Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Ponsel yang Lelah


__ADS_3

"Buk!" Seseorang menepuk pundaknya secara perlahan.


"Siapa kamu!" Tanya Adam kepada seorang wanita yang menepuk pundaknya.


"Kenalkan aku Rena!" Mengulurkan tangannya kepada Adam, namun Rena harus menelan rasa pahit karena Adam sama sekali tidak meraih uluran tangannya, Adam hanya menatap tajam ke arah Rena.


Rena terlihat mengerutkan bibirnya, "Kamu sedang menunggu seseorang?"


"Bukan urusanmu!" Dengan sikap dinginnya Adam menjawab ucapan Rena.


"Jika kamu sedang menunggu seseorang di dalam sana, kamu harus merasa kecewa karena semua pegawai telah pulang, dan tak ada yang tersisa di dalam sana!" Rena seakan meyakinkan Adam untuk segera pergi meninggalkan restoran tersebut.


"Benarkah?" Tanya Adam yang mulai penasaran dengan ucapan Rena.


"Iyah mereka sudah pulang, hanya aku saja yang tersisa di sini!"


"Tapi aku belum melihat dia keluar dari restoran ini!" Adam merasa heran dengan apa yang di katakan Rena kepadanya.


"Dia? dia siapa?" Rena mengerutkan dahinya mencoba menebak seseorang yang di maksud Adam.


"Sudahlah!" Ucap Adam sambil menaiki motornya.


"Apa aku boleh menumpang?" Tanya Rena sambil memegang jok bagian belakang motor Adam.


Tanpa menjawab ucapan Rena, Adam segera melajukkan motornya dengan kencang meninggalkan Rena yang masih berdiri mematung karena terkejut dengan perlakuan Adam kepadanya.


"Menyebalkan!" Sambil menendang jalan menggunakan kakinya karena perasaan kesalnya terhadap Adam.


"Apa dia sedang menunggu wanita pencuci piring itu ya?" Rena mengangkat salah satu alisnya mencoba menebak.


"Ah tidak mungkin, laki-laki setampan dia, dan sepertinya kaya juga, ga akan mungkin menjadi kekasih wanita pencuci piring itu, dilihat dari sisi manapun, aku yang lebih utama!" Rena tersenyum licik menarik salah satu sudut bibirnya.


Sementara di dalam restoran, Manisya masih sibuk mencuci piring yang masih terlihat menumpuk.


"Ternyata bekerja itu seperti ini rasanya!" Ucap Manisya sambil mengusap keringat yang membasahi dahinya.


"Drrt drrt drrt!" Bunyi ponsel Manisya terasa bergetar dari dalam saku celananya, sejenak Manisya menghentikan aktivitas mencuci piringnya kemudian membersihkan kedua tangannya, setelah itu Manisya segera meraih ponsel yang sedari tadi sudah bergetar, Dilihatnya layar ponsel miliknya, menatap nama yang keluar dari layar ponselnya, ternyata panggilan tersebut berasal dari Adam, saat hendak mengangkat panggilan telepon dari Adam tiba-tiba Manisya dikagetkan dengan suara hewan yang tiba-tiba muncul saat itu, hewan tersebut adalah tikus, dan yang lebih membuatnya kaget adalah ponsel yang sebelumnya berada dalam genggamannya kini berubah posisi, tepat nya berada di dalam wastafel tempat ia mencuci piring.

__ADS_1


"Ya ampun, ponselku!" Manisya mengangkat ponsel miliknya dari dalam wastafel yang sudah terendam air sabun itu, tentu saja membuat ponsel milik Manisya mati secara total.


"Apa yang harus aku lakukan!" Manisya mencoba mengeringkan ponselnya menggunakan sebuah Lap, namun ponselnya urung menyala.


"Sudahlah, mungkin ponselku sedang lelah!" Menyimpan ponsel miliknya disebuah meja yang tak jauh dari pandangannya, Manisya pun kembali menyelesaikan pekerjaannya untuk mencuci piring.


Tak Lama, Manisya akhirnya telah selesai mencuci piring, ia pun segera mengganti pakaiannya kembali kemudian bergegas meninggalkan restoran yang sudah terlihat sepi tersebut.


"Sudah jam 10 malam, bagaiman caranya aku pulang, ponselku saja sudah memarahiku karena membuatnya menunggu sangat lama!" Manisya menggerutu sendirian di depan restoran.


Manisya terlihat bingung, ini dikarenakan ponselnya mati, ia tak bisa memesan sebuah ojek online ataupun kendaraan online lainnya.


Manisya berjongkok menempelkan dagunya pada kedua lututnya dengan tangan memainkan sebuah benda menuliskan sesuatu yang ia sendiripun bingung apa yang ia tuliskan di sana.


Beberapa menit telah berlalu, Manisya masih dengan posisi yang sama, kali ini ia menggambar sebuah wajah.


"Apa ini mirip Adam?" Manisya berkata sendiri sambil tersenyum menatap sebuah wajah yang tak jelas bentuknya.


Manisya menggelengkan kepalanya menolak apa yang sudah ia katakan saat itu, "Tidak, tidak , ini tidak mirip dengan Adam, sama sekali tidak mirip!" Ucap Manisya sambil terkekeh dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


"Benarkah?" Tiba-tiba seseorang ikut berkomentar dengan menatap gambar yang Manisya buat di sebuah trotoar jalan.


"Ya, dia lebih tampan dari ini!" Ucap Manisya belum sadar jika seseorang tengah mengajaknya untuk berbicara.


Manisya diam sesaat, Masih menunduk menatap gambar yang dia buat, merasa seseorang tengah sibuk memperhatikan nya, Manisya mengangkat kepalanya mengalihkan pandangannya dari sebuah gambar.


Manisya tersenyum lebar seakan sebuah kebahagiaan paling besar sedang ada bersamanya saat itu, "Adam!" Kedua bola matanya kini bercerita, membulat secara penuh melihat Adamlah yang berada di hadapannya kini.


"Apa kemampuan menggambarmu seburuk itu?" Adam menunjuk gambar wajah yang Manisya buat.


Manisya mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya kepada Adam, setelah itu Manisya segera Manisya bangkit dari jongkoknya.


"Sangat buruk!" Ucap Adam dengan sangat pasti.


"Maaf aku sungguh tidak bisa menggambar!" Ucap Manisya merasa bersalah karena menggambar wajah tampan Adam dengan begitu buruk.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? bukannya kamu bilang kamu selesai jam 9?"

__ADS_1


Manisya mengangguk kan kembali kepalanya mengiyakan ucapan Adam.


"Dan kenapa teleponku tidak diangkat, dan kamu malah mematikan ponsel?"


Manisya mengangguk-anggukkan kepalanya kembali mengiyakan perkataan Adam.


Manisya mengangguk-anggukkan kepalanya bukan tanpa alasan, hanya saja saat itu ia merasa terharu saat Adam tiba-tiba ada dihadapannya, ingin rasanya ia memeluk erat kaki-laki yang ada di hadapannya saat ini, hingga ia sulit berkata-kata.


"Kenapa hanya mengangguk, coba jelaskan!"


Manisya terdiam sejenak, kemudian menarik nafasnya sangat dalam.


"Maaf, ponselku terkena air, membuat ponselku mati saat itu juga!"


"Terkena air? bagaimana bisa hanya terkena air bisa membuat ponsel mati begitu saja?" Adam terlihat mengerutkan dahinya merasa heran dengan penjelasan Manisya.


"Maksudku, ponsel ku masuk kedalam wastafel yang saat itu sedang terisi air pencucian piring!"


"Kenapa Bisa?" Adam bertanya kembali, jawaban Manisya masih belum berhasil membuat semua pertanyaan nya terjawab.


"Aku kan sedang mencuci piring, Trus ada panggilan telepon, saat aku hendak menjawabnya aku mendengar suara tikus, hal itu membuatku terkejut dan seketika aku membuang ponsel yang aku pegang kedalam wastafel yang berisi air cuci piring yang sangat penuh, begitu ceritanya!" Jelas Manisya secara panjang lebar kepada Adam.


"Panggilan telepon? siapa yang memangnya yang melakukan panggilan telepon?" Adam bertanya sangat penasaran.


"Entahlah, aku juga tidak tahu siapa yang melakukan panggilan telepon, tapi aku sempat baca, nama yang tertera dalam layar ponselku ada tulisannya, "Adamku memanggil!" Kemudian Manisya terkekeh dengan ucapannya, setelah itu memberikan senyuman sangat lebar kepada Adam yang kini diam mematung menatap tajam ke Manisya.


Adam tak memberi respon dengan candaan Manisya, hanya terdiam menatap ke arah Manisya, setelah itu melangkah mendekat kepada Manisya kemudian di cubitnya salah satu pipi Manisya oleh tangan Adam.


"AW, sakit tahu!" Manisya meringis saat tangan Adam berhasil menyentuh pipinya, setelah itu Adam membetulkan resleting jaket milik Manisya, tepatnya jaket yang ia berikan untuk Manisya, yang awalnya hanya menutup sebagian tubuh Manisya, kini menutupi seluruh tubuh Manisya sampai mendekati dagunya.


"Sudah ku bilang pake jaket yang betul!"


Manisya hanya tersenyum dengan ucapan Adam.


Setelah itu Adam, menggenggam tangan Manisya menariknya untuk segera berjalan.


"Ayo cepatlah ini sudah malam!"

__ADS_1


__ADS_2