
"Kamu harus mencobanya!" kata Manisya yang masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adam, ia mengeluarkan tenaganya dengan kuat, Namun tiba - tiba Manisya tidak bisa berkutik saat tangan Adam berhasil mendekap tubuhnya.
Sejenak Manisya merasakan kehangatan dalam tubuhnya, Jantung nya berdebar kencang merasakan dekapan tubuh Adam untuk kali pertamanya dengan sebuah posisi yang sempurna, mata mereka pun tidak bisa lagi teralihkan untuk saling bertemu, saat itu terbersit dalam fikiran Manisya untuk selalu bisa mendapatkan kehangatan yang ia rasakan saat ini. "Seandainya saja." sebelum akhirnya Manisya tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat Manisya mendorong tubuh laki-laki yang telah mendekapnya itu secara kasar hingga membuat Kepala Adam terbentur pada jendela pintu mobil miliknya, "Kamu tidak Apa-apa?" tanya Manisya sambil menggeserkan badannya menjauhi Adam, dan saat itu Manisya melihat Adam memegang bagian atas kepalanya.
Adam tak menjawab pertanyaan Manisya, ia segera membetulkan kembali badannya seperti sebelumnya, duduk dengan sebuah jarak antara Manisya.
Merekapun mengabaikan sepasang mata yang memperhatikan mereka dari balik kaca spion dengan sebuah senyuman di bibirnya, yang tak lain adalah Pak Komar yang sedang memegang kendali mobil tersebut.
"Apa kamu betul tidak apa-apa?" tanya Manisya kembali dengan posisi tangannya hendak menyentuh bagaian kepala Adam, namun dengan cepat Adam menangkis tangan Manisya yang hendak menyentuh kepalanya tersebut.
"Maaf." kata Manisya menatap ke arah Adam sambil mengerutkan bibir tipisnya.
"Apa Hobi Lo memang suka menggoda laki-laki?" tanya Adam menatap pakaian Manisya yang terlihat sedikit mengangkat memperlihatkan sedikit bagaian dalam tubuhnya.
Manisya segera menarik bajunya untuk menutupi bagian tubuhnya yang sedikit terbuka, kemudian Adam melemparkan sebuah kain pada Manisya hingga menutupi wajahnya.
"Apaan ini?" tanya Manisya dengan sebuah kain yang menutupi wajahnya, Manisya dengan segera menarik baju yang menutupi wajahnya itu, di lebarkan nya baju berwarna hitam dengan sebuah merek terkenal di sisi kanannya, baju tersebut di jahit dengan lengan yang panjang, Manisya masih menatap baju tersebut, di bolak balikkan nya kaos hitam berlengan panjang dengan sebuah ukuran tubuh Adam itu.
"Ini punyamu?" tanya Manisya menyodorkan baju itu kepada Adam.
"Wangi." Manisya mencium baju yang si berikan Adam tersebut.
Terlalu malas bagi Adam untuk mengeluarkan kata-kata saat melihat tingkah Manisya, ia hanya memfokuskan pandangannya kepada Manisya, Adam menarik salah satu alisnya saat Manisya meletakkan baju hitam yang ia berikan di atas pahanya.
"Lo dengar ga apa yang Gua katakan barusan?" tanya Adam menatap baju yang berada di paha Manisya.
Manisya melirik menatap ke arah Adam.
"Memangnya Kamu bilang apa?" tanya Manisya yang gagal memahami perkataan Adam.
"Baju itu, untuk di pakai bukan untuk di pajang!" Adam terpaksa harus menjelaskan maksud dirinya memberikan baju tersebut.
__ADS_1
"Ini untukku?" tanya Manisa sambil mengangkat baju yang kini ia pegang tersebut.
Kemudian Manisya menatap baju tersebut dengan senyuman lebar pada bibirnya, setelah itu ia juga menatap ke arah Adam masih dengan bibir yang masih tertarik hingga menampakkan dua lesung pipi di setiap sudut bibirnya yang hanya terlihat jika Manisya tersenyum.
"Hehe, ini benar-benar sebuah adegan dari drama-drama percintaan tau dam?" Manisya tertawa kecil dengan apa yang ia katakan kepada Adam, namun Adam tak menjawab perkataan Manisya, ia hanya menatap tajam ke arah Manisya dengan menarik satu alisnya kemudian menggelengkan sedikit kepalanya melihat tingkah Manisya.
"Baiklah, aku akan memakainya!" tutur Manisya yang mulai bergidig ketakutan melihat tatapan Adam kepadanya.
Setelah itu, Manisya memakai pakaian yang di berikan kepadanya, dengan tidak membuka kaos yang telah ia pakai sebelumnya, setelah itu Manisya membuka ponselnya melihat baju yang ia kenakan di balik kamera ponsel miliknya.
"Apa ini cocok untukku?" tanya Manisya kepada Adam, Adam hanya melihatnya tak memberikan sebuah komentar, rasa kecewa karena tidak mendapat komentar dari Adam, Manisya mengedepankan kedua bibirnya.
"Pak Komar, apa ini tidak kebesaran?" tanya Manisya meminta pendapat kepada Pak Komar yang tengah melajukan kemudi mobil.
"Kebesaran sepertinya Mba, tapi itu terlihat cocok dan cantik di Mbak nya!" jawab Pak Komar kepada Manisya sambil menatap ke arah Manisya dari balik kaca.
"Benarkah Pak?"
"Iya Mba, Cocok, Pak Komar mengangkat jempolnya untuk Manisya.
"Kalau Aku sama Adam cocok gak Pak, hehe?" Tanya Manisya dengan tidak melewatkan kesempatan yang jarang terjadi itu.
Adam seketika menatap ke arah Manisya dengan tatapannya yang tidak senang, Manisya yang tak ingin melihat raut muka Adam, memalingkan mukanya ke arah yang berlawanan dengan Adam kemudian menutup salah satu bagian mukanya menggunakan tangannya, tak ingin melihat wajah kesal Adam.
"Mas Adam dan Mbaknya ini cocoknya kebangetan." Jawab Pak Komar sambil mengacungkan jempolnya kembali ke arah Manisya, menghiraukan mimik muka Adam yang tidak senang mendengar perkataan Pak Komar dan Manisya.
"Kamu denger kan kata Pak Komar, hehe?" Manisya mengangkat tangan yang menutupi bagian samping wajahnya saat berkata kepada Adam, kemudian menghalanginya kembali setelah berbicara pada Adam, tak ingin melihat muka masam Adam, Manisya terkekeh kembali dengan apa yang ia katanya, rasanya sebuah kemenangan kini berada di pihaknya.
Manisya menurunkan tangan yang menghalangi wajahnya, di lihatnya Adam yang kini sudah tak lagi memasang raut muka kesalnya.
Tak terasa, mobil merah yang di kendarai Pak Komar itu, kini telah memasuki Area Kampung Camping, sebuah jalanan yang menanjak namun tak bergerinjul itu letaknya berada di sebuah desa dengan pemandangan yang begitu indah, deretan pohon pinus yang berjajar rapih di sepanjang jalan dengan dahan yang bergoyang-goyang akibat tiupan angin yang berhembus, membuat seolah sedang melambai menyambut kedatangan para tamu.
"Wah bagus banget pemandangannya!" Manisya begitu terpesona dengan pemandangan indah yang memanja kan matanya tersebut, ia membuka kaca jendela untuk menikmati udara segarnya.
__ADS_1
"Hemh!" Mansiya menempelkan sebagian kepalanya pada jendela mobil dengan kaca yang sedikit terbuka, di hembusanya udara segar itu dengan menggunakan hidungnya, senyuman di bibirnya tersemai di sepanjang perjalanan, ia mengabaikan pula dua pasang mata yang memperhatikan dirinya yang tengah menikmati udara segar tersebut.
Tiba-tiba Manisya mendapatkan sesuatu hal dalam fikirannya, ia menoleh ke arah Adam, Adam membalas tatapan Manisya.
"Kamu tahu Dam?" tanya Manisya kepada Adam yang kini sedang menatapnya pula, tentu saja tanpa jawaban dari Adam.
"Pemandangan di sini indah, tapi bagiku kamu yang terindah, hehe!" Manisya menjulurkan lidahnya ke arah Adam, kemudian terkekeh dengan apa yang dia ucapkan kepada Adam barusan.
"Neng Manis ini bisa saja, eh maksud Bapak Mbak Ara ini bisa saja!" Pak Komar sesaat lupa bahwa ia tidak boleh memanggil Manisya dengan sebutan nama depan atau tengahnya.
"Soalnya saat aku lihat pemandangan ini aku ingat Adam loh Pak Komar!" Jawab Manisya dengan memasang wajah serius.
"Iya Mba iya, Mas Adam memang terindah!" tutur Pak Komar menanggapi perkataan Manisya.
"Tuh kan Dam, Pak Komar juga bilang begitu!" tanya Manisya dengan begitu berterus terang, ada sebuah kebanggaan terbersit dalam hatinya.
Adam hanya terdiam menatap tajam ke arah Manisya, sesekali tatapan tajam itu ia arahkan kepada Pak Komar, membuat Pak Komar menunduk ketakutan.
"Pak Komar tutup kaca jendelanya kemudian kunci dari sana!" Adam memberi perintah dengan nada menekan pada Pak Komar.
"Baik Mas!" Jawab Pak Komar.
Mendengar hal tersebut membuat Manisya merasa kesal kemudian ia menatap Adam dengan mengerutkan bagian kelopak matanya, memajukan kedua bibirnya serta menyilangkan kedua lengannya di atas dadanya.
"Aku kan hanya bercanda!" tutur Manisya dengan Nada kesalnya.
Melihat Mansiya dengan ekspresinya saat ini, membuat Adam secara tiba-tiba menarik tangan Manisya hingga badannya bergeser hingga mendekat dengan Adam, di lingkarannya kedua tangan Adam pada pinggang Manisya, kemudian Adam hendak menggeser tubuh Manisya agar bisa ia dekap, hal itu berhasil membuat Manisya ketakutan, dan berontak berusaha melepaskan tangan Adam yang terkunci pada pinggangnya.
"Lepaskan aku!" Manisya masih berontak berusaha melepaskan tangan Adam.
"Adam!" teriak Manisya sambil menatap wajah Adam yang menampakkan raut kekesalannya pada Manisya, Adam tak kunjung melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Manisya, Adam semakin mengencangkan tangannya.
"Adam!" Manisya ketakutan jika Adam melakukan sesuatu kepadanya seperti sebelumnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Adam mengunci tangannya pada pinggang Manisya, ia kemudian melepaskannya, namun kini ia mendekatkan wajahnya kepada Manisya, Manisya terus bergeser memiringkan tubuhnya menghindari Adam, hingga tak ada lagi tempat untuknya merubah posisi tubuhnya, Jarak wajah Adam dan Manisya kini hanya beberapa centimeter saja, setelah itu dengan raut muka yang kesal serta tatapannya yang tajam mengarah kepada Manisya, Adam berkata,
"Gua cuma bercanda!"