
Sesampainya di kantor, Manisya dan Mona langsung membagikan Kopi pesanan milik teman-temannya.
"Untuk mu!" Ucap Manisya memberikan kopi hangat yang tidak dipesan oleh Adam.
Adam menatap kopi pemberian Manisya yang tersimpan di atas meja itu.
"Aku tidak memesannya!" Jawab Adam.
Mendengar ucapan Adam membuat Manisya sedikit terkejut, Ia membalikan badannya yang sudah berbalik arah membelakangi Adam hendak mengambil minuman yang terlanjur ia simpan di atas meja Adam, ada perasaan sedih berputar dalam hatinya saat Adam menolak secara mentah-mentah kopi pemberiannya.
Saat Manisya hendak mengambil kopinya, "Kalau begitu untukku saja, ucap Bagas sambil mengambil alih kopi yang tergeletak di atas meja kerja Adam!"
Bagas menerima tatapan tajam dari Adam.
"Kamu bilang tadi tidak menginginkannya kan, jadi untukku saja!"
Adam mengambil alih minuman tersebut dari tangan Bagas, kemudian berdiri dan memberikannya kepada Mona yang sedang di meja kerjanya.
"Untukmu!" Ucap Adam tanpa basa-basi setelah itu kembali duduk seakan tak ada yang terjadi.
Mona pun hanya menerima pemberian Adam sambil mengangguk bingung.
"Lo itu memang menyebalkan!" Ucap Bagas sambil berlalu pergi dari meja Adam.
Manisya hanya tersenyum menyaksikan Adam yang bertingkah ke kanak-kanakkan saat itu, setelah itu berlalu pergi meninggalkan meja Adam, untuk kembali ke mejanya.
"Aku kayaknya kebanyakan minum kopi, abisin sendiri sama kamu!" Mona menyimpan kopi pemberian Adam di atas meja Manisya yang berada di tangannya itu.
"Ya sudah nanti aku habiskan!" Pada akhirnya Manisya mengalah untuk menerima kembali kopi yang awalnya akan ia berikan kepada Adam.
"Kamu lihat, pak Bagas juga sangat takut kepada Adam!" bisik Mona, Manisya membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Sepertinya tidak begitu!" Jawab Manisya sambil menutup bibir Mona yang hendak berkata kembali, karena sebetulnya ia khawatir jika perkataannya terdengar oleh Adam yang tempat duduknya tepat berada di depan Manisya.
"Kamu beneran ga mau ini?" Menyodorkan kembali kopi yang mulai dingin kehadapan Mona.
"Lihat punyaku masih penuh!" Ucap Mona sambil memperlihatkan kopi miliknya kepada Manisya.
"Sama punyaku juga masih banyak, kalau begitu biar buat nanti saja, meminum dua kopi sekaligus biar semangat!"
"Bair awet muda!" Mona menambahkan.
Mereka pun tertawa bersama.
Ditengah pekerjaan mereka, tiba-tiba Mona berbisik kepada Manisya, "Kamu lihat tadi Pak Bagas terlihat sangat ketakutan kepadanya!"
"Kapan?"
"Saat merebut kopi milikmu!"
"Aku rasa tidak, sepertinya mereka sangat akrab!"
"Aku yakin tidak seperti itu!" Mona masih merasa mengingat tatapan dingin Adam.
Ya mereka berbisik namun Adam masih bisa mendengar pembicaraan mereka karena pendengaran nya yang sangat tajam.
Hari itu setumpuk pekerjaan tersimpan di meja Manisya, ia sangat terlihat sibuk dalam pekerjaannya hingga tak menyadari beberapa kali Adam mencuri pandang melihat ke arahnya.
Siang harinya, Manisya terlihat Baru saja selesai melakukan makan siang bersama Mona.
"Kamu melihat kopi ku?"
"Kopi?"
"Iyah!"
"Tadi ada di sana!"
"Aneh sekali, tadi ada di sini!" Ucap Manisya.
"Kamu lupa ga?"
"Engga sama sekali! sama aku benar-benar di simpan di sini tadi, sayang sekali!" Manisya Merengutkan wajahnya.
Saya itu semua karyawan yang berada di dalam kantor terlihat sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing tiba-tiba Bapak Manajer datang dari ruangannya.
"Malam Nanti kita akan mengadakan makan malam bersama!"
"Kalau boleh tahu dalam rangka apa Pak?"
"Dalam Rangka penyambutan kedatangan Adam!" Jawab Manajer.
"Kalau boleh tahu di mana Pak?" Tanya Manisya.
"Aku sudah memesankan sebuah tempat, nanti kalian tahu sendiri!" Tak memberikan sebuah jawaban kepada Manisya.
"Saya boleh ijin tidak ikut Pak? Siska tiba-tiba memotong pembicaraan, kebetulan saya ada janji!"
"Kalau kamu ga ada ga rame dong! kalau begitu kita undur saja waktunya asal bisa semuanya" Jawab sang Manajer.
"Oh tidak perlu pak kalau begitu, saya cancel aja acara saya, kebetulan tidak terlalu urgent ko Pak!"
__ADS_1
"Baik kalau begitu, terimakasih banyak!"
Manisya mengangkat tangan.
"Kenapa Manis?" Tanya Manajer.
"Saya ijin gak ikut Pak!"
"Ya sudah kalau begitu terserah kamu!"
"Makasih Pak!" Jawab Manisya.
"Kalau Siska aja yang ga ikut sewotnya minta ampun!" Mona menggerutu.
"Kalau begitu saya tidak ikut!" Kali ini Adam yang ikutan protes.
Expresi wajah manajer berubah pucat saat Adam melakukan sebuah protes.
"Manisya kamu harus ikut, pokoknya saya ga mau tahu semua harus ikut!" Ucap Manajer sambil berlalu masuk kembali ke dalam ruangannya.
"Baik!" Jawab Manisya sambil menganggukkan kepalanya sambil mengerutkan bibirnya menghadap ke arah Adam yang saat itu sedang menatapnya pula.
"Lihat kan dia menyeramkan!" Bisik Mona kepada Manisya.
"Iyah semua kata-katamu memang benar!" Jawab Manisya, ia merasa sedikit kesal kepada Adam.
***
Malam harinya, saat hendak pergi ke tempat makan.
"Aku akan ikut pak Bagas saja, sepertinya mobilnya masih kosong, kamu ikut saja denganku!" Ucap Mona, karena memang pegawai yang lainnya ada yang menggunakan motor adapula yang membawa mobil.
"Em, baiklah!" Jawab Manisya penuh keraguan.
Tiba-tiba Siska menghampiri Adam, "Adam aku ikut dengan motor mu ya!"
Adam yang kala itu sedang membereskan tasnya, sejenak menghentikan aktivitasnya kemudian menatap ke arah Siska dengan tangannya menunjuk pada Manisya. "Dia sudah lebih dulu berkata untuk menumpang motorku!" Mendengar perkataan Adam membuat Manisya membulatkan kedua bola matanya secara sempurna.
"Apa itu benar?" Bisik Mona di telinga Manisya.
Manisnya menggelengkan kepalanya, tidak terima dengan ucapan Adam.
"Benarkah kamu meminta tumpangan kepada Adam?" Giliran Siska yang bertanya pada Manisya.
"Tidak!" Jawab Manisya sambil berteriak, ia melihat dengan jelas bagaimana expresi wajah Adam mendengar ucapan Manisya, begitu kecut pasi seperti tak teraliri segar, sangat menakutkan.
"Maksudku, tidak salah lagi, aku sudah memintanya duluan untuk menaiki motor keren miliknya, aku sangat penasaran belum pernah menaiki motor sekeren itu, makannya aku meminta duluan! maafkan saya Bu Siska!" Dan akhirnya Manisya mengalah mengiyakan ucapan Adam karena ketakutan melihat tatapan tajam Adam kepadanya.
Dengan perasaan kesal Siksa berlalu dari hadapan Adam menatap ke arah Manisya dengan penuh emosi pula, sedangkan Mona, ia mengerutkan dahinya merasa ada sesuatu yang salah antara Adam dan teman satu kantornya itu.
Manisya membalas pertanyaan Mona dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya kemudian berkata. "Penciumanmu itu seperti kucing saja!"
"Katakan padaku!" desak Mona.
"Apa yang harus aku katakan! aku akan berangkat bersama laki-laki paling tampan menaiki motor kerennya! Itu maksudmu?" Jawab Manisya pura-pura tidak mengerti maksudmu perkataan Mona.
"Ah sudahlah!" Jawab Mona sambil berlalu meninggalkan ruangan karena rekan satu kantornya pun sudah tak terlihat lagi di meja kerjanya, tinggalan Adam dan Manisya berdua di dalam ruangan tersebut.
Manisya memperhatikan setiap gerak Adam di hadapannya, terlihat Adam sedang merapihkan tasnya kemudian memakai sebuah jaket pada tubuhnya.
"Ayo!" Adam mengulurkan tangannya pada Manisya.
Manisya menggelengkan kepalanya, tangannya tak menerima uluran tangan Adam, hanya merasa khawatir jika ada seseorang yang melihat mereka bersama.
Namun Adam memaksanya, menggenggam kan tangan Manisya dengan serat serta memberikan rangkulan kepada wanita itu secara hangat, di lantai tersebut sudah tak terlihat lagi karyawan selain mereka.
"Aku tidak pernah mengatakan ingin menumpang motormu!" Manisya mulai memprotes ucapan Adam yang berbohong kepada Siska saat Siska berkata ingin menumpang motor milik Adam.
"Barusan kamu mengatakannya!" Jawab Adam.
"Issh, aku kan hanya mencontohkannya!"
"Sama saja!" Jawab Adam.
"Ish kamu selalu curang!"
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu Siska untuk pergi bersamaku!" Adam membuka ponselnya terlihat ingin melakukan sebuah panggilan kepada Siska.
Segera Manisya menghalangi panggilan yang akan di lakukan Adam, mengambil alih ponsel di tangan Adam dan segera menutupnya.
"Iya iya aku ingin menumpang motormu!" Manisya mengerutkan bibirnya, tak bisa lagi membela diri setelah itu, dan Adam tentu saja tersenyum penuh kemenangan menatap Manisya.
"Aku tidak membawa motor!"
Mendengar ucapan Adam membuat Manisya mematung.
"Kamu berbohong?" Tanya Manisya dengan expresi terkejutnya.
"Tidak? aku tidak mengatakan apapun mengenai kendaraan yang aku bawa!"
"Kamu curang!"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya tidak ingin ada siapapun yang mengganggu kebersamaan kita!" Jawab Adam.
"Tetap saja!" Manisya masih tidak terima.
"Bagaimana jika mereka mencurigai kita?"
"Memangnya kenapa jika mereka tahu?" tanya Adam seolah tak perduli.
"Emm..!" Manisya tak menjawab, ia hanya tak mau jika orang-orang setelah mengetahui hubungan nya dengan Manisya memandang rendah akan Adam.
"Ini di kantor sebaiknya jangan seperti ini!" Manisya mencoba menurunkan tangan Adam yang merangkul pundaknya saat berjalan.
"Biarkan saja!" Bukannya melepaskan rangkulannya, Adam semakin mempererat rangkulan pada Manisya. Manisya yang berusaha berontak akhirnya pasrah.
Di dalam Lift.
Beruntungnya saat itu dalam lift hanya ada Manisya dan Adam berdua.
"Kamu jangan macam-macam di sini ada CCTV!" Ucap Manisya, sambil berusaha melepaskan tangan Adam dari pundaknya, ia masih mengkhawatirkan jika ada yang melihatnya.
"Bagus kalau begitu! itu akan menjadi bukti yang sah!"
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti!"
Bukannya menurunkan tangannya dari pundak Manisya, ia malah memutar tubuh Manisya menjadi berhadapan dengannya, setelah itu melingkar kan tangannya pada tubuh Manisya kemudian memeluknya, Awalnya Manisya terkejut dengan apa yang di lakukan Adam kepadanya, namun akhirnya Manisya pun membalas pelukan Adam.
"Kamu tahu, kamu sangat wangi, aku ingin memelukmu terus seperti ini!"
Dan mereka pun berpelukan sampai tiba di lantai dasar.
"Adam pintu lift nya sudah mau terbuka!" Manisya mengingat kan Adam untuk segera melepaskan pelukannya.
"Biarkan Saja!" Ucap Adam seolah tak perduli, ia masih mendekap hangat Manisya dalam pelukannya.
"Adam!"
"Pintunya benar-benar mau terbuka!"
Setelah itu Adam baru melepaskan pelukannya, namun tangannya masih menggenggam tangan Manisya, Manisya dengan sekuat tenaga melepaskan tangan Adam hingga akhirnya Adam melepaskan genggaman tangannya, mereka pun keluar dari lift dengan beberapa pasang mata menatap curiga ke arah mereka.
"Karyawan baru bukan! bukan kah itu anak dari pemilik perusahaan?" Beberapa bisikan berhasil sampai di telinga Manisya, saat itu Manisya sengaja memperlambat langkahnya agar berjauhan dari Adam, mengindari prasangka orang yang menatap ke arahnya.
"Apa perusahaan ini memang benar-benar milik orang tua Adam?" Tanya Manisya di dalam hatinya.
Adam yang sedang berjalan menuju parkiran, menengok ke arah belakang, ia melihat Manisya yang masih jauh di belakangnya, kemudian Adam berhenti melangkah untuk menunggu Manisya.
Manisya memberikan sebuah kode kepada Adam agar tak menunggunya.
"Duluan saja!" Berkata tanpa mengeluarkan suara dengan tangannya ia ayunkan berharap Adam tak menunggu dirinya.
"Jalanmu lama sekali!" Ucap Adam setelah Manisya mendekat ke arahnya.
"Kamu duluan saja, bagaimana jika ada yang melihat?"
"Biarkan saja!" Ucap Adam sambil menggenggam kembali tangan Manisya.
"Apa benar tidak apa-apa?"
Adam mengangguk mengiyakan perkataan Manisya.
Setelah itu Adam dan Manisya bergegas menaiki mobil menuju sebuah restoran Jepang dengan menu andalan adalah BBQ, teman-temannya dan Manajer telah menunggu mereka di sana.
"Ayo!" Adam mengulurkan tangannya kepada Manisya.
Manisya menggelengkan kepalanya.
"Jangan! mereka bisa curiga!" Manisya menolak permintaan Adam untuk menggenggam tangannya.
"Biarkan saja!" Mencoba meraih tangan Manisya.
"Aku tidak mau, nanti mereka bicara yang tidak tentangmu!"
Dan untuk kesekian kalinya, Adam merangkul pundak Manisya saat hendak memasuki area restoran, Semua mata menatap ke arahnya, Manisya sungguh risih, tidak dengan Adam, ia begitu percaya dirinya memeluk wanita yang telah berhasil mendapatkan hatinya tersebut.
"Kamu belum keramas?" Adam mencium rambut Manisya secara sengaja.
"Hentikan! Kenapa kamu cium rambutku!" berusaha menghindari Adam karena ia sungguh malu sudah beberapa hari ia tidak mencuci rambutnya.
Tidak sadar mereka sudah sampai di depan teman-temannya yang sudah duduk menunggu kedatangan mereka.
Dan mereka tidak sadar jika semua mata sedang memperhatikan ke arahnya.
"Hai semua! Maaf menunggu lama!" Sapaan Manisya tak membuat mata mereka berkedip memperhatikan gerak Adam yang sedang memainkan rambut Manisya.
Manisya terlihat membulatkan kedua bola matanya menyadari yang di lakukan Adam kepadanya, kemudian secara perlahan menepuk tangan Adam, Adam pun mengentikan aktivitasnya memainkan rambut Manisya, seakan tak punya kesalahan menampakkan expresi wajahnya yang datar, sambil mengangkat sedikit rambut Manisya menatap semua ke arah mata yang se akan menunggu sebuah penjelasan. setelah itu berkata, "Rambutnya sangat kotor!"
***
Kopi Manisya yang hilang.
Saat Manisya makan siang bersama Mona di kantin.
__ADS_1
Adam berjalan mendekati meja Manisya, kemudian membawa sebuah gelas Cup berbahan dasar kertas yang berisi kopi yang hendak Manisya berikan kepadanya, Adam mengambilnya dengan cepat setelah itu ke kamar mandi dan segera membuang isinya di atas wastafel sedangkan Cup nya ia buang ke dalam tong sampah.
"Lain kali aku akan melarangnya untuk meminum kopi!"