Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Aku Tidak Pernah Menyuruhnya


__ADS_3

Namun bukannya berhenti menangis, wanita berambut pendek tersebut semakin mengencangkan tangisannya.


"Sudah sudah", Pria tersebut menenangkan wanita berambut pendek tersebut kembali dengan posisi sang wanita berada di bahu Pria berkacamata tersebut.


Karena keributan tersebut, Perlahan membuka matanya.


"Kenapa kalian di sini?" Tanya Adam kepada Wanita berambut pendek dan Pria berkacamata tersebut.


Wanita tersebut segera memeluk Adam, mengsuap-usap rambut serta punggung Adam, dan menangis kembali, Adam terlihat menikmati dekapan dan pelukan wanita berambut pendek tersebut.


"Apa kamu tidak apa-apa sayang, kenapa bisa seperti inih" Tanya wanita tersebut memperhatikan seluruh luka yang Adam miliki.


"Sudah lah mih, kamu jangan berlebihan, Dia sudah besar" Giliran Pria berkacamata yang berkata.


"Kalau Adam sudah besar berarti kamu juga sudah tua, kamu tau kamu tua" Wanita berambut pendek tersebut malah mengomeli pria berkaca mata tersebut, tak mau berdebat pria berkaca mata memilih untuk tak banyak bicara.


"Dasar perempuan" Pria berkacamata menggeleng kan kepalanya kemudian memilih untuk duduk di kursi kosong yang dekat dengan tempat tidur Adam.


"Sudahlah jangan bertengkar di sini" Adam berbicara pada Wanita berambut pendek dan Pria berkacamata tersebut.


"Apa yang membuatmu bisa mengalami kecelakaan seperti ini sayang?" tanya wanita berambut pendek tersebut pada Adam.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka dari kursi.


Manisya tidak banyak berkata, tak ingin menggangu keakrabanan di antara mereka, ia hanya terdiam mencoba menebak siapa gerangan kedua orang tersebut, "Apa mereka kakak nya Adam, atau saudaranya Adam atau" Manisya mencoba menebaknya.


"Aku tak ingin membahasnya" Jawab Adam kepada wanita cantik berambut pendek tersebut.


"Kau dengar laki-laki tua, ia sama persis denganmu" Wanita berambut pendek masih memaki pria berkacamata yang sedang duduk menatap Adam, namun mengabaikan Perkataan wanita tersebut.


"Laki-laki tua mu pergi ke luar kota dua hari ga ngajakin, tau rasa tuh" Adam mencoba menakutin wanita berambut pendek tersebut.


"Hei siapa bilang boleh bilang dia laki-laki tua, yang boleh bilang laki-laki tua sama dia cuma aku seorang" Jawaban Wanita berambut pendek tersebut, membuat Adam dan laki-laki dengan kacamatanya kompak bertatapan dan mengangkat kedua bahunya.


"Iya mama iya, laki-laki tua punya mu seorang" Jawab Adam dengan nada Malas.


"Dia sudah pintar sekarang, kalo ada apa-apa dia telepon si Jono, trus ngancam segala macam dan ngebatalin semua acara, kerjaan mama mu tuh, selalu saja bikin semua urusan kantor jadi kacau" Jawab Pria berkacamata tersebut.


"Nanti kalo cari istri jangan cari yang kayak mamamu, bikin repot" kata laki-laki berkacamata menasehati Adam.


"Hei laki-laki tua jangan sembarangan kalau biacara, aku tuh wanita berprestasi yang bisa membuat anakmu satu-satunya menjadi setampan inih" jawab sang wanita dengan memeluk Adam kembali.


Di sisi lain, Manisya yang tengah duduk di sofa, begitu terkejut saat Adam berkata mama kepada wanita berambut pendek tersebut, "Itu berarti Pria berkacamata itu adalah Ayahnya Adam, oh tuhan mimpi apa aku semalam, aku ingin menghilang saat ini juga" Manisya begitu gugup saat mengetahui mereka Adalah kedua orangtua Adam. Kedua lutunya serasa melemas, jantungnya berdegup kencang serta keringat dingin kini menyelimuti seluruh badannya. Namun Manisya begitu senang saat mengetahui sisi lain Adam terlihat begitu bahagia ketika dekat dengan kedua orangtuanya, dan selalu tersenyum saat bersama dengan mereka.


Tiba - tiba "Hik Hik Hik" suara cegukan Manisya membuat semua mata menoleh kebelakang menatap penuh tanya ke arah Manisya.


"Maaf, Hik Hik " Manisya cegukan kembali.


"Neng Manis" Pak Komar menyapa paling awal, "Bapak Ambilkan air hangat" Pak Komar segera mengambil Ari hangat dari sebuah dispenser yang tersedia di kamar tersebut, bermaksud agar cegukan Manisya segera mereda.


"Terimakasih Pak Komar" saat sebuah air hangat tiba di tangan Manisya.


Semua mata dalam ruangan tersebut masih menatap ke arah Manisya dengan tatapan penuh tanya, membuat Manisya semakin gugup.


"Minum neng biar cegukannya hilang" kata Pak Komar kepada Manisya.


Selesai memberikan minum kepada Manisya Pak Komar berdiri kembali di tempat sebelumnya dekat dengan Pak Jono yang berdiri tepat di depan pintu, Pak Komar di tatap oleh dua pasang mata milik orang tua Adam, kemudian Pak Komar pun menjelaskan kepada kedua orang tua Adam.


"Ini neng Manis namanya Bapak, Ibu"


"Manis?" Tanya Ibunya Adam kemudian mendekat ke sofa duduk di samping Manisya yang kini sedang gugup di buat olehnya.


Manisya mengulurkan tangannya kepada Ibu Adam kemudian berjalan ke arah Ayahnya Adam mengulurkan tangannya.


"Kenalin saya Manisya Om, Tante" dengan tangan yang berubah dingin akibat gugup Manisya bersalaman. Manisya juga menghampiri Pak Jono mengulurkan tangannya untuk bersalaman "Saya Manisya Pak" Dengan sopan menyapa Pak Jono.


"Saya Jono mba" Jawab Pak Jono dengan sopan pula.


Setelah selesai bersalaman Manisya duduk kembali di sofa tepatnya di samping Ibu dari Adam.


"Papa, liat ga sepertinya dia mirip denganku" Ibu nya Adam menatap Manisya sangat lama membuat Manisya tidak nyaman kemudian menundukkan kepalanya.


"Iyah mirip mah, mirip banget, sama-sama perempuan" Jawaban sang Ayah membuat Adam dan Ayahnya tertawa gembira meledek sang Ibu.

__ADS_1


Sang Ibu mengerutkan bibirnya saat mendengar jawaban dari suaminya.


"Adam apa ini calon menantuku?" Pertanyaan tersebut di tujukkan kepada Adam, namun hal itu membuat Manisya cegukan kembali.


"Apa kamu menginginkannya?" tanya Adam kepada sang Ibu.


"Tentu saja, apa kamu ingin menikah dengan Adam?" pertanyaan yang begitu berterus terang ia tujukan kepada Manisya.


"Hik Hik Hik" Mendengar perkataan tersebut membuat Manisya cegukan kembali.


"Kamu menyukainya?, Apa Adam memperlakukan Mu dengan baik? Apa..?"


"Mama hei, dia ketakutan mendengar kamu bertanya seperti itu" Sang Ayah merasa kasihan melihat Manisya yang gugup karena pertanyaan aneh dari Ibunya Adam.


"Bu Bukan Tante, Om, hubungan saya sama Adam hanya teman sekelas"


"Baiklah, maafkan tante ya, hanya penasaran saja, soalnya Adam tidak pernah mengenalkan teman perempuannya, Oia sejak kapan kamu di sini?" tanya sang Ibu kepada Manisya.


"Tidak apa-apa Tante, tidak apa-apa, saya di sini sejak, em sejak sebelum Pak Komar pergi" Manisya menjawabnya dengan gugup.


"Apa kamu dam yang menyuruhnya menunggu di sini?", kini giliran Adam yang di interogasi sang Ibu.


"Aku tidak pernah menyuruhnya, dia melakukannya dengan kemauan dia sendiri"


"DEG" Jawaban tersebut membuat Manisya ingin menangis sejadi jadinya sekaan ia sama sekali tidak memiliki harga diri.


"Em aku anu" Manisya berhenti berbicara, titik-titik air mata kini mulai memenuhi kedua kelopak matanya, namun ia berusaha menahannya agar tidak membanjiri pipinya, Manisya menundukkan kepalanya sangat malu.


"Oh itu, tadi saya yang meminta Neng Manis ini untuk menggantikan saya menemani mas Adam" Jawaban Pak Komar sangat membantu Manisya.


"Kamu tahu, Adam dan Ayahnya mempunyai sifat yang sama, sama-sama menyebalkan, jadi jika ada perkataan yang tidak ingin kamu dengar kemudian keluar dari mulut Adam, Tante harap kamu tidak memasukkannya kedalam hati, bilang aja sama Tante nanti Tante bakal pukulin Adam menggunakan sapu" Ibu Adam berkata serius menatap ke arah Adam penuh peringatan, kemudian memberikan senyumannya ke arah Manisya.


"Mah, ngomong apaan si, nanti dia besar kepala lagi" setiap perkataan yang keluar dari mulut Adam selalu berhasil membuat hati Manisya tertusuk.


"Adam, perhatikan kata-katamu!" giliran sang ayah memarahi Adam.


"Tidak apa-apa om, sudah biasa" kata-kata tersebut keluar begitu saja dari mulut Manisya.


"Bukan, bukan, Maksud Manisya, Adam sudah biasa bercanda Om Tante" Manisya meralat kata-katanya.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya Om Tante, Manisya minta maaf sudah mengganggu di sini" Manisya berpamitan hendak pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Hei Gadis Cantik tunggu dulu, Nanti pulangnya di antar sama Pak Komar ya" kata-kata yang keluar dari Ibunya Adam lebih menenangkan perasaan Manisya di bandingkan dengan kata yang keluar dari mulut Adam yang selalu menyakiti hatinya, Manisya pun kembali duduk mengikuti perintah orangtua Adam.


"Pak Komar bagaimana bisa kenal dengan Manisya?" Sang Ibu masih belum berhenti menginterogasi.


"Tentu saja dari Mas Adam Bu, neng Manis ini kan temanya Mas Adam" Jawaban Pak Komar membuat raut muka Adam berubah penuh amarah.


"Sudah berapa kali Pak Komar ketemu sama Manisya ini?" Sang ibu mengeluarkan rasa penasarannya yang menyelimuti firkirannya.


"Emm seperitnya ada lima kali apa lebih yah" Pak Komar mencoba mengingatnya.


Di tengah percakapan, sang Ayah yang bernama Bapak Hariyanto menerima sebuah panggilan, Ayah Adam pun keluar kamar untuk menerima panggilan tersebut, setelah selesai menerima panggilan telepon, sang Ayah masuk lagi ke dalam kamar.


"Mam, kita pergi dulu sebentar" Bapak Hariyanto berkata kepada istrinya.


"Kemana?" Tanya sang istri, Ibu Adam sendiri bernama Sarah.


"Nanti papah jelasin" Jawaban Pak Hariyanto kepada istrinya.


"Tapi Adam kan lagi sakit Pah, apa sebaiknya kita menginap semalam saja di sini" Ibu Sarah merasa mengkhawatirkan Adam, berusaha membujuk suaminya agar tidak pergi meninggalkan Adam.


"Mam, Adam sudah dewasa, dia pasti mengerti" Jawaban Pak Hariyanto membuat raut muka Adam berubah seketika Manisya menatap iba ke arah Adam.


"Adam, Papa sama mama pergi dulu ya, nanti Pak Komar yang jagain di sini" Namun Adam tak menjawab kata-kata sang Ayah.


"Pak Komar titip Adam ya, kalau ada apa -apa telepon saya" Sang Ayah menitipkan Adam kepada Pak Komar.


"Baik Pak" Jawab Pak Komar sambil menganggukan kepalanya.


"Tapi Pah" Sang Ibu masih enggan meninggalkan kakiknya dari ruangan itu.


"Ayo lah mah, Papa lagi ga ingin berdebat ini"

__ADS_1


"Iya Pah iya" Titip Adam ya Cantik. Ibu Sarah mengusap halus tangan Manisya dengan raut penuh kesedihnnya kemudian sang Ibu berjalan dengan sangat lunglai menghampiri Adam terlebih dahulu memeluk dan mengusap kepala Adam.


"Maafin mama ya sayang" Kata tersebut keluar dari mulut Ibu Sarah sebelum akhirnya pergi.


Manisya menatap ke arah Adam dengan perasaan sedih, tak keluar satu kata pun dari mulut Adam saat ayah dan ibunya beranjak pergi, kini di dalam kamar tersebut kembali bertiga, hanya ada Pak Komar, Adam dan Manisya.


"Neng Manis, boleh bapak titip Mas Adam sebentar, bapak perlu mengurus Admin sebentar kelantai bawah" Pak Komar menitipkan kembali Adam kepadanya.


"Iya Pak Komar, silahkan selesaikan dulu " Jawab Manisya sambil kembali duduk di atas sofa.


Kini di dalam kamar kembali berdua, Adam masih duduk di atas kasurnya menatap ke arah Manisya.


"Kenapa Lo liatin Gua dengan muka Lo yang seperti itu" Adam menaikan nada bicaranya kepada Manisya.


"Tidak apa - apa" Manisya menjawab singkat, ia berusaha mengerti mengapa Adam menjadi seperti itu.


"Apa Lo ngerasa kasihan?" tanya Adam kembali.


"Tentu saja, em maksudku bukan begitu, aku hanya merasa khawatir" Jawab Manisya membetulkan perkataannya.


Setelah itu, Adam membuka Ponselnya, menelpon seseorang tak lain adalah


Pak Komar, "Hallo, Pak Komar tolong belikan beberapa Pakain dan keperluan Lainnya untuk Gadis bodoh ini, Pak Komar nanti pulang saja, Gadis bodoh ini memaksa ingin menemani aku di sini" Adam berkata sambil tersenyum sinis ke arah Manisya, kemudian menutup ponselnya.


"Apa Maksudmu" Tanya Manisya.


"Jika Lo tidak sebodoh itu harusnya Lo ngerti apa maksud pembicaraan gua barusan" Adam memberikan penjelasan kepada Manisya, tentu saja Manisya mengerti, ia hanya memastikan perkataan Adam.


"Apa kamu lupa aku juga punya ayah dan ibu yang menungguku di rumah" Jawab Manisya membuat Adam berfikir.


"Teleponlah" Jawab Adam.


"Em, tapi" Manisya menundukkan kepalanya, tak mau berdebat.


"Terserah kalau begitu, tapi Lo tetap harus di sini malam ini"


Entah apa yang terjadi pada Adam, ia seakan sedang menumpahkan kekesalan terhadap orangtuanya kepada Manisya.


Manisya sebenarnya ingin menolaknya, namun perasaan Khawatir akan Adam di tinggalkan begitu saja oleh kedua orangtuanya membuatnya di selimuti perasaan iba.


"Apa Lo lupa, apa yang Nyokap gua katakan sama Lo" Kata Adam mulai berbicara.


"Emm" Manisya berfikir keras.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat" Manisya memberikan sebuah persyaratan kepada Adam.


"Apa itu" tanya Adam.


"Aku, aku, aku ingin kamu menemaniku satu Minggu sekali" Manisya berkata dengan penuh keraguan. Namun perkataan Manisya membuat fikiran Adam Travelling sangat jauh.


Manisya menatap ke arah Adam seakan mengerti apa yang ada di fikiran Adam.


"Bukan seperti yang kamu fikirkan" Manisya menegaskan kembali.


"Seperti makan atau nonton" Jawab Manisya.


"Hanya seperti itu?" Tanya Adam.


"Em, kamu boleh menambahkan jika nanti ada sesuatu yang kamu inginkan, tapi tidak dengan yang kamu fikrikan barusan.


"Memangnya Lo tau apa yang gua fikirkan" Tanya Adam mencoba mengetes Manisya.


" Tentu saja aku tahu, kecuali jika kamu bukan laki-laki Normal" Jawab Manisya begitu berterus terang.


"Apa Lo tidak yakin dengan.." Adam memotong kata-katanya.


"Sudah sudah tak usah di bahas lagi" Manisya memotong pembicaraan takut jika Adam berusaha menakutinya seperti sebelum-seblumnya.


Adam menarik salah satu bibirnya, sebuah kemenangan lagi untuknya.


"Apa aku tidur di sini" Manisya menunjuk sofa yang kini di dudukinya.


"Apa Lo mau tidur di sini" Adam menepuk-nepuk kasur yang ia tiduri, dan senyum jahilnya ia tunjukan kepada Manisya.

__ADS_1


__ADS_2