
"Pelangi" Manisya menatap ke arah langit.
Kemudian ia berkata kembali.
"Cinta" Menatap ke arah seorang laki-laki yang sedang duduk asik dengan ponselnya, ya laki-laki tersebut tak lain adalah Adam sang pujaan hati Manisya.
"Pelangi Cinta" Manisya menggabungkan sebuah kata menjadi penuh arti.
"Pelangi cinta, kayaknya aku kebanyakan nonton drama gara-gara nina nih" Manisya segara mengusap muka untuk menghentikan lamunannya kemudian ia melanjutkan kembali jalannya yang sempat tertunda akibat sebuah pendangan indah yang menyita kedua matanya, ia berjalan menuju tempat pemberhentian Bis.
Sesampainya di sana.
"Hai Adam, kita berjumpa lagi" Manisya menyapa Adam sambil mengangkat satu tangannya, tak pernah ia lupakan untuk menarik kedua sudut bibir tipisnya jika bertemu dengan Adam.
Adam refkeks menoleh ke arah Manisya, Menatapnya, Namun tak menjawab Sapaan Manisya, ia mengabaikan kedatangan Manisya kemudian kembali memainkan ponselnya yang sedari tadi ia pegang.
"Isyh jutek Amat" Manisya menggerutu kesal kemudian mengerutkan bibirnya merasa kecewa karena Sapaannya tak di hiraukan oleh Adam.
Kemudian Manisya duduk di sebelah Adam dengan jarak yang cukup dekat, ia celingukan menoleh ke arah Adam, ada perasaan ingin tahu apa yang di lakukan oleh Adam dengan ponsel pribadinya.
Adam yang merasa ada yang memperhatikannya kemudian menoleh ke arah Manisya yang memang sedang berusaha melihat ponsel Adam, mereka pun dengan tidak sengaja saling bertatapan.
"Ngapain Lo" Tanya Adam dengan muka masam nya.
"Mm itu aku, mau tahu jam berapa sekarang, ya jam berapa dam?" Manisya berdalih karena merasa tak ingin di marahi oleh Adam.
"Lo punya ponsel kan?"
"Oia ya, aku mau lihat ponsel ku sendiri saja" Jawab Manisya sambil mengeluarkan Ponsel dari dalam tasnya.
Kemudan Adam beralih menatap Manisya dengan risih, ia menatap dari kepala sampai kaki Manisya.
"Lo lihat itu" Adam menunjuk ke tempat duduk pinggir Manisya yang masih kosong dan panjang.
__ADS_1
"Tempat duduk masih luas di sebelah lo, di kiri dan kanan gua juga Ada, bisa ga lo ke sana, geser duduk lo kasih jarak satu meter" Adam memerintah Manisya untuk segera menggeser duduknya.
Dengan cepat Manisya menggeser duduknya, kini ia duduk berjauhan dengan Adam, walaupun memang masih satu bangku.
"Gerah badan gua kalo deket sama lo" Adam melanjutkan kembali kata-katanya, seakan belum puas memperingati Manisya.
"Memangnya aku ini kompor!" Manisya berani menjawab omelan Adam karena merasa sedikit tidak terima dengan kata-kata Adam.
"Awas aja kalau nanti jadi suka sama Aku, aku bakar kamu nanti sekalian" Manisya masih dengan omelannya menjawab perkataan Adam, menatap Adam dengan penuh kesal, ia pun mengalihkan kekesalannya dengan mermas tasnya yang terbuat dari kain tersebut dengan kedua tangannya.
Saat Adam dan Manisya saling berpunggung-punggungan, akhirnya bis yang mereka tunggu datang, mereka pun akhirnya naik kedalam bis tersebut, suasa bis yang penuh membuat Adam dan Manisya dengan tidak sengaja harus kembali duduk berdekatan.
Manisya yang duduk di pinggir kaca, Tersenyum melihat Adam yang mengikutinya duduk tepat di pinggir kursinya.
"Katanya tadi jaga jarak 1 meter" Manisya mengumpat dalam hati.
"Katanya jaga jarak satu meter" Manisya membisikan kata tersebut ke telinga Adam.
Adam melirik ke arah Manisya, berharap Manisya mengerti maksud tatapannya.
"Aku tidak minus, aku juga tidak silindris coba lihat" Manisya membulatkan kedua bola matanya di bantu dengan tangan yang membuka kelopak matanya, ia langsung arahkan ke muka Adam.
"Gunakan mata dan otak lo dengan baik" Adam menekan - nekan kan jari telunjuknya di dahi Manisya.
"Apa maksudmu, apa kamu berpikir aku ini bodoh" Manisya mulai meninggikan suaranya.
"Memang benar, lo itu bodoh, bodoh sekali" Adam menggeleng-gelengkan kepalanya, ia kini enggan menjelaskan alasan kenapa harus duduk tepat di pinggir Manisya, karena kebodohan gadis yang berada di sampingnya kini.
"Ya ga usah terus terang begitu donk, aku juga masih punya perasaan" Manisya yang merasa tersinggung dengan perkataan Adam.
"Lo tau, lo itu wanita terbodoh yang pernah gua temui" Adam kembali memanas - manasi Manisya.
Manisya mengerutkan bibirnya, tak senang dengan perkataan Adam.
__ADS_1
"Ya aku memang bodoh, sssangat bodoh, bodoh sekali, sampai-sampai aku begitu menyukaimu" entah mengapa hari itu Manisya begitu sensitif mendengar perkataan Adam yang menyinggung perasaannya, membuatnya mempunyai energi untuk membalas semua kata-kata menyakitkan Adam.
"Untunglah otak lo masih bisa berfikir" jawab Adam.
"Dan jangan pernah bermimpi sedikit pun tentang halusinasi lo sama gua, itu tidak akan pernah terwujud, lo ngerti!" Adam yang memang sangat risih dengan kelakuan Manisya membuatnya tak pernah memilih kata apabila berurusan dengan Manisya.
Kata-kata Adam membuat Manisya berfikir keras.
"Hem sayang sekali, aku sudah sering bermimpi dengan Mu, kau tau, tak hanya sekali" Manisya yang sedang duduk di bis menempelkan kedua tangan di pinggangnya, mendekatkan wajahnya Pada Adam, berkata seolah menantang Adam, lelaki yang ia sukai.
"Baerani - berani sekali lo" Jawab Adam dengan mengepalkan kedua tangannya, di ikuti tatapan tajam yang ia balas kepada Manisya, bahkan Adam mengangkat kedua Alisnya tanpa ragu.
Kini mereka saling berhadapan, masih dengan posisi pertahanan masing-masing.
"Kau tau?" Tanya Manisya menantang Adam.
Adam tak menjawab, namun semakin mempertajam tatapan matanya pada Manisya.
"Bahkan kamu mencium dan memeluku sangat erat dalam setiap mimpiku" Masih dengan posisi yang sama, namun kini telunjuk Manisya ikut berbicara, bahkan hampir menempel pada hidung Adam.
Adam dan Manisya bahakan tidak menghiraukan semua mata yang berada di bis yang mereka tumpangi tertuju pada kursi yang di duduki Adam dan Manisya, karena terikan teriakan kecil mereka sangat menyita perhatian semua mata.
"Kau tau, itu tidak hanya sekali, itu sering", ingat itu!" Manisya mengerucutkan bibirnya dan membulatkan kedua matanya, emosinya belum juga turun.
"Itu hanya sebuah mimpi, lo tau mimpi itu halusinasi" Adam tak mau kalah dengan Manisya.
"Tapi mimpi bisa jadi kenyataan, atau mungkin kamu di sana juga diam-diam bermimpi tentang aku" Manisya mencoba memastikan.
"Kamu hanya pura-pura tidak menyukai ku kan, bilang saja sejujurnya" Manisya belum menghentikan perkataannya.
"Jangan pura-pura tidak menyukaikaiku" Manisya masih mendominasi perkataan.
Kini emosi Adam semakin menaik, ia yang jelas-jelas tidak menyukai Manisya seakan merasa terpaksa harus menyukai Manisya, gadis bodoh yang bahkan tidak tau malu yang sangat menyukainya.
__ADS_1
Tiba-tiba, Adam yang masih di baluti dengan emosi yang semakin memuncak, memeluk Manisya sangat erat bahkan kedua hidung mereka kini saling beradu, kemudian.
"CUP"