
Ada getaran yang begitu besar dalam jantung Manisya saat ini, ia mencoba melepaskan tangannya yang kini di pegang erat oleh tangan Adam, namun sulit di lepaskan, Adam semakin menajamkan tatapannya ke arah Manisya.
"Tolong lepaskan!" kata Manisya tak ingin kejadian seperti dahulu terjadi kembali.
Suara Manisya menyadarkan Adam akan sesuatu hal, ia kemudian melepaskan tangan Manisya secara kasar, Manisya melangkahkan kakinya kebelakang menjauhi Adam.
"Maafkan aku!" Kata Manisya mencoba mencairkan suasana.
"Aku akan pulang saja kalau begitu!"
"Pulang kata Lo?"
"Iya" Jawab Manisya dengan pasti.
"Tak ada yang boleh pulang!" Jawab Adam menanggapi perkataan Manisya
"Apa kita akan berkemah di sini?" tanya Manisya tanpa memikirkan perkataannya.
"Kita akan menyusul rombongan ke sana!" jawab Adam.
"Menyusul?" Manisya mengulangi perkataan Adam.
"Bagaimana caranya?" tanya Manisya yang merasa keberatan jika harus menyusul rombongan yang sudah meninggalkannya.
"Pak Komar sudah menunggu di luar!" Jawab Adam.
Adam memberikan sebuah kode kepada Manisya untuk mengikuti langkahnya.
Manisya menggendong kembali tas miliknya yang memang sengaja ia letakan di kursi taman, kemudian Manisya mengikuti langkah Adam. Adam menengok ke arah Manisya saat langkah kaki Manisya tidak terdengar oleh nya.
"Kenapa Lo?" tanya Adam kepada Manisya.
"Apa kamu tadi melihat aku memakai jaket?" tanya Manisya kepada Adam, sebuah jaket miliknya yang kini sedang di carinya.
"Lo ga pake jaket!" Jawab Adam dengan tegas.
"Benarkah?" kata Manisya yang terlihat bingung.
"Tapi dari rumah aku memakai jaket!" Manisya masih berusaha mengingat jaket miliknya.
__ADS_1
"Ceroboh!" jawab Adam.
"Ya ampun, sepertinya tertinggal di Bus!" Manisya melakukan gerakan memukul kepalanya secara perlahan.
Manisya menatap ke arah Adam, kemudian tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi putihnya yang membuat wajahnya begitu Manis.
Adam mengerutkan dahinya, di tatapnya Manisya dengan sebuah tatapan tajam miliknya.
"Apa kamu juga akan meminjamkan jaket mu untukku? seperti di sebuah drama percintaan, hehe." Manisya terkekeh sendiri mengingat sebuah adegan dalam sebuah drama saat sang Pria memberikan jaket kepada kekasihnya.
Adam tak menjawab perkataan Manisya, ia melajukan kembali langkahnya.
"Kamu itu bodoh sekali Manisya!" Manisya berkata sendiri, namun perkataannya tersebut Masih bisa terdengar oleh Adam, Adam menarik salah satu sudut bibirnya saat mendengar Manisya berbicara kepada dirinya sendiri.
Mereka pun berjalan keluar gerbang sekolah menghampiri Mobil Sport berwarna merah milik Adam yang kala itu telah terparkir tepat di depan gerbang sekolah.
"Neng Ma, Mbak Ara apa kabar." Pak Komar sesaat lupa akan panggilan yang harus ia ucapkan kepada Manisya, Pak Komar segera merubah kata-katanaya saat Adam menatap ke arah Nya.
"Baik Pak Komar, Pak Komar sendiri apa kabar?"
"Baik Mba!" Pak komar berjalan mendekati Manisya, sebelum akhirnya di bawanya satu persatu tas gendong yang terisi penuh milik Adam dan Manisya untuk kemudian ia masukkan ke dalam bagasi mobil.
Adam dan Manisya memasuki mobil duduk di kursi belakang yang di kemudikan oleh Pak Komar.
"Ga tau nih Pak Komar, sekarang Adam pelit, ga pernah ngajak-ngajak lagi." Manisya menatap ke arah Adam yang kini sedang menatap lurus kedepan mengabaikan Pak Komar dan Manisya yang tengah bercakap.
Adam menatap layar ponselnya, kemudian membuka sebuah pesan yang kala itu masuk ke dalam sebuah aplikasi WhatsApp miliknya, ia membelalakkan matanya serta mengerutkan dahinya saat melihat pesan dari aplikasi tersebut.
Adam mengalihkan tatapannya dari ponsel Miliknya kepada Manisya yang kala itu sedang tertawa dengan Pak Komar, sesaat Adam memusatkan bola matanya pada salah satu sudut, sebelum akhirnya ia memejamkan kedua matanya mengabaikan Manisya yang sedang bercanda dengan Pak Komar.
"Pak Komar, Apa ini akan memakan waktu yang lama?"
"Iya mba kurang lebih dua jam?"
"Iya dua jam" Jawab Pak Komar menanggapi perkataan Manisya.
Manisya menatap ke arah Adam yang sedang menutup matanya namun tidak tertidur.
"Tampan sekali." Gumam Manisya saat melihat Adam yang sedang menutup kedua matanya.
__ADS_1
Setelah tak Ada lagi percakapan antara Manisya dan Pak Komar, Manisya pun kini terlihat memejamkan kedua matanya. Adam yang sedang memejamkan kedua matanya tiba-tiba membuka kedua matanya saat Kepala Manisya menyentuh bahunya secara tiba-tiba saat tertidur, Manisya yang tertidur menyenderkan kepalanya di bahu Adam.
Adam melirik ke arah Manisya, dilihatnya kaos putih yang menutupi tubuh Manisya sedikit terangkat, hingga memperlihatkan kulit putih mulus Manisya, tangan Adam mencoba meraih baju Manisya tersebut, kemudian menariknya agar menutupi bagian tubuh Manisya yang sedikit terbuka, Adam juga melihat kaos yang di pakai Manisya hanya menutupi sebagian tangannya.
"Pak Komar tolong kecilkan AC nya!" perintah Adam kepada Pak Komar.
"Iya mas!" jawab Pak Komar sambil menekan tombol AC dari arah kemudinya.
Satu jam pun telah berlalu Manisya perlahan membuka matanya, menegakkan yang kepalanya yang tengah menyender pada bahu milik Adam.
Manisya menatap ke arah Manisya, kemudian bertanya, "Apa aku tertidur seperti ini sejak tadi?"
Adam yang memejamkan kedua matanya tiba-tiba membuka kedua matanya, ia arahkan kepada Manisya.
"Seperti yang Lo lihat!" Jawab Adam menatap Manisya.
"Terimakasih, dan maafkan aku!" Kata merasa menyesal karena ia telah menyenderkan kepalanya di bahu Adam selam kurang lebih satu jam lamanya.
"Itu tidak gratis!" Jawab Adam.
Manisya seketika menyilangkan tangannya ke atas tubuhnya.
Adam hanya menatap ke arah Manisya, melihat tingkahnya yang ketakutan saat mendengar ancaman Adam.
Adam mendekati Manisya dengan tangan masih menyilang di depan dadanya.
Adam dengan cepat menjentikkan tangannya ke dahi Manisya.
"Aw," Rintih Manisya yang kesakitan mendapat jentikkan dari tangan Adam yang tepat mengenai dahinya. Kali ini Adam tidak terlalu menguatkan tenaganya agar tidak melukai dahi Manisya.
"Sakit tau!" Manisya mengusap-usap dahinya menggunakan tangannya.
"Hilangkan fikiran negatif Lo dari otak Lo itu!" Kata Adam masih dengan jarak mereka yang berdekatan.
"Kamu kan yang mancing aku buat mikir negatif!" Manisya mencoba membela diri.
"Lo mau lagi?" tanya Adam dengan jari dan jempolnya yang telah siap dengan sebuah jentikkan.
"Tidak!" Jawab Manisya dengan cepat.
__ADS_1
"Apa kamu mau mencoba!" Manisya mengikuti gaya Adam dengan ujung jempol dan telunjuk menempel membuat sebuah jentikkan di tangannya, ia pun menyematkan sebuah senyuman jahil di bibir tipisnya, dengan berani mendekati Adam, iya berusaha memposisikan tangannya pada dahi Adam, Adam dengan gampangnya menyekap tangan Manisya yang berusaha untuk menggapai Dahinya tersebut.
"Kamu harus mencobanya!" kata Manisya yang masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adam, ia mengeluarkan tenaganya dengan kuat, Namun tiba - tiba Manisya tidak bisa berkutik saat tangan Adam berhasil mendekap tubuhnya.