
"Aku hanya ingin berterimakasih, dia sudah mengantarkanku tadi malam."
Manisya begitu terkejut mendengar ucapan Rena jika Adam telah mengantarkannya pulang.
"Adam mengantarkan mu pulang?" Tanya Manisya dengan penuh keraguan.
"Ya, Adam mengantarkan ku pulang!" Jawab Rena.
"Kamu tidak percaya?" Tanya Rena melihat ada garis keraguan di raut wajah Manisya.
"Tentu saja aku sangat tidak percaya, sepertinya kamu banyak berhalusinasi!" Manisya terkekeh, saat mengingat betapa sulitnya ia mendekati mahluk laki-laki yang bernama Adam.
"Maksudmu aku berkata bohong?" Jawab Rena.
"Mungkin saja, kalau memang benar sepertinya laki-laki di dunia ini yang bernama Adam sangatlah banyak! dan kamu tahu, aku tidak akan mempercayainya jika kamu tidak memiliki bukti!" Jawab Manisya dengan begitu percaya dirinya, membuat mental Rena sedikit menurun dari biasanya.
"Baru menjadi temannya saja sudah banyak tingkah!" Tatap Rena sangat kesal saat mendengar ucapan Manisya.
"Aku lebih dari yang kamu fikirkan!" Jawab Manisya tak mau kalah.
"Apa maksudmu? Memangnya kamu siapanya Adam? Pacar? Ah tidak mungkin, mana mungkin dia memilih wanita sepertimu!" Rena menatap Manisya dari atas kepalanya sampai ujung kaki, membuat Manisya sangat tidak nyaman di buatnya.
"Memangnya kenapa aku!" Kali ini giliran Manisya yang meninggikan suaranya, sebuah emosi tiba-tiba saja menghampirinya saat ia mendengar dirinya begitu di pojokan oleh ucapan Rena.
"Tidak kenapa-napa, hanya saja aku lebih segalanya di bandingkan kamu!" Jawab Rena.
Mendengar ucapan Rena membuat Manisya menggeleng-gelengkan kepala nya, ia sangat tidak mengira jika Rena bisa berkata seperti itu kepadanya.
"Kau tahu, dia tidak akan menyukaimu, wanita yang lebih cantik dan lebih seksi di banding kamu sangat banyak!" Jawab Manisya.
"Benarkah, dia tidak akan tergoda olehku? aku kira terlalu awal untuk menyimpulkan, lihat saja, aku akan mendapatkannya!" Jawab Rena sambil berlalu meninggalkan Manisya yang masih berdiri mematung di dalam ruangan ganti baju.
Jauh di dalam hatinya Manisya sebetulnya merasakan rasa khawatir jika Rena akan mendapatkan hati Adam, namun ia berusaha keras menyangkal hal tersebut, tak ingin di liputi fikiran-fikiran kotor yang akan membuang - buang waktunya.
Manisya menarik nafasnya sangat dalam, kemudian mengeluarkannya secara perlahan, "Hih menyebalkan sekali, ingin sekali rasanya aku acak-acak rambut wanita aneh itu, Semoga saja Adam tidak tergoda dengannya!"
"Dia belum tahu, aku ini.. aku ini.. aku?" Tiba-tiba Manisya memotong perkataannya, Manisya berfikir kembali, sebenernya hubungan seperti apa dirinya dengan Adam, selama ini Manisya merasa Adam belum pernah mengungkapkan cinta kepadanya.
"Ah, sudah lah!" Ucap Manisya.
__ADS_1
Setelah itu Manisya segera mulai untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa, tugas dia adalah membersihkan piring-piring yang kotor, namun karena di depan restoran pengunjung sedang banyak-banyaknya, seorang Manajer datang menghampiri nya dan menyuruh Manisya untuk sementara membantu di depan, tepatnya membantu membersikan meja, menerima pesanan, mengantar pesanan ataupun menghampiri para tamu jika sesekali mereka memanggil.
"Mba mba!" Panggil seorang pengunjung kepada Manisya yang kala itu tengah membersihkan sebuah meja, karena salah satu pengunjung telah meninggalkan mejanya. Saat Mendengar seseorang memanggil ke arahnya, Manisya segera menolehkan wajahnya, mencari ke arah suara yang tak asing di telinganya.
"Mba!" Suara laki-laki kini jelas terdengar di telinganya, Manisya segera menoleh ke arah suara, dan betapa kagetnya dia saat mengetahui jika laki-laki yang memanggilnya adalah Adam.
Manisya membulatkan matanya saat mengetahui pemilik dari suara tersebut. Manisya menarik kedua sudut bibirnya kemudian berjalan ke arah Adam.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Manisya sesaat setelah mendekat kepada Adam, kini wajahnya yang semula terlihat sendu berubah seketika menjadi ceria.
"Saya? Anda mengenali saya?"
"Maaf saya salah orang!" Ucap Manisya saat mendengar Adam berpura-pura tak mengenalinya, kemudian berbalik arah hendak meninggalkan Adam yang kini tengah menatap ke arah Manisya.
"Mau kemana?" Adam menarik baju Manisya tak membiarkannya pergi meninggalkannya.
Manisya berbalik arah kemudian tersenyum kembali menjahili Adam. "Mau pesan apa Mas? maaf di sini tidak ada pecel lele!" sambil memegang sebuah buku kecil serta sebuah pensil di tangannya.
"Pesankan lah untukku dan satu untukmu!" Posisi mereka kini layaknya seorang pelayan dan seorang pengunjung restoran.
"Em, baiklah aku akan pesankan menu Favorit di restoran ini!" Sambil menuliskan sebuah menu di atas sebuah buku kecil yang ia pegang.
"Aku sedang bekerja, bagaimana bisa aku makan, aku akan pesan untukmu saja ya" Jawab Manisya.
Adam tak menjawab ucapan Manisya, ia memilih berpangku tangan dengan kedua bola matanya di penuhi oleh wajah Manisya.
"Setelah makan, cepatlah pulang, tidak perlu menungguku ya!" Manisya berbisik kepada Adam tak ingin ucapannya di dengar oleh orang lain, namun Adam hanya menatap wajah Manisya tak menanggapi sama sekali ucapan gadis itu.
"Mohon untuk menunggu Mas saya siapkan pesannya terlebih dahulu!" Ucap Manisya sambil berlalu meninggalkan Adam sendirian.
Adam masih tak menjawab ucapan Manisya, ia hanya sibuk menatap gerak gerik teman satu kelasnya itu.
Adam menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berucap, "Gadis bodoh."
Setelah Manisya pergi, Adam terlihat mengacungkan tangannya memanggil seorang pelayan pria yang sedang berdiri memperhatikan sekeliling..
"Bisa saya bantu mas?"
Adam membuka buku menu yang ada di atas meja, kemudian menunjuk salah satu menu disana. "Saya pesan ini, sama minumannya jeruk hangat satu, tolong bungkus!"
__ADS_1
"Baik akan segera saya siapkan!" Jawab Pramusaji tersebut, dan setelah mencatat pesanan Adam ia segera pergi meninggalkan Adam.
Adam yang tengah menunggu pesanannya, terlihat sibuk memperhatikan Manisya yang tengah membersihkan meja yang kotor, dari meja ke meja Manisya berpindah, Adam juga memperhatikan bagaiman Manisya dengan cekatannya saat seseorang memanggil dirinya, Adam juga melihat senyuman lebar di bibir Manisya yang selalu Manisya sematkan di kedua sudut bibirnya kepada semua pelanggan restoran.
"Kenapa harus tersenyum seperti itu!" Adam menatap tajam ke arah Manisya, raut wajahnya seakan tidak terima jika Manisya harus selalu tersenyum kepada semua orang.
"Permisi, pesanannya Mas!" Pramusaji wanita membawa semua pesanan Adam, wanita itu terlihat membulatkan kedua bola matanya saat melihat jika Adamlah yang duduk di sana.
"Terimakasih!" Ucap Adam tanpa menatap ke arah pramusaji tersebut.
"Kamu Adam kan?" Tanya Pramusaji menyapa Adam.
"Apa aku mengenalmu?" Tanya Adam dengan menatap tajam ke arah wanita tersebut.
"Kenalin aku Rena!" Rena menyodorkan tangannya kepada Adam, namun ia harus menerima kenyataan pahit, Adam tak menghiraukan sodoran tangannya.
"Pergilah aku tidak ada urusan denganmu!" Adam merasa terganggu dengan kedatangan Rena.
"Semalam kita beretemu di depan, kamu ingat!" Ucap Rena sesaat setelah tangan yang ia sodorkan ia tarik kembali.
"Ya aku mengingatnya, pergilah!" Adam merasa terganggu karena pandangan Manisya terhalang oleh tubuh Rena, karena itu lah Adam ingin Rena segera pergi saat juga.
Rena terlihat masih belum menyerah untuk mendekati Adam, ia bahkan mengabaikan ucapan Adam untuk segera berlalu dari hadapannya.
"Em, apa aku boleh minta no handphone mu!" Tanya Rena.
Saat mendengar ucapan Rena, Adam seketika mengalihkan pandangan nya, yang awalnya sedang berusaha mencari keberadaan Manisya, kini menatap tajam ke arah Rena.
"Apa telingamu tidak berfungsi? aku bilang pergilah, kamu menghalangi pandanganku!" Ucap Adam dengan raut muka yang terlihat kesal dengan tingkah Rena kepadanya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memberikannya kepadaku!" Jawab Rena.
Mendengar ucapan Rena membuat Adam terlihat sangat kesal, Adam kemudian menarik tangan Rena dan membuatnya duduk tepat di kursi yang berada di pinggirnya, Adam terlihat celingukan mencari keberadaan Manisya, namun sayangnya ia masih belum menemukan keberadaan Manisya.
"Pergilah, atau aku akan mengatakan pada manajer restoran ini!" Adam mencoba mengancam Rena karena merasa risih dengan kelakuan wanita tersebut, dan akhirnya tanpa sepatah kata karena rasa kecewanya, Rena pun segera pergi meninggalkan Adam.
Tanpa Adam ketahui, Manisya memperhatikannya sejak awal berbicara dengan Rena, Manisya menekuk wajahnya saat Rena terlihat bercakap dengan senyuman lebar di kedua sudut bibirnya bersama Adam, pertanyaan demi pertanyaan kini berputar di kepala Manisya, dan perasaan khawatirlah yang kini menyeruak dalam perasaan Manisya.
"Rena memang cantik!" Ucap Manisya dengan pasrah, serta sorot matanya kini berubah sendu, Manisya menundukkan kepalanya sesaat setelah melihat Adam menarik tangan Rena dan duduk tepat di pinggirnya.
__ADS_1