Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Terserah Apa maumu


__ADS_3

"Aku ingin pulang" Bisik Manisya saat menangis tersedu-sedu di pelukan Adam.


Samar-samar perkataan tersebut terdengar di telinga Adam.


Adam masih dengan posisi mengusap punggung Manisya dalam pelukannya menggunakan tangan kanannya  menenangkan tangisannya, sedangkan tangan kirinya berusaha ia jauhkan agar tak mengenainya.


Perlahan Adam melepaskan pelukan Manisya, saat terdengar tangisannya perlahan mereda.


"Apa yang ada dalam mimpi Lo?" tanya Adam menatap Manisya.


Namun bukannya menjawab pertanyaan Adam, Manisya kini menangis kembali, deraian arimata yang mengalir di pipi Manisya membuatnya Adam merasakan apa yang Manisya rasakan, yaitu perasaan sedih.


"Aku ingin pulang" Jawab Manisya sambil dengan linangan airmatanya.


"Pulang?" tanya Adam kepada Manisya, Posisi mereka kini Masih berhadapan.


Manisya mengangguk sambil mengusap air matanya dengan tangannya, melihat hal itu Adam membawakan tissu yang memang tergeletak di atas meja kemudian ia berikan kepada Manisya.


Manisya pun mengangguk meng iya kan perkataan Adam.


Adam menatap sebuah jam berbentuk bulat yang menempel pada dinding kamar tersebut. Jarum pendek yang menempel pada jam tersebut berada di angka satu dan jarum panjangnya berada di angka dua, ini menunjukkan pukul 01.10 dini hari.


"Ini masih malam, tunggulah sebentar lagi"  Jawab Adam saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.10 dini hari.


"Tapi aku ingin pulang" Jawab Manisya dengan linangan airmata nya.


Mendengar hal itu membuat Adam memutarkan fikirannya, bagaimana bisa mengantar Manisya pulang, badannya sendiri saja masih dalam ke adaan tidak begitu baik, dan Pak Komar saat ini sedang tidak ada di rumah sakit, Pak Komar sudah berpamitan pulang saat tau Manisya akan menemani Adam di sana. "Ah andai saja Gua gak nyuruh Pak Komar untuk pulang". Adam berbisik di dalam hatinya.


"Lo mau pulang?" tanya Adam kembali memastikan Manisya.


"Iyah" jawab Manisya masih dengan linangan airmata yang masih membasahi pipinya, kini ia mengusapnya dengan sebuah tisu yang Adam berikan kepadanya.


"Tunggulah" kata Adam kepada Manisya sambil berdiri.


Manisya mengangguk mengiyakan perkataan Adam.


Adam berjalan ke arah lemari yang letaknya dekat dengan sofa tempat mereka duduk, di bukanya lemari yang berwarna senada dengan kamar tersebut, di dalamnya terdapat jaket, pakaian dan keperluan lainnya yang sudah di siapkan Pak Komar. Adam membawa Jaket yang tertata rapih di dalam lemari tersebut, sebelum akhirnya ia memakai jaket berwarna hitam tersebut. Adam juga membawa sebuah sweater hitam miliknya.

__ADS_1


Adam berjalan kembali ke arah Manisya.


"Pakailah" Adam memberikan sweater  tersebut kepada Manisya.


Manisya mengambil sweater yang Adam berikan tersebut, kemudain memaikanya sesuai dengan perintah Adam kepadanya.


"Berhentilah menangis, jika tidak ingin menjadi pusat perhatian" Adam yang khawatir Manisya akan menjadi tontonan semua orang jika Manisya tak menghentikan tangisannya tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan agar aku berhenti menangis" Tanya Manisya masih dengan Airmata membasahi kedua pipinya.


"Jangan memikirkan hal yang membuat Lo menangis" dengan santainya Adam menjawab perkataan Manisya.


"Tapi itu sulit" Manisya menjawab perkataan Adam.


Adam kini duduk kembali menghadap ke arah Manisya. Di tatapnya wajah Manisya yang masih di basahi oleh air mata tersebut.


"Lo mau pulang kan?" tanya Adam menatap mata Manisya yang kini berubah menjadi bengkak.


"Iyah aku ingin pulang" Jawaban Manisya.


Adam kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya dengan perlahan ia menggerakkan kakinya. Tatapan Manisya kini beralih memperhatikan Adam yang sedang berjalan dengan tidak sempurna memunggunginya.


"Aku akan memesan sebuah kendaraan" Adam berakata sambil memegang ponselnya, hendak memesan kendaraan Online untuk mengantarkan Manisya pulang.


"Em, tidak perlu" jawab Manisya menanggapi Adam yang hendak memesan sebuah kendaraan online tersebut, kini sudah tidak ada lagi air mata yang basah memalui pipinya.


"Tidak perlu?"  Tanya Adam mengerutkan kedua alisnya.


"Iya tidak perlu, aku akan meneruskan tidurku di sofa ini" terang Manisya kepada Adam yang merasa aneh dengan pernyataan Manisya yang tiba-tiba merubah ke inginanya.


"Maksud Lo apa?" tanya Adam kepada Manisya kembali, memastikan jika ucapan yang di katakan Manisya kali ini benar.


"iyah maaf sudah membangunkan tidurmu, maaf sudah merepotkanmu, aku baik-baik saja, aku hanya mengigau, aku akan melanjutkan tidurku, dan kamu juga pergilah tidur" jawab Manisya secara jelas kepada Adam.


Sebenarnya Manisya masih ingin pulang ke rumahnya akibat dari mimpi yang dia alami, namun saat Manisya melihat Adam yang berjalanpun begitu sulit, ia menjadi mengurungkan niatnya tersebut, merasa seharusnya Manisya lah yang menjaga Adam saat ini. Manisya juga merasa bersalah akibat perbuatan bodohnya yang membuat Adam khawatir tersebut.


"Lo yakin?" tanya Adam memastikan, sambil menatap mata Manisya yang bengkak.

__ADS_1


"Aku yakin" jawab sambil menarik kedua sudut bibirnya yang tipis tersebut menutupi keinginannya.


"Baiklah jika begitu terserah apa maumu" kata Adam kemudian berdiri kamudian ia berjalan kembali ke arah kasur, Manisya mengikuti Adam di belakangnya, kemudian ia membantu Adam membetulkan badannya saat hendak naik ke atas ranjang tersebut.


"Apa Lo yakin, Lo baik-baik saja" kata Adam yang sedang membetulkan tangan kirinya yang masih terasa sakit tersebut.


"Aku sangat yakin" jawab Manisya sambil membetulkan selimut untuk menutupi badan Adam.


"Aku akan tidur kembali" Manisya berkata kembali kepada Adam setelah menduduki sofa sebelumnya, dan Manisya pun mulai menutup kembali matanya agar ia bisa kembali tertidur.


"Dasar wanita bodoh" Adam menarik nafasnya dalam saat melihat Manisya mulai menutup kembali matanya,Adam membayangkan, bagaimana jadinya jika ia harus mengantarkan Manisya pulang kerumahnya.


Lima belas menit berlalu, dari atas kasur tempat Adam berbaring, Adam menatap ke arah Manisya yang sudah memejamkan matanya tersebut dengan tatapan penuh tanya, "Apa yang dia mimpikan?" tanya Adam di dalam hatinya yang penasaran mimpi apa yang membuat Manisya menangis dalam mimpinya.


Adampun mulai memejamkan matanya, namun saat ia mulai memejamkan matanya, Adam mendengar suara dari arah Manisya, kini bukan ayah dan ibunya yang di panggil, tapi namanya sendirilah yang di panggil oleh Manisya.


"Adam, dam Adam" Manisya mengiggau kembali dalam mimpinya.


"Adam, hiks hiks" Manisya menangis.


Adam sangat terkejut saat  Manisya memanggil-manggil namanya, dengan segera ia turun menahan rasa sakit di seuruh badannya.


"Adam, hu u u Adam" Manisya memanggil Adam kembali sambil menangis.


Adam mendekat ke arah Manisya, ia menyentuh pipi Manisya mengusap-usap kedua pipi Manisya dengan kedua tangannya. berharap Manisya segera bangun.


"Aku di sini, aku disni" Jawab Adam dengan usapan tangan pada pipi Manisya dengan melembutkan kata-katanya.


"Bangun, bangnunlah" Adam masih berusaha membangunkan Manisya.


"Gadis bodoh bangunlah" Namun Manisya Masih belum bangun.


Kini perasaan Adam semakin khawatir melihat Manisya memanggil Manggil namanya di dalam tidurnya, sambil menangis pula.


"Gadis bodoh bangunlah" Adam kini menepuk pundak Manisya, dan akhirnya setelah beberapa lama Manisya pun terbangun membuka kedua matanya dan berkata "Adam" namun setelah itu Manisya memejamkan kembali kedua matanya secara perlahan, ia kembali tertidur, setelah itu Manisya berhenti mengiggau, tak ada lagi panggilan nama Adam dalam tidurnya.


Karena merasa khawatir dengan Igauan Manisya, Adam menarik badan Manisya dengan satu tangannya, hingga tubuh mungil Manisya kini berada dalam dekapannya, kemudian memeluknya dengan erat,  "Apa yang kamu mimpikan wanita bodoh" Adam berkata sambil mengusap kepala Manisya secara perlahan sebelum akhirnya Adam dan Manisya tertidur dengan posisi berpelukan.

__ADS_1


***


__ADS_2