
Tanpa permisi Baron duduk di kursi yang letaknya tepat di pinggir Manisya.
"Hei Manis, lama tidak jumpa!" Baron berkata sambil sedikit memiringkan kepalanya menatap ke arah Manisya.
"Hehe, hei juga Baron apa kabarnya?" Manisya sapaan Baron lengkap dengan senyuman lebar yang ia berikan untuk Baron.
"Kabar baik, Kamu sendiri kelihatan tambah Manis aja ya!" kata Baron mencoba menggoda Manisya.
"Mungkin efek dari nama juga ya Manis Sya!" jawab Manisya membuat lelucon dengan memotong Namanya membalas godaan Baron terhadapnya.
Manisya dan Baron larut dalam percakapannya mengabaikan Adam yang berada di hadapannya, Adam yang kini sedang menikmati Steak yang merupakan makanan Favorit di Restoran tersebut.
Tanpa Baron dan Manisya sadari kedua pasang Mata yang berada di hadapannya tak henti memperhatikan mereka, tatapan yang begitu tajam memperlihatkan sebuah rasa terpancar dari sorot matanya yang tidak bisa ia tutupi.
"Kalian hanya berdua saja?" tanya Baron sambil menghadap ke arah Adam kemudian ke arah Manisya kembali.
"Apa Lo gak liat, apa di sini ada orang lain selain Gua sama Dia?" jawab Adam tanpa basa-basi kepada Baron.
"Iyah kita hanya berdua di sini." Manisya meneruskan perkataan Adam, namun hal itu tak membuat hati Adam senang, ada perasaan kesal terhadap Manisya saat Manisya mencoba membantu menjelaskan kepada Baron.
"Dia punya mata, tidak usaha menjelaskan secara berbelit-belit!" Perkataan Adam yang begitu berterus terang membuat Manisya bingung di buatnya, menyesal menanggapi perkataan Adam sebelumnya.
"Maaf!" Manisya menundukkan kepalanya merasa menyesal.
"Ah Lo tuh Dam, ga asik, jangan galak-galak donk sama si Manis ini!" Baron bermaksud mencoba menenangkan Adam yang memasang raut muka tidak bersahabat nya.
Adam tidak menanggapi perkataan Baron, ia diam setelah sebentar menatap ke arah Manisya.
"Dia itu memang gitu, jadi tidak usah memasukkan perkataannya dalam hati ya Manis" Kata Baron menghibur Manisya.
"Enggak kok, aku sudah biasa," Jawab Manisya disertai dengan gerakan kedua tangannya.
"Biasa?" Jawab Adam menyempurnakan bulatan pada bola matanya.
"Bukan, bukan begitu maksudku." Jawab Manisya merasa salah berbicara.
"Mungkin maksud Nona Manis ini dia udah biasa ngeliat muka galak Lo, hihi." Kali ini Baron menambahkan Api Panas yang menyembur dalam tubuh Adam.
"Tidak, tidak seperti itu, Aku malah sebaliknya ngeliat dia itu bikin hati sejuk, hehe!" Manisya menutup kedua mulutnya yang salah berbicara merasa menyesal karena kata-katanya terlalu berterus terang membuta Rona Merah di pipinya kini terpancar sudah.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Adam menarik salah satu sudut bibirnya, perasaan kesalnya tiba-tiba menghilang sudah.
"Maaf, maksudku, ah sudah, aku takut salah berbicara lagi!" jawab Manisya dengan menundukkan kepalanya, memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan Baron kemudian memukul bibirnya yang selalu salah berbicara secara perlahan menggunakan tangan kanannya.
"Ya ampun Manisya kenapa kalo bicara itu selalu saja salah" Manisya menumpahkan kekesalannya dengan menggerutu dalam hatinya.
"Hem Ni mujinya Adam doank, kalo aku gimana?" Tanya Baron tak ingin kalah mendapat pujian seperti Adam.
"Em," sejenak berfikir kemudian Manisya mengatakan apa yang ada di benaknya.
"Baron sangat baik." Jawab Manisya mengutarakan apa yang ada dalam fikriannya.
"Hanya itu?" Baron merasa kecewa karena Manisya hanya mengatakan hal yang pada umumnya orang jika sedang memuji.
Mendengar hal itu membuat Adam kembali menarik salah satu sudut bibirnya.
"Kamu itu", Manisya hendak menambahkan pujian pada Baron namun perkataannya terhenti karena Adam tiba-tiba berkata kepada Baron.
"Ngapain Lo di sini?" tanya Adam yang sengaja memotong perkataan Manisya.
"Ketemu sepupu gua!" Jawab Baron sambil menegakkan badannya, karena sebelumnya ia sengaja memiringkan badannya dengan siku menempel pada meja menatap ke arah Manisya.
"Iyah," Jawaban Baron membuat penasaran Manisya.
"Lo punya sepupu?" tanya Adam kepada Baron seakan tidak percaya apa yang di katakan Baron kepadanya.
"Nanti gua kenalin!" jawab Baron sambil menatap kembali ke arah Manisya.
Melihat Baron terus saja menggoda Manisya membuat Adam mengerutkan bibirnya, menatap ke arah Manisya dengan tatapan tajam penuh sejuta makna.
"Manis, kapan-kapan aku ajak main kamu boleh?" tanya Baron kepada Manisya.
"Tentu saja, dengan senang hati!" Jawab Manisya tanpa basa-basi, namun saat selesai menjawab perkataan Baron, terdengar suara yang mengagetkan mereka saat itu.
"Prannkkk" Sebuah garpu yang di gunakan Adam tiba-tiba terjatuh ke lantai, membuat semua orang terkejut di buatnya.
Adam mengeluarkan tatapan tajamnya ke arah Manisya sambil menekan rahangnya menggunakan geraham miliknya, mengisyaratkan sesuatu yang tidak ia sukai.
"Lo ga papa Dam?" tanya Baron.
__ADS_1
"Hanya sebuah garpu," Adam mengenggam erat sebuah garpu yang telah ia ambil yang dari di atas lantai, kemudian ia simpan kembali garpu tersebut di atas meja sebelum akhirnya Adam memanggil seorang pelayan untuk mengambilkannya sebuah garpu yang baru.
"Gua ke toilet dulu!" Baron menyimpan sebuah tas di kursi tepat di samping Manisya sebelum akhirnya Baron pergi ke toliet meninggalkan Manisya dan Adam berdua seperti sebelumnya.
"Apa Kamu baik-baik saja" tanya Manisya setelah Baron pergi, Manisya mencoba menebak apa yang sedang terjadi dengan Adam, namun sebetulnya tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.
Adam menjawab Manisya dengan tatapan tajamnya, tak menjawab pertanyaan Manisya dengan kata yang keluar dari mulutnya, hal itu membuat Manisya segera menundukkan kepalanya merasa takut dengan tatapan Adam.
"Apa Lo selalu bersikap seperti itu kepada setiap laki-laki?" tanya Adam menginterogasi Manisya.
"Apa maksudmu?" tanya Manisya tidak mengerti arah perkataan Adam.
"Lo tau, gerak gerik Lo kepada Baron itu menjijikkan!" Jawab Adam, tanpa menyaring perkataannya kepada Manisya.
"Apa?" kata Manisya dengan membelalakkan kedua matanya.
"Menjijikkan!" Jawab Adam dengan raut muka kesalnya menjawab perkataan Manisya.
"Tolong jaga bicaramu!" Jawab Manisya yang mulai terpancing emosi akibat perkataan Adam.
"Bagaian mana maksudmu yang membuatmu merasa aku menjijikkan?" Manisya meniakan nada bicaranya, mencoba menenangkan dirinya, ia menarik nafasnya sangat dalam, mengipas mukanya dengan tangannya merasa cuaca tiba-tiba memanas walaupun kondisi ruangan yang begitu dingin.
"Lo tau, ketika Baron memanggilmu Manis Manis, Lo hanya tersenyum menatap ke arah Baron, dan itu buat Gua menjijikkan, dan Lo, Lo dengan gampangnya mengiyakan ajakan seorang laki-laki yang baru Lo kenal, dan Lo tau itu buat Gua menjijikkan!" Perkataan Adam dengan begitu berterus terang mengungkapkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya kepada Manisya.
"Hanya karena itu kamu memasang wajah menyebalkan Mu saat melihatku?" tanya Manisya dengan Emosi selalu naik.
"Kamu tahu, aku tersenyum kepadanya karena aku menghargai Baron itu temanmu, dan aku mengiyakan ajakannya kepadaku untuk keluar bersamanya karena aku juga menghargai Baron itu temanmu." Manisya membela dirinya.
"Lantas apa yang salah jika Baron memanggilku dan aku tersenyum, tidak ada yang berlebihan dengan senyumanku." Manisya masih dengan pembelaan dirinya. Adam masih menatap ke arah Manisya.
"Dan satu hal lagi, Kamu bilang menjijikkan aku di bilang Manis oleh Baron?" tanya Manisya kepada Adam masih dengan sebuah Emosi.
Adam tak menjawab perkataan Manisya.
Manisya menarik nafasnya sangat dalam, "Apakah Kamu lupa? Namaku Manisya."
Setelah Itu di antara Manisya tidak ada lagi perkataan, hening sesaat, Adam masih memberikan tatapannya kepada Manisya, dengan tatapan sulit Manisya artikan.
Manisya menundukkan kepalanya menghindar dari tatapan Adam.
__ADS_1
"Aku minta maaf."