Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Membuat Telinga Sakit


__ADS_3

"Aku minta maaf." Kata yang keluar dari mulut Manisya seraya menegakkan kepalanya mengarah kepada Adam yang masih menatap Manisya.


"Untuk apa Lo minta maaf?" tanya Adam kepada Manisya dengan tak merubah raut mukanya.


"Maaf aku sudah marah-marah sama kamu!" jawab Manisya memberikan penjelasan.


"Gak akan Gua maafkan," Jawab Adam mencoba memancing Manisya kembali.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkan aku?" tanya Manisya memberi sebuah kesempatan yang memang sedang di tunggu oleh Adam, wanita yang berada di hadapannya kini adalah wanita yang gampang sekali ia tebak jalan fikirannya.


Adam menarik salah satu sudut bibirnya kemudian berkata, "Dengan satu syarat!" Kata Adam menatap Manisya dengan penuh serius.


"Dengarkan baik-baik!" Perintah Adam kepada Manisya, dan Manisya pun sedikit menyondongkan badannya, mengikuti perintah Adam yang hendak menjelaskan sesuatu


Adam yang kala itu sedang memainkan sebuah garpu yang berada di atas piring, menyimpan garpu tersebut secara perlahan, kemudian Adam menyilangkan kedua tangannya ke atas dadanya sebelum akhirnya Adam berbicara kepada Manisya.


"Jangan biarkan Baron manggil Nama Lo dengan sebutan Manis, Manisya, Gadis, apapun itu yang berhubungan dengan Nama depan dan nama tengah Lo!" kata Adam penuh keseriusan di raut wajahnya saat menjelaskan kepada Manisya.


Manisya menarik kembali badannya sesaat setelah mendengar apa yang di katakan Adam kepadanya. Raut muka Manisya nampak sebuah kebingungan di sana, Manisya mengerutkan dahi miliknya serta memajukan kedua mulutnya, ia mencoba mencari jawaban atas perkataan Adam barusan, namun Manisya gagal memahaminya.


"Apa namaku begitu buruk, hingga kamu tidak ingin mendengar namaku di panggil oleh orang lain?" tanya Manisya dengan raut wajah penuh kebingungan.


Adam menatap ke arah Manisya sebelum akhirnya menjawab perkataan Manisya.


"Sangat buruk, membuat telinga Gua sakit setiap kali mendengar panggilan itu!" Jawab Adam membuat hati Manisya tiba-tiba merasa berdegup merasakan sakit akibat penjelasan Adam.


"Tapi aku tidak mungkin mengganti namaku, itu pemberian ayah dan ibuku, dan aku sangat menyukainya!" Jawab Manisya membela dirinya, dengan menahan rasa sakit dalam hatinya.


"Gak ada yang salah sama nama Lo!" Jawab Adam mulai memainkan Garpunya kembali dengan wajahnya mengarah kepada Manisya.


"Terus?" tanya Manisya semakin kebingungan dengan arah perkataan Manisya.


"Sudahlah!" Jawab Adam dengan sedikit menyentak kepada Manisya, dengan tangan kanannya yang mulai menghentikan aktivitas memainkan sebuah garpu.


Adam tak berkata lagi, ia kembali menyilangkan kedua tangannya di atas dada sambil menatap ke arah Manisya, menunggu sebuah jawaban.

__ADS_1


"Tapi itu sulit, itu kan nama Aku." kata Manisya memberi sebuah jawaban kepada Adam.


Adam tak menanggapi perkataan Manisya, ia masih dengan posisi yang sama menatap tajam ke arah Manisya, seolah tak menerima jawaban yang lain selain jawaban iya atas permintaan Adam yang menurut Manisya begitu sulit tersebut.


"Baiklah akan Aku usahakan!" Jawab Manisya membalas tatapan Adam kemudian memajukan kedua bibir Manisya di hadapan Adam, walaupun di dalam hatinya Manisya masih ragu jika ia bisa melakukan permintaan Adam yang menurutnya sangat aneh itu.


"Bagaimana jika aku tidak bisa?" Jawab Manisya saat berfikir jika Baron adalah orang yang berbeda.


"Lo akan tau nanti!" Jawab Adam dengan tatapan mengancam kepada Manisya, hal itu selalu bisa membuat Manisya merinding ketakutan.


"Baiklah!" Jawab Manisya dengan memperlihatkan raut muka penuh keraguan.


"Bagaimana jika Baron tidak ingin melakukannya?" tanya Manisya kembali.


"Itu urusan Lo, ada sebuah hukuman yang akan Lo terima, jika Baron masih manggil Nama depan ataupun nama tengah Lo!" Adam menjelaskan kembali.


"Satu hal lagi!" kata Adam kepada Manisya merubah posisi duduknya, ia condongkan badannya ke depan mendekat ke arah Manisya dengan tangannya masih menyilang tepat di depan dadanya.


"Jangan biarkan orang lain tahu tentang hal ini!" Adam berkata dengan sebuah nada peringatan kepada Manisya.


"Tunggu akibatnya jika sampai ada seorangpun yang tahu akan hal itu!" Jawab Adam tak memberi alasan yang jelas kepada Manisya.


"Baiklah" Jawab Manisya kemudian mengerutkan kedua bibirnya secara bersamaan.


"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu!" Manisya mengikuti gaya Adam menyilangkan kedua tangan di dadanya, kemudian menyenderkan punggungnya di kursi yang ia duduki.


"Gua gak mau jawab!" Adam menyerobot perkataan Manisya yang belum selesai berbicara.


Manisya berdesah kesal, saat mendengar perkataan Adam tanpa mendengar pertanyaan Manisya terlebih dahulu.


"Kamu menyebalkan!" Kata Manisya dengan memposisikan matanya ke salah satu sudut, kedua bibirnya ia majukan dengan tangan yang masih menyilang.


Saat itu Manisya hendak menanyakan perihal alasan kenapa Adam menciumnya saat di dalam mobil, karena alasan yang Adam berikan belum menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya.


Tingkah Manisya yang sedang kesal, lagi-lagi membuat Adam menarik salah satu sudut bibirnya yang berhasil ia sembunyikan di hadapan Manisya.

__ADS_1


Saat Adam dan Manisya sedang saling menatap, Adam berdiri menyondongkan lagi badannya lebih dekat ke arah Manisya, kemudian Adam membuka salah satu tangan yang masih menyilang di dadanya itu.


"Mendekatkan!" Perintah Adam kepada Manisya yang kala itu sedang menatap ke arah Adam di baluti sebuah pertanyaan dalam hatinya.


"Mau ngapain sih dia". Manisya mengikuti perkataan Adam, mendekatkan Kepalanya ke tangan Adam. Adam mengarahkan telunjuknya pada dahi Manisya yang masih terlihat merah akibat ulah Adam, kemudian Adam memegang bagian dahi Manisya yang masih nampak merah tersebut.


"Aaw," Rintih Manisya saat tangan Adam menempel di dahinya.


"Apa itu masih sakit?" Adam berkata sambil memposisikan badannya ke semula.


"Tidak, sedikitpun tidak sakit!" jawaban Manisya memajukan bibirnya sambil mengusap dahinya yang masih terasa sakit itu.


"Kalau begitu coba Gua cek lagi." Adam menyondongkan lagi badannya hendak menempelkan lagi tangannya ke dahi Manisya.


"Tidak tidak, ini masih terasa sakit sedikit, hanya sedikit!" jawab Manisya sambil menutup dahinya dengan kedua telapak tangannya, tak ingin Adam menyentuh dahinya kembali.


Adam duduk kembali di kursi seperti sebelumnya, ia menarik salah satu sudut bibirnya saat Manisya terlihat ketakutan karena ulah dirinya.


"Eh sorry Bro, Gua tadi keluar dulu, jemput sepupu Gua yang baru nyampe!" Baron akhirnya datang kembali setelah beberapa saat ia berpamitan hendak pergi ke toilet.


"Gua gak perduli" Jawab Adam dengan muka tanpa ekspresi nya.


"Ya elah Lo Dam." Baron yang sudah terbiasa dengan perkataan Adam yang seperti itu, menganggap hal tersebut adalah hal yang biasa. Baron tak ambil pusing perkataan Adam, ia kemudian mengambil posisi duduknya dekat dengan Manisya, di mana tas miliknya sudah tergeletak di sana, Baron mengangkat tas miliknya kemudian menduduki kursi tersebut.


"Mana sepupu nya?" tanya Manisya kepada Baron yang merasa heran tidak nampak sepupunya di sana.


"Dia lagi di tioilet." Jawab Baron kepada Manisya.


"Kalian sudah selesai makan?" tanya Baron menatap ke arah Manisya kemudian ke arah Adam.


"Punya mata ga Lo!" Jawab Adam tanpa basa-basi kepada Baron.


"Lo yang bayar ya!" Kata Baron menanggapi perkataan Adam, namun Adam tak menjawab perkataan Baron.


"Hai semuanya!"

__ADS_1


__ADS_2