Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Sikap Dingin Adam


__ADS_3

"Hai Adam?" Aku Siska, memperkenalkan diri dengan gayanya yang centil mencoba mencari perhatian Adam. Setelah itu semua staff yang berjumlah sepuluh orang di ruangan tersebut bergantian memperkenalkan diri.


"Aku Mona!" Giliran Mona yang memperkenalkan diri.


Kemudian saat giliran Manisya hening seketika.


"Temanmu satu lagi kemana?" Tanya Sang Manajer kepada Mona, ia menanyakan keberadaan Manisya yang menghilang secara tiba-tiba.


"Em..!" Mona terlihat kebingungan, hendak memberitahukan keberadaan Manisya, namun Manisya memberikan sebuah isyarat dari balik meja untuk tidak memberitahukan keberadaannya saat itu. Akhirnya Mona memilih untuk diam mematung.


"Kamu ngapain di sana!" Ujar Siska yang sengaja berjalan mendekat ke arah meja dan Mona, merasa curiga dengan gerak-gerik Mona, karena penasarannya Siska mendekati Mona, dan benar saja apa yang menjadi Kecurigaan Siska memang benar, Ia melihat Manisya tengah bersembunyi di bawah meja kerjanya.


Mendengar ucapan Siska, seketika Manisya menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, ia begitu terkejut dengan Panggilan Siska kepadanya.


"Hei aku bilang kamu ngapain di sana?" Siska mengulang pertanyaannya saat Manisya tak menjawab ucapannya.


Sontak saja hal itu membuat semua mata yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah meja Manisya yang tak terlihat keberadaanya saat itu. Dengan posisi badan yang jongkok Manisya terlihat diam mematung, jantungnya kini bergetar lebih hebat dari sebelumnya, kedua lututnya tiba-tiba melemas.


Namun tidak dengan Staff yang lain, mereka tertawa memperhatikan tingkah Manisya.


"He he!" Manisya terlihat tersenyum kecut membalas tawa Staff yang menatap geli ke arahnya.


"Kamu menyembunyikan sesuatu?" Tanya Siska semakin mendekat ke arah Manisya, mau tidak mau hal itu membuatnya harus keluar dari persembunyiannya dari bawah meja kerjanya.


"Tidak, aku tidak menyembunyikan sesuatu!" Jawab Manisya sambil perlahan keluar dari persembunyiannya.


"Lantas kenapa kamu bersembunyi di sana?" Tanya Siska dengan nada seolah menginterogasi.


Akhirnya Manisya pun berdiri mensejajarkan badannya dengan pegawai yang lain, namun tentu saja ia belum berani menatap ke arah Adam, yang kini memang tengah menatap tajam ke arahnya.


"Pulpenku terjatuh, iya pulpenku ini terjatuh!" Memperlihatkan sebuah pulpen yang ia pegang Dengan senyum kecut menahan perasaan gugupnya memberi alasan yang bukan sebenarnya kepada Siska.


"Banyak tingkah kamu!" Ucap Siska dengan tatapan sinis kepada Manisya.


"Maaf!" Jawab Manisya sambil menunduk dengan kerutan di bibirnya.


Mona yang kala itu berdiri di sampingnya terus saja menggerakkan sedikit kepalanya memberitahukan Manisya untuk segera memperkenalkan diri kepada pegawai baru yang tengah di perkenalan oleh Bapak Manajer. Manisya pura-pura tidak mengerti kode yang begitu jelas di berikan oleh Mona.


"Manis, perkenalkan dirimu!" Perintah Manajer.


"Ba baik!" Ucap Manisya sambil perlahan menolehkan wajahnya untuk menatap kepada Adam.


"Deg!" Sekali lagi jantungnya semakin kencang berdegup, ia begitu gugup saat menatap ke arah Adam, apalagi yang paling Manisya takutkan saat itu adalah melihat wajah dingin Adam yang tengah menatap ke arahnya dengan sangat tajam.


Dalam kegugupan nya Manisya memaksakan sebuah senyuman dengan wajah yang terlihat pucat karena ketakutan.


"Hai Adam!" Dengan senyuman lebarnya Manisya menyapa Adam di sertai dengan sebuah lambaian tangan kanannya.


Adam hanya diam, tak menjawab ucapan Manisya, Bahakan kini tatapannya semakin tajam menatap gadis yang membuatnya merasakan kekecewaan selama selama ini.


"Apa kalian saling mengenal?" Tanya Pak Manajer.

__ADS_1


"Iya" Jawab Manisya.


"Tidak!" Jawab Adam secara bersamaan dengan Manisya.


"Maksud saya, saya baru mengenalnya barusan!" Manisya memutuskan untuk mengikuti keinginan Adam, berpura-pura saling tidak mengenal.


Pak Manajer menganggukkan kepalanya.


"Kenalkan dirimu!" Perintah Manajer.


"Nama saya..!" Belum sempat Manisya berkata, Adam sudah memotong ucapan Manisya seolah tak ingin mendengar satu patah katapun yang keluar dari mulut Manisya.


"Kursi saya di mana Pak?" Tanya Adam memotong pembicaraan, tak membiarkan Manisya mengucapkan namanya.


Manisya terlihat menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya, ia memang sudah menebak, sikap apa yang akan Adam berikan kepadanya saat mereka bertemu, dan memang inilah kenyataan pahit yang harus Manisya terima karena kesalahan yang ia perbuat.


"Si sebelah sana!" Ucap Manajer menunjuk sebuah meja dan kursi yang berhadapan dengan Manisya.


"Di sana?" Jawab Adam sambil menunjuk ke arah Manisya, tak lupa tatapan dinginnya ia suguhkan hanya untuk Manisya.


"Ya di depan Manisya!" Jawab Manajer yang bernama Pak Beny itu.


"Baik!" Ucap Adam, setelah Pak Beny mempersilahkan duduk di kursinya, Adam pun segera melangkah menuju meja kerjanya yang duduknya tepat berhadapan dengan Manisya.


Setelah memberitahu Tugas dan Pekerjaan Adam, Pak Beny pergi kembali ke ruangannya.


Adam sudah duduk di kursinya, dan ia mulai membuka komputer yang terlihat masih belum menyala itu.


"Hai Adam!" Manisya memberanikan diri menyapa Adam, namun sayang sekali di lirikpun tidak oleh Adam, apalagi di jawab sapaan sapaan Manisya oleh Adam.


"Apa sih Mon?"


"Kamu mengenalnya?" bisik Mona di telinga Manisya namun masih bisa terdengar oleh Adam.


"Menurutmu?" Jawab Manisya.


"Kamu itu curang sekali, tadi berpura-pura tidak perduli, taunya kamu sama-sama mengincarnya!" Ucap Mona dengan Nada protes kepada Manisya.


"Sini aku bisikkan sesuatu!" Manisya melambaikan tangannya agar Mona lebih mendekat kepadanya.


"Dia milikku!" Jawab Manisya.


Adam berdiri seketika dan menatap tajam ke arah Manisya dan Mona yang sedang berbisik di telinga.


"Apa kalian bekerja hanya untuk bergosip!" Dengan Nada tinggi Adam berkata sambil menatap tajam ke arah Manisya, tentu saja hal itu membuat semua mata menatap ke arahnya.


Siska terlihat mendekat, "Ckckck!" Berdecak sambil menggelengkan kepalanya menatap Manisya dan Mona.


Manisya hanya terdiam menunduk, "Sudah kuingat kan berkali-kali, kalian sepertinya sudah bosan bekerja!" Perkataan Siska tersebut sudah sering di dengar oleh Manisya dan Mona.


"Kami minta maaf!" Ucap Manisya masih sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu tahu dam, kedua bocah ini sering sekali berbuat ulah, mereka tak sadar diri akan posisinya di sini!" Berkata kepada Adam namun menatap ke arah Manisya.


Adam diam tak merespon ucapan Siska.


"Aku tak segan-segan melaporkan tingkah kalian kepada Manajer kita, menyebalkan!" Kemudian Siska berlalu pergi meninggalkan Mona dan Manisya dan kembali ke tempat duduknya.


"Baik Bu!" Ucap Manisya dan Mona secara bersamaan.


Sebenarnya, Manisya begitu terkejut dengan apa yang di katakan Adam kepadanya, setelah kejadian itu, keberaniannya untuk mendekati Adam menciut kembali.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.15 Malam, satu persatu rekan kerja yang ada dalam satu team bersama Manisya berpamitan pulang, begitupun dengan Adam, ia sudah berpamitan pulang sejak jam 18.00. Hari itu seperti biasanya, Siska akan memberikan pekerjaan yang lebih banyak kepada Mona dan Manisya apabila ia sedang merasa kesal, karena itulah hingga kini Mona dan Manisya masih sibuk di depan komputer mereka masing-masing.


"Kamu sudah selesai Mon!" Saat melihat Mona mematikan komputer nya, ya dalam bekerja, Mona memang yang lebih cekatan di bandingkan dengan Manisya.


"Tenang saja, aku akan menunggumu!"


"Aku juga sedikit lagi ko, kamu duluan aja!" Jawab Manisya.


"Serius?"


"Iyah serius, aku gak akan ngambek ko, tenang aja!" Sambil tersenyum lebar kepada teman dekatnya itu, Merasa tak enak hati, jika harus membuat Mona yang sudah selesai bekerja menunggunya setiap saat.


"Oke deh, aku duluan ya!" Mona pun pergi meninggalkan Manisya yang masih terlihat sibuk mengetikkan pekerjaannya.


Kini hanya Manisya yang masih berada di ruangan tersebut, sebentar ia menempelkan salah satu pipinya di atas meja, kemudian menghela nafas seolah mengeluarkan semua beban dalam fikirannya


"Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Manisya sambil memejamkan kedua matanya.


Tiba-tiba sebuah ide terbersit dalam fikirannya, segera Manisya membuka kembali kedua matanya dan menegakkan posisi duduknya, setelah itu Ia mengambil Sticky Notes berwarna pink yang tersimpan tak jauh dari jangkauan tangannya, menuliskan sesuatu di atas sana.


"Maafkan aku!" Kata tersebutlah yang Manisya tulis di atas Sticky Notes Pink miliknya kemudian memasukannya pada sebuah laci yang berada pada meja kerja milik Adam.


Setelah itu Manisya mematikan komputernya dan bergegas meninggalkan ruangan kerjanya yang sudah nampak sepi tersebut.


Saat Manisya berjalan menuju Lift, ia melihat pintu Lift yang terbuka, seketika Manisya berlari dengan kencang.


"Tunggu!" Teriak Manisya berharap ia masih punya waktu untuk menahan Lift tersebut, saat pintu Lift hampir tertutup, beruntungnya tangan Manisya berhasil menggapai pintu terebut, Dan membuat pintu Lift terbuka kembali, namun bukannya masuk ke dalam Lift, Manisya diam mematung menatap lurus ke dalam Lift, kedua matanya tiba-tiba membulat sempurna, dan nafasnya tiba-tiba serasa sesaat saat ia melihat ada seseorang yang tengah berdiri menatap tajam ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Hehe!" Manisya berusaha tersenyum walaupun bibirnya saat itu benar-benar terasa kaku.


"Hai Adam!" Ucap Manisya mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku, namun sayang Adam tak menjawab ucapan Manisya hanya tak henti menatapnya dengan tajam.


Adam terlihat menekan tombol close berkali-kali berharap pintu lift segera tertutup, namun Manisya yang berdiri tepat di pintu lift membuat tekanan pada tombol close yang di tekan Adam tidak berarti. Setelah beberapa saat Manisya baru tersadar, dan segera masuk ke dalam lift.


"Maaf!" Ucap Manisya.


Adam tak memberi respon.


"Adam kamu..!" Manisya hendak bertanya kepada Adam.

__ADS_1


Namun Adam seketika melirik ke arah Manisya dengan tatapan dinginnya, membuat Manisya membungkam mulutnya.


"Aku tidak ingin mendengar satu patah katapun dari mulutmu!"


__ADS_2