Pelangi Cinta

Pelangi Cinta
Kencan yang Sebenarnya


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, setelah sebuah kecelakaan yang menimpa Adam, tak seorang temanpun mengetahui apa penyebab kecelakaan yang menimpa Adam, kini kondisi Adam semakin membaik, tak Ada lagi rasa ngilu yang ia rasakan di seluruh tubuhnya, hanya sebuah goresan di wajah yang terlihat mengering yang akan meninggalkan sebuah tanda di sana.


Siang itu saat pelajaran sekolah telah berakhir, dan hari itu adalah hari terakhir memasuki liburan akhir minggu. Seluruh murid berjalan dengan tujuan yang samma menuju gerbang sekolah dengan tas dipunggung atau punak mereka, hendak meninggalkan


"Besok maen yu Sya?" Ucap Nina pada Manisya saat berjalan hendak meninggalkan sekolah.


"Ide bagus Nin, punya rencana ga, mau kemana kita?" Manisya yang menjadi bersemangat saat Nina mengajaknya untuk bermain.


"Em kemana ya, bagimana kalau ke taman hiburan sudah lama aku ga ke sana." Nina memberikan sebuah ide ke pada Manisya, ide yang selalu gagal jika berencana pergi ke sebuah taman hiburan.


"Asik, kalau begitu Adam dan Aku mau ikut." Rangga tiba-tiba masuk ke dalam percakapan antara Manisya dan Nina karena Rangga dan Adam berjalan tepat di belakang Manisya dan Nina untuk itulah percakapan antara Manisya dan Nina terdengar oleh Rangga dan Adam.


"Lo mau ikut?" Tanya Nina kepada Rangga memastikan kata - kata Rangga dengan seirus.


"Serius lah, sama Lo mah serius banget!" jawab Rangga dengan menarik- narik kedua alisnya kepada Nina kemudian menarik salah satu sudut bibirnya.


"Beneran kan Lo?" Tanya Nina kembali kepada Rangga dengan tatapan penuh keseriusan.


" Ya kapan Gua boong, dasar cewek" Rangga mengangkat kedua alisnya, ia arah kan kepada Nina setelah itu Rangga merangkul Adam dengan tangannya.


"Lo ikut juga kan" Dengan segera Adam melepaskan tangan Rangga yang melingkar di di punggung leher Adam. Namun seperti biasa, Adam tak menanggapi perkataan yang menurutnya tidak begitu penting, Adam hanya sibuk melangkahkan kakinya ke depan.


"Kamu mau ikut dam?" giliran Manisya yang penasaran dengan jawaban Adam. Sama halnya dengan Rangga, Manisya pun tak mendapat sebuah jawaban dari Adam.


Setelah itu tak ada lagi percakapan antara Manisya, Adam, Rangga, dan Nina, percakapan mereka terhenti karena Adam yang tak pernah menjawab perkataan Manisya.


"Tenang saja Nin, kita bakalan jadi ke taman hiburan." Manisya mengepak lengan tangan Nina menghibur dirinya sendiri saat Adam tak memberi sebuah respon kepadanya.


"Oke baiklah, Aku jemput kamu ya Sya jam 10 ya." Nina berkata kepada Manisya dengan merangkul pundak Manisya, mengabaikan kedua lelaki yang ada di belakangnya ya itu.


"Beran Lo ga ikut?" tanya Rangga kembali kepada Adam.


"Gua gak suka!" Jawab Adam dengan menampakkan wajah yang tak peduli.


"Drrt" Ponsel Adam bergetar saat tengah bercakap dengan Adam, dengan segera ia membuka sebuah pesan dari aplikasi WhatsApp miliknya, Adam sedikit melebarkan kedua bola matanya saat membaca sebuah pesan yang tak lain adalah pesan dari Manisya


"Bagaimana kalau besok kamu ikut, sebagai janji kamu kepadaku saat di rumah sakit." Isi pesan Manisya kepada Adam. Namun seperti biasanya Adam tak merespon pesan yang Manisya kirimkan kepadanya.


Setelah itu semua murid termasuk Rangga, Nina, Manisya dan Adam berpisah untuk kemudian melanjutkan urusan mereka masing-masing di luar sana, Rangga bergegas mengendarai motornya, Nina berpamitan karena supirnya telah menunggu di dekat gerbang, dan Adam terlihat sedang menunggu saat Manisya berjalan ke sebuah halte untuk menunggu sebuah Bis yang biasa ia naiki.


Manisya tak henti memperhatikan Adam sebelum akhirnya sebuah mobil sport berwarna merah menghampiri Adam dengan seorang supir yang Manisya kenal, yang tak lain adalah Pak Komar.


"Syukurlah, Adam sudah membaik" Manisya berkata dalam hatinya sambil menatap Adam dari kejauhan. Manisya juga memperhatikan mobil Adam yang kini maju secara perlahan mendekatinya, Manisya mengerutkan kedua alis matanya saat mobil yang di tumpangi Adam mendekat ke arahnya kemudian berhenti tepat di depannya.


Pak Komar membuka sebuah kaca jendela mobil "Neng, em maksud Bapak, Mbak ayo naik, skalian Mas Adam mau ada perlu!" Pak Komar berteriak ke arah Manisya mengajaknya untuk berangkat bersama.


"Enggak usah Pak Komar, silahkan duluan saja, saya mau naik bis, lagian ini masih terang ko." jawab Manisya menolak Pak Komar secara halus.


"Ayo Neng, eh Mba!" Pak Komar masih belum terbiasa dengan panggilan baru Nya kepada Manisya.


Manisya berjalan mendekati mobil Pak Komar, Kemudian melirik ke arah Adam.


"Apa dia juga memperbolehkanku untuk ikut?" Tanya Manisya kepada Pak Komar sambil melirik ke arah Adam.


"Iya Mba, Mas Adam ngebolehin Mba Ara ikut." Jawab Pak Komar mulai terbiasa memanggil Manisya dengan sebutan barunya.


"Benarkah?" Jawab Manisya dengan memperlihatkan gigi putihnya yang berjajar rapi .


Pak Komar membuka pintu mobilnya hendak membuka kan pintu untuk Manisya, sebelum akhirnya di larang oleh Manisya.

__ADS_1


"Tidak usah Pak Komar, biar aku saja!" Manisya mendahului Pak Komar untuk membuka pintu mobilnya, Manisya menatap ke arah Adam yang telah berada di dalam mobil, namun Adam hanya menatap lurus kedepan entah apa yang sedang di lihatnya.


"Hai Adam, Apa aku boleh ikut?" Manisya bertanya kembali kepada Adam, Adam menatap ke arah Manisya.


"Tentu saja boleh Neng, maksud Bapak Mbak, boleh boleh." Pak Komar mendahului jawaban Adam, khawatir Adam mengeluarkan perkataan yang membuat Manisya urung untuk memasuki mobil. Manisya pun duduk tepat di samping Adam, tepatnya di belakang kursi pengemudi yang tak lain adalah Pak Komar.


"Rasanya sudah lama ya ga bertemu sama Pak Komar!" Manisya memulai pembicaraan saat Pak Komar melajukan mobilnya.


"Sekitar dua mingguan Neng, maksud Bapak Mbak" Pak Komar masih melakukan kesalahan dalam memanggil Manisya.


"Pak Komar, gak apa-apa kok panggilnya Neng Manis aja seperti biasanya, daripada belepotan begitu." Manisya mengomentari kata- kata Pak Komar yang terdengar sangat kaku saat memanggilnya.


"Hehe, maaf mba, bapak belum terbiasa, maksutnya biar panggilannya sama, sama Mas Adam dan Mbak Ara, kan jadi cocok Mas dan Mba" Jawab Pak Komar membuat sebuah alasan yang bisa di terima oleh Manisya.


"Oia, boleh juga Pak, sebentar-sebentar, Mbak Ara?" tanya Manisya yang merasa asing mendengar panggilannya seperti itu.


"Iya nama belakang mbaknya". jawab Pak Komar secara singkat.


"Em, dari Aralan?" Tanya Manisya kembali.


"Iyah Mba, tidak apa-apa kan Mba, bapak panggil seperti itu?" Tanya Pak Komar Melihat ke arah Manisya melalui kaca spion kemudian melirik ke arah Adam yang sedang menatap Pak Komar dengan tatapan tajamnya.


"Ah Pak Komar ini bisa aja, bikin aku pusing, boleh gak apa-apa, panggil apa aja Pak, asal jangan panggil aku Om aja, hehe" Manisya meng iya kan permintaan Pak Komar.


Pak Komar menghentikan mobil yang dikendarainya kemudian berpamitan kepada Manisya.


"Bapak pulang dulu ya Mbak, hati-hati ya sama Mas Adam" Pak Komar turun dari mobilnya, di gantikan oleh Adam yang berpindah tempat duduknya saat Pak Komar keluar.


"Loh Pak Komar ini mau kemana?" teriak Manisya melalui jendela mobil, namun tak mendapat jawaban, Pak Komar hanya melambaikan tangan kepada Manisya.


Manisya diam sesaat. "Apa Lo fikir gua ini supir?" Adam melirik ke arah Manisya sebelum melajukan mobilnya.


"Iya aku pindah!" Jawaban Manisya yang mengerti maksud dari perkataan Adam, dengan mengerutkan bibir tipisnya Manisya berpindah tepat duduknya tepat di pinggir Adam yang akan membawa mobil sport merah tersebut.


"Tidak, dia menginginkannya sendiri" Jawab Adam yang mulai melajukan mobil miliknya itu dengan kecepatan sedang.


"Apa kamu akan mengajakku berkencan?" Pertanyaan Manisya membuat Adam membulatkan kedua bola matanya.


"Apa Lo tau, apa itu arti kencan sebenarnya?" Adam balik bertanya kepada Manisya.


"Tentu saja?" tentu saja jawab Manisya dengan mengangkat sedikit dagu nya.


"Baiklah" Tiba-tiba Adam membelokkan mobilnya masuk ke sebuah hotel berbintang lima.


"Apa maksudmu, kenapa kita masuk kesebuah hotel?" tanya Manisya sambil menyilangkan kedua lengannya di atas dadanya.


"Lo tau kan apa yang Lo bilang tadi, kencan sebenarnya!" Jawab Adam dengan menarik salah satu sudut bibirnya.


"Bukan di hotel maksudku." Jawab Manisya masih dengan posisi tangan menyilang di atas dadanya.


Adam melepaskan kemudinya, kemudian mendekat ke arah Manisya, di tariknya tangan Manisya yang masih menyilang di atas dadanya tersebut kemudian Adam memposisikan tangan Manisya di atas pahanya.


"Jangan berpikiran bodoh!" Adam menyentilkan dahi Manisya dengan tangannya hingga dahi Manisya terlihat merah.


"Auw" Rintih Manisya kesakitan, kemudian mengusap-usah dahi nya yang kini berubah memerah karena ulah tangan jahil Adam.


"Sakit tau!" Manisya mengerutkan dahi dan bibirnya.


"Gunakan itu" Adam melempar sebuah obat oles kepada Manisya.

__ADS_1


"Tidak perlu!" Manisya memberikan kembali obat tersebut pada Adam.


"Apa Lo mau Gua yang olesin?" tanya Adam dengan raut muka yang menurut Manisya sangat menakutkan. Adam membuka obat tersebut.


"Tidak, tidak, jangan." Manisya yang ketakutan menutupi dahinya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak mau!" Manisya kembali berkata kepada Adam, ada gurat ketakutan di wajah Manisya.


"Ini hanya obat anti memar!" Adam mengoleskan obat tersebut ke atas


telunjuknya.


"Aku tidak mau, itu akan membuat perih." Manisya masih menutupi dahinya dengan kedua tangannya, untuk menghindari Adam yang terlihat siap dengan olesan sebuah obat oles ditangannya , posisi duduk Manisya kini bergeser menjadi miring dan setengah badannya menempel pada pintu mobil tersebut.


Adam mendekatkan badannya kembali kepada Manisya dengan sebuah oelsan salep di telunjuknya.


"Buka tangan Lo!" Ini hanya sebuah salep!" Perintah Adam kepada Manisya yang kini tengah memejamkan kedua matanya dan menutup dahi yang memerah karena sentilan jari Adam.


"Aku tidak mau!" Jawab Manisya masih dengan posisi pertahanannya menutup kedua mata dan dahinya dengan kedua tangannya.


Adam semakin mendekati Manisya. "Apa Lo Menginginkan lebih dari sebuah salep?" Adam berbicara sambil memegang tangan Manisya, berusaha membuka kedua tangan yang menutupi dahinya, namun Manisya masih berusaha menutupi dahi nya tak ingin Adam mengoleskan sebuah salep di dahinya, ia juga masih memejamkan kedua matanya.


"Baiklah" Adam berbicara kepada Manisya mengisyaratkan sesuatu, Adam semakin mendekatkan wajahnya dengan Manisya, di tatapnya wajah seorang wanita yang sudah lama ia kenal itu, Ia merasakan sebuah ketenangan dalam hatinya saat menatap Manisya yang ada di hadapannya kini, dengan kedua mata yang sengaja Manisya pejamkan, melihat hal itu membuat Adam menarik kedua sudut bibirnya yang merah, hingga akhirnya ia semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir Manisya tanpa ada sebuah penghalang di sana.


Manisya yang tengah memejamkan kedua matanya tiba-tiba membulatkan penuh kedua bola matanya, Manisya yang begitu tekejut dengan ciuman Adam kini membuka kedua tangan yang menutupi dahinya tersebut dan beralih dengan menutupi bibirnya, saat itulah Adam mengoleskan dahi Manisya dengan obat salep yang sudah menempel pada jarinya.


Terkejut karena ciuman Adam, Manisya yang sebelumnya khawatir akan rasa perih dari obat salep yang akan Adam olesi ke dahinya, kini Manisya tak merasakan sedikitpun perih di dahinya akibat olesan obat salep dari tangan Adam.


Adam kembali duduk di kursi kemudinya, kemudian mengambil sebuah tissue yang tak jauh dari jangkauannya, ia mengelap jarinya yang sudah terkena olesan sebuah obat, Adam menyadari Manisya kini tengah menatapnya dengan sebuah pertanyaan yang ada di benaknya.


"Adam apa yang kamu lakukan?" tanya Manisya yang masih terkejut dengan perlakuan Adam kepadanya, Manisya juga menatap ke arah Adam dengan sejuta pertanyaan di benaknya, Manisya masih belum menggerakkan posisi tubuhnya.


"Gua hanya nyuruh Lo buat buka tangan Lo." Jawab Adam sambil menatap ke arah tangan Manisya sesaat setelah itu Adam mengalihkan pandangannya ke sebuah tisu yang ia pegang.


"Tapi itu tidak benar!" jawab Manisya sambil membetulkan posisi duduknya dengan pandangan lurus ke depan.


"Seandainya Lo dengerin kata Gua, Gua bilang angkat tangan Lo kan, dan Lo, Lo mengabaikan apa yang Gua omongin, jadi Gua mencari cara lain agar Lo mau buka tangan yang nutupin dahi merah Lo itu, jadi itu bukan salah Gua!"


Adam mencoba mengalihkan kesalahan kepada Manisya, Manisya yang mendengar perkataan Adam menjadi diam, ia sedang mencerna apa maksud dari perkataan Adam.


"Tapi kan bukan begitu caranya!" Protes Manisya kepada Adam.


"Itu salah Lo" Adam tak ingin di salahkan, menatap tajam ke arah Manisya.


"Tidak, itu bukan salahku!" Jawab Manisya membela dirinya karena merasa ada yang aneh dengan sikap Adam.


Adam mendekat lagi ke arah Manisya, membuat Manisya semakin menggeser kembali tubuhnya membelakangi pintu mobil.


Adam semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Manisya hingga tersisa beberapa centi meter saja, "Apa sekarang Lo sedang mencoba menggoda seorang laki-laki?" tanya Adam mencoba menakuti Manisya yang kini memperlihatkan wajah pucatnya yang ketakutan.


Manisya memejamkan matanya sambil berkata "Tidak - tidak, bukan seperti yang kamu fikir" kata Manisya kepada Adam dengan membuka kembali kedua matanya yang sengaja ia tutup karena merasa ketakutan.


Adam membetulkan kembali posisi duduknya, begitupun dengan Manisya, tatapan Manisya kini lurus kedepan seakan ada sesuatu yang masih mengganjal firkirannya.


"Turunlah!" Adam memberi perintah kepada Manisya, sambil membuka kendali kunci pintu mobil.


"Em, apa yang akan kita lakukan di hotel ini?" tanya Manisya dengan penuh keraguan.


"Sesuai dengan keinginan Lo, kencan yang sebenarnya."

__ADS_1


***


Terimakasih atas dukungannya ❤️


__ADS_2