
"Rambutnya sangat kotor!" Ucap Adam sambil menatap semua rekan
kerja yang baru dikenalnya itu, namun perkataan Adam tak membuat mata mereka beralih menatap ke arah Adam dan Manisya, seakan butuh penjelasan akan hubungan mereka, tentu saja Adam bersikap sama sekali tak perduli dengan apa yang di katakan kepadanya.
"Pak Adam merasa terganggu dengan wangi rambutku! makannya menyuruhku untuk mencuci rambutku!" Manisya mencoba memberi penjelasan, tak ingin semua orang berfikiran yang aneh kepada Adam.
"Aku tidak berkata seperti itu!" Ucap Adam dengan wajah datarnya membuat semua orang yang telah menanti sebuah pesanan makanan menjadi bingung di buatnya.
Karena merasa bingung tak punya lagi alasan untuk berkata, akhirnya Manisya memilih diam.
"Apa kalian sebelumnya sudah saling mengenal?" Tanya seorang teman kantornya bernama Adi.
Manisya hanya mematung tak menjawab pertanyaan, hanya ingin tahu saja apa yang akan di jawab oleh Adam kepadanya.
"Dia temanku!"
"Sama, di juga temen gua!" Bagas mewakili yang lainnya.
"Apa hubungan kalian?" Tiba-tiba Siska yang penasaran langsung pada inti pertanyaan.
Adam menengok ke arah Manisya, di lihatnya Manisya hanya sedang menunduk tak memberi sebuah jawaban.
"Dia..!"
Saat Adam hendak menjelaskan, tiga orang pelayan Restoran datang membawa menu pesanan mereka, dan akhirnya pertanyaan Adam dan Manisya terhenti di sana.
Malam itu, suasana di restoran dipenuhi keramaian, Pak Manajer serta rekan kerjanya memberikan ucapan selamat bergabung di perusahaan kepada Adam. Gelak tawa terdengar dari penghuni kursi di meja makan tersebut, namun tidak dengan Adam, hanya sesekali saja ia tersenyum menanggapi cerita-cerita teman rekan kerjanya tersebut.
Acara makan malam pun telah selesai dan kala itu satu persatu berpamitan meninggalkan restoran, "Adam gua titip Mona sama Siska, gua mau ada keperluan dulu mendadak, jadi buru-buru!"
"Kemana Lo?" Tanya Adam.
"Bokap Sakit!"
"Sakit? Sakit apa?"
"Gak tahu Gua, nanti gua kabarin, Gua buru-buru!" Setelah itu Bagas bergegas pergi meninggalkan semua rekan kerjanya terlebih dahulu.
Adampun menyuruh Manisya Mona dan Siska menunggunya di depan loby restoran agar memudahkan mereka untuk menaiki mobil.
"Naiklah!" Kata Adam.
Manisa hendak melangkah, namun Siska lebih gesit, ia lebih dulu mendahului Manisya untuk membuka pintu mobil bagian depan, dan Mona terlihat sudah memasuki mobil bagian belakang.
"Pak Adam, kebetulan saya ada perlu dulu, saya akan pulang sendirian saja!" Ucap Manisya.
"Kamu harus ikut!" Ucap Adam dengan muka tak senangnya menatap Manisya.
"Saya ada perlu dulu!"
"Perlu Apa?" Adam mulai mengabaikan Siska dan Mona yang sudah duduk di dalam mobil.
"Ikut aja Sya! nanti sama Pak Adam di anterin! ya kan Pak!" Mona berusaha membujuk.
__ADS_1
"Aku benar-benar ada urusan sebentar!" Jawab Manisya.
"Biarkan saja dia!" Berusaha meyakinkan Adam untuk segera meninggalkan Manisya.
Tanpa berkata lagi, Adam segera melajukan mobilnya meninggalkan Manisya yang masih berdiri mematung menatap kepergian Mobil yang di Kendari Adam tersebut.
Mengerutkan bibirnya kemudian berkata, "Sepertinya dia marah!"
***
"Kamu bilang kamu tidak membawa mobil?" Tanya Siska memulai percakapan.
"Benarkah aku berkata seperti itu?" Jawab Adam.
Setelah itu, Siska tak lagi berkata-kata di sepanjang perjalanannya karena Adam terlihat tak senang saat Siska menanyakan perihal apapun kepada Adam, Adam mengantar Siska terlebih dahulu sedangkan Mona ia antarkan paling terakhir.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu pak?"
"Tanyakan saja!"
"Apa hubungan bapak dengan Pak Bagas?"
"Dia sepupuku!" Mona membulatkan kedua bola matanya merasa terkejut dengan jawaban Adam, diam sesaat kemudian bertanya kembali.
"Apa boleh satu lagi?"
"Apa Pak Adam sudah kenal lama dengan Manisya?"
"Sejak SMA!" Jawab Adam.
"Apa boleh satu lagi?"
"Yang lainnya tanyakan saja pada teman mu sendiri!" Adam enggan menjawab lagi pertanyaan dari Mona.
Setelah sampai di depan rumah, Mona pun turun dari mobil Adam.
"Terimakasih banyak Pak Adam, hati-hati di jalan!" Teriak Mona.
"Lantas apa hubungan pak Adam dengan Manisya aku sangat penasaran!"
***
Setelah selesai mengantarkan Mona, Adam terlihat melakukan beberapa panggilan pada ponselnya kepada Manisya, namun Manisya tak mengangkat telepon dari Adam.
"Kemana gadis bodoh itu!" Adam memukul Stir meluapkan emosi nya karena merasa kesal dengan Manisya yang tak mengangkat teleponnya.
Merasa kesal dengan Manisya akhirnya Adam membelokkan mobilnya ke sebuah kafe, bertemu dengan teman lamanya di sana, cukup lama Adam di sana, Jam 01.00 pagi Adam baru meninggalkan tempat tersebut.
Sesampainya di apartemennya, Adam masih berusaha melakukan panggilan kepada Manisya, namun sama sekali tidak ada yang angkat, kini emosinya makin memuncak hingga ke ubun-ubun.
Saat Adam membuka pintu apartemennya, ia masih melakukan panggilan kepada Manisya, ia mengangkat kepalanya saat mendengar ada sebuah getaran ponsel di dalam apartemennya.
Adam membulatkan kedua matanya saat melihat ada sebuah ponsel yang bergetar tergeletak di atas meja, setelah itu bola matanya berputar seakan mencari sesuatu, dan benar saja apa yang ia tebak, ada seorang wanita yang tertidur di atas sofa miliknya, wanita tersebut tidur dengan sangat lelapnya, ya siapa lagi yang tertidur di sana, ia adalah Manisya, menunggu kedatangan Adam yang tak kunjung pulang sampai akhirnya ia terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1
Dengan satu tangannya Adam terlihat mematikan panggilan pada ponselnya hingga membuat getaran pada ponsel yang tersimpan di atas meja pun ikut terhenti.
Untuk sesaat Adam mematung, matanya tak berkedip menatap Manisya yang tertidur. Kemudian secara perlahan kaki Adam melangkah menghampiri Manisya, ia pun ikut mendaratkan tubuhnya di sofa tersebut lebih tepatnya duduk di samping Manisya yang tengah tertidur lelap, di usapnya dengan lembut kepala Manisya, kemudian mengibaskan sedikit rambut Manisya disela-sela telinganya yang menutupi wajahnya, setelah itu Adam mengusap lembut pipi Manisya, ia pun memberikan sebuah ciuman di dahi Manisya.
Manisya yang terlihat menggerakkan sedikit badannya saat Adam mencium dahinya namun hanya sejenak, ia kembali terhanyut dalam mimpi- mimpinya.
Adam memutuskan untuk membiarkan Manisya tertidur di sana, ia pun mengambil sebuah selimut dari dalam lemari kemudian memasangkannya pada tubuh Manisya agar tidak merasa kedinginan. Ya hari itu adalah pertama kalinya Manisya tidur di apartemen miliknya.
Pagi harinya.
Manisya membuka kedua matanya, melihat ke sekeliling, merasa ada yang aneh dengan tempat ia terbaring tidur semalaman.
"Ya ampun, aku tidur di apartemen Adam!" Mula panik, kemudian menurunkan kakinya ke bawah, saat menunduk betapa kagetnya Manisya melihat Adam yang tertidur di bawah hanya beralaskan sebuah kain dan sebuah bantal yang menyangga kepalanya, kedua tangan Adam menyilang di depan dadanya.
Manisya membungkam mulutnya sendiri menggunakan tangannya, setelah itu berjalan dengan mengendap-endap mendekati Adam yang masih tertidur lelap.
Manisya menatapi Adam yang masih memejamkan matanya, wajahnya sengaja ia dekatkan untuk memandang betapa indahnya wajah Adam bila di tatap dari dekat.
Bibir Manisya tertarik sempurna menatap wajah laki-laki yang sangat tampan bernama Adam itu.
"Dia tambah tampan!" Bisik Manisya secara perlahan. Kini matanya beralih pada alis tebal milik Adam, bahkan saking gemasnya memegang garis alis milik Adam secara perlahan. "Kenapa alismu sungguh tebal sangat bagus, punyaku saja tidak sehitam milikmu!", Mata Manisya beralih pada bulu nata Adam, "Bulu matamu juga sangat lucu!",
Kini hidung tinggi Adam menjadi sasaran tatapan matanya, "Aku juga sangat suka hidung mancungmu!" Bisik Manisya sambil terus saja tersenyum menikmati keindahan wajah Adam. "Bahakan kedua pipimu sangat mulus, aku sangat iri!" Tiba-tiba bibir Manisya berkerut, merasa wajahnya sangat kalah glowing di banding Adam. Tiba-tiba bibirnya kembali tertarik saat melihat bibir tebal Adam yang terlihat merah walaupun tanpa sebuah lipstik, tanpa sadar Manisya semakin mendekatkan wajahnya pada wajah milik Adam hingga kini hampir tak memilik jarak, bahkan kedua bibirnya hampir menyatu di sana, namun betapa kagetnya Manisya satu jengkal lagi bibir miliknya dan Adam menyatu tiba-tiba mata Adam terbuka lebar menatap Manisya. Mata Manisya membulat kemudian dengan refleks hendak menjaga jarak mereka. Namun sayang Adam dengan cekatan menahan Manisya hingga kini tubuh Manisya berhasil berada dalam dekapan Adam.
"Setelah itu apa yang akan kau lalukan?" Ucap Adam sambil berusaha menahan tubuh Manisya yang berusaha memberontak.
"Tidak ada!"
Akhirnya Adam mengalah melepaskan Manisya yang masih berusaha melepaskan diri dari dekapannya.
Adam bangun dari tidurnya kemudian duduk menghadap ka Manisya, Manisya menggeser kan badannya hingga punggungnya tak bisa lagi bergeser karena terhalang oleh sebuah sofa.
"Ulangi apa yang kamu lakukan padaku tadi!" Tutur Adam memberi perintah kepada Manisya yang kini berada di hadapannya sangat dekat.
"Tidak!" Jawab Manisya merasa malu.
"Kalau begitu aku akan membuatmu tidak bekerja hari ini!"
"Tidak, aku, baiklah!" Dengan ragu mengiyakan ucapan Adam.
Manisya menatap Adam untuk beberapa saat, kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Adam, untuk menyeimbangkan tingginya Adam, Manisya sedikit beranjak dari duduknya, menempelkan lututnya pada lantai, kemudian memegang lembut wajah Adam menggunakan kedua tangannya.
Manisya mengusap kedua alis Adam, "Alismu sangat tebal, aku sangat menyukainya!" Manisya mengecup lembut kedua alis Adam secara bergantian, Kemudian memegang bulu mata Adam secara perlahan, "Bulu matamu sangat lentik, aku juga sangat menyukainya!" Manisya mengecup kedua mata Adam yang sengaja ia pejamkan secara bergantian pula, kini beralih pada hidung Adam, Manisya menyentuh hidung Adam secara perlahan sambil menatap nya, "Hidung mu sangat tinggi, aku juga sangat menyukainya!" Setelah itu hidung Adampun ia kecup dengan lembut, Adam masih memejamkan matanya, Manisya kini beralih memegang kedua pipi Adam, "Yang membuat aku iri, pipi mu sangat mulus bersih walaupun tanpa sebuah makeup, aku juga sangat menyukainya!" Mengecup pipi kanan Adam setelah itu bergantian mengecup pipi kirinya, "Dan aku!" Manisya mengalihkan pandangannya pada bibir merah Adam. "Selalu menyukai warna bibirmu, merah tanpa sebuah lipstik!"
Menatap Adam kemudian tersenyum, setelah itu Manisya hendak memberi jarak, namun sayang tangan Adam berusaha meraih pinggang Manisya tak membiarkan pergi jauh dari nya, Di tatapnya wanita yang baru saja menghujaninya dengan kecupan di wajahnya itu.
"Kamu tahu?" Tanya Adam sambil menatap wajah wanita yang sering membuatnya kesal itu.
"Hem?" Manisya menjawab.
"Aku juga sangat menyukai semua yang menempel pada wajahmu!" Adam mengecup lembut dahi Manisya, kemudian beralih pada alisnya yang kanan dan kiri, setelah itu mencium kelopak mata kanan dan kiri, selesai mata kini mencium hidung Manisya, setelah itu pipi kanan dan kiri Manisya menjadi sasaran. Selesai mencium kedua pipi Manisya, Adam menatap bibir mungil milik Manisya.
"Dan aku selalu ingin mencium bibir tipis mu!"
__ADS_1
Tanpa sebuah aba-aba dan persetujuan Manisya, Adam menyatukan bibir tebalnya dengan bibir tipis milik Manisya, menyatukannya dengan penuh cinta dan kelembutan, mereka berciuman di pagi itu.