Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Menemani Adam


__ADS_3

"Apa Lo mau tidur di sini" Adam menepuk-nepuk kasur yang ia tiduri, dan senyum jahilnya ia tunjukkan kepada Manisya.


Manisya tak menjawab perkataan Adam, ia mengerutkan bibirnya merasa Adam sedang menjahilinya, namun kata-kata Adam berhasil membuta Manisya bergidig ketakutan.


Setelah itu, suasana di dalam kamar menjadi hening.


"Apa aku boleh mengajukkan satu persyaratan Lagi" tanya Manisya mencoba mencairkan suasana.


"Terlalu banyak persyaratan" Sebelum Manisya menjelaskan apa yang dia inginkan, Adam menolak persyaratan tersebut.


"Kamu itu menyebalkan" Manisya menyilangkan kedua tangannya, kemudian menarik bibirnya, tak senang dengan penolakan Adam. Kemudian Manisya berjalan ke arah pintu.


"Lo mau kabur?" tanya Adam seketika saat melihat Manisya hendak keluar dari rumah sakit tersebut.


"Apa kamu fikir aku bisa kabur?" Tanya Manisya kemudian berbalik badan berjalan mendekati Adam lengkap dengan tas gendong miliknya, kini Manisya tepat berada di depan Adam yang tengah duduk bersandar di atas kasur.


Menatap Adam, kemudian Manisya mendekatkan sebuah kepalan tangan kanannya kepada Adam, dengan posisi tangan kirinya menempel pada tasnya sebelum akhirnya Manisya membuka kepalan tangan tersebut.


"Nagapain Lo" Tanya Adam melihta Manisya menjulurkan telapak tangan kanannya kepada Adam.


"Aku Lapar" Jawab Manisya.


"Apa Lo ga liat itu makanan ada di meja" Adam menujuk makanan yang berada di meja yang di bawa oleh orang tua Adam saat berkunjung tadi, di sana ada buah-buahan, kue-kue, susu, dan aneka camilan lainnya.


"Aku ingin makan nasi goreng" Jawab Manisya masih dengan tangannya telapak tangannya yang terbuka mengarah kepada Adam.


"Lo nyuruh Gua?" Adam yang tidak peka melakukan tebakkan yang salah terhadap Manisya saat ini.


"Ya ampun Adam, kamu tahu artinya ini apa?" Manisya menunjuk tangan kanannya yang terbuka dengan tangan kirinya, memberi sebuah kode berharap Adam mengerti ke inginannya.


Adam tak berkata, ia sedang berfikir keras maksud dari perkataan Manisya.


Manisya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku minta uang" karena Adam tak kunjung mengerti akhirnya Manisya berkata berterus terang.


"Uang" Kata Adam heran.


"Uang jajanku sudah habis, aku ingin makan nasi goreng" Tanpa basa basi Manisya berkata kembali pada Adam.


"Apa Lo selalu bersikap seperti itu kepada semua orang" Adam mulai melakukan penyelidikan.


"Hanya kepadamu" Jawab Manisya tanpa basa basi.


Adam terkejut mendengar perkataan Manisya yang sangat berterus terang, namun tak Adam nampakkan di hadapan Manisya, kemudian


Adam membawa dompet yang tergeletak di atas Nakas yang masih bisa di jangkau dengan tangan kanannya, Adam memberikan satu lembar uang seratus ribu rupiah kepada Manisya.


"Terimakasih" Manisya tersenyum lebar saat Adam memberinya satu lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.


"Apa boleh aku foto?" Tanya Manisya sambil mengeluarkan Ponsel miliknya, kemudian Manisya mengambil beberapa foto uang tersebut.


"Suka- suka Lo" Jawab Adam dengan Nada sedikit malas.


"Bukankah adegan ini seperti adegan suami yang sedang memberikan uang bulanan kepada istrinya?" Manisya menatap uang yang di berikan oleh Adam dengan mata yang berbinar-binar di sertai dengan bibirnya yang tertarik sempurna hingga gigi rapihnya terlihat di sana.


Adam hanya menatap ke arah Manisya, sambil menyimpan kembali dompetnya dengan tangan kanannya ketempat semula.


"Gadis bodoh" Adam berkata secara perlahan hingga tak di dengar oleh Manisya yang sedang sibuk menatap uang seratus ribu rupiah


"Apa Lo tau apa yang di lakukan seorang laki - laki saat sudah memberikan uang dari dalam dompetnya secara gratis?" tanya Adam menarik salah satu sudut bibirnya ke atas di dengan kerutan di sela - sela alis matanya.


"Memangnya apa?" tanya Manisya yang memang tidak mengerti arah pembicaraan Adam.


"Lo benar-benar gak tahu?" tanya Adam kembali memastikan.


"Em, apa dia harus membayar bungnya juga" Tanya Manisya mencoba mengeluarkan apa yang ada di benak Manisya.


"Sudah lah, Seorang bocah tidak akan mengerti!" Jawab Adam melihat mimik muka Manisya tengah kebingungan.


"Jangan sekali-kali meminta uang kepada laki - laki yang gak Lo kenal, atau Lo akan mati sia - sia di tangannya!" Adam memberikan sebuah peringatan kepada Manisya hingga membuat bulu kuduk Manisya berdiri.


"Apakah itu benar, hanya karena uang satu lembar ini?" tanya Manisya begitu polosnya.


"Tentu saja, bahkan bisa lebih buruk dari itu" Adam kembali menakut-nakuti Manisya.


"Lebih buruk?" Apa itu, tanya Manisya penasara.


"Fikirkanlah" Jawaban Adam membuat Manisya menarik salah satu sudut bibirnya merasa kecewa Adam tak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Aku sedang tak ingin berfikir" Manisya menolak perintah Adam.


" Terserah Lo" Adam menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Apa uang ini juga harus aku bayar?" tanya Manisya.


"Tergantung nanti" Jawab Adam.


"Tapi aku juga masih belum membayar utangku padamu" Kemudian Manisya menundukkan kepalanya saat biaya rumah sakit yang ia pinjam dari Adam belum bisa ia kembalikan.


"Pasti aku bayar" Manisya menjawab penuh keyakinan sambil menatap ke arah Adam.


Manisya yang sedang berdiri dekat dengan Adam, duduk kembali di sofa tempat ia duduk sebelumnya.


"Apa kamu mau aku membelikan sesuatu untukmu, kamu mau aku belikan Nasi Goreng juga?" Tanya Manisya kepada Adam.


Adam tidak menjawab, sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang Adam lihat.


"Apa pecel lele?" Manisya bertanya kembali.


Adam masih tak menjawab.


"Apa ikan bakar atau ayam goreng?" Manisya menyebutkan beberapa menu makanan yang sering ia beli saat malam hari tiba.


Namun Adam belum menjawab pertanyaan Manisya.


"Sepertinya kamu lebih suka makanan dari rumah sakit" Manisya mulai kesal karena Adam tak menjawab pertanyaan Manisya dan hanya memainkan ponselnya.


"Baiklah aku akan pesankan makanan yang aku sukai saja" Manisya mulai memesan pesanan makanan melalui Aplikasi online dengan ponselnya.


"Sudah, aku sudah memesannya" Manisya meletakkan ponselnya begitu saja, kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Apa Lo udah memberi kabar ayah dan ibu kalau Lo nginep di sini?" tanya Adam.


"Tentu saja" Jawab Manisya singkat.


"Apa yang Lo katakan kepada mereka?" Adam se akan mengetahui jika Manisya menambahkan sesuatu kepada orangtuanya.


"Tidak, aku bilang, aku akan menemanimu di sini" Jawab Manisya namun tidak membuat Adam merasa puas akan jawaban Manisya.


"Terus?" tanya Adam.


"Em, terus aku bilang aku di sini bersama Nina" jawab Adam.


"Lo berbohong?" Tanya Adam seakan menuduh Manisya sebagai seorang terdakwa.


"Aku tidak berbohong, aku sudah mengajak Nina, tapi dia lagi ada acara keluarga jadi gak bisa ke sini" Manisya menjelaskan kepada Adam.


Mendengar jawaban Manisya membuat Adam menatap Manisya penuh keraguan.


"Kamu tidak percaya?" Manisya membuka ponselnya kemudian mendekati Adam.


"Coba lihat, menunjukan pesan yang ia kirim kepada Nina" Adam membawa ponsel Manisya dengan tangan kanannya, membaca seksama percakapan Manisya dengan Nina. Namun Manisya tidak menyadari jika Adam sedang membaca percakapan Manisya dengan Nina sebelumnya.


Setelah sekian lama, Manisya baru menyadari jika Adam sedang membaca percakapannya dengan Nina sebelumnya, dengan terburu-buru Manisya hendak membawa ponselnya dari tangan Adam, namun Adam segera mengangkat tangan kanan yang memegang ponsel Manisya agar Manisya tak bisa menjangkaunya.


"Apa yang kamu lakukan" Tanya Manisya masih berusaha mengambil ponselnya dari tangan Adam.


"Hanya mengikuti perintah" Jawab Adam masih dengan tangan kanannya mengangkat ke atas.


Manisya yang ke sulitan membawa ponselnya dari sebelah kiri Adam, kini berpindah ke sebelah kanan Adam dengan Maksud agar ia mudah mengambil ponsel miliknya.


"Bisa tidak berikan ponselku" pinta Manisya sambil menengadahkan telapak tangannya.


"Tentu, setelah gua selesai membaca" Jawab Adam.


Manisya masih berusaha meraih tangan Adam yang sedang memegang ponselnya, dengan sesekali Adam melanjutkan membaca percakapan Manisya dengan Nina saat Manisya berhenti meraih tangannya, sialnya Manisya tidak mengaktifkan mode kunci pada layar ponselnya sehingga hal itu memudahkan Adam untuk membuka ataupun menutup ponsela Manisya.


Manisya berdiri memikirkan cara agar Adam segera memberikan ponselnya


"Adam berikan ponselku" Manisya mulai menaikkan suaranya meminta Adam mengembalikan ponsel miliknya tersebut.


"Adam" Panggil Manisya, namun Adam mengabaikannya ia sibuk membaca isi percakapan Manisya dengan Nina.


"Adam berikan ponsel ku" Manisya semakin geram karena Adam tak menghiraukannya, sibuk membaca percakapan dirinya dengan Nina.


"Adam kamu keterlaluan" Manisya semakin mengencangkan perkataannya, namun masih tak mendapat respon dari Adam.


Karena Adam tak kunjung mengembalikan ponsel miliknya, Manisya dengan berani naik ke atas kasur tempat Adam berbaring, alangkah kagetnya Adam saat tubuh Manisya tiba-tiba menghimpitnya, Manisya duduk di atas perut Adam, perlahan Manisya merubah posisinya, kini kedua lutut Manisya menopang badannya menindih kasur dengan paha melingkari tubuh Adam, namun Adam dan Manisya mengabaikan hal itu, merka masih sibuk memperebutkan ponsel Manisya yang berada di tangan Adam, Adam masih berusaha untuk menjauhkan Ponsel Manisya dengan tangan kanannya, Adam yang sebelumnya posisinya sedang duduk kini tertidur karena Manisya yang bergerak-gerak semakin menghimpitnya hingga tubuh Manisya terguncang akan jatuh ke bawah lantai, namun sebelum itu terjadi, Adam berhasil menarik Manisya dengan satu tangan kanannya dan kini mereka saling berpelukan.

__ADS_1


Wajah Manisya seketika berubah menjadi merah merona, jantungnya Manisya berdegup kencang karena pelukan Adam. Perlahan Manisya melepaskan pelukannya. Manisya yang baru menyadari tindakan bodohnya tersebut segera turun dari kasur.


"Aaw" Adam meringis kesakitaan saat tangan kirinya yang di perban tersenggol oleh badan Manisya yang hendak turun dari kasur tersebut.


"Maaf maaf" Manisya meminta


maaf kepada Adam saat mengetahui jika badannya mengenai tangan Adam yang terluka.


"Apa Lo mau bunuh gua" tanya Adam yang masih menahan kesakitan di tangan kirinya.


"Aku tidak sengaja, aku minta maaf" Jawab Manisya segera menundukkan kepalanya.


"Tolong membalikkan ponselku" Manisya masih meminta ponsel Miliknya kepada Adam, karena Adam berhasil menjauhkannya dari Manisya.


"Gua belum selesai membaca" kata Adam.


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Manisya.


Adam kemudian memberikkan ponsel Manisya kepadanya.


"Ambilah, gua udah tahu" Kata Adam sambil memberikan ponsel milik Manisya.


"Apa yang kamu tahu?" tanya Manisya.


Namun Adam tak menjawab perkataan Manisya. Setelah kejadian di kasur tadi Manisya kembali lagi ke sofa tempat ia duduk, hening sesaat, Manisya masih memikirkan hal bodoh saat ia naik ke atas kasur untuk mengambil ponsel miliknya.


"Betapa bodohnya aku" Manisya berkata dalam hatinya sambil memukul perlahan bagaian tas kepalanya.


"Ceklek" Suara pintu terbuka, terlihat Pak Komar datang membawa jinjingan yang Ada di tangannya.


"Pak Komar" tanya Manisya menyapa.


"Iya neng Manis" Jawab Pak Komar kepada Manisya.


"Bawa apa itu pak, banyak sekali" tanya Manisya.


"Ini keperluan neng Manis, sesuai dengan pesanan Mas Adam" Jawab Pak Komar.


Manisya membuka tas jinjing yang di bawa Pak Komar di sana terdapat baju tidur, keperluan Mandi dan selimut, dan camilan - camilan kesukaan Mansiya


"Pak Komar beli ini semua?" tanya Manisya penasaran.


"Bukan neng, Mbak -mbak rumah yang beli, saya gak tau apa-apa kalau soal perempuan" jawab Pak Komar.


"O mbak rumah" Jawab Manisya sambil menganggukan kepalanya, ada perasaan senang dan lega dalam hati Manisya saat mengetahui yang membeli keperluan adalah seorang wanita pula, karena sebenarnya dalam tas jinjingan yang di bawa Pak Komar ada keperluan wanita yang sangat mendalam, dan Manisya menyembunyikannya, takut jika Adam dan Pak Komar melihatnya.


"Hallo, ia baik Mas, tunggu sebentar saya kesana" Manisya mengangkat telepon, dan sudah bisa di tebak itu adalah telepon dari pengantar makanan online.


"Aku ke bawah dulu ya, ada pesanan ku datang" Manisya hendak melangkahkan kakinya ke arah pintu namun tercekat oleh kata - kata Adam.


"Pak Komar tolong ambilin pesanan gadis ceroboh ini" Adam memerintahkan Pak Komar untuk membawa pesanan Manisya yang sudah menunggu dekat loby rumah sakit, karena peraturan rumah sakit tersebut tidak memperbolehkan pengantar makanan masuk ke dalam kamar pasien.


Manisya pun menjelaskan makanan yang dia pesan, dan memberikan uang yang di berikan Adam kepada Pak Komar, Pak komar pun pergi untuk membawa makanan pesanan Manisya.


"Aku kan bisa membawa sendiri, kasian kan Pak Komar dari tadi pulang pergi" Manisya mengatakan kebertannya kepada Adam,


Adam tak menghiraukan perkataan Manisya seperti biasanya.


"Adam" Manisya berusaha memanggil Adam, namun masih tak ada jawaban darinya.


Manisya menatap ke arah Adam, terlihat Adam sedang memikirkan sesuatu sambil menatap layar ponselnya, Manisya berjalan perlahan mendekati Adam, kemudian ia melihat Adam mengetikan sesuatu di ponselnya.


Manisya menatap layar ponsel Adam, "Leo" Hanya kata itu yang sempat Manisya baca pada layar ponsel Adam, karena Adam tak membiarkan Manisya membaca pesan yang ia tuliskan, dengan cepat Adam menutup layar ponselnya agar Manisya tak bisa membacanya. tanpa ia sadari Adam sedang berbalik menatap ke arahnya.


"Apa Lo sedang mencoba menggoda" Adam menghentikan ketikan pada layar ponselnya, kemudian menyimpan ponselnya di pinggir badannya agar tak terjangkau oleh Manisya.


"Bu, bukan begitu" Manisya menjauhkan kepalanya dari Adam namun jarak mereka masih berdekatan.


"Apa yang Lo lakuin tadi belum puas?" tanya Adam mencoba memojokkan seorang Manisya.


"Apa maksudmu" tanya Manisya tak senang dengan perkataan Adam.


Adam yang sedang duduk di atas kasur tiba-tiba menggerakkan tangan sebelah kanannya, meraih pinggang Manisya hingga membuat jarak mereka hanya terhalang beberapa centimeter saja, Manisya menggerakkan badannya berusaha melepaskan dekapan Adam.


"Apa ini kurang" tanya Adam sambil memberikan tatapan kepada Manisya yang sedang meronta.


**


Terimakasih aku ucapkan kembali yang tak terhingga untuk para pembaca, yang Like dan komentar.

__ADS_1


kalian penyemangat ku.. Fighting!!! 💪💪


__ADS_2