
"Aku menyukai Mu." Samar terdengar suara tersebut di telinga Manisya saat sebuah kalimat berhasil keluar dari telinga Adam.
Di lepaskan Nya Manisya dari dekapan tubuhnya setelah sesaat lalu Saliva mereka saling menyatu, Adam menatap Manisya kemudian mengusap pipi Manisya yang terlihat basah karena tetesan air matanya masih menempel saat ia menangis beberapa saat yang lalu.
"Maafin Gua!" Kata Adam sambil memegang pundak Manisya.
Manisya mengangguk, meng iya kan perkataan Adam, setelah itu Manisya menyeka hidung dan matanya yang terlihat masih terdapat titik-titik airmata di sana.
"Apa kamu tadi berkata sesuatu?" tanya Manisya kepada Adam memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Adam mengerutkan dahinya dan menatap Manisya. "Berkata? berkata apa maksud Lo?" Adam balik bertanya, pura-pura tidak mengerti arah perkataan Manisya.
"Aku mendengar kamu berkata, aku, aku."
Hening sesaat.
"Sudahlah,sepertinya aku sudah salah dengar!" Kata Manisya memperlihatkan mata sembabnya.
Manisya memutuskan tidak membahas apa yang dilakukan Adam kepdanya, tak ingin memperpanjang sebuah masalah, semua pertanyaan ia simpan dalam jauh hatinya sendiri.
Adam menatap Manisya begitu dalam, ada kekecewaan yang terpancar dari wajah Manisya, Adam mulai menegakkan kakinya dan kemudian mengulurkan tangannya kepada Manisya, hendak membantu Manisya untuk berdiri, Manisya pun meraih uluran tangan Adam untuk membantunya berdiri.
Manisya pun akhirnya berdiri dengan menahan rasa sakit di kakinya. Adam merangkul Manisya saat Manisya mencoba melangkahkan kakinya.
"Tidak usah seperti ini, aku bisa sendiri!" kata Manisya yang menolak rangkulan Adam, ia kemudian melangkahkan kakinya.
"Apa urusan Lo dengan toilet sudah selesai?" Tanya Adam saat melihat Manisya berbalik arah menjauhi toilet yang semula menjadi tempat tujuannya.
"Ya," Jawab Manisya secara singkat, tiba-tiba saja panggilan alamnya hilang seketika saat ia terjatuh mengenai sebuah batu.
Adam meraih tangan Manisya, ingin membantu Manisya berjalan karena langkah kakinya yang tidak seimbang, Adam membawanya kembali ke tenda miliknya dan mendudukkan Manisya di tempat sebelumnya.
"Aaa" Manisya sedikit berteriak saat Adam menempelkan sebuah benda pada lutut Manisya.
"Apa itu sakit?" tanya Adam sambil melanjutkan menutupi luka Manisya dengan sebuah kain kasa dan perekat perban.
"Sedikit!"
"Terimakasih sudah mengobati lukaku, aku akan memasuki tenda milikku!" kata Manisya dengan menekuk wajahnya, senyum cerianya yang kini telah menghilang karena tiga luka yang mengenai tubuhnya.
"Lo marah?" tanya Adam sambil memegang tangan Manisya yang duduk tepat di sampingnya, saat Manisya hendak hendak mengangkat tubuhnya dari kursi.
"Tidak, aku hanya lelah!" Jawab Manisya melemaskan lagi badannya di atas kursi , efek dari sentuhan tangan Adam.
__ADS_1
"Tunggulah sebentar lagi di sini, jangan masuk ke dalam tenda, Gua bawain makanan buat Lo!"
"Tidak, aku tidak ingin makan!"
"Lo harus makan, tunggulah!" kemudian Adam berlari meninggalkan Manisya sendirian, tak lama Adam kembali dengan sebuah piring yang berisi Nasi lengkap dengan lauk pauknya.
Adam duduk di kursi miliknya dengan pandangan menatap Manisya yang kala itu tengah menyenderkan kepalanya pada kursi dengan mata terpejam, ia membiarkan Manisya beberapa saat dengan posisinya.
Setelah beberapa saat, tangan Adam menyentuh pipi Manisya, di usapnya secara perlahan pipi Manisya sambil berkata, "Maafkan aku".
Sentuhan Adam membuta Manisya perlahan membuka kedua matanya, ia segera menegakkan kembali badannya.
"Aku ketiduran!" kata Manisya.
"Makanlah!" Adam memberikan piring berisi Nasi tersebut kepada Manisya.
"Untukku?" tanya Manisya.
"Apa kamu tidak makan?" Manisya bertanya kembali.
"Gua belum lapar!" Jawab Adam.
"Apa mau aku suapi?" tanya Manisya kembali menarik kedua sudut bibirnya untuk Adam.
"Baiklah!"
Jawaban Adam berhasil membuat Manisya membelalakkan kedua matanya, saat itu tangan Manisya hendak bersiap dengan menyodorkan sebuah sendok lengkap dengan isiannya.
"Aku hanya bercanda, hehe!" kikuk Manisya, merasa aneh dengan tingkah Adam, kemudian Manisya melahap makanan yang berada dalam sendok tersebut.
Adam menarik salah atau sudut bibirnya saat Manisya terlihat ketakutan di buatnya.
"Kamu bisa memakannya!" Manisya memberikan piring tersebut kepada Adam.
"Tidak, itu untukmu saja, atau kamu bisa menyuapiku menggunakan tanganmu!" Adam mendekatkan kepalanya kepada Manisya, namun dengan segera Manisya mendorong kepala Adam menjauh dari dirinya. Perbuatan Adam membuat Manisya berfikir keras.
"kamu, menyuapiku? kenapa dia memanggilku dengan begitu? aneh sekali tingkahnya, sudahlah, aku tidak ingin ambil pusing!" Manisya berkata di dalam hatinya.
"Ti, tidak, aku hanya bercanda, aku akan memakannya!" Jawab Manisya menarik kembali piring yang hendak ia berikan pada Adam, dengan segera ia melahap makanan yang berada di atas piring tesebut,ia bermaksud menjahili Adam, namun kini kejahilan tersebut berbalik ke arahnya, membuatnya merasa canggung.
"Ada apa dengannya?" Sambil melirik ke arah Adam, Mata merekapun saling beradu saat Adam menatap pula ke arahnya, dengan segera Manisya mengalihkan pandangannya dari Adam.
"Apa acara api unggun nya masih berlanjut?" tanya Manisya Setelah melahap semua makanan yang ada di piring tersebut.
__ADS_1
"Masih, Mau melihatnya?" tanya Adam kepada Manisya.
"Aku ingin melihatnya, kelihatannya seru!"
"Apa kamu bisa berjalan?" tanya Adam melihat Manisya bangkit dari kursinya.
"Tentu saja, aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil, mana mungkin bisa menyakitiku!" tutur Manisya dengan begitu bangganya.
"Apa kamu mau menggendongku?, seperti." perkataan Manisya terhenti.
"Seperti sebuah drama romantis yang sering kamu tonton?" Adam meneruskan perkataan Manisya.
"He he, kamu sudah mengetahuinya."
"Tentu saja, setiap waktu itu yang selalu keluar dari mulutmu!" Jawab Adam sambil memegang tangan Manisya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Manisya sambil mengerutkan dahi miliknya, merasa ada yang aneh dengan sikap Adam.
"Bukankah kamu ingin aku menggendong Mu, seperti dalam sebuah Drama yang sering kamu tonton?" Jawaban Adam berhasil membuat Manisya menatap Adam sambil membelalakkan kedua matanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Manisya sambil memegang dahi Adam menggunakan telapak tangannya memastikan jika Adam saat ini tidak sedang mengigau.
"Apa badan mu ada yang terluka, atau kepalamu terbentur misalnya?" Manisya mengarahkan tangannya kepada kepala Adam, setelah itu memutarkan badan Adam menggunakan tangannya, memastikan tidak ada yang terluka di antara tubuh dan kepala Adam.
"Apa betul kamu baik-baik saja?" Manisya bertanya kembali sambil menatap Adam dengan segala kebingungannya, ia masih menyentuh badan Adam bagian depan dan belakangnya.
Adam memperhatikan Manisya dengan menarik salah satu sudut bibirnya,
"Apa kamu sedang berusaha menggodaku?" tanya Adam sambil menatap Manisya.
"Apa maksudmu?" Manisya melepaskan tangannya yang menyentuh tubuh Adam, kemudian perlahan menggeser satu langkah dari Adam, menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya dengan mengerutkan dahi miliknya.
"Aku tidak sedang menggoda mu, aku hanya aneh saja dengan sikap mu, apa benar kamu baik-baik saja?" tanya Manisya kembali.
"Aku baik-baik saja, tapi ada sesuatu yang tidak baik!" tutur Adam.
"Apa itu?" tanya Manisya.
"Kamu ingin tahu?" tanya Adam kembali dengan menahan sebuah senyuman jahil di di bibirnya.
"Tentu?" jawab Manisya dengan pasti.
"kemarilah!" Adam memberi perintah.
__ADS_1
Dengan menahan rasa sakit di lututnya, Manisya melangkahkan kakinya, kini Manisya selangkah lebih dekat dengan Adam, seketika Manisya membelalakkan kedua Matanya, ia begitu terkejut saat Adam kembali mendekap tubuhnya dengan erat.