Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Salah Paham


__ADS_3

Pagi harinya.


 


Terdengar suara pintu terbuka, suara langkah kaki perlahan memasuki apartemen Adam, ia melihat  Adam masih terlelap di atas sofa.


 


"Adam, Adam!" Mansiya sedikit berteriak dari dalam kamar Mandi.


"Apa aku boleh meminjam handukmu?"


"Oia aku lupa dia sedang tidur!"


"Boleh, pakai saja sesukamu!" Manisya menjawab pertanyaannya sendiri, kemudian mengambil salah satu handuk yang tersusun rapih pada lemari di kamar mandi.


Manisya segera mengganti bajunya, Suara air yang keluar dari atas shower yang membuat suara dari arah luar kamar mandi tak ia dengarkini terdengar jelas, kala itu Manisya tengah mengusap rambutnya yang basah mengunakan handuk, samar ia mendengar dua orang tengah bercakap, Mansiya mendekatkan telinganya ke arah pintu, "Apa Adam kedangan tamu?"  Manisya berbicara pada dirinya sendiri.


Semakin lama, suara dua orang tengah bercakap dengan nada yang tidak biasa semakin kencang, perlahan semakin jelas jika mereka berdua tengah memperdebatkan sesuatu. "Sepertinya Ada seseorang yang datang, bahkan mereka bertengkar!" dengan seksama Manisya mencoba mendengarkan pembicaraan mereka di balik pintu kamar Mandi, dan tiba-tiba saja  kedua matanya membulat seketika sedangkan tangannya menutup mulutnya, setelah menyadari siapa yang tengah berbicara dengan Adam, ia merasa sesaak untuk sesaat, "Kakek Adam!" dengan ekspresi yang terkejut ia berucap, setelah itu  deng hati-hati telinga yang ia tempelkan ke pintu ia tarik secara perlahan, bahkan  langkah kaki Manisya segera menjauhi pintu  setelah menyadari siapa yang datang, ya itu sangat jelas sekali, kakek Adam lah yang datang ke sana, membuat keributan di pagi hari di apartemen milik Adam, "Apa yang harus akulakukan!" Mansiya semakin panik, hingga bibir bagian bawahnya menjadi pelampiasan kepanikannya saat itu.


"Kakek Adam? apa yang harus aku lakukan?" Manisya kini terlihat sangat panik, betapa tidak, ia mendengar pertengkaran Adam dengan Kakeknya dengan sangat jelas, bahkan mereka kini berteriak kencang, di sana ia berjalan tak tentu memikirkan cara untuk menghentikan pertengkaran Adam dengan Kakeknya, "Apa yang harus  aku lakukan?" Manisya masih belum menemukan cara untuk membuat kakek Adam dan Adam menghentikan pertengkarannya.


"Grek!" Akhirnya, dengan segala keberanian yang ia kumpulkan, yang tiba-tiba saja datang dengan begitu saja karena kepanikan, Manisya segera keluar dari kamar mandi, dengan pakain yang lengkap yang ia gunakan saat semalam bertemu dengan Kakek Adam, sedangkan rambutnya yang masih basah, ia gulung menggunakan handuk yang tersimpan di dalam kamar Mandi, ia benar-benar tak memperdulikan apapun yang ia kenakan saat ini.


Betapa terkejutnya Manisya saat keluar dari kamar Mandi,  ia segera berlari mendekati Adam dan Kakeknya yang tengah bertengkar hebat, dan "Pak!" Manisya membiarkan pipinya  menggantikan Adam menjadi sasaran kemarahan sang kakek.


Adam dan kakeknya sangat terkejut saat Manisya tiba-tiba datang, dan membiarkannya terkena tamparan sang Kakek, hal itu membuat Adam semakin terbakar emosi, dengan sekuat tenaga Manisya menahan Adam, memeluknya dengan kencang agar hal buruk tak menimpa mereka saat itu.


"Kau memukulnya!" Adam terlihat semakin terbakar emosi.


"Tenang lah, emosi akan membuatmu menyesal di kemudian hari!" Manisya berusaha menenangkan Adam dengan emosi nya yang masih membara, "Aku baiik-baik saja!" Dengan pipinya yang terlihat merah akibat tamparan kakek Adam manisya berusaha menenangkan Adam.


"Maafkan aku tuan, ini salah paham, ini tidak seperti yang anda pikirkan!" Dengan tangannya yang masih menahan Adam, Manisya berusaha menenangkan pertengkaran di antara mereka.


"Anak tidak berguna! Apa yang aku ajarkan dan kedua orangtuamu ajarkan sama sekali tidak ada yang meyerap dalam dirimu! apa ini hasil yang kau peroleh setelah belajar di Amerika! anak kurang ajar!"


"Kau tau!" Giliran Manisya yang mendapat peringatan.

__ADS_1


"Aku tak akan membairkanmu mendapatkan apa yang kau inginkan, kau ingat, aku tidak akan membiakanmu! aku sangat membencimu!"


Setelah itu sang Kakek pergi begitu saja membanting pintu apartemen dengan sangat kencang. Sedangkan Manisya ia hanya menatap kosong ke arah pintu, dengan ucapan Kakek Adam masih terngiang-ngiang di telinganya, bahkan hal itu membuat nafasnya terasa sangat sesak.


 


"Apa pipimu tidak apa-apa?" Adam mengusap lembut pipi Manisya yang menjadi sasaran empuk emosi sang Kakek.


"Perih, sedikit!" Ia tersenyum lebar menutupi rasa sesaknya karena masih mengingat ucapan Sang Kakek.


"Maafkan aku! aku benar-benar minta maaf atas apa yang kakekku lakukan kepadamu!"


Manisya  tersenyum sambil menggelengakan kepalanya, "Tidak perlu minta maaf, aku yakin Kakek melakukannya karena tidak sengaja! Kakek hanya salah faham!"


"Aku sungguh minta maaf!" Adam segera mendekap Manisya dalam pelukannya, ia merasa sangat bersalah atas apa yang di lakukan Kakeknya kepadanya.


"Tidak perlu, tidak perlu minta maaf!" Manisya masih kekeh dengan ucapannya. Akhirnya mereka berpelukan untuk beberapa saat, menggantikan emosi yang beberapa saat lalu menguasai fikiran Adam dengan sebuah ketenangan yang ia dapatkan dari wanita yang ia kini peluk dalam dekapannya.


Adam mengangkat sedikit dagu Manisya menggunakan tangannya, menatap wajah gadis itu dengan perasaan bersalah saat melihat pipi mulusnya yang kini berubah merah,"Apa itu sangat sakit?" Mata Adam tak lepas dari pipi Manisya yang merah."Hanya sedikit, sebentar lagi juga hilang!"


Manisya membulatkan kedua bola matanya saat bibir Adam tiba-tiba mengecup lembut pipi Manisya yang merah.


"Bahkan perihnya kini menghilang!" Jawab Manisya.


Adam menatap Manisya dengan sebuah senyuman, "Benarkah?" tanya Adam.


Manisya mengangguk, mengiyakan perkataan Adam.


"Baiklah!" Adam mengecup kembali pipi Manisya, bahkan berkali-kali.


"Apa sekarang lebih baik?" tanya Adam.


Malu-malu Manisya mengangguk mengiyakan ucapan Adam.


"Sangat sangat sangat baik!" Jawab Manisya sedikit malu-malu.


Setelah itu, mereka mendaratkan tubuhnya di atas kursi.

__ADS_1


"Tolong maafkan kakek ku, sikapnya memang arogan seperti itu, entahlah aku juga sangat bingung kenapa dia bersikap itu kepadamu!"


Manisya terdiam beberapa saat, ada keraguan dalam hatinya saat membahas Kakek Adam.


"Kamu tahu, awalnya aku bingung, saat bertemu dengan Ayah dan Ibu mu, kamu benar-benar berbeda dengan mereka, mereka ramah, baik, pokoknya sangat berbeda, dan setelah aku bertemu dengan Kakek, aku sangat yakin, sangat sangat yakin!"


"Yakin?" Adam mengangkat kedua alisnya menatap tajam Manisya yang tengah duduk berhadapan dengannya di atas sofa.


"Hu uh!" Mengaggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Lihat, kamu yang seperti ini sangat mirip dengan Kakek!"


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti, aku tidak mirip dengan siapapun! kamu menyamakan dia denganku? sungguh tidak masuk akal, kamu lihat kan betapa arogan nya laki-laki tua itu!" Jawab Adam dengan kesal.


Manisya tersenyum kemudian menempelkan telapak tangannya pada kedua pipi Adam, kedua tangan Manisya pun mendapatkan hadiah kecupan dari Adam.


"Ya ya, tidak sama, kamu lebih cerewet di bandingkan Kakek!" Mansiya menjahili Adam, dan kali ini hidungnya menjadi sasaran Adam.


"Sakit tahu!" Dengan bibir mengerut menatap Adam, kemudian Manisya melingkarkan tangannya kepada Adam memeluknya dengan erat.


Pagi itu, mereka tak membiarkan Jam merebut waktu mereka berdua, tak ingin di perbudak oleh waktu, mereka memutuskan untuk tak masuk kantor hari itu, sepanjang waktu mereka hanya berpelukan.


 


Tiba-tiba saja Manisya melepaskan pelukannya, "Apa aku boleh minta nomor Kakek?"


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2