.
"Adam!" Manisya berteriak, Manisya membelalakkan kedua matanya, dan ia begitu kaget ternyata teriakannya memanggil Adam tidak seberapa di banding dengan teriakan segerombolan wanita yang berada tepat di pinggirnya.
Manisya melirik ke arah gerombolan wanita itu, di tatapnya mereka, kulit putih, cantik, dan seksi, dan satu hal lagi penampilan mereka yang anggun menambah rasa cemburu yang menyelimuti perasaan Manisya.
Manisya menundukkan sedikit kepalanya, sesaat setelah menatap para gadis yang berteriak nama Adam di dekatnya.
"Kamu barusan panggil nama Adam juga ya!" ucap salah satu wanita yang duduk dekat dengan Manisya.
"Kamu mendengarnya?" tanya Manisya kepada wanita dengan paras cantik tersebut.
"Tentu saja aku dengar, kamu berteriak sangat kencang!" Jawab Wanita tersebut.
"Sejak kapan kamu suka sama dia!" tanya wanita tersebut dengan begitu berterus terang.
"Sejak..!" Belum selesai Manisya berucap, tiba-tiba wanita cantik lainnya, ikut menyerobot bertanya kepada Manisya saat itu.
"Kamu memakai seragam sekolah dengan Adam deh kayaknya?, kamu teman sekolahnya juga?" potong wanita tersebut.
"Kamu temennya Adam?" wanita cantik lainnya ikut juga dalam percakapan.
"Si Adam gimana si sekolah?" Belum juga Manisya menjawab satu pertanyaan di antara mereka, pertanyaan-pertanyaan lainnya tiba-tiba saja muncul tanpa sebuah aba-aba, membuat Manisya kebingungan harus menjawab yang mana dulu.
"Aku dengar dia anak orang kaya ya?"
"Katanya dia juga pintar banget ya di sekolah?"
"Hehe!" Senyum terpaksa Manisya akhirnya keluar.
"Boleh tidak pertanyaan satu-persatu, aku jadi kesulitan mengingat pertanyaan-pertanyaan kalian." Manisya masih melebarkan senyuman yang melebar secara terpaksa kepada gerombolan-gerombolan wanita cantik tersebut.
"Apa kamu punya nomor ponselnya?"
"Apa dia punya pacar di sekolah? bagaimana bentuk pacarnya?" Pertanyaan-pertanyaan Masih terlontar pada Manisya, membuat kepala Manisya terasa berputar.
"Tunggu-tunggu, aku akan menjelaskan pertanyaan kalian secara singkat!"
"Adam itu, dia teman sekelas ku, tentu saja aku punya nomor ponsel miliknya, di sekolah dia sangat pintar, boleh di bilang sangat jenius, dan Adam, dia, dia punya pacar!"
"Dia punya pacar?" tanya gerombolan wanita cantik itu secara bersamaan.
"Iyah, dia punya pacar!" Jawab Manisya.
"Siapa Pacarnya?" Tanya salah satu wanita cantik itu.
Hening sesaat sebelum akhirnya Manisya menjawab dengan penuh kepercayaan diri.
"Aku!"
__ADS_1