
"Bapak tahu, Dia itu Pacarku." Seketika Manisya membelalakkan kedua matanya saat perkataan Adam berhasil masuk ke dalam telinganya.
Bapak Penjual Pecel Lele pun tak kalah kagetnya dengan Manisya, saat Adam berbisik di telinganya dengan nada yang kencang.
Bapak penjual Pecel Lele tersenyum lebar menatap ke arah Manisya, saat sebelumnya menepuk pundak Adam secara perlahan,
"Bapak Ikut senang, selamat ya Mas, cewek yang baik begini jangan di lepas Mas, udah sulit sekarang."
"Mudah-mudahan langgeng sampai nanti nikah, punya anak, punya mantu, punya cucu punya cicit." Tutur Bapak Penjual Pecel Lele memberikan sebuah Ucapan selamat pada Adam.
Setelah memberikan ucapan selamat, Bapak Penjual sekaligus pemilik warung pecel lele tersebut, berpamitan untuk mempersiapkan pesanan makanan dari pengunjung yang baru saja datang di warung miliknya.
Untuk sesaat Manisya menjadi sebuah pusat perhatian, tepatnya saat Adam mengatakan sebuah pengakuan kepada pemilik warung pecel lele, yang membuat Manisya tidak bisa bergerak dari tempat ia berdiri saat ini, sejumlah pertanyaan begitu saja datang menghampiri fikirannya,
"Apa maksudnya berkata seperti itu dihadapan semua orang?"
"Apa dia bersungguh-sungguh?"
"Apa itu hanya bercanda?"
Manisya yang sejak dari tadi hanya berdiri mematung menatap ke arah Adam, tiba-tiba saja sekujur tubuhnya menjadi kaku, ia kesulitan menggerakkan badannya, dan saat itu tiba-tiba Adam datang menghampirinya.
Adam menatap balik ke arah Manisya, "kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Adam menghampiri Manisya.
"Ti, tidak, tidak apa-apa." Jawab Manisya gelagapan, ada perasaan canggung yang ia rasakan kepada Adam, saat mendengar sebuah pengakuan Adam, rasanya ingin sekali Manisya bertanya kepada Adam soal kebenaran ucapan Adam sesaat lalu, namun rasa canggung nya yang begitu besar menutupi perasaan keingin tahuannya.
"Kenapa wajahmu terlihat semakin pucat?" Tanya Adam menatap muka Manisya yang memang terlihat lebih pucat dari sebelumnya, hal ini sebenarnya karena mendengar pengakuan Adam yang tiba-tiba.
"Tidak-tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah." Tutur Manisya menutupi perasaannya.
"Baiklah, Ayo aku akan mengantarkan mu pulang."
"Ayo!" Ucap Manisya menjawab perkataan Adam.
Manisya dan Adam pun beranjak dari tempat Pecel Lele dan segera berjalan menuju Mobil Adam yang terpakir tak jauh dari warung Pecel Lele tersebut.
Saat itu Manisya dan Adam berjalan sudah mendekati mobil mereka, dan Manisya yang hendak membukakan pintu Mobil alangkah terkejutnya ia saat Adam tiba-tiba mendekatinya kemudian ia memegang jaket miliknya yang kini telah beralih menyelimuti tubuh Manisya, Adam membetulkan resleting jaket yang menempel pada Manisya, ia tarik resleting itu ke atas hingga sampai pada ujung jaket.
"Ini akan lebih menghangatkan mu." Ucap Adam masih memegang resleting jaket yang kini telah sampai di ujung jaket hendak mengena dagu Manisya.
"Iya, terimakasih." Ucap Manisya dengan wajah pucat nya.
"Apa ini kurang hangat?" tanya Adam sambil melepaskan tangannya pada resleting jaket yang menempel pada tubuh Manisya.
"Tidak, ini sangat cukup!" Jawaban Manisya membuat Adam mengangkat salah satu alisnya menatap ke arah Manisya.
"Betulkah ini tidak hangat?" Ucap Adam berbanding terbalik dengan perkataan Manisya.
"Aku tidak berkata seperti itu, aku bilang ini sangat hangat!" Manisya memberikan penjelasan k Adam.
"Baiklah, jika kurang hangat, aku mengerti maksudmu!" Ucap Adam sambil menarik tubuh Manisya menjadi lebih dekat dengannya, dan saat itu Adam tak melepaskan kesempatan untuk segera mendekap tubuh Manisya dalam pelukan hangatnya.
"Seperti ini kan maksudmu?" tanya Adam semakin mendekap erat tubuh Manisya.
"Aku tidak menyuruhmu untuk memelukku!" Manisya membela dirinya tak ingin di kambing hitamkan, dengan tubuhnya masih terperangkap dalam dekapan pelukan Adam.
"Baiklah, Aku tidak akan melepaskan pelukan ku, jika itu keinginanmu!" Ucap Adam kepada Manisya, semakin Manisya menolak, dan semakin Manisya mengelak, Adam semakin tak melepaskan Manisya begitu saja.
"Apa benar kamu baik-baik saja?" tanya Adam masih mendekap Manisya dalam pelukannya, Adam sebetulnya merasa tidak benar-benar yakin dengan kondisi Manisya saat itu.
"Aku baik-baik saja." Jawab Manisya.
"Tapi kenapa wajahmu menjadi pucat seperti itu?" Tanya Adam yang merasa khawatir melihat wajah Manisya yang masih terlihat pucat walaupun ia telah makan malam sesaat lalu.
"Aku sudah memberitahumu aku hanya sedikit lelah."
"Baiklah jika begitu, aku harap kamu benar-benar baik." ucap Adam dengan melepaskan pelukannya, kemudian Adam membukakan pintu mobil untuk Manisya, dengan segera Manisya memasuki mobil tersebut, walaupun muka Manisya saat ini memperlihatkan wajah pucat nya, namun rona bahagia bercampur di sana, merasakan perlakuan Adam yang mengistimewakannya saat itu, ada rasa syukur terucap dalam hati Manisya.
Adam dan Manisya pun telah menaiki mobil Sport merah, tiba-tiba menggeser badannya ke arah Manisya, membuat Manisya membelalakkan kedua matanya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Manisya yang terlihat ketakutan.
Adam menatap ke arah Manisya dengan jarak mereka yang kini sangat dekat,
"Apa kamu ingin aku melakukan sesuatu?" Tanya Adam yang sengaja menakuti Manisya.
"Ti, tidak!" Jawab Manisya yang terlihat memejamkan matanya.
"Wanita bodoh, aku hanya akan memakaikan mu sabuk pengaman ini!" Adam menarik sabuk pengaman yang letaknya berdekatan dengan kepala Manisya, kemudian mengikatkan sabuk itu menyilang pada tubuh Manisya.
Manisya yang tengah memejamkan kedua matanya, kini perlahan membuka matanya, ada perasaan malu yang ia sembunyikan karena merasa sudah berfikiran negatif kepada Adam, seketika wajah pucat Manisya berubah karena pipi Manisya yang berubah merona tanpa merubah warna pucat bibirnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu fikirkan?" Tanya Adam sambil kembali ke posisi duduknya di kursi kemudi.
"Tidak, aku tidak berfikiran apa-apa!" Jawab Manisya sedikit menaikan nada bicaranya.
"Kamu berbohong." Jawab Adam.
Setelah itu Manisya terdiam, tak ingin memperdebatkan permasalahan tersebut, karena memang sudah jelas, bahwa dirinya lah yang sudah berfikiran aneh saat itu.
Adam segera menyalakan mesin mobil di kursi kemudinya, kemudian memajukan mobil miliknya itu dengan kecepatan sedang.
"Jika kamu mengantuk, tidur saja, aku akan membangunkan mu saat sudah sampai!" Ucap Adam yang sedang mengemudikan mobil miliknya, ia menatap sesaat ke arah Manisya kemudian fokus kembali menatap jalanan yang di penuhi hiruk pikuk kendaraan bermotor.
"Aku tidak mengantuk!" Jawab Manisya, sambil menyenderkan kepalanya di atas kursi.
Beberapa saat, di dalam mobil tak ada pembicaraan, Adam fokus dengan kemudi di tangannya, sebenarnya dalam fikiran Manisya masih banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Adam, terutama perkataan yang Adam bisikan dengan Bapak Penjual Pecel Lele yang sangat ingin ia ketahui. Manisya hanya menatap ke arah Adam yang sedang fokus mengendarai mobil miliknya itu di balik kursinya.
"Apa wajahku begitu tampan, hingga kamu tak bisa mengalihkan pandanganmu kepadaku?" Tanya Adam dengan tatapan lurus kedepan, membuat Manisya yang kini tengah menatap Adam, dengan cepat merubah posisi pandangannya menjadi lurus kedepan.
"Ti, tidak, aku hanya, aku hanya, aku hanya melihat bajumu, ya bajumu bagus!" Jawaban sesaat Manisya saat mendapat sebuah ide konyol untuk mengelak jika ia tidak sedang memandang Adam.
"Kamu menyukainya?" Tanya Adam menatap sesaat ke arah Adam.
"Apapun yang kamu pakai, aku sangat menyukainya!" Ucap Manisya dengan membulatkan kedua bola matanya sambil menutup mulutnya saat sudah berbicara seperti itu kepada Adam, Manisya salah lagi berbicara.
"Benarkah? Terimakasih!" Jawab Adam sambil tersenyum sesaat menatap ke arah Manisya.
Namun sikap Adam yang seperti itu membuat Manisya merinding serta mengerutkan dahinya, dengan kedua matanya ia putar ke sembarang arah memikirkan sesuatu.
"Em, Adam apa kamu tidak sakit?" Manisya dengan segera memegang dahi Adam menggunakan satu tangannya, kemudian ia tempelkan lagi ke dahi miliknya, mengecek suhu tubuh Adam.
Adam tersenyum ke arah Manisya, ia melihat ke khawatiran terpancar dari gadis yang sudah menyukainya sejak tahun pertama duduk di bangku SMA tersebut.
"Aku sangat baik!" Jawab Adam dengan begitu pasti, namun tidak membuat Manisya berhenti berfikir tentang sikap aneh Adam.
"Syukurlah kalau begitu!" Jawab Manisya masih menatap ke arah Adam yang sedang mengemudikan mobil miliknya itu.
"Em, apa aku boleh bertanya sesuatu, tapi kamu tidak boleh marah dengan apa yang aku tanyakan?" ucap Manisya kepada Adam.
"Memangnya kamu ingin bertanya apa?" Ucap Adam dengan mata fokus menatap jalan yang sedang ramai.
"Janji dulu kamu tidak akan memarahiku!"
"Iyah, aku janji aku tidak akan marah kepadamu!" Jawab Adam sesekali menatap ke arah Manisya.
"Menurutmu apa aku menyukaimu?" Adam balik bertanya.
Manisya menggelengkan kepalanya.
"Ya aku tidak menyukaimu!" Dengan entengnya Adam menjawab.
Mendengar perkataan Adam membuat Manisya mengalihkan pandangannya ke pinggir jendela, ia tak sanggup lagi jika harus menatap ke arah Adam, saat itu ingin sekali rasanya Manisya menghilang dari dalam mobil itu, agar Adam tak melihatnya yang sedang menahan malu karena pertanyaan yang ia tanyakan.
Setelah itu Manisya, terdiam sesaat tak melanjutkan pertanyaan yang sebenarnya masih memutar di dalam kepala nya, perasaannya saat itu sungguh malu bercampur dengan kecewa dan sedih atas apa yang di ucapkan kepadanya.
"Apa lagi yang ingin kamu tanyakan? kenapa sekarang malah kamu yang jadi diam? aku tidak marah kan!" Ucap Adam dengan menarik salah satu bibirnya melihat Manisya yang mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Sambil menahan perasaan sedih dan kecewanya, Manisya merubah tatapannya ke arah Adam, kini ia tak mempunyai tenaga untuk berbicara, seluruh badannya tiba-tiba melemas begitu saja.
"Apa yang kamu bicarakan saat makan Pecel Lele tadi?" tanya Manisya dengan wajahnya yang semakin pucat.
"Saat makan Pecel Lele?" tanya Adam mengangkat alisnya, mencoba mengingat kembali.
"Iyah, yang kamu bisikan dengan Bapak Penjual Pecel Lele?" Tanya Manisya menahan lemas badan nya saat itu, dan nafasnya tiba-tiba semakin berat.
"Memangnya aku bicara apa?" Adam balik bertanya.
"Kamu lupa?" Tanya Manisya membelalakkan kedua matanya seakan tidak percaya jika Adam dengan begitu mudahnya melupakan perkataan yang seharusnya tidak ia lupakan, tiba-tiba saja jantung Manisya berdegup begitu kencang menahan sebuah emosi di dalam dadanya, dan kepalanya yang memang sudah berat sejak saat menunggu Adam tak kunjung datang, kini semakin berat.
"Memangnya aku bicara apa?" tanya Adam, menatap sesaat ke arah Manisya, ia melihat raut muka kecewa Manisya saat itu.
Manisya diam, ia menatap ke arah Adam menahan kesedihan.
"Kamu benar - benar melupakan nya?" Tanya Manisya kembali, dengan tatapan tak ia alihkan kepada Adam.
"Memangnya apa yang aku katakan, coba beritahu aku, bantu aku mengingatnya?"
Manisya terdiam untuk beberapa saat, lalu Manisya menarik nafasnya dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Kamu bilang pada Bapak Penjual Pecel Lele tadi, aku itu, aku itu, Em..!" Kata-kata Manisya terpotong dalam lidahnya, tidak seberani itu untuk berbicara pada Adam.
"Aku?, Aku apa?" tanya Adam sesaat menatap ke arah Manisya dengan salah satu alisnya ia angkat.
__ADS_1
"Kamu bilang aku!" Ucap Manisya masih belum melanjutkan perkataannya.
"Aku apa?" tanya Adam kembali.
"Kamu bilang aku itu pacar kamu!" Ucap Manisya, setelah menyelesaikan perkataannya, Manisya merubah posisi duduknya, yang awalnya tubunnya sengaja ia miringkan dengan tatapan ia tujukan kepada Adam, kini ia luruskan tubuhnya dengan tatapan lurus kepdepan pula.
"Baiklah!" Jawab Adam dengan singkat.
"Baiklah?" Tanya Manisya sesaat menatap ke arah Adam.
"Baiklah jika kamu memaska." Ucap Adam. Manisya mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Adam, mencoba memahami makud dari ucapan Adam.
"Maksudmu?" Tatap Manisya kepada Adam yang sedang mengemudikan mobilnya.
Adam tak menjawab perkataan Manisya, untuk sesaat ia hanya fokus dengan sebuah kemudi yang ada di tangannya, namun tiba-tiba Adam menginjak rem yang di bawah kakinya hingga membuat mobil merah itu berhenti.
Adam kemudian melirik ke arah Manisya, di tatapnya gadis berkulit putih itu oleh kedua matanya, kali ini Adam tidak menatap Manisya dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah jika kamu memaksa, aku akan selalu menjadi seorang Laki-Laki yang selalu kamu sukai!" Adam menarik kedua sudut bibirnya saat melihat expresi wajah Manisya, bibir bagian bawah Manisya ia gigit menggunakan gigi bagian Atas.
"Itu sudah terjadi dan aku memang sangat menyukaimu!" Ucap Manisya sambil menutup kedua mulutnya menggunakan kedua tangannya, ia menyesali apa yang di ucapkannya barusan kepada Adam.
Manisya memukul-mukul kepalanya secara perlahan sambil memposisikan badannya lurus kedepan.
"Kamu begitu bodoh Manisya!"
Adam hanya tersenyum melihat Manisya dengan tingkahnya, tatapan Adam tak beralih kepada Manisya saat itu.
Setelah sedikit lebih tenang, Manisya yang kala itu menghindari tatapan Adam, melirik kembali melihat Adam, kemudian berkata.
"Tapi tadi, bukan itu yang kamu bisik kan ke bapak Penjual Pecel Lele." Protes Manisya mengalihkan tatapannya kepada Adam.
"Memangnya aku bilang apa?" Tanya Adam menggoda Manisya.
"Aku sudah mengatakannya sesaat yang lalu!" Jawab Manisya mengerutkan bibirnya, tak mau memberi penjelasan kembali.
"Kamu marah?" Tanya Adam melihat tingkah Manisya yang membungkam mulutnya tak ingin berbicara.
"Tidak!" Jawab Manisya.
"Kamu berbohong!" Ucap Adam merespon perkataan Manisya.
"Tidak, kenapa harus marah!" Jawab Manisya dengan memutar kedua matanya.
"Jangan berbohong!"
"Tidak, untuk apa aku marah, aku hanya, hanya!" Manisya memotong perkataannya.
Tiba-tiba Adam menggeserkan posisi duduknya, dan memajukan badannya lebih dekat kepada Manisya, matanya tak beralih menatap Manisya.
"Aku hanya?" Tanya Adam mengangkat salah satu alisnya.
"Aku hanya terlalu malu untuk mengatakannya lagi!" tutur Manisya dengan begitu cepat ia berbicara.
"Kenapa seperti itu?" tanya Adam memutar-mutar pertanyaan pada Manisya.
"Aku juga sudah menjelaskan hal itu juga kepadamu!" Ucap Manisya tak ingin membahasnya.
"Coba katakan lagi!" Perintah Adam kepada Manisya.
"Aku tidak mau!" Jawab Manisya.
Tiba-tiba Adam menarik tangan Manisya, ia bermaksud memeluknya secara paksa, namun Manisya sekuat tenaga menahan tangannya tak ingin Adam peluk.
"Bagian yang mana yang harus aku katakan?" Ucap Manisya.
"Kalau kamu sangat menyukaiku!" Ucap Adam.
"Aku akan bilang tapi pejamkan matamu, jangan menatapku!" Manisya.
"Aku tidak mau, aku harus melihat ketulusanmu saat berbicara, bagaimana jika itu sandiwara?"
Adam berdalih, kemudian menarik tangan Manisya hingga membuat ia ketakutan.
"Iya iya, aku akan bilang!"
Manisya kemudian menarik nafasnya dana berkata.
"Aku, aku, aku sangat menyukaimu!" Ucap Manisya dengan menahan sejuta perasaan malunya di hadapan Adam, Adam kala itu hanya tersenyum menatap ke arah Manisya.
"Aku sudah tahu!" Jawab Adam sambil mengusap halus kedua pipi Manisya oleh kedua tangannya.
__ADS_1
***
Makasih udah setia nungguin Adam dan Manisya, ❤️💞💖💗