Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Boneka Panda Mirip Adam


__ADS_3

Kala itu Manisya tengah menatap ke arah langit-langit kamarnya yang bercat putih namun sudah nampak putih memudar, wajahnya memang menatap kosong ke atas namun tidak dengan fikirannya yang melayang menelusuri perasaannya, Saat ini ia tengah mencoba menebak seseorang yang selalu memberinya sebuah pesan setiap hari dengan kata-kata makian kepadanya, semakin ia dalam berusaha menebak orang tersebut, semakin memutar pula fikirannya membuatnya ingin melupakan semua makian yang ia terima melali pesan setiap hari.


"Ah sudah lah!" Desah Manisya sambil membalikkan badannya menatap ke arah jendela yang sudah tertutup, ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan.


Suara hujan membuatnya menginjakkan kakinya di atas lantai, kemudian ia membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya.


"Apa Adam kehujanan?" Raut Wajah Manisya menampakkan rasa khawatir nya, karena beberapa saat yang lalu Adam berpamitan kepadanya untuk pulang ke rumahnya.


"Semoga tidak!"


Setelah beberapa saat, Manisya yang tengah memainkan ponselnya, mendapatkan sebuah panggilan, ya panggilan itu berasal dari Adam, Laki-laki yang sangat ia sayangi saat ini.


"Kamu sudah sampai?" Manisya berkata tanpa sebuah kata pembuka.


"Kamu menunggu teleponku?" tanya Adam dari balik ponselnya.


"Aku hanya khawatir kamu kehujanan!"


"Hanya sedikit!" Jawab Adam secara singkat.


"Syukurlah! Maksih ya!"


"Makasih untuk apa?" Jawab Adam


"Makasih karena udah ngajarin aku belajar, dan satu lagi, makasih untuk semua kebaikanmu pada ku!"


"Tidak, tidak perlu berterimakasih, aku hanya bersikap seharusnya, seharusnya aku yang berterimakasih padamu karena kamu udah sangat bersabar kepadaku!"


"Tentu saja kamu harus berterimakasih kepadaku, aku kan wanita yang paling baik satu komplek, hihi!" Canda Manisya, Adam tak menjawab namun di balik diamnya, kedua sudut bibirnya tertarik secara sempurna hingga memperlihatkan bagian gigi depan nya yang putih dan rapih.


"Oia, bisa aku minta tolong sesuatu, sepertinya aku ketinggalan sebuah pulpen dalam buku yang aku berikan padamu, ada dalam tas milikmu!"

__ADS_1


"Pulpen?" Manisya hendak beranjak mengambil tasnya yang masih tersimpan di kursi ruang keluarga.


"Jangan sekarang!" Adam berteriak, membuat Manisya mengerutkan dahinya, kemudian diam mematung mengikuti perintah Adam kepadanya.


"Kenapa?" Tanya Manisya dengan memasang raut muka yang terlihat bingung.


"Tidak apa-apa, Nanti saja melihatnya setelah aku menutup telepon!" Setelah itu Adam berpamitan untuk mengakhiri percakapan mereka melalui ponsel.


"Aneh sekali!" Ucap Manisya sambil menyimpan ponselnya di atas kasur. Setelah itu ia bergegas keluar kamar hendak mengambil tas miliknya yang tersimpan di atas kursi ruang keluarga, hendak mencari sebuah pulpen milik Adam yang tertinggal di sana.


Manisya pun membawa tas miliknya ke dalam kamarnya, ia mendaratkan tubuhnya di atas kasur sambil memeluk tas gendong ke sayangannya.


Sejenak Manisya menatap tas miliknya, ia merasa ada yang aneh dengan tasnya, terisi penuh oleh sebuah benda yang membuat tas miliknya lebih berat dari biasanya.


Manisya mengangkat salah satu alisnya kemudian mencoba meraba tasnya, ia menekan-nekan tangannya pada tas gendong tersebut, "Apa aku memasukkan sebuah baju ya?" setelah itu Manisya mulai membuka tas Gendong miliknya secara perlahan dan sangat hati-hati.


Kedua matanya tiba-tiba saja membulat, saat tasnya mulai terbuka, ia melihat sesuatu di dalam tas miliknya, kedua sudut bibirnya ia tarik secara sempurna hingga membuat matanya terlihat memancarkan aura kebahagiaan, segera Manisya mengambil benda tersebut dari dalam tasnya, kemudian memeluknya dengan sangat erat, dengan beberapa kali mendaratkan sebuah ciuman pada benda tersebut, ya benda tersebut adalah sebuah Boneka, sebuah boneka panda dengan dengan perpaduan warna putih dan hitam dengan muka panda yang terlihat tanpa sebuah ekspresi.


Manisya mengambil sebuah foto selfie ia dengan boneka panda yang memang sengaja Adam simpan dalam tas miliknya, kemudian setelah itu Manisya memberikan foto selfie tersebut kepada Adam.


"Bonekanya sangat menggemaskan, mirip sekali denganmu, aku suka, makasih ya!" Kalimat tersebut yang Manisya kirimkan kepada Adam lengkap dengan foto dirinya sedang memegang boneka pemberian Adam.


"Mirip denganku?" Adam membalas pesan Manisya.


"Iyah, sangat tampan dan menggemaskan!" Jawab Manisya membalas pesan Adam.


Malam itu, sepanjang malam sebelum akhirnya Manisya tertidur, ia henti memainkan boneka pemberian Adam, menatapnya sambil membayangkan wajah Adam, menyentuhnya, memeluk bahkan tak jarang Manisya mendaratkan ciuman pada boneka tersebut, Manisya begitu bahagia malam itu, bahkan ia sempat meneteskan air mata kebahagiannya, ia tak menyangka Adam bisa melakukan hal seromantis itu untuknya.


"Aku sangat senang sekali mendapat boneka ini!" Lirih Manisya sambil memeluk boneka panda tersebut, sebelum akhirnya ia memejamkan kedua matanya dan terlelap tidur.


***

__ADS_1


Tak terasa Ujian Akhir Sekolah pun telah selesai, Adam pun telah mengikuti tes di universitas ternama di Amerika dan hasilnya tentu saja dengan nilai yang sangat tinggi Adam di terima di sana, Samira dan Nina telah diterima di sebuah universitas negeri, Rangga Mengambil jurusan Bisnis di sebuah Universitas Swasta ternama, Sedangkan Manisya ia memutuskan untuk tidak mendaftar kuliah dulu di tahun ini, ia berencana segera bekerja dan mengumpulkan uang penghasilannya untuk kuliah di tahun berikutnya, karena tak ingin menjadi beban kedua orangtuanya.


Hari itu merupakan hari besar untuk satu angkatan Manisya, karena saat itu Manisya dan teman-teman satu angkatannya sedang melakukan acara pesta perpisahan di sekolahnya yang di mulai malam hari, tentu saja acaranya sangat meriah, ada pertunjukkan musik, pertunjukkan dari satu angkatan maupun dari adik kelas mereka, ada spot untuk berfoto dengan latar perpisahan angkatan yang dibuat sangat indah, ada kambing guling di sertai dengan makanan pelengkap lainnya.


Saat itu Manisya duduk dengan Samira, Nina, Rangga, Adam dan dua orang teman lainnya yang duduk satu meja dengannya, mereka sedang mendengarkan sebuah sambutan dari kepala sekolah mereka.


"Dam, Lo Rencana berangkat ke Amerika kapan?" Pertanyaan Rangga membuat Manisya ikut menatap ke arah Adam, ia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Adam.


"Dua atau tiga hari kedepan!"


"Deg!" Tiba-tiba ada sesuatu membuat perasaan Manisya tak menentu, sebetulnya ia sangat sedih sekali akan di tinggal jauh oleh Adam, Manisya terlihat melirik sejenak ke arah Adam, kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya, tak ingin Adam menyadarinya.


"Cepet banget Lo dam!"


"Iyah gua belum menyelesaikan Administrasi!" Jawab Adam.


Kemudian, Adam, Rangga, Nina dan Samira serta dua teman mereka yang duduk bersama mereka terlibat pembicaraan mengenai rencana kuliah mereka kedepannya, tentu saja pembicaraan itu membuat Manisya tak bisa masuk kedalamnya, Membuat Manisya tak percaya diri karena ia satu-satunya yang tidak melanjutkan kuliahnya di meja itu, Manisya memutuskan untuk pergi ke toilet.


"Aku ke toilet sebentar ya!" Dengan menutup kesedihannya dengan sebuah senyuman khasnya Manisya berpamitan.


"Jangan Lama-lama!" Ucap Adam.


Tanpa menoleh ke arah Adam, Manisya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Adam.


Di dalam toilet, Manisya menatap kosong ke arah cermin, ia begitu sangat tidak percaya diri dengan dirinya sendiri saat ini, ya semenjak mendapatkan teror pesan untuknya setiap hari dengan sebuah makian dan hinaan kepdanya berpengaruh besar pada kepercayaan dirinya.


Manisya menarik nafasnya sangat dalam kemudian dengan perlahan membuangnya. Setelah itu, Manisya mencuci tangannya menggunakan sebuah sabun yang ada di dalam toilet, tiba-tiba.


"Drrt Drrt Drrt!" Ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.


"Lihat, kau begitu tidak sebanding dengannya bukan!"

__ADS_1


__ADS_2