
"Sesuai dengan keinginan Lo, kencan yang sebenarnya." setelah itu Adam melangkahkan kakinya keluar dari mobil yang berwarna merah tersebut membiarkan Manisya dengan sejuta pertanyaan di dalam hatinya.
"Apa maksudnya aku tidak mengerti." Manisya berkata dalam hatinya mengingat kembali sebuah ciuman yang Adam berikan untuknya, perasaan Manisya kini bercampur sudah, Manisya merasakan perasaan bahagia menyelimuti perasaannya, bagaimana tidak, seorang laki-laki yang ia sukai akhirnya menciumnya bahkan ini untuk yang kedua kali nya, namun di sisi lain, Manisya juga di liputi perasaan khawatir, khawatir jika Adam hanya memanfaatkan dirinya karena ia tahu jika Manisya sangat menyukai Adam sudah sejak lama.
"Tok tok tok," suara ketokan kaca mobil yang di lakukan oleh Adam, membuyarkan lamunan Manisya, Adam melakukannya karena Manisya yang tak kunjung keluar dari dalam mobil.
Manisya bergegas membuka pintu mobil, segera mengahmpiri Adam yang kini sedang berdiri menunggunya.
Apa yang akan kita lakukan di sini, tanya Manisya kepada Adam yang kini mulai melangkahkan kakinya di ikuti oleh Manisya.
"Menurut Lo, apa yang harus kita lakukan di sini?" Adam memancing sebuah pertanyaan yang membuat fikiran Manisya Travelling ke sebuah tempat yang tak bisa ia gapai.
"Em, apa maksudmu aku tidak mengerti!" Jawab Manisya.
Adam menghentikan langkahnya melirik ke arah Manisya, di tatapnya wanita yang umurnya tidak berbeda jauh darinya itu.
Melihat Adam menatapnya, Manisya sedikit mengerutkan kedua alisnya.
"Kamu fikir apa yang bisa kita lakukan di sini dengan sebuah seragam menempel pada baju kita?" tanya Adam.
"Em, benarkah itu?" Manisya tersenyum lebar saat Adam mengatakan hal tersebut kepadanya, ada perasaan tenang dalam hatinya, fikiran kotornya kini pergi begitu saja, kemudian Manisya memutarkan kedua bola matanya ke sisi kiri dan kanan, mencoba menebak apa yang seharusnya mereka lakukan di sebuah hotel.
"Gua bilang jangan simpan fikiran kotor di dalam otak Lo itu!" Adam hendak menyentil dahi Manisya kembali namun ia urungkan karena Adam melihat dahi Manisya yang masih terlihat merah akibat sentilan tangannya saat di dalam mobil.
"Ti, tidak aku hanya!" Manisya hendak mengelak perkataan Adam, namun terhenti karena Adam memotong perkataan yang akan Manisya keluarkan.
"Jangan berbohong!" Adam yang selalu berhasil menebak apa yang ada di dalam fikiran Manisya.
Manisya mengurungkan perkataan yang hendak ia keluarkan saat Adam mengatakan hal tersebut, membuatnya kini tak bisa berkata-kata.
"Ayo cepatlah!" Adam melangkahkan kakinya kembali.
"Iya iya tunggu aku!" Manisya mengikuti langkah Adam dengan mempercepat langkahnya karena jarak Adam dengannya semakin menjauh.
Mereka pun berjalan hendak memasuki hotel tersebut, Adam dan Manisya di sambut oleh Staf hotel yang berdiri tepat di depan pintu masuk hotel tersebut.
"Selamat sore Mba, Mas" Sapa seorang petugas yang menyambut ke datangan Adam dan Manisya di sebuah hotel berbintang lima.
"Sore." Jawab Manisya menjawab sambutan petugas tersebut.
"Saya sudah pesan atas nama Adam," Adam berkata tanpa memperdulikan sapaan sambutan petugas tersebut.
"Baik, silahkan di sebelah sini!" Jawab Petugas hotel tersebut.
Kemudian petugas hotel tersebut mengarahkan Adam dan Manisya untuk menaiki sebuah Lift, karena letak restoran yang berada di lantai paling atas hotel berbintang lima tersebut, Petugas Hotel mengantarkan Adam dan Manisya hingga sampai ke restoran yang di maksud.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Manisya terlihat sangat takjub melihat suasana Resto yang telah di pesan oleh Adam sebelumnya itu, sebuah resto yang letaknya berada di lantai paling atas gedung membentuk sebuah pemandangan yang sangat indah, cahaya lampu yang menyoroti setiap gedung berhasil memberikan cahaya yang begitu indah bercampur langit senja yang kini kian meredup, suara alunan musik bergenre Jaz, serta suasana restoran yang tenang karena hanya terlihat beberapa orang yang menduduki kursi yang berada di restoran tersebut membuat Manisya tak henti menarik kedua sudut bibir tipisnya.
Adam dan Manisya pun duduk berhadapan di sebuah kursi dengan letak yang mengarah pada sebuah pemandangan kota.
"Adam kenapa bagus sekali" Manisya tak henti untuk melihat ke sekeliling Resto ber gaya Kalsik Elegan tersebut.
"Ini tidak gratis!" jawab Adam asal bicara kepada Manisya.
"Maksudmu?" tanya Manisya yang penasaran dengan Jawaban Adam.
Namun Adam tak menjawab perkataan Manisya, ia sibuk dengan sebuah ponsel miliknya.
"Apa aku boleh minta tolong?" tanya Manisya menatap Adam dengan penuh pengharapan.
"Tolong apa?" tanya Adam menggerakkan kepalanya ke atas saat berbicara kepada Manisya.
"Tolong foto kan aku, hehe!" senyum Manisya sambil memberikan ponsel miliknya kepada Adam.
Adam segera mengambil ponsel yang di sodorkan Manisya kepadanya. Adam mengambil foto Manisya sesuai perintah Manisya. Setelah selesai Adam memberikan Kembali ponsel milik Manisya.
"Terimakasih!" Kata Manisya saat mengambil kembali ponsel miliknya, selalu Manisya memberikan senyumannya kepada Adam.
"Em," Manisya terdengar ragu untuk berkata sesuatu.
"Apa foto yang tadi masih kurang?" Adam mencoba menebak keinginan Manisya, kemudian ia menengadahkan tangannya bermaksud meminta kembali ponsel milik Manisya.
"Iya masih kurang, kenapa kamu bisa tahu?" tanya Manisya sambil memberikan ponsel miliknya kepada Adam.
"Tunggu tunggu," Teriak Manisya saat Adam hendak mengambil gambar dirinya tiba-tiba Manisya berjalan mendekati Adam, ia duduk tepat di pinggir Adam.
"Ngapain Lo?" Tanya Adam dengan menatap Manisya, Adam sedikit menjauhkan kepalanya dari Manisya.
"Apa berfoto denganmu juga tidak gratis?" tanya Manisya sambil kembali menggeser badannya dekat dengan Adam kemudian membuat sebuah pose berharap Adam langsung menekan tombol kameranya saat itu.
"Tentu saja, itu harus di bayar seumur hidup Lo!" Adam berkata sambil memposisikan kembali ponsel Manisya hendak mengambil sebuah foto, jawaban Adam membuat Manisya menggeser kembali posisi duduknya namun di tarik oleh tangan Adam yang kini merangkulnya , saat itulah Adam menekan tombol ambil gambar pada kamera ponsel milik Manisya hingga posisi mereka di foto adalah saat Adam merangkul pundak Manisya dengan tangannya sambil tersenyum kepada kamera namun Manisya menatap ke arah Adam dengan tatapan bingung.
Setelah mengambil sebuah foto, Adam melepaskan rangkulan tangannya pada pundak Manisya, di lihatnya foto yang baru saja Adam ambil, saat itulah Adam memperlihatkan senyuman nya yang jarang sekali Manisya lihat itu.
"Dia tersenyum, sangat manis dan tampan." Manisya berkata di dalam hatinya, kemudian Manisya mengambil ponsel yang masih di pegang oleh Adam tersebut, di lihatnya hasil foto yang di ambil oleh Adam tersebut.
"Kamu curang!" kata Manisya tak terima dengan ekspresi wajahnya saat di foto.
"Gua curang?" tanya Adam mengulangi perkataan Manisya. Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Adam.
"Baiklah" Adam bersiap dengan ponsel di tangannya, ia arahkan dengan kamera ponsel yang siap untuk mengambil sebuah gambar, namun kali ini Adam menggunakan kamera ponsel miliknya.
__ADS_1
Melihat Adam yang telah bersiap dengan kamera ponsel di tangannya, ia segera mendekatkan tubuhnya pada Adam, hingga kini jarak mereka begitu berdekatan, Manisya pun bersiap dengan senyum di bibirnya yang sudah ia tahan demi sebuah gambar yang bagus, namun senyumnya hilang saat Adam tiba-tiba kembali merangkul pundak Manisya, menarik Manisya lebih dekat dengannya, dan saat itulah Adam menekan tombol Ambil gambar pada kameranya.
Manisya masih menatap Adam saat Adam selesai mengambil gambar mereka, Adam menatap kembali ke arah Manisya membalas tatapan Manisya kemudian mengusap wajah Manisya dengan telapak tangannya.
"Kamu menyebalkan!" kata Manisya sambil menggeser kan kembali tubuhnya menjauhi Adam, kemudian Manisya duduk kembali ke posisi sebelumnya berhadapan dengan Adam.
Adam menarik salah satu sudut bibirnya, "Lo tau apa bayaran yang harus Lo berikan untuk mengambil foto yang kedua tadi?" tanya Adam kepada Manisya.
"Aku tidak mau membayarnya, aku tidak menyukai fotonya!" Jawab Manisya dengan memanjangkan mulutnya.
"Kemarilah!" perintah Adam pada Manisya dengan menggerakkan tangganya memanggil Manisya untuk kembali duduk di pinggir Adam.
"Apa kamu serius?" tanya Manisya membelalakkan kedua matanya. Kemudian Manisya berdiri bermaksud duduk kembali di pinggir Adam.
"Tentu saja!" Jawab Adam sambil menatap ke arah Manisya memandang dari ujung rambut sampa ujung kaki tubuh Manisya yang hendak berjalan ke arahnya.
"Aku tidak mau!" jawab menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, seakan mengerti maksud pembicaraan Adam. Manisya kembali duduk di kursi nya yang semula berhadapan dengan Adam.
"Lo tetap harus membayarnya, akibat dari dua foto yang Lo ambil tadi!" jawab Adam dengan menatap ke arah Manisya.
"Baiklah, lantas aku harus membayar dengan apa?" tanya Manisya.
"Lo akan tau nanti!" Jawab Adam dengan mengalihkan pandangan pada sebuah foto yang ada di dalam ponselnya.
Di sela-sela pembicaraan antara Adam dan Manisya, datang lah hidangan yang sudah di pesan oleh Adam sebelumnya, menu Steak yang berbahan dasar Daging Sapi, hidangan penutup serta Minuman Black Mojito dan Lime Squash telah tersedia di meja.
"Dari mana kamu tahu aku suka sekali makan Steak?" tanya Manisya dengan mata yang berbinar-binar melihat menu yang tersedia di meja yang merupakan menu kesukaannya.
"Gua hanya pesan menu hidangan yang paling Favorit di sini!" tanya Adam mulai menyiapkan Pisau dan Garpu nya untuk memotong Steak yang ada di hadapannya.
"Senangnya, terimakasih Adam!" Jawab Manisya dengan memperlihatkan senyuman lebarnya kepada Adam, dalam hatinya Manisya begitu terharu dengan suasana yang ia rasakan saat ini.
"Sayang di bukan milikmu," Manisya berkata dalam hatinya, masih dengan seulas senyum ia berikan untuk Adam.
"Manis!" suara panggilan seorang laki-laki kepada Manisya, Adam dan Manisya dengan segera menoleh ke arah panggilan berasal.
"Ngapain Lo di sini?" tanya Adam kepada laki-laki yang memanggil Manisya tersebut, suara tersebut adalah suara sahabatnya sendiri yaitu Baron.
"Ya Lo tuh Dam, yang sweet dikit dong nanya nya?" jawab Baron kepada Adam yang protes karena pertanyaan Adam yang terlihat kesal.
Tanpa permisi Baron duduk tepat di pinggir Manisya.
***
Terimakasih dukungan semuanya.
__ADS_1