
Ke esokan harinya di kantor.
Pagi itu Manisya berangkat ke kantor tidak seperti biasanya, ia datang lebih siang dari biasanya.
"Aku telat!" Buru-buru Manisya berlari berharap pintu lift sudah terbuka saat ia hendak menaikinya.
"Waduh sudah banyak yang menunggu!" Langkah kakinya terhenti saat melihat pemandangan beberapa orang menunggu lift terbuka.
Tiba-tiba kedua matanya membulat sempurna melihat Adam ikut berdiri di sana, tanpa sepengetahuan Adam, Manisya duduk berdiri di belakangnya.
Bisik-bisik karyawan wanita di pinggirnya terdengar pula di telinganya.
"Lihat, tampan sekali, aku dengar dia anak orang kaya, bahkan pemilik perusahaan ini!"
Manisya otomatis mengerutkan bibirnya saat mendengar hal tersebut, walaupun sebenarnya dia sudah terbiasa mendengar hal tersebut, tapi tetap saja hal itu membuat kedua kupingnya merasa panas.
"Teng!" Bunyi lift terbuka, semua karyawan yang menunggu di depan lift memasuki lift dengan terburu-buru, Manisya hanya mematung tak melangkahkan kakinya karena memang dia berdiri paling belakang, ia hanya terkena senggolan teman sekantor nya yang akan memasuki lift.
Manisya menatap ke arah lift yang sudah dipenuhi oleh karyawan itu, tiba-tiba matanya beradu dengan mata milik laki-laki yang paling tampan dalam hidupnya itu, siapa lagi kalo bukan mata milik Adam.
Adam menatap ke arah Manisya dengan sebuah kode menggerakkan sedikit kepalanya menyuruh Manisya untuk segera masuk ke dalam lift.
Manisya melangkahkan kakinya kedalam lift mengikuti perintah Adam, dan tiba-tiba saja terdengar bunyi dari dalam lift karena kapasitas dari lift sudah melebihi batas yang seharusnya.
Manisya sangat terkejut mendengar bunyi tersebut dan segera melangkahkan kan kakinya keluar lift.
"Maaf maaf, silahkan!" Ucap Manisya dari arah luar lift, dengan perasaan malunya bermaksud membiarkan lift naik tanpa dirinya, ia juga memberikan sebuah kode kepada Adam bahwa ia baik-baik saja.
Dengan memendam perasaan kecewanya akhirnya Manisya menunggu lift berikutnya yang akan membawanya ke lantai sepuluh tempat ia bekerja.
Setelah beberapa saat menunggu, "Ting!" Bunyi lift kembali terbuka, saat hendak melangkahkan kakinya ke dalam lift Manisya sungguh terkejut, di dalam lift ada Adam yang berdiri tanpa menatapnya.
Manisya yang mengerutkan bibirnya, kini menarik secara lebar kedua sudut bibirnya, perasaanya tiba-tiba saja berubah penuh dengan kebahagiaan, Karena Manisya yakin Adam di sana sengaja kembali ke kelantai bawah untuk dirinya walaupun tanpa sebuah kata yang keluar dari bibir Adam maupun Manisya saat berada di dalam lift, dan akhirnya lift membawa mereka ke lantai 10, mereka pun keluar bersama tanpa ada yang menaruh rasa curiga.
"Kamu kesiangan!" Tanya Adam sesaat setelah keluar dari lift, kini mereka berdua berjalan di sebuah lorong hendak memasuki ruangan, tak ada siapapun di sana, hanya ada Adam dan Manisya.
"Aku bangun kesiangan!" Jawab Manisya tanpa menatap ke arah Adam,, ia merasa khawatir jika ada mata yang memperhatikan ke arahnya.
"Besok aku akan menjemputmu!"
Mendengar ucapan Adam membuat Manisya terkejut, seketika menjawab dengan nada berteriak, "Tidak perlu!"
Adam seketika menghentikan langkahnya menatap kearah Manisya dengan tatapan tajamnya.
Merasa bersalah karena berteriak, Manisya hanya menundukkan kepalanya, setelah itu Adam mendahului Manisya untuk masuk ke dalam kantor.
"Pagi semuanya, maaf hari ini aku kesiangan!" Permintaan maaf Manisya sesaat setelah kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan.
Teman-teman sekantornya menjawab ucapannya, mengatakan tidak masalah karena jarang sekali sebetulnya Manisya kesiangan.
"Belikan aku sebuah kopi!" Siska menghampiri Manisya yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerjanya.
"Baik!" Seketika Manisya berdiri.
"Ada lagi yang mau pesan kopi?" Menawarkan kepada temannya yang lain.
"Aku mau Espresso!"
"Americano!"
__ADS_1
"Vanila latte!"
"Cappucino!"
Beberapa Staff yang sekaligus merupakan rekan satu kantor ikut menitipkan pesanan kopi mereka kepada Manisya.
"Baik, akan aku pesankan!" dengan sigap Manisya menjawab.
Setelah itu menatap ke arah Adam yang terlihat sudah sibuk di depan komputer nya, ia hanya menatapnya dengan menarik kedua sudut bibirnya melihat pemandangan yang begitu indah berada di depan matanya, akhirnya setelah beberapa saat Adampun melihat ke arah Manisya yang tengah tersenyum menatapnya.
"Mau pesan kopi juga?"
Adam tidak langsung menjawab pertanyaan Manisya.
"Aku sedang tidak ingin kopi!" Jawab Adam.
"Kalau teh?" Manisya memberikan opsi yang lain, tak membiarkan Adam lolos begitu saja.
"Aku tidak ingin teh!" Jawab Adam kembali.
"Emm, kalau susu hangat?" Seakan memaksa Adam untuk ikut memesan sebuah minuman kepadanya.
Adam belum menjawab pertanyaan Manisya.
Dan ternyata Mona sedari tadi memperhatikan Adam dan Manisya merasa geram dengan tingkah temannya tersebut.
"Hei sudah-sudah Pak Adam tidak ingin pesan!" Mona menepuk tangan Manisya sambil berbisik di telinganya bermaksud menyadarkan akan tingkah teman nya yang sudah berlebihan.
Seketika Manisya melirik ke arah sekitar untunglah rekan satu ruangannya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Maaf maaf, tidak apa-apa jika Bapak tidak ingin pesan!"
"Cappucino!" Jawab Mona.
"Baiklah, aku beli minuman dulu!" Manisya pun bergegas meninggalkan ruangan.
Sesaat setelah Manisya pergi, Adam berjalan menghampiri Mona yang tengah sibuk merapihkan file.
"Tolong perbanyak ini!" Memberikan setumpuk kertas pada Mona.
"Kamu tidak ikut dengannya?" Tanya Adam kepada Mona.
Mona terlihat kebingungan mendengar ucapan Adam, kemudian menunjuk hidungnya menggunakan jarinya.
"Saya Pak?" Tanya Mona.
Adam menatap Mona dengan tatapan tajamnya yang akan membuat siapa saja yang melihat bergidik ketakutan. "Dia akan kesulitan membawa pesanan minuman teman sekantor nya yang begitu banyak, dan kamu hanya duduk di sini?"
Setelah berkata Adam langsung berlalu dari meja Mona membiarkan Mona dengan kebingungan nya.
Mona menatap ke arah Adam seolah tak berkata apapun padanya, setelah beberapa saat akhirnya Mona mengerti arah ucapan Adam, dan segera berlalu meninggalkan ruangan tanpa permisi.
***
Di Cafe tempat Manisya memesan minuman.
"Maniiiss!" Mona berteriak mengabaikan setiap orang yang menatap heran kepadanya.
Manisya terlihat bingung dengan Mona, melihatnya berlari terburu-buru ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa? kamu ada yang lupa?"
Mona terlihat berjongkok mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena berlari, "Tidak, aku akan membantumu membawa minuman!"
"Tidak perlu, Aku bisa kok membawanya sendiri , ini sangat gampang!" Memperlihatkan Cup Holder Take Away yang ia pegang sebanyak dua buah dengan satu jinjingnya berisi 6 cup kopi.
"Sini satu aku yang bawa!" Mona merebut satu Cup Holder yang di pegang oleh Manisya.
"Hei awas tumpah! Aneh sekali kamu?" Tanya Manisya, biasanya juga ga pernah nyamperin gini!"
"Ini punya ku kan!" Mengambil satu cup Kopi pesanannya.
"Awas salah ambil!"
Menatap Kembali cup Kopi yang sudah hampir masuk ke dalam mulutnya.
"Bener ah yang ini!"
"Kamu tahu Manis kenapa aku bisa menyusulmu kesini?"
"Ya mana aku tahu!" Jawab Manisya dengan Nada malasnya.
Mona memperagakan cara Adam berkata dengan menatap Manisya secara tajam, "Dia akan kesulitan membawa pesanan minuman teman sekantor nya yang begitu banyak, dan kamu hanya duduk di sini?"
Mendengar hal tersebut membuat Manisya tertawa terbahak-bahak, namun dengan tetap memperhatikan kopi yang di pegang olehnya.
"Kamu tahu, itu tatapan menyeramkan yang pernah aku alami, dan kamu tahu siapa yang bicara seperti itu kepadaku?"
Manisya menganggukkan kepalanya.
"Kamu tahu? siapa coba!"
Dengan entengnya Manisya menjawab, "Adam!"
Mona terdiam sesaat, saat mendengar Manisya berkata mengucapkan nama yang betul.
"Sebal sekali aku sama dia, dia kan pegawai baru, memang sih di jabatannya lebih tinggi daripada kita, tapi kan kita tetep seniornya kan? kenapa juga tingkahnya lebih menyebalkan dari Siska sih!" Mona bercerita dengan penuh emosi.
Manisya hanya terkekeh mendengar temannya yang sewot.
"Dia memang seperti itu, tapi dia sangat baik!"
"Kenapa kamu membelanya!" Jawab Mona tak senang jika Manisya membela Adam.
"Aku hanya berkata sesungguhnya!"
Mona tiba-tiba mengerutkan dahinya menatap Manisya.
"Kamu sangat mencurigakan! aku tidak percaya kepadamu, apa hubunganmu dengannya! kenapa kamu bisa yakin jika dia itu sangat baik?"
Manisya menarik nafasnya kemudian berkata.
"Ya sudah kalau tidak percaya! Pak Adam itu memang baik orangnya, terus kalau aku bilang Pak Adam itu pacarku percaya atau enggak?" Manisya balik bertanya.
Saat itu Manisya dan Mona sedang berjalan bersama, tiba-tiba Mona menghentikan langkahnya mendengar ucapan Manisya kemudian menatap tajam ke arah Manisya.
"Kalau begitu Pak Bagas adalah suamiku!"
Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak sepanjang perjalanan ke kantor.
__ADS_1
***