Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Mengelak Cemburu


__ADS_3

"Kamu tahu, kamu sangat tampan jika sedang cemburu!"


Manisya mendaratkan sebuah ciuman di pipi Adam.


Adam sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Manisya, Adam hanya mematung dengan kedua tangannya dipegang oleh Manisya, kedua bola matanya pun ikut membulat saat bibir tipis Manisya menyentuh pipinya.


Setelah itu Manisya segera melepaskan tangan Adam yang dia pegang sedari tadi.


"Apa yang kamu lakukan barusan, kamu tidak takut jika Gibran sedang memperhatikan kita dari balik jendela rumahmu!"


"Apa itu benar!" Seketika wajah Manisya berubah menjadi ketakutan, ia celingukan menatap ke arah rumahnya memastikan jika Gibran tidak sedang memperhatikannya dari balik jendela rumahnya.


"Aku bilang mungkin saja!" Adam mengangkat kedua bahunya di sertai dengan kedua tangannya yang terangkat.


"Kamu membuatku ketakutan, Aku bisa mati jika dia mengetahuinya, bagaimana inih!"


Ucap Manisya dengan wajah khawatirnya.


"Kan aku bilang, mungkin saja, artinya mungkin dia tidak melihatnya!" Adam tersenyum meledek kepada Manisya.


"Ish, orang cemburu itu ternyata menyebalkan!" Manisya memusatkan pandangannya pada salah satu sisi, merasa kesal dengan perkataan Adam.


"Aku tidak cemburu dengannya!" Adam masih mempertahankan keyakinannya.


Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Adam.


"Iyah, Iyah, kamu tidak cemburu!" Dengan sebuah senyuman di bibirnya, Manisya mengiyakan ucapan Adam yang masih menyangkal jika dirinya cemburu pada Bara.


"Aku berkata serius, aku tidak cemburu!" Ucap Adam lebih meyakinkan perkataannya pada Manisya, ia melihat Manisya seperti masih tidak percaya akan ucapannya.


"Iyah, iya!" Manisya tak ingin memperpanjang permasalahan dengan Adam, namun dalam hatinya ia masih yakin jika Adam memang sedang cemburu.


"Kamu tahu, Bara itu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, seperti Gibran, jadi, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan!" Tutur Manisya dengan tangannya memegang tangan Adam, ia berusaha yakinkan Adam untuk tidak cemburu kepada Bara yang sudah ia anggap sebagai seorang adik itu.


"Aku tidak perduli!"Jawab Adam yang masih belum menerima jika ia sedang diliputi perasaan cemburu kepada Bara.


"Ya sudah kalau begitu!" Manisya memutuskan tak memperpanjang hal tersebut.


Saat itu Adam hendak membuka pintu mobilnya, namun ia tutup kembali, berbalik badan menatap Manisya,


"Hati-hati ya, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku!" Manisya mengucapkan salam perpisahan kepada Adam.


"Iyah, Masuklah ini sangat dingin!"


"Ya, aku akan segera masuk setelah melihatmu pergi!" Ucap Manisya.


"Tidak, aku akan pulang jika aku sudah melihat mu masuk kedalam rumah!" Jawab Adam, tak ingin Manisya berdiri dengan di selimuti angin dingin, merasa khawatir dengan ke adaan Manisya yang baru saja sembuh dari sakitnya.


"Masuklah!" Ucap Adam.


"Tapi...!" Perkataan Manisya terpotong oleh ucapan Adam kepadanya.


"Tidak, ada tapi-tapian, masuklah!" Adam berusaha mendorong Manisya agar berjalan masuk kedalam rumahnya.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan ya Adam!" Manisya melambaikan tangannya kepada Adam kemudian berlalu meninggalkan Adam yang masih berdiri di depan pinggir mobil merah yang merupakan miliknya, Adam tak melepaskan tatapannya kepada Manisya, dengan tangannya ia lambaikan sebagai tanda sebuah perpisahan.


"Cepat Masuklah!" Teriak Adam.


Manisya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya, setelah itu ia menutup pintu rumahnya kemudian masuk ke dalam rumah.


Setelah melihat Manisya yang sudah masuk ke dalam rumahnya Adam segera masuk ke dalam mobil merah yang terparkir di hadapannya, dan segera menyalakan mesin mobil, setelah itu melajukkan nya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Setiap pulang dari rumah ku dia selalu membawa mobilnya dengan sangat kencang!" Dari balik kaca jendela rumahnya, Manisya berucap, ada rasa khawatir yang tiba-tiba menyelimuti perasaanya saat itu.


***


Ke esokan harinya.


Manisya datang ke sekolah pagi sekali, dengan senyum cerianya terpancar dari wajahnya pagi itu, tangan kanannya terlihat memegang sebuah paper bag berwarna pink, paper bag itu tak lain berisi baju dan jaket Adam yang sempat di pinjamkan Adam kepadanya.


"Sangat sepi sekali" Manisya terlihat berhasil melewati pintu kelasnya, namun saat itu langkah kakinya tak mengarah pada bangku miliknya, melainkan bangku Adam lah langkah kakinya mengarah, senyumannya terlihat melebar saat tangannya berhasil memegang sebuah kursi yang masih tak terlihat pemiliknya itu.


"Memegang bangkunya saja aku sangat senang." Manisya mengusap-usap kursi Asam menggunakan tangannya dengan sebuah senyuman lebar di bibirnya, kemudian di simpannya paper bag yang sedari tadi ia jinjing menggunakan tangan kanannya.


"Makasih Adam!" Ucap Manisya dengan menyimpan paper bag di atas kursi secara hati-hati, di betulkan pula posisi paper bag itu saat Manisya melihat ada ketidak sesuaian bentuk paper bag.


"Ya seperti ini, selamat kembali pada Adam ya, jaga dia baik-baik!" Secara perlahan Manisya menepuk-nepuk paper bag itu, senyuman pada bibir tipisnya pun tak terlihat mengendur saat itu. Manisya pun segera membalikan badannya hendak melangkah pada kursi miliknya, namun langkah kaki Manisya terhenti saat seseorang yang tengah berdiri menatap ke arahnya dengan berpangku tangan serta menggelengkan kepalanya kepada Manisya.


"Bodoh!"


Seketika kedua pipi Manisya berubah warna menjadi merah merona. Ia terkejut saat melihat Adam tengah menatap nya saat itu.


"Adam!" Manisya yang kaget hanya berdiri mematung dengan tatapan bulat kedua bola matanya masih melihat kepada Adam yang sejak dari tadi memang memperhatikan tingkah Manisya.


Manisya segera mengalihkan pandangannya dari Adam, segera melangkahkan kakinya ke tempat duduk miliknya, Adam mengangkat paper bag yang Manisya simpan di atas kursi miliknya, kemudian berjalan mendekati Manisya yang kini terlihat sedang berusaha mengalihkan pandangan darinya karena perasaan malu yang menghampirinya saat itu.


"Jangan ke sini!" Teriak Manisya, sambil menutup mukanya karena perasaan malunya pada Adam.


"Ada apa dengan wajahmu?"


Adam yang sudah mendekat ke arah Manisya berusaha untuk membuka tangan yang menutup wajahnya, Manisya masih berusaha untuk mempertahankan tangannya agar tetap menutupi wajahnya, namun tangan kuat Adam berhasil membuka pertahanan tangan Manisya yang menutupinya, terlihat kedua Manisya yang sengaja ia pejamkan saat tangan Adam berhasil merobohkan telapak tangan Manisya yang menutupi mukanya, tak sanggup rasanya untuk Manisya menatap Adam saat itu, akibat ulah bodohnya sendiri.


Adam menatap dalam wajah Manisya, sebelum akhirnya senyuman di bibirnya terlihat tanpa di ketahui siapapun, senyuman yang akhir-akhir ini sering Manisya lihat di kedua sudut bibirnya itu, Manisya masih enggan membuka kedua matanya, perasaan malunya masih tersisa dalam benaknya.


Tangan Adam kala itu masih memegang tangan Manisya.


Manisya membuka kedua matanya secara perlahan, saat menyadari bagian atas rambutnya sedikit berantakan, ia kemudian segera merapihkan nya, dengan matanya ia alihkan ke salah satu sudut masih tak berani menatap Adam.


"Berantakan tahu!" Protes Manisya.


"Apa yang kamu bicarakan tadi pada kursi itu!" Tanya Adam yang kini tengah duduk di depan Manisya tepatnya di sebuah meja, Adam mencoba mengetes.


"Tidak ada!" Dengan kerutan di bibirnya Manisya menjawab pertanyaan Adam, tak ingin hal itu di bahas kembali.


"Aku sudah mendengarnya!" Ucap Adam menatap Manisya.


"Kalau sudah tahu kenapa masih menanyakannya?" Protes Manisya, dengan mengedepankan bibirnya, kini kedua matanya ia beranikan untuk menatap Adam.


"Aku hanya ingin mendengarnya langsung, tadi kan kamu bicaranya sama kursi!"


"Tapi aku tidak ingin membahasnya lagi, aku tidak ingin mengatakannya!" Ucap Manisya dengan tatapan seriusnya pada Adam, sebetulnya ia merasa malu, karena untuk kesekian kalinya Adam berhasil memergokinya melakukan hal yang sangat memalukan.


"Baiklah, kali ini aku akan melepaskan mu!" Dengan memposisikan badannya untuk turun dari meja, setelah itu Adam melangkahkan kakinya ke dekat kursi miliknya, di ambilnya paper bag dari Manisya yang kini tersimpan di atas kursi, kemudian menghampiri Manisya kembali.


"Apa kamu membawa jaket?" Adam terlihat celingukan mengintip tas Manisya yang saat itu tengah ia simpan di atas meja dengan bagian dalamnya terlihat terbuka.


"Kamu tidak membawanya kan?" tanya Adam lagi, masih mencari sesuatu dalam tas milik Manisya.


"Aku gak bawa, untuk apa?"


"Aku hari ini membawa motor, pakai lah ini!" mengambil sebuah jaket dari dalam paper bag kepada Manisya.


"Tapi aku kan baru saja mengembalikan nya kepadamu!" Ucap Manisya sambil menerima jaket yang Adam berikan kepadanya.

__ADS_1


"Kamu boleh memilikinya kalau mau!" Ucap Adam sambil berlalu ke meja nya dengan paper bag nya masih ada di tangannya.


"Benarkah? Ini untukku?" Mata Manisya seketika membulat mendengar perkataan Adam, ia begitu senang saat Adam mengatakan jika jaket yang sering Adam gunakan itu boleh ia miliki, Manisya dengan segera memeluk jaket yang Adam berikan kepadanya, dengan senyuman lebarnya berhasil terlihat oleh Adam saat ia menengok ke arah Manisya, melihat gadis berambut pendek itu tengah bahagia memeluk jaket miliknya.


"Harusnya kamu memeluk orang yang memberikan jaket itu kepadamu, bukan malah memeluk jaketnya seperti itu!" Protes Adam sambil duduk di kursi miliknya dengan tatapan tak ia alihkan dari Manisya.


Manisya melihat ke arah Adam, tak menghiraukan ucapan Adam kepadanya, dengan senyuman dari balik bibirnya menatap Adam.


"Kamu ingin aku peluk?" Manisya menatap ke sekitar, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak boleh, ini di kelas!" Manisya Menggoda Adam yang sudah menganggukkan kepalanya.


"Awas saja!" Ucap Adam dengan sebuah tatapan tajam memberi peringatan kepada Manisya.


"Hehe, Terimakasih, benar ya ini untukku, aku sangat senang!" Masih memperlihatkan senyuman lebarnya dengan memeluk jaket yang Adam berikan.


Adam menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Manisya.


"Dasar wanita!" Ucap Adam sambil menatap Manisya, ia melihat raut wajah Manisya yang terlihat bahagia saat itu, membuat perasaannya ikut merasa bahagia pula.


"Kalian pagi-pagi sudah pacaran!" teriak Rangga dari balik pintu menatap ke arah Manisya dan Adam, kemudian Rangga berjalan mendekati kursi Manisya menatapnya mencoba menyelidiki sesuatu.


"Siapa yang pacaran!" Ucap Manisya dengan mengerutkan bibirnya, dengan tangannya sibuk memasukkan jaket yang di berikan Adam ke dalam tas nya, tak ingin Rangga melihatnya.


"Hei Gadis Manis, Apa yang sudah kalian bicarakan barusan, aku mencium sesuatu!" Ucap Rangga dengan menatap ke arah Rangga namun posisinya berada di hadapan Manisya.


"Manis..!" Perkataan Rangga terpotong oleh ucapan Adam kepadanya.


"Jangan memanggilnya seperti itu!" Ucap Adam dengan menatap tajam ke arah Rangga.


Rangga terlihat gagal memahami perkataan Adam.


Manisya memberikan sebuah isyarat kepada Adam dengan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk tidak berkata seperti itu kepada Rangga.


"Apa maksudmu?" Rangga balik bertanya kepada Adam.


"Tidak, tidak, sepertinya Adam salah bicara!" Manisya berusaha membantu Adam.


"Gua bilang Gua gak suka jika Lo memanggilnya dengan sebutan Manis, Manisya, atau Gadis, atau Gadis Manis!" Jelas Adam kepada. Rangga.


Manisya terlihat membulatkan kedua bola matanya saat Adam menjelaskan kepada Rangga apa maksud dari perkataannya.


Rangga diam dalam kebisuan untuk sesaat, mencoba mencerna maksud perkataan Adam kepadanya.


"Lantas aku harus panggil dia dengan sebutan apa?" Rangga terlihat bingung saat itu.


"Bukankah Manisya, Gadis, Aralan itu kan nama aslinya dia, dan aku sudah memanggilnya seperti itu, bahkan sejak pertama kali bertemu dengannya!" Jelas Rangga kepada Adam, namun saat itu dalam fikiran Rangga masih berputar mencari Jawaban atas apa yang Adam katakan kepadanya.


"Panggil saja dia Aralan!" Ucap Adam, dengan pandangan lurus kedepan.


"Aralan? Hei Aralan itukan bokapnya dia, kalau gua manggil dia pake Aralan, nanti di kira manggil-manggil bapaknya" Protes Rangga kepada Adam.


"Panggil dia Ara!" Ucap Adam menatap tajam ke arah Rangga.


"Ara?" Tanya Rangga dengan menatap tajam ke arah Adam.


"Sebenarnya ada apa sih Lo, sampai Gua harus ganti panggilan si Manis!" Rangga menatap ke arah Rangga.


"Tidak ada, kuping Gua hanya sakit kalau Lo manggil-manggil namanya ga jelas!" Ucap Adam dengan pandangan lurus kedepan.


Rangga terdiam untuk sesaat, dan Manisya hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan mengarah kepada Rangga.

__ADS_1


Rangga terlihat mengangkat salah satu alisnya, ia kemudian berjalan mendekati Adam, di tatapnya Adam dengan menggunakan kedua bola matanya dengan tajam, sebelum akhirnya,


"Haha haha haha haha haha!" Rangga menunjuk Adam dengan tertawa terpingkal-pingkal.


__ADS_2