Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Mereka Mirip


__ADS_3

"Siapa Lo?" Ucap Adam dengan sorot matanya yang tajam saat melihat Gibran membukakan pintu untuk nya.


Gibran melirik kesana kemari, mencari seseorang yang di maksud Adam.


"Lo ngomong sama Gua?" Tanya Gibran menunjuk hidungnya menggunakan telunjuk kanannya.


"Memang di sini ada siapa lagi?" tanya Adam menatap tajam ke arah Gibran.


"Lo salah alamat!" Ucap Gibran dengan membanting pintu rumahnya dengan kencang.


"Siapa?" Tanya Sang ayah kepada Gibran yang terlihat kesal membanting pintu rumahnya.


"Ada orang gila!" Jawab Gibran sambil berlalu meninggalkan ayahnya yang hendak melihat ke arah luar.


Sang Ayah begitu terkejut saat melihat Seorang Laki-laki sedang berdiri di depan pintu rumahnya, dengan segera sang ayah membukakan pintu rumahnya saat melihat Adam yang kini berdiri tepat di depan pintu rumahnya tersebut.


"Nak Adam?" Sapa Pak Aralan yang tak lain ialah ayah Manisya kepada Adam yang tengah berdiri di depan pintu masuk rumahnya itu.


"Sore Om!" Ucap Adam dengan seulas senyum membalas sapaan ayah Manisya.


"Manisya ada Om?" tanya Adam.


"Ada, ada, Dia lagi istirahat di kamarnya!" Ucap Bapak Aralan dengan melingkarkan tangannya di pundak Adam, mengajak Adam untuk memasuki rumahnya.


"Ayo masuk dulu!" Ucap Ayah Manisya mempersilahkan Adam masuk.


Bapak Aralan saat itu mengajak Adam untuk duduk d ruang tengah keluarganya, saat itu Terlihat seorang laki-laki dengan mata tajamnya menatap ke arah Adam.


"Duduk di sini Nak Adam, Bapak lihat dulu ke adaan Manisya Nya ya!" Ucap Bapak Aralan mempersilahkan duduk di kursi yang letaknya di ruang keluarga itu.


"Baik Pak, terimakasih!" Ucap Adam sambil menatap ke arah Bapak Aralan.


"Gibran, ajak Nak Adam mengobrol!" Ucap sang ayah sambil berlalu meninggalkan Adam dan Gibran yang kini tengah memberikan tatapan tajamnya ke arah masing-masing.


"Hem!" Jawab Gibran dengan sedikit malas menjawab pertanyaan Ayahnya.


Ketika itu, saat ayah Manisya dan juga Gibran pergi ke kamar Manisya, suasana mencekam tercipta di antara Adam dan Gibran, mereka saling menatap dengan saling berpangku tangan.


"Ngapain Lo kemari?" tanya Gibran membuka percakapan, tanpa merubah tatapan tajamnya kepada Adam.


"Gua yang harusnya nanya sama Lo, Lo ngapain ada di sini?" Adam balik bertanya.


"Lo bener-bener!" Ucap Gibran menggelengkan kepalanya.


Adam hanya terdiam, tak menjawab perkataan Gibran.


"Yang sopan donk Lo, Gua nanya balik nanya!" Gibran yang terlihat sangat kesal kepada Adam yang bersikap seenaknya saat bertamu ke rumah orang lain.


Tiba-tiba Bapak Aralan, datang dari arah kamar dengan memegang tangan Manisya yang berjalan menghampirinya.


"Tidak perlu kemari!" Ucap Adam menatap Manisya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Dia bilang sudah sembuh, maksud nya mungkin udah baikan!" Ucap Pak Aralan kepada Adam.


Dengan seulas senyum di bibir pucatnya Manisya menatap ke arah Adam. Manisya duduk tepat di pinggir Gibran yang kini menatap ke arahnya penuh rasa curiga.


"Bapak ke belakang dulu ya!" Ucap ayah Manisya berpamitan meninggalkan Adam, Gibran dan Manisya yang duduk di kursi keluarganya.


"O iya Pak!" Jawab Adam sambil mengangguk kan kepalanya.


"Hih, menjijikkan, bisa-bisanya Lo bermuka dua!" ucap Gibran kepada Adam membuat Manisya terkejut mendengarnya, kemudian seketika mencubit pinggang Gibran.


"Aw, hentikan wanita bodoh!" Ucap Gibran membuat Adam terlihat semakin kesal.


"Bisa diam gak!" Bisik Manisya kepada Gibran masih tak melepaskan tangannya di pinggang Gibran, dan Manisya memberi sebuah isyarat kepada Gibran agar segera meninggalkan mereka, namun Gibran tak memperdulikan isyarat Manisya itu.


Gibran kembali menatap Adam, saat Manisya melepaskan tangannya dari pinggang Gibran.


Tak Ada kata yang keluar dari mulut Adam, saat itu ia hanya sibuk membalas tatapan Gibran, Manisya kala itu yang masih lemas menatap ke arah Gibran kemudian menatap ke arah Adam, kemudian menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah dua Laki-laki yang ia sayangi saling menatap.


"Kalian terlihat sama!" Ucap Manisya sambil bergantian menatap ke arah Adam dan Gibran.


"Gua sama dia?" tanya Gibran menunjuk Adam kemudian beralih memegang bagian dada nya.


"Tidak mungkin!" Ucap Gibran menatap ke arah Adam. Adam tak. Menanggapi perkataan Manisya.


"Apa dia laki-laki yang selalu kamu sebut dalam mimpimu, dia yang bernama Adam kan!" Tutur Gibran seolah sedang melakukan pertanyaan kepada seorang tersangka saat di meja hijau.


Mendengar ucapan Gibran, seketika Manisya membelalakkan kedua matanya, kemudian dengan cepat membungkam mulut Adiknya itu menggunakan kedua tangannya, agar tidak ada lagi ucapan yang membuatnya akan merasa malu di hadapan Adam.

__ADS_1


"Janji dulu, kamu diam, baru aku akan melepaskannya!" Bisik Manisya secara perlahan di ditelinga Gibran, Gibran pun menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Manisya.


"Apa dia membuatmu kesal?" tanya Manisya kepada Adam.


"Aku sangat baik, jadi tidak akan membuat siapapun merasa kesal!" Ucap Gibran dengan menatap tajam ke arah Adam, mengambil alih perkataan yang seharusnya Adam katakan.


"Aku tidak bertanya padamu!" Protes Manisya kepada Adik laki-lakinya itu.


"Aku sangat tidak menyukainya, kenapa kamu begitu mengidolakan dia?" Kali ini Gibran menunjuk tangannya kepada wajah Adam.


Manisya menggerak-gerkan siku tangannya kepada tubuh Gibran berharap dia berhenti berucap yang tidak- tidak kepada Adam.


Adam hanya terdiam menatap tajam ke arah Gibran, menahan emosi yang semakin besar di dalam jiwa nya.


"Jangan di ambil hati ya, dia memang menyebalkan!" Ucap Manisya kepada Adam.


"Apa kamu menyukai.. ?" Pertanyaan Gibran terpotong karena Manisya lagi-lagi menutup mulutnya.


Saat itu, tiba-tiba pintu rumah Manisya terdengar ada yang mengetuk, Manisya melepaskan tangannya yang menutup mulut Gibran, kemudian menyuruhnya untuk membukakan pintu rumahnya.


"Hai Gibran!" Sapa Nina kepada Gibran.


Samira tak mengalihkan pandangannya kepada Gibran, terpesona dengan ketampanan adik Manisya itu.


"Hai!" sapa Samira dengan melambaikan tangannya pada Gibran.


"Akan sangat berisik!" Ucap Gibran sambil membiarkan dua temannya Manisya berdiri di depan pintu Rumahnya.


Nina dan Samira pun berjalan menuju ruang keluarga, karena Nina memang sudah mengetahui letak isi rumah Manisya, seringnya ia main ke sana.


"Sya, dia Tambah Ganteng aja!" Ucap Nina.


"Sya dia siapa?" Tanya Samira yang baru pertama kali melihat Gibran.


"Hus, jangan sampai dia denger Nin, bisa besar kepala dia!" Manisya melirik Gibran yang sudah berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Tapi aku juga merasa dia tambah tampan, aku selalu gemas ingin menciumnya!" Ucap Manisya sambil tersenyum, dengan wajah pucatnya tak bisa ia sembunyikan lagi, Manisya saat itu berkata begitu saja tak memperhatikan raut muka Adam yang terlihat semakin memanas.


"Menciumnya?" Ucap samira membelalakkan kedua matanya.


"Adam kamu yang sabar!" Canda Samira saat mendengar Manisya berkata seperti itu.


"Memang apa hubungan kalian?" Tanya Samira penasaran.


"Dia Adikmu?" Adam ikut bertanya.


"Ya di adikku, memangnya kalian kira dia siapa?" Tanya Manisya.


"Aku kira dia simpanan mu Sya!" Ucap Samira masih belum move on dari wajah Gibran.


"Apa kamu juga berfikir seperti itu?" tanya Manisya kepada Adam, namun Adam tak menjawab perkataan Manisya, hanya terdiam menatap ke arah Manisya.


"Kalian berfikir terlalu jauh, dia itu Adikku, benar-benar adikku, aku hanya berbeda satu tahun dengannya, dia berbeda sekolah denganku, Oia dia juga sangat pintar beda jauh denganku, dan soal wajah, aku juga tidak mengerti mengapa dia begitu tampan, hehe!" Manisya menjelaskan kepada Adam dan Samira.


"Dan dia sangat galak!" ucap Manisya kepada Samira yang menatap kamar Gibran.


"Gak apa-apa Sya, titip salam aku buat dia, aku akan menaklukannya supaya dia tidak galak-galak lagi!" Ucap Samira.


"Hei anak baru, maen serobot ajah, ini aku yang tahu duluan!" ucap Nina tak mau kalah.


"Hehe!" Samira tersenyum ke arah Nina.


"Sudah-sudah, bercanda melulu!" Ucap Manisya.


"Kalian mau jenguk aku, apa mau cari jodoh?" Portes Manisya kepada Nina dan Samira.


"Maaf maaf, lupa kalau kamu sedang sakit, Kamu udah baikan kan?" tanya Samira melihat Manisya yang mengganjal tubuh bagian belakangnya dengan sebuah bantal.


"Kenapa bisa sakit seperti ini?" tanya Nina menatap ke arah Manisya.


"Ini udah mendingan ko, tadi pagi saja aku demam, sisa lemasnya yang belum hilang!"


"Kenapa bisa sakit, apa kamu kemarin pulang larut?" Tanya Nina sambil menatap ke arah Adam merasa curiga, Setahu Nina Adam bersamanya sampai malam karena menunggu Rangga yang terbaring sakit.


"Enggak, enggak, aku hanya kelelahan saja!" Ucap Manisya kepada teman-temannya itu.


"Kalian minumlah dulu!" Manisya mempersilahkan teman-temannya meminum Air mineral kemasan yang sudah tersedia di atas meja.


Samira, Nina dan Adam kemudian membawa air mineral yang tersimpan di atas meja tersebut kemudian meminum nya.

__ADS_1


"Kata Gibran, semalaman kakaknya tidak tidur, katanya pacarnya selingkuh!" Ucap Ibu Dewi yang tiba-tiba masuk kedalam pembicaraan sambil membawakan makanan di atas nampan, kemudian disimpannya makanan itu di atas meja untuk di suguhannya kepada teman-teman Manisya.


Adam yang sedang menyeruput air mineral itu, tiba-tiba terbatuk karena tersedak saat mendengar apa yang di katakan Ibu Dewi yang tak lain adalah Ibu Manisya.


Melihat Adam yang tersedak, Manisya dengan dengan segera menghampiri Adam, Manisya duduk tepat di sebelah Adam, dengan menggunakan tangannya, Manisya mengusap punggung Adam secara perlahan.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Manisya, sambil memberikan sebuah air mineral dengan kemasan yang baru, ia tancapkan sebuah sedotan dalam wadah air mineral tersebut, kemudian ia berikan kepada Adam.


"Sepertinya Ibu mengagetkan Nak Adam ya!" Ucap Ibu dewi yang kini tengah duduk tepat di depan Nina.


"Tidak Bu, tidak apa-apa!" Ucap Adam setelah meminum air mineral pemberian Manisya.


"Baiklah kalau begitu, ibu tinggal dulu ya!"


"Iya Bu!" Jawab Adam, Samira dan Nina.


"Kamu beneran udah sembuh Sya?" tanya Samira menatap Manisya, yang kini duduk kembali di posisi semula menjauhi Adam.


"Kamu lihat kan, aku baik-baik saja, hanya masih lemas saja, mungkin besok aku masih belum masuk sekolah, tapi aku lihat besok pagi saja deh, kalau udah mendingan aku masuk!" Tutur Manisya kepada Samira.


"Jangan lama-lama Sya, nanti ada yang kangen tuh!" Ucap Samira menatap ke arah Adam.


Samira dan Nina pun ter kekeh menertawakan Adam, namun tiba-tiba Nina dan Samira menghentikan tawanya saat Adam menatap tajam ke arah mereka.


"Apaan sih kalian ini!" Ucap Manisya sambil menarik kedua sudut bibirnya.


Beberapa saat merekapun terhanyut dalam percakapannya, Adam saat itu hanya memperhatikan tawa ke tiga temannya yang asik bercanda mengabaikan Adam yang kala itu duduk bersama mereka, Adam hanya memperlihatkan mukanya yang tanpa ekspresi dengan sesekali mengalihkan pandangannya ke arah Manisya.


"Ya ampun Ra, kita masih harus menjenguk Rangga!" Ucap Nina, saat melihat dari balik jendela rumah Manisya yang terbuka, saat itu terlihat langit yang semakin menggelap.


"Ibumu di dapur ya Sya!" tanya Nina dan Sambil berdiri hendak melangkah kan kakinya ke dapur rumah Manisya, untuk berpamitan dengan Ibu Dewi.


"Iyah, sepertinya Ibu sedang memasak!" Ucap Manisya membiarkan kedua temannya itu melangkahkan kakinya ke dapur.


Setelah itu, Nina dan Samira pamit kepada Manisya dan Adam untuk pulang terlebih dahulu.


"Apa kamu benar-benar sudah baik?" Tanya Adam saat Nina dan Samira sudah tak terlihat.


"Aku baik, tapi aku masih belum punya tenaga jika harus memukulmu saat ini!" Jelas Manisya sambil tersenyum dengan sebuah canda kepada Adam.


"Kamu masih punya tenaga untuk memegang sebuah ponsel?" Tanya Adam sedang menyelidiki Manisya.


"Tentu saja, tanganku sangat kuat?" Jawab Manisya sambil mengepalkan tangannya.


"Jika tangan mu begitu kuat, seharusnya kamu bisa membalas pesanku semalam kan?" tanya Adam dengan sebuah nada memprotes Manisya, membuat Manisya kala menundukkan kepala nya.


"Apa benar kamu yang mengirim pesan?" tanya Manisya dengan hati-hati kepada Adam.


"Lihatlah!" Ucap Adam sambil memberikan ponselnya kepada Manisya, agar ia percaya jika semalam yang mengirim sebuah pesan adalah dirinya.


Di ambilnya ponsel yang Adam berikan kepadanya, Manisya Dengan begitu teliti menatap ke arah ponsel Adam, di lihatnya pesan semalam yang Adam berikan kepadanya.


"Maaf, aku kira itu hanya pesan orang iseng!" Manisya memang masih belum percaya jika orang yang mengirim pesan itu adalah Adam.


"Kamu harus membalas pesanku saat aku mengirimkan sebuah pesan untukmu!" Tutur Adam dengan nada memperingati kepada Manisya.


"Kenapa begitu?" tanya Manisya mengerutkan keningnya


"Jangan banyak bertanya, lakukan saja!" Jawab Adam, kini tatapan Adam kembali menajam menatap Manisya.


"Baiklah!" Jawab Manisya mengerutkan bibir tipisnya.


Kemudian Adam terlihat merapihkan jaketnya, mengangkat resleting jaketnya hingga menutupi tubuhnya.


"Kamu mau pulang?" Tanya Manisya.


Adam mengangguk mengiya kan perkataan Manisya.


"Istirahatlah, Aku akan pulang, wajahmu masih terlihat pucat!" Ucap Adam yang terlihat khawatir melihat Manisya.


Manisya mengiyakan mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan, Adam dengan sengaja mengusap-usap rambut yang berada di puncak kepala Manisya, membuat perasaan Manisya bergetar merasakan sentuhan lembut tangan Adam, Manisya menarik bibirnya sangat lebar kepada Adam saat itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan!" Ucap Gibran yang tiba-tiba muncul di hadapan Manisya dan Adam, Gibran dengan sengaja mendaratkan tubuhnya di kursi yang diduduki Manisya saat itu.


"Tidak ada!" Jawab Manisya dengan mengangkat kedua tangannya.


"Lo pacaran kan sama wanita bodoh ini?" Ucap Gibran.


"Wanita Bodoh?" tanya Adam menatap tajam ke arah Gibran.

__ADS_1


"Iyah siapa lagi, dia wanita yang paling bodoh di dunia ini!" Jawab Gibran. wa


"Lain kali Gua denger Lo ngomong yang gak sopan sama Kakak Lo, Lo tau akibatnya!" Ucap Adam sambil berlalu meninggalkan Manisya dan Gibran.


__ADS_2