
"Tidak!" Jawab Adam sambil berlalu melangkahkan kakinya kedepan, karena pintu Lift sudah terbuka, dan Manisya juga mengikuti langkah kaki Adam keluar lift karena memang saat itu lift sudah berhenti di lantai 10 tepat di lantai Adam dan Manisya bekerja.
"Apa kamu sudah memaafkanku?" tanya Manisya sambil menghalangi langkah kaki Adam yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kamu pantas di maafkan?" Adam balik bertanya.
"Kau wanita paling menyebalkan yang pernah aku temui, aku sangat kesal kepadamu, dan kamu kini dengan mudahnya ingin meminta maaf kepadaku? yang benar saja!" Ucap Adam sambil menatap tajam ke arah Manisya.
"Deg!" Seluruh perkataan Adam berhasil menusuk perasaannya, ya tapi Manisya sadar semuanya memang benar adanya semua memang karena kesalahannya.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf atas sikapku selama ini, apa kamu tidak bisa memaafkan ku? apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerima permintaan maafku?"
Adam melangkahkan kakinya kedepan hingga jarak mereka kini lebih dekat dari sebelumnya.
"Kamu benar-benar ingin aku memaafkanmu?"
Manisya menganggukkan kepalanya dengan raut muka kesedihannya.
Adam membuka merogoh tangannya kedalam saku celananya di ambilnya sebuah kertas dari dalam dompet miliknya di hadapan Manisya, kemudian memberikan kertas tersebut kepada Manisya.
"Datanglah kesana setiap hari!"
Setelah itu tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Adam, Adam segera melangkahkan kakinya dari hadapan Manisya berlalu meninggalkan Manisya yang terlihat bingung menatap kertas yang berisi Alamat ditangannya tersebut.
Manisya menarik nafasnya, "Kalau dia belum memaafkanku, kenapa dia baik kepadaku? dan alamat apa ini? Apartemen Garand Mutiara Indah?"
Dengan bibir mengerut Berkata sambil melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.
***
Siang harinya di kantin.
"Mon aku mau tanya?"
"Hem, tanya apa?"
"Temenku nih, dia suka sama satu cowok, cakep pinter sejak awal duduk di SMA, akhirnya di bisa Deket sama tuh cowok berkat perjuangan gigihnya mendapatkan hati cowok itu, dan karena kesalahan temenku hubungan mereka renggang hanya karena aku, eh maksudku temenku tidak menepati janjinya karena seseorang mengancamnya, Trus akhirnya mereka bertemu kembali, tapi si cowok ini udah ga mau Nerima dia Mon, walaupun dia sudah merendahkan harga dirinya mendekati cowok ini kembali, cuman cowok ini kayak udah enek liat mukaku, maksudku liat muka temenku Mon, apa yang harus dilakukan temenku ini supaya laki-laki itu bisa memaafkannya?"
"Panjang banget cerita cintamu Manis?"
"Bukan cerita cinta kau Mon, temen aku!"
"Iya yah temen mu!"
"Gimana ya, aku juga bingung, ya udah cari yang baru aja kalo gitu!"
"Itu dia Mon, aku benar-benar ga bisa kalau ga sama dia, maksudku temenku memang udah sukanya sama dia!"
"Ya udah kalau begitu selamat berjuang!" Ucap Mona.
"Kok gitu si Mon?"
"Lha itu kan semua gimana temenmu, kalau masih mau berjuang ya lanjut kalau engga ya udahan move on cari yang baru!"
__ADS_1
"Tapi, saran ku nih ya, kalau memang nanti usaha temenmu tidak membuahkan hasil, harus menerima dengan hati yang lapang serta fikiran yang terbuka, mungkin dia memang bukan jodohmu, itu saja si pesanku!"
Untuk beberapa saat Manisya mematung mencerna perkataan Mona kepadanya, setelah itu ia berkata "Aku akan memberitahu nya untuk mengikuti saranmu mon, terimakasih banyak!" Manisya menepuk pundak Mona kemudian tersenyum lebar menatap ke arahnya.
Setelah itu Mona dan Manisya menyantap menu makan siangnya.
"Lihat Sya, ada Pak Adam sama Bu Siska, cocok banget tapi sayang yang cewek kelakuannya kaya nenek sihir!"
Manisya diam mematung menatap ke arah Adam dan Siska yang hendak duduk di meja yang sama bersama mereka.
Manisya dan Mona pun tersenyum menyapa Adam dan Siska.
"Saya permisi duluan ya Pak Adam, Bu Siska!" Ucap Manisya bermaksud menghindar dari Adam.
Mona hanya menatap bingung melihat Manisya tiba-tiba bergegas pergi saat Siska dan Adam menghampirinya.
Mata Adam terlihat mengikuti setiap gerakan Manisya.
"Kenapa temenmu!" Tanya Siska.
"Sepertinya dia kebelet Bu!" Jawab Mona dengan menarik kedua sudut bibirnya sambil terus melahap makanannya.
***
Hari itu jam pulang kantor, Manisya terlihat pamit pulang terlebih dahulu di bandingkan dengan rekan kerja yang lainnya dengan alasan ada keperluan.
Di dalam Lift, Manisya hanya seorang diri di sana menatap sebuah kertas yang di berikan oleh Adam, yang berisi sebuah alamat.
"Apa ini alamat rumah Adam?" ucap Manisya dengan Mengerutkan dahinya, setelah itu Ia segera memesan sebuah mobil online menuju alamat tersebut.
"Sampai pak?" Tanya Pak Supir.
"Iyah Mba inih sudah di loby?"
"Dekat ya pak?"
"Iyah Mba jaraknya memang dekat dengan tempat mbaknya naik tadi!" hanya perlu sekitar 10 menit jarak kantor ke apartemen yang tertulis pada kertas yang di berikan Adam kepada Manisya.
Setelah itu Manisya turun, sesaat ia menatap gedung bertingkat tinggi itu dengan tatapan bingung, Manisya terlihat menghela nafas kemudian segera melangkahkan kakinya masuk menuju Apartemen Grand Indah Mutiara yang merupakan salah satu apartemen mewah di kota tersebut.
Dengan perasaan takutnya Manisya menaiki lift kemudian memijit angka yang tertera dalam kertas, dan akhirnya Manisya telah sampai di depan pintu apartemen yang tertera pada kertas yang ia pegang.
"Seharusnya ini tempatnya!" Ucap Manisya menatap sebuah pintu yang terdapat nomor di depannya.
Dengan ragu ia kemudian menekan bel yang menempel pada pintu tersebut, namun tak nampak ada jawaban dari dalam, dan pintu masih tertutup.
Kini wajah Manisya terlihat bingung, sudah 30 menit ia menunggu jawaban dari depan pintu namun hasilnya nihil.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?" Kemudian Manisya hendak menekan kembali bel yang tertera di depan pintu, saat Manisya hendak menekannya, ia di kejutkan dengan suara seorang laki-laki dari arah belakang.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Manisya terperanjat mendengar suara dari arah belakang secara tiba-tiba.
"Adam?" Manisya menghela nafasnya.
__ADS_1
"Aku sangat terkejut, aku kira siapa!"
"Kamu di sini juga!" Ucap Manisya.
Adam hanya menatap tajam ke arah Manisya, tak menjawab pertanyaannya.
"Minggir!" Membuat Manisya melangkahkan kakinya bergeser sesuai dengan perintah Adam.
Terdengar suara bunyi pintu terbuka saat Adam menempelkan salah satu jari telunjuknya di kunci otomatis.
Manisya menatap bingung saat Adam berhasil membuka apartemen tersebut.
"Kamu tidak akan masuk?" Tanya Adam.
Manisya pun melangkahkan kakinya ke dalam apartemen, mengikuti perintah Adam, saat masuk kedalam apartemen, Manisya sangat terkagum-kagum dengan benda-benda yang ada di dalamnya, Nuansa hitam bergaya anak muda sangat terasa di sana, penataannya yang rapih dengan benda-benda yang modern seolah-olah menggambarkan kesan yang mewah.
"Apa ini apartemen milikmu?" tanya Manisya yang sedang mengagumi ke indahan isi apartemen milik Adam itu.
Adam tak menjawab pertanyaan Manisya.
"Apa yang harus aku lakukan di rumahmu ini?" Tanya Manisya kembali.
"Kamu lihat rumahku berantakan bukan?"
Manisya mengangkat kedua alisnya, dalam hati ia menggerutu, "Kalau apartemenmu ini namanya berantakan, lantas apa yang harus aku namakan untuk rumah kontrakanku yang benar-benar berantakan?"
"Kalau kamu ingin aku memaafkanmu, datanglah ke apartemenku saat pulang kerja, dan bantu aku merapihkan apartemenku, jangan pergi sebelum aku datang!"
"Apa itu akan bisa membuatmu melupakan kesalahanku?"
"Tidak!" dengan cepat Adam menjawab.
"Kenapa kamu menyuruhku untuk datang ke sini?" tanya Manisya masih belum mengerti.
"Untuk menghukum mu!" Jawab Adam dengan menatap tajam ke arah Manisya.
"Maaf!" Ucap Manisya sambil menundukkan pandangannya, mereka bercakap dia area dapur.
Adam tak menghiraukan ucapan Manisya, ia berjalan menuju ruang keluarga.
"Kemarilah!" Adam memberikan perintah kepada Manisya untuk lebih mendekat ke arahnya. Mereka masih berbincang berhadapan tepat di depan pintu.
"Kemarilah!" Untuk kedua kalinya Adam menyuruh Manisya untuk mendekat kepadanya.
Namun Manisya tak mengikuti perintah Adam, karenanya Adamlah yang melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Manisya, kini jarak mereka sangat dekat.
"Kamu ingin aku memaafkan mu kan?" Tanya Adam.
Manisya menjawab dengan menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Peluk aku!" Tangan Adam sudah terbuka menunggu pelukan Manisya.
Manisya diam sesaat saat mendengar Adam menyuruhnya untuk memeluknya, di pandangnya wajah laki-laki berparas tampan dan menyejukkan yang selalu ia rindukan empat tahun terakhir ini, Manisya pun segera melingkarkan tangannya di tubuh Adam, memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Peluk aku seperti ini setiap hari!"